Yalami Cin maklum bahwa semua orang memandang kepadanya dan mengharapkan jawabannya, maka dia pun berkata dengan suara angkuh. "Aku, Yalami Cin, kepala suku Hui yang mempunyai hampir sepuluh ribu orang pengikut, selamanya tidak akan mau memusuhi Huang-ho Sin-liong. Kami berani tanggung bahwa dia bukanlah kaki tangan pemerintah, bukan pula antek pembesar korup. Huang-ho Sin- liong adalah seorang pendekar yang selalu membela rakyat, dan entah sudah berapa rakyat kami yang menerima pertolongannya dari ta¬ngan penjahat-penjahat. Oleh karena itu, sungguh tidak mungkin kalau kami harus memusuhinya!" Gan Pangcu mengangguk-angguk. "Kami pun pernah mendengar nama besarnya sebagai seorang patriot dan pendekar besar. Nah, Saudara Can, sekarang sudah jelas mengapa kami tidak mengejar Huang-ho Sin-liong. Agaknya engkau membencinya, akan tetapi kita harus mendahulukan kepentingan perjuangan daripada kepentingan pribadi. Mari kita kembali dan melanjutkan pembicaraan di sana."
Mereka semua kembali ke sarang gerombolan itu untuk mengadakan perundingan dan menentukan langkah selanjutnya. Biarpun hatinya tidak puas karena Giok Cu dapat meloloskan diri namun Hong San yang mengharapkan kedudukan dan kemuliaan, ikut pula dengan mereka dan sejak hari itu dia di terima sebagai anggauta pimpinan, bahkan dijadikan pembantu utama Gan Pang cu karena dia memiliki ilmu kepandaia paling lihai di antara para pembantu lainnya. Ketika dia ikut bersama ketua Pouw-beng-pang dan para pembantunya dia teringat kepada Bu Giok Cu dan diam-diam dia mengambil keputusan bahwa setelah dia memperoleh kedudukan yang baik, dia tentu akan berusaha menyebar penyelidik dan mencari di maná adanya wanita yang lihai akan tetapi juga cantik jelita dan terutama sekali yang telah menjatuhkan hatinya itu.
ooOOoo
Mereka berloncatan turun dari pohon, kemudian melanjutkan lari dengan cepat sekali seperti dua orang yang sedang berlumba lari, meninggalkan hutan itu dan mendaki bukit, bahkan melewati puncak dan turun lagi di sebelah sana bukit. Keduanya mengerahkan tenaga dan Gin-kang (ilmu meringankan tubuh), seolah-olah sudah bersepakat tanpa kata untuk mengadu lari. Keduanya merasa heran dan juga kagum karena betapapun mereka mengerahkan seluruh tenaga, ternyata mereka tetap saja lari berdampingan, tidak ada yang kalah atau menang. Keduanya berhenti, atau Giok Cu yang berhenti terlebih dahulu dan pemuda tinggi besar itu pun berhenti. Tubuh Giok Cu bermandi peluh akan tetapi pemuda itu hanya berkeringat sedikit saja di dahinya. Hal ini tidak aneh, karena tadi Giok Cu telah memeras tenaga ketika menghadapi pengeroyokan. Mereka berdiri, dalam jarak empat meter, saling pandang dengan penuh selidik. Pemuda itu yang bukan lain adalah Si Han Beng tidak memperlihatkan kekagumannya. Seorang gadis yang cantik jelita dan tadi dia sudah melihat sendiri betapa lihainya gadis itu menghadapi pengeroyokan belasan orang yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bahkan dia sudah merasakan sendiri betapa hebatnya ilmu berlari cepat gadis ini. Di lain pihak Giok Cu juga memandang dengan penasaran dan heran. Dia mengenal pemuda tinggi besar yang telah menyelamatka Liu Tai-jin ketika kereta pembesar itu dikeroyok banyak orang, bahkan ia sendiri sudah pernah berkelahi selama beberapa jurus melawan pemuda itu ketika la membantu Hong San yang terdesak oleh pemuda tinggi besar ini.
"Aneh. !" Tepat keduanya mengeluarkan kata ini,
seperti diatur dan dalam waktu yang bersamaan. "Apanya yang aneh, Nona?" tanya Han Beng.
"Engkau juga mengatakan aneh. Jelaskan dulu mengapa engkau mengatakan ,ineh, apanya yang aneh, baru nanti akan kujawab pertanyaanmu," kata Giok Cu.
Han Beng tersenyum dan tidak merasa tersinggung. Biarpun belum banyak pengalamannya dengan wanita, namun sudah beberapa kali dia bergaul dengan wanita dan mulai mengenal watak umum dari makhluk ini. Lembut, menarik, menyembunyikan kekuatan dalam tubuh yang nampak lemah, ingin dimanja, ingin dipentingkan, selalu ingin menang!
"Nona, aku merasa aneh dan heran sekali melihat engkau dikeroyok mereka tadi. Bukankah tadi ketika mereka hendak merampok kereta Liu Tai-jin, engkau membantu mereka dan bahkan ikut menyerangku? Mengapa keadaannya kini menjadi terbalik?"
"Aku juga merasa aneh dan heran melihat engkau. Bukankah tadi engkau menjadi kaki tangan dan pelindung Liu Tai-jin, pembesar korup itu? Dan mengapa pula sekarang engkau membant aku?"
Kembali Han Beng tersenyum. Pertanyaan dibalas pertanyaan pula, tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu. Bukan main gadis ini dan agaknya memang perlu diberi keterangan yang jelas karena melihat sikapnya dan kata- katanya, agaknya gadis ini menganggap Liu Tai-jin sebagai seorang pembesar korup.
"Ah, kiranya Nona salah sangka sama sekali. Liu Tai-jin bukanlah seorang pembesar korup. Dia adalah utusan Kaisar dia seorang petugas dari istana yang melakukan penelitian dan penyelidik tentang pelaksanaan pengumpulan tenaga kerja untuk membuat terusan dan "
"Hemmm, seperti aku tidak mengerti saja!" kata Giok Cu galak, memotong ucapan Han Beng. "Aku sudah mengenal baik isi perut pembesar daerah. Mereka memaksa rakyat untuk dijadikan pekerja paksa tanpa bayaran, dan biaya untuk itu masuk ke kantung mereka sendiri! Aku tahu bahwa Liu Tai- jin datang dari kota raja untuk mengadakan pemeriksaan terhadap pelaksanaan pengumpulan tenaga kerja itu di daerah Siong-an, di istana Can Tai-jin melakukan korupsi besar- besaran dan memaksa rakyat jelata untuk bekerja tanpa bayaran. Aku menyaksikan sendiri dalam rumah makan itu betapa Cang Tai-jin telah menyerahkan sepeti emas permata dan dua orang gadis remaja sebagai suapan kepada Liu Tai- Jin. Pembesar makan sogokan macam itu yang kaukatakan bukan seorang pembesar korup?" "Aku tidak menyalahkan kalau engkau salah paham, Nona. ketahuilah, Liu Tai-jin adalah seorang pembesar yang jujur dan tegas dalam menindak para pembesar daerah yang korup. Seluruh perjalanannya dari kotaraja kedaerah-daerah, sudah dikenal orang dan entah berapa banyaknya pembesar korup yang telah ditindaknya. Tentu saja engkau menganggap dia seorang pembesar yang mau menerima sogokan. Akan tetapi ketahuilah bahwa kalau dia menerima peti harta dan dua orang gadis itu, hanya diterima untuk dijadikan bukti penyelewengan Cang Tai-jin! Dia tidak mungkin dapat menindak Cang Tai-jin tanpa bukti, dan sogokan itulah buktinya!"
"Ahhh. !" Giok Cu benar terkejut mendengar ini, hal yang
sama sekali tidak pernah disangkanya. "Tapi
bagaimana dengan dua orang gadis remaja itu? Aku tadinya hanya ingin membebaskan mereka."
"Jangan khawatir, mereka diperlakukan dengan baik dan terhormat. Liu Ta-jin maklum bahwa mereka pun sama sekali tidak berdaya karena mereka dari keluarga miskin yang sudah dijual kepada Cang Tai-jin. Mereka akan diajukan sebagai saksi kelak kalau Pembesar Cang itu ditindak."
"Akan tetapi, kalau sudah jelas Pembesar Cang itu melakukan penyelewengan, mengapa tidak terus ditangkap dan ditindak saja? Bukankah Liu Tai-jin memiliki wewenang dan kekuasaan."
"Hal itu belum dilakukan, Nona, karena ada hal-hal lain yang sedang diselidiki oleh Liu Tai-jin," kata Han Beng dan tentu saja dia tidak berani bercerita tentang tugasnya menyelidiki desas-desus tentang terlibatnya Cang Tai-jin dalam gerombolan pemberontak.
"Kau maksudkan dengan hal-hal lain itu apakah gerombolan pemberontak yang dipimpin perkumpulan Pouw- beng-pang itu?" Han Beng terkejut dan wajahnya berseri mendengar ini. Ah, benar juga. Gadis ini agaknya mengetahui banyak tentang pemuda bercaping lebar itu dan tentang orang-orang yang mengadakan persekutuan untuk menentang pemerintah! Penyelidikan yang dilakukan untuk membantu Liu Tai-jin akan menjadi mudah kalau dia memperoleh keterangan dari gadis ini.
"Ah, kiranya Nona tahu akan hal itu? Aku telah menceritakan semuanya, Nona, maka kuharap sukalah kiranya Nona juga menceritakan tentang mereka, tentang mengapa Nona yang tadinya bekerjasama dengan mereka kini tiba-tiba saja kulihat dikeroyok oleh mereka yang agaknya berusaha keras untuk membunuhmu."
"Nanti dulu," kata Giok Cu, masih belum merasa puas. "Engkau baru menceritakan tentang Liu Tai-jin, akan tapi belum bercerita tentang dirimu. Apakah engkau petugas pemerintah yang membantu Liu Tai-jin?"
Han Beng menggelengkan kepalan "Sama sekali bukan, Nona. Bahkan baru sekarang aku bertemu dengan pembesar itu, yaitu ketika keretanya dihadang."
"Kalau bukan apa-apanya, mengapa pula engkau membelanya mati-matian ketika keretanya diserbu?" Berkata demikian, Giok Cu menatap wajah pemuda itu dengan pandang mata tajam menyelidik. Diam-diam ia kagum. Wajah pemuda mungkin tidak setampan wajah Hong San yang pesolek, akan tetapi cukup ganteng dan gagah sekali, penuh kejantanan.
"Nona, aku akan men bela siapa saja yang berada di pihak benar, menantang kejahatan dan membela mereka yang terancam bahaya oleh kekerasan orang lain. karena itulah, melihat betapa kereta pembesar itu terancam bahaya, padahal itu sudah mendengar bahwa pembesar Itu seorang petugas yang jujur dan adil, aku segera membantunya. Demikian pula melihat engkau, seorang wanita, dikeroyok belasan orang itu, aku pun segera turun tangan membantumu."
Giok Cu tersenyum, senyum yang agak sinis. "Hemmm, kalau begitu aku berhadapan dengan seorang pendekar besar, ya? Siapa tadi? Kepala suku Hui Itu menyebutmu Huang-ho Sin-liong, betapa gagahnya julukan itu!"
Wajah Han Beng menjadi kemerahan. Aih, itu hanya pujian kosong saja dari mereka yang telah berhasil kutolong. Tidak ada artinya sama sekali, dan aku bukan seorang pendekar besar. Mungkin karena aku suka merantau di sepanjang Sungai Huang-ho, maka aku mendapat julukan seperti itu. Terlalu berlebihan!" Dia berhenti sebentar, dan melihat gadis itu tidak menjawab, hanya tersenyum, dia pun melanjutkan. "Sekarang,harap kau suka menceritakan tentang engkau dan mereka itu, Nona."
"Aku pun secara kebetulan saja lewat di Siong-an dan di dalam rumah makan Ho-tin, aku melihat penyogokan yang dilakukan Cang Tai-jin kepada Liu Tai-jin. Mengenai peti harta itu, aku tidak peduli. Akan tetapi melihat dua orang gadis remaja itu yang juga di hadiahkan kepada Liu Tai-jin, hatiku menjadi panas dan aku bermaksud untuk membebaskan dua orang gadis itu. Sama sekali tidak mempunyai sangkut-paut atau hubungan dengan yang lain-lain itu
"Akan tetapi, kulihat engkau bekerjasama dengan pemuda bercaping lebar itu. Dia lihai dan "
"Ah, dia itu Can Hong San dan pun baru berkenalan dengan dia di rumah makan Ho-tin. Dia pun bermaksud menghadang dan menghajar Liu Tai-jin yang dianggapnya seorang pembesar korup pemakan sogokan. Dia hendak merampok peti harta itu." "Kalau begitu, dia pun tidak tahu akan hal yang sebenarnya dan mengira Liu Tai-jin seorang pembesar korup. Kalau demikian halnya, seperti juga engkau, dia pun seorang pendekar yang menentang penindasan, bukankah demikian, Nona?"
"Hemmm, tadinya begitulah kusangka." "Apakah kenyataannya kemudian lain?'
"Ketika kami berdua mengejar kereta pembesar itu sampai di hutan, ternyata kereta itu telah diserang oleh sekelompok orang. Kami tidak mengenal siapa mereka, dan kami hendak turun tangan sendiri. Aku ingin membebaskan dua orang gadis dan Can Hong San itu hendak merampas peti harta, dan engkau muncul menggagalkan kami."
"Tapi, mengapa lalu engkau dikeroyok oleh mereka, Nona? Dan kulihat pemuda bercaping itu pun ikut mengeroyoknu."
Giok Cu menarik napas panjang dan menggigit bibirnya karena gemas. Melihat deretan gigi putih rapi itu menggigit bibir bawah yang merah basah, Han Beng mengalihkan pandang matanya. Terlalu indah dan berbahaya bagi batinnya kalau dipandang terus, pikirnya. Baru memandang sekilas saja, darah mudanya sudah bergejolak dan jantungnya berdebar.
"Mereka itu adalah para pimpinan Pouw-beng-pang, perkumpulan yang katanya merupakan perkumpulan para pendekar yang melindungi rakyat yang tertindas. Mereka bersekutu dengan suku bangsa Hui yang dipimpin oleh orang Hui yang tinggi besar itu, dan orang-orang Pouw-beng-pang yang mengaku sebagai para pejuang itu juga bersekutu dengan Cang Tai-jin " "Ahhh. ! Kalau begitu benar dugaan Liu Tai-jin!" kata
Han Beng dengan girang. Ternyata dari gadis ini dia telah mendengar segala yang hendak diketahuinya! "Lalu mengapa mereka itu mengeroyokmu dan hendak membunuhmu?"
"Can Hong San yang menjemukan itu!" Giok Cu berkata gemas. "Dia juga masuk menjadi sekutu mereka yang jelas hendak memberontak terhadap pemerintah dan mereka membujuk agar aku ikut lalu bersekutu dengan mereka. Aku menolak dan pergi. Mereka mengejar dan aku lalu mereka keroyok."
"Akan tetapi mengapa?"
"Mengapa? Mudah saja diketahui. Karena aku tidak mau menjadi sekutu mereka dan hendak pergi, mereka khawatir karena aku telah mengetahui rahasia mereka."
"Ah, begitukah? Sungguh keji mereka !"
"Dan engkau muncul menolongku! Hemmm, dilihat begitu, aku menjadi penasaran sekali. Pertama, kita pernah bertanding beberapa gebrakan, akan tetapi ketika itu aku mengeroyokmu bersama Can Hong San. Kemudian, engkau menghindarkan aku dari bahaya. Seolah-olah aku lemah sekali dan engkau yang jagoan!" Wajah Giok Cu menjadi merah dan ia memandang dengan mulut cemberut dan marah!
"Aih, siapa bilang begitu, Nona?" "Aku yang bilang begitu!"
"Akan tetapi aku tidak menganggap begitu. Engkau lihai sekali dan aku. "
"Engkau kelihatan seperti lebih lihai dariku, akan tetapi aku belum mau percaya sebelum melihat buktinya engkau dapat mengalahkan aku. Hayo keluarkan senjatamu dan mari kita menguji kepandaian kita masing-masing!"
"Aku tidak pernah menggunakan senjata " kata Han
Beng dan dia mengerutkan alisnya. Gadis ini agak tinggi hati walaupun dia sudah yakin akan kelihaiannya dan diam-diam dia pun ingin sekali mencoba sampai di mana kehebatan gadis yang amat menarik hatinya ini. "Aku tidak ingin berkelahi, Nona."
"Siapa yang mengajakmu berkelahi Tidak ada hal yang membuat kita bermusuhan, akan tetapi sebelum aku mengukur sendiri kepandaianmu, selamanya aku akan merasa penasaran. Hayo, kita coba dengan tangan kosong saja kalau begitu! Lihat pukulan!" Setelah berkata demikian, Giok Cu maju menyerang dengan tamparan kedua tangan yang dilakukan bertubi dari kanan dan kiri!
"Wuuuttttt ...............! Wuuuttttt. !"
Han Beng kagum. Tamparan itu mendatangkan angin pukulan yang amat dahsyat, tanda bahwa gadis cantik ini memiliki tenaga sin-kang yang kuat. Dia mengelak dengan menarik tubuhnya ke belakang. Akan tetapi, gerakan gadis itu lincah dan cepat bukan main. Begitu kedua tamparannya luput, dara itu sudah menerjang lagi dengan kecepatan seperti seekor burung walet menyambar-nyambar! Kedua tangannya seolah berubah menjadi enam, menyerang Han Beng ke manapun tubuh pemuda ini menghindar.
"Plak! Plakkk!" Karena tak mungkin mengelak terus dari serangan bertubi-tubi itu, Han Beng menangkis dua kali dan keduanya terkejut karena pertemuan Kedua tangan mereka mendatangkan getaran yang amat kuat. Han Beng mulai merasa gembira. Gadis ini ternyata memang hebat, pikirnya dan timbullah kegembiraannya untuk bertanding benar-benar, hitung-hitung berlatih dengan seorang lawan yang tangguh. Selama meninggalkan gurunya, Pek I Tojin di puncak Thai- san, belum pernah ia bertemu dengan lawan sedemikian tangguhnya, kecuali pemuda bercaping itu. Dia pun kini membalas dan terjadilah pertandingan yang amat hebat dan seru. Angin menyambar-nyambar di sekeliling mereka, menggerakkan daun pada ujung ranting-ranting pohon, bahkan banyak daun berguguran, terdengar suara bersiutan nyaring dan tubuh kedua orang itu tidak lagi nampak bentuknya, berubah menjadi dua bayangan orang yang berkelebat. Pertandingan yang dahsyat, bagaikan dua ekor naga saja yang saling serang memrebutkan mustika!
Makin lama Han Beng menjadi semakin kagum. Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu benar-benar merupakan lawan yang demikian hebatnya sehingga tidak akan mudah baginya untuk dapat mengalahkannya! Dia tahu setelah mereka bertanding selama puluhan jurus, bahwa hanya satu saja keunggulannya, yaitu dalam hal tenaga sin- kang. Dia telah berkali-kali mengadu kekuatan ketika menangkis sedikit demi sedikit menambah tenaganya sampai dia dapat mengukur bahwa kuatan sin-kang gadis itu masih berada di bawah kekuatannya sendiri. Kalau menghendaki, dengan keunggulan tenaga sakti ini, tentu dia akan mampu mengalahkannya. Akan tetapi tidak, dia tidak tega melakukan hal itu. Dia tidak ingin menyinggung perasaannya, membuatnya malu dan penasaran.
Di lain pihak, Giok Cu juga terkejut bukan main, di samping kekagumannya. Pemuda tinggi besar ini memang luar biasa! Pantas ketika ia membantu Hong San mengeroyoknya, mereka berdua tidak mampu mendesak pemuda ini. Memang hebat bukan main, kokoh kuat bagaikan batu karang. Dia merupakan satu-satunya lawan yang pernah dihadapinya, yang membuat ia kehabisan akal. Semua ilmunya telah ia keluarkan, bahkan ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari Ban-tok Mo-li ia keluarkan, namun tanpa hasil. Uap panas menghitam yang keluar dari tangannya, membuyar ketika bertemu dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu, hawa yang lembut namun mengandung kekuatan yang dahsyat. Beberapa kali, ketika mereka terpaksa mengadu telapak tangan, ia terhuyung mundur dan kedua tangannya terasa kesemutan! Makin bahwa dengan tangan kosong ia tidak akan mampu menang, Giok Cu yang masih penasaran dan ingin menguji sampai sepenuhnya, lalu meloncat ke belakang dan ia sudah menghunus pedangnya. Pedang Seng-kang-kiam yang tumpul!
"Sudah cukup mengadu ilmu silat, tangan kosong, mari kita coba dengan senjata. !" Giok Cu tidak dapat menahan
napasnya yang terengah dan juga merasa betapa di dada bagian ulu hati terasa berat dan nyeri, la memejamkan mata sebentar dan napasnya memburu.
"Ah, Nona.........! Engkau ........ engkau terluka dalam !
Sungguh aneh, aku......... aku tidak memukulmu, tapi jelas