Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 100

Memuat...

Tanpa menanti jawaban, Hong San segera melangkah keluar setelah mengeluarkan ucapan yang bernada memerintah itu. Dan seperti dengan sendirinya, sembilan orang pimpinan persekutuan itu ditambah tiga orang Kim-bwe kam-houw sudah bangkit dan mengikutinya. Di sini saja sudah nampak pengaruh dan wibawa Can Hong San yang memiliki suatu sikap aneh dan tegas di samping kelembutannya.

ooOOoo

Si Han Beng menahan langkahnya ketika mendengar derap kaki kuda dari depan itu. Ternyata penunggang kuda itu orang di antara belasan orang perajurit pengawal yang tadi mati- matian membela Liu Tai-jin, dan dia datang berkuda sambil menuntun seekor kuda lain. begitu melihat Han Beng yang berdiri di tepi jalan setapak itu, dia menahan kudanya dan cepat meloncat turun, lalu memberi hormat kepada Han Beng.

"Tai-hiap, saya diutus oleh Liu Tai-Jin untuk mengundang Tai-hiap agar menghadap beliau karena beliau ingin bicara denganmu. Silakan, Tai-hiap, saya sudah membawa seekor kuda untukmu."

Han Beng mengerutkan alisnya, tadi memang menolong pembesar yang sedang dikepung dan diserang para penjahat atau perampok itu, akan tetapi dia sesungguhnya tidak ingin berkenalan dengan pembesar itu.

Siapapun orangnya yang diserang perampok dan terancam bahaya tentu akan dibelanya. Dia tidak mengharapkan jasa atau imbalan. Akan tetapi, memang dia tadi sedang melamun dan rasa ingin tahu sekali mengapa pembesar itu dimusuhi orang-orang yang lihai tadi. Yang menarik hatinya adalah bahwa di antara perampok itu terdapat orang-orang Hui yang mengenalnya dan bahkan tidak mau menyerangnya. Agaknya bukan perampok, akan tetapi mengapa orang-orang Hui menyerang seorang pembesar? Dan siapa pula pemuda bercaping dan gadis cantik yang amat lihai tadi? dia merasa seperti pernah mengenal pemudanya, akan tetapi dia lupa lagi, hal ini karena dia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, wajah yang banyak tutup caping lebar.

"Sebetulnya aku tidak mempunyai urusan dengan majikanmu itu, akan tetapi karena dia sudah memerlukan mengundangku, biarlah kutemui dia sebentar Han Beng lalu meloncat ke atas punggung kuda dan bersama perajurit pengawal itu dia pergi menuruni lereng. Yang penting baginya bukan memenuhi panggilan pembesar itu, melainkan karena ingin memperoleh keterangan tentang peristiwa tadi.

Pembesar Liu sudah menanti di depan kereta ketika Han Beng tiba. Dan kini bukan hanya belasan orang perajurit pengawal yang berjaga di situ melainkan ada kurang lebih seratus orang perajuri Diam-diam Han Beng terkejut dan kagum. Pembesar ini tentu orang penting pikirnya, kalau tidak begitu, bagaima mungkin dia dapat dijaga oleh demikian banyaknya perajurit yang melihat pakaiannya, juga bukan perajurit penjaga keamanan biasa, melainkan seperti perajurit- perajurit dari kota raja. Pria ber usia lima puluh lima tahun yang tinggi kurus itu bersikap agung dan sepasang matanya mengeluarkan sinar yang dingin penuh wibawa.

Han Beng meloncat turun dari kudanya yang segera diurus oleh seorang perajurit. Dia menghampiri pembesar itu dan memberi hormat, dibalas dengan hormat pula oleh pembesar itu.

"Terima kasih, Huang-ho Sin-liong, bahwa engkau suka memenuhi undangan kami," kata pembesar itu dengan ramah. Han Beng terkejut dan mengangkat muka memandang.

"Maaf, Tai-jin, bagaimana Tai-jin dapat mengenal julukan saya?"

Pembesar itu tersenyum. "Dari laporan para perajurit pengawal kami. Orang-orang Hui itu mengenal dan menyebutut jlukanmu. Mari kita duduk di dalam kereta, kami ingin bicara denganmu, Tai-hiap."

Setelah duduk berhadapan di dalam kereta sedangkan para perajurit menjaga di seputar kereta dalam keadaan siap siaga, pembesar itu memperkenalkan diri.

"Tai-hiap, kami adalah seorang pejabat dari kota raja yang melakukan pemeriksaan terhadap pelaksanaan pengumpulan tenaga kerja pembuatan terusan yang dilakukan oleh para pejabat di sepanjang Sungai Huang-ho. Kami dikenal sebagai Liu Tai-jin, dan kami menerima perintah langsung dari Sribaginda Kaisar sebagai utusan istimewa yang membawa kekuasaan penuh."

Mendengar ini, Han Beng terkejut cepat dia memberi hormat lagi.

"Maafkan saya, Liu Tai-jin."

"Tidak perlu banyak sungkan. Engkau tadi telah menyelamatkan kami dan telah

membuat jasa besar. " "Maaf, Tai-jin. Hal itu saya anggap sebagai suatu tugas dan kewajaran, sama sekali bukan jasa!"

Pembesar itu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya. "Kami mengerti, kami banyak mengenal pendekar yang berpendirian seperti itu. Agaknya engkau telah banyak melakukan hal-hal yang baik sehingga orang-orang Hui itu pun mengenalmu dan tidak melawanmu. Apakah engkau mempunyai hubungan dengan orang-orang Hui itu?"

"Sama sekali tidak, Tai-jin. Saya pun tidak tahu siapa mereka. Saya memang selalu membela siapa saja yang tertindas dan menjadi korban kejahatan, tidak peduli dia itu orang Hui atau bukan. Saya sendiri juga merasa heran, mengapa Tai-jin yang merupakan seorang pejabat tinggi dari kota raja, ada yang berani menghadang dan hendak merampok? Dan mengapa pula suku bangsa Hui itu ikut pula menyerang? Siapa pula pemuda dan gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu? Saya ingin sekali mengetahui semua itu, kalau saja Tai-jin dapat memberi penjelasan kepada saya."

"Memang engkau sengaja kuundang untuk kuberi penjelasan, dan kami harapkan engkau akan suka membantu pemerintah dalam tugas yang amat penting ini, Tai-hiap. Bolehkah kami mengetahui namamu?"

"Saya bernama Si Han Beng, Tai-jin dan maaf. terus

terang saja, saya kehilangan Ayah Ibu dan keluarga karena menjadi korban paksaan untuk dijadikan pekerja paksa pembuat terusan. Orag tua saya melarikan diri dan celaka dalam perjalanan "

Post a Comment