Halo!

Naga Beracun Chapter 122

Memuat...

Siong Ki mencabut pedangnya dan tampaklah sebatang pedang yang tua dan tumpul, namun mengandung sinar yang dingin redup seperti sinar bintang

Itulah Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) yang ampuh, milik Bu Giok Cu yang dititipkannya kepada murid itu untuk dipakai mencari Si Hong Lan yang le nyap diculik Kwa Bi Lan

Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar yang gagah perkasa

Dia tidak ingin mengingkari perbuatannya sendiri

Memang dia ikut menyerbu He k-houw-pang

Dia kini harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu

Juga dia ditantang, sebagai seorang pendekar, te ntu saja pantang mundur kalau ditantang

Baiklah, orang muda

Aku tidak akan lari dari tanggung-jawab!

katanya dan diapun sudah melolos sabuk rantai bajanya dan bersiap

Siong Ki, jangan.........!!

Coa Liu Hwa mencoba untuk mencegah

Bibi sudah mengkhianati Hek-houw-pang, harap jangan ikut campur!

kata pemuda itu dengan suara ketus

Orang muda, engkau te rlalu menghina isteriku!

Lie Koan Tek berseru marah

Kalau engkau hendak menyerangku, majulah!

Siong Ki segera menggerakkan pedangnya menyerang dan begitu dia menyerang, Lie Koan Tek te rkejut karena serangan itu selain cepat bagaikan kilat menyambar, juga mendatangkan hawa yang amat kuat

Dia memutar sabuk rantai bajanya menangkis sambil mengerahkan tenaga pula

Tranggg!!!

Pertemuan antara pedang tumpul dan rantai baja itu sedemikian kuatnya sehingga menggetarkan tubuh Liu Hwa yang menonton dengan cemas, dan ia melihat betapa suaminya te rhuyung ke belakang, sedangkan pemuda itu tetap te gak

Ini saja sudah menunjukkan bahwa dalam hal tenaga sin-kang, pemuda itu le bih kuat! Juga Lie Koan Tek memaklumi hal ini, maka dia bersikap hati-hati

Siong Ki merasa mendapat angin

Dia tersenyum mengejek,

Lie Koan Tek, kalau dulu engkau tidak membunuh orang-orang He k-houw-pang, sekarangpun, melihat muka bibi Liu Hwa, aku tidak akan membunuhmu, hanya akan memberi hajaran kepadamu sebagai hukuman!

Setelah berkata demikian dia menyerang dengan dahsyat dan bertubi-tubi

Pedangnya lenyap menjadi gulungan sinar yang berkilauan

Lie Koan Tek juga menggerakkan rantai baja itu untuk membentuk bente ng perlawanan yang kokoh, karena dia maklum bahwa mengnadapi pedang yang ampuh dan ilmu pedang hebat itu, dia akan cepat roboh kalau membalas

Melihat suaminya terdesak dan te rancam, Liu Hwa tidak mungkin dapat berdiam diri saja

Iapun mencabut pedangnya menerjang ke depan sambil berte riak,

Siong Ki, engkau tidak boleh menghina suamiku!

Siong Ki memutar pedangnya menangkis dan mengejek,

Bagus, sekarang pengkhianatanmu sudah lengkap, bibi Liu Hwa, dan biarlah aku mewakili arwah suamimu untuk memberi pelajaran kepadamu pula!

Pedangnya bergerak cepat secara luar biasa sekali dan terdengar Liu Hwa berseru kesakitan lalu te rhuyung ke belakang karena pangkal le ngan kanannya te rluka oleh ujung pedang lawan

Melihat isterinya te rluka, Lie Koan Tek lalu memutar rantai bajanya menyerang dengan dahsyat sehingga terpaksa Siong Ki menangkis sambil mundur dan tersenyum mengejek

Biarlah hari ini orang-orang yang berdosa menerima hukumannya!

katanya dan kembali pedangnya bergerak luar bias a sekali, membuat Lie Koan Tek menjadi bingung dan biarpun dia sudah memutar rantai bajanya dengan cepat, tetap saja pundaknya te rkena ujung pedang lawan dan dia te rhuyung dan pundak kirinya berdarah

Siong Ki tertawa

Ha-ha-ha, kalian rasakan sekarang! Lie Koan Tek dan engkau bibi Liu kalau kalian mau mengakui kesalahan kalian di hadapanku, aku akan mengampuni kalian dan membebaskan kalian

Akan te tapi kalau kalian tidak mengakui kesalahan, te rpaksa aku akan memberi hajaran lebih keras lagi.

Suami isteri itu saling pandang

Bagi oran g yang menghargai kegagahan seperti mereka, merendahkan diri dan kehormatan merupakan pantangan

Hampir berbareng mereka berseru,

Kami tidak sudi!

Wajah Siong Ki menjadi merah saking marahnya

Hemm, orang-orang tak bermalu masih mempertahankan kehormatan

Kalau begitu, biar kuberi pelajaran yang lebih pahit lagi

Siapkan senjata kalian!

Suami isteri itu telah berdiri berdampingan dengan senjata di tangan, siap untuk melawan sampai mati

Hyaaaaatttt........!

Tubuh Siong Ki menerjang dahsyat dan pedangnya menyambar bagaikan kilat

Tranggg.......!!

Siong Ki terkejut setengah mati ketika pedangnya berte mu dengan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan mengandung hawa dingin

Ketika dia meloncat ke belakang karena merasa tangannya te rgetar hebat dan memandang, te rnyata yang menangkis pedangnya tadi adalah Cin Cin!

Kau.......?

Akan tetapi Cin Cin tidak memberi kesempatan lagi kepada Siong Ki untuk bicara, karena ia segera menyerang dengan dahsyat bukan main, sehingga terpaksa Siong Ki harus memutar pedangnya untuk melindungi dirinya

Serangan yang dilakukan Cin Cin amat hebatnya dan setiap kali mereka beradu pedang, Siong Ki merasa betapa seluruh lengannya tergetar hebat

Dia melompat agak jauh ke belakang

Aku.....aku tidak ingin berkelahi denganmu, aku hanya akan memberi pelajaran.....

Kembali Siong Ki tidak dapat melanjutkan katakatanya karena begitu tangan kiri Cin Cin bergerak, belasan batang jarum yang bersinar menyambar ke arah tubuh pemuda itu

Siong Ki te rkejut dan cepat melompat jauh ke kiri

Kalau Cin Cin maju membela ibunya dan dia dikeroyok tiga, sudah pasti dia akan terancam bahaya

Melawan Cin Cin seorangpun belum tentu dia menang, maka mengingat bahwa dia telah melukai Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa, yang te ntu akan membuat Cin Cin marah sekali, dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri! Cin Cin tidak mengejarnya, hanya berdiri mematung, memandang ke arah perginya pemuda itu membelakangi suami isteri itu dengan sikap acuh

Coa Liu Hwa dan suaminya saling pandang, kemudian Liu Hwa yang kini timbul pula harapan dan dugaannya bahwa gadis itu adalah pute rinya, segera menghampiri dan menegur dengan suara gemetar

Kau.....kau.....Kam Cin

Cin Cin.....?

Mendengar suara ibunya memanggilnya, Cin Cin merasa jantungnya seperti diremas

Betapa inginnya menubruk dan merangkul ibunya yang selama ini amat dirindukannya, akan tetapi di situ ada Lie Koan Tek dan ia masih merasa penasaran

De ngan perlahan ia memutar tubuh menghadapi ibunya, mukanya menjadi pucat akan tetapi sikapnya masih dingin dan ia hanya menatap wajah ibunya, tanpa menjawab dan tanpa memperlihatkan gejolak perasaannya

Liu Hwa yang kini tidak ragu lagi bahwa gadis ini adalah pute rinya yang hilang, berkata lagi, suaranya bercampur is ak,

.

..Cin Cin......lupakah engkau kepadaku

Lupakah.........engkau pada.......ibumu.....

Aku ibumu......

Bukan! Engkau bukan ibuku!

Cin Cin berseru dengan suara lantang seperti berte riak, karena suaranya itu memang langsung keluar dari perasaan hatinya

Cin Cin! Engkau pasti Cin Cin anakku! Aku ibumu, anakku.....

Liu Hwa berkata dengan air mata bercucuran, namun ia masih belum berani mendekat, karena sebelum gadis itu mengaku bahwa ia benar Cin Cin, tentu s aja ia belum yakin benar

Hemm, kalau benar engkau ini ibuku, kenapa engkau membiarkan anakmu hidup te rlantar sendiri sampai belasan tahun, sedangkan engkau sendiri bersenang-senang dan enak-enakan menikah lagi dengan seorang laki-laki lain

Mana ada seorang ibu seperti itu

Melupakan suami yang te was melupakan anak yang hilang, sebaliknya bersenang-senang sendiri?

Liu Hwa yang mendengar ucapan penuh penyesalan itu, merasa betapa dadanya seperti ditusuk-tusuk, ia hanya dapat membelalakkan mata memandang kepada anaknya dengan air mata bercucuran

Melihat ini, Lie Koan Tek maju dan berkata dengan suara tegas

Nona, engkau tidak berhak bicara seperti itu kepada isteriku!

Kini Cin Cin menoleh kepadanya dan te rsenyum mengejek

Bagus! Engkau merasa dirimu besar karena engkau te rkenal sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai dan bersikap gagah

Huh, menurut pendengaranku tadi, engkau ikut menyerbu Hekhouw-pang dan ikut membasmi He k-houw-pang, kemudian engkau membunuh ketua He k-houwpang dan melarikan is terinya, lalu memaksa isteri ketua Hek-houw-pang menjadi isterimu! Dan sekarang engkau masih gagah-gagahan berlagak membelanya

Pendekar macam apa engkau ini?

Cin Cin......ahhh.......Cin Cin.......jangan berkata demikian.....

Liu Hwa menje rit, terkulai dan pingsan dalam rangkulan suaminya yang cepat meloncat mendekatinya

Lie Koan Tek memondong tubuh yang pingsan itu, meenoleh kepada Cin Cin dan bertanya,

Beginikah sikap seorang anak yang baik, membalas budi seorang ibu kandung dengan sikap sekejam ini

Kalau ia sampai mati, maka engkaulah pembunuh ibu sendiri!

Setelah berkata demikian, Koan Tek membawa isterinya ke bawah sebatang pohon di mana tumbuh rumput tebal dan merebahkan tubuh Liu Hwa di atas rumput, lalu menotok beberapa jalan darah dan mengelus te ngkuknya

Liu Hwa kini bernapas le mbut dan te ratur, agaknya ia tertidur

Ketika Lie Koan Tek melihat gadis itu mengikutinya dan kini duduk di atas akar pohon sambil memandang isterinya dengan bingung, diapun bertanya dengan suara kaku

Kenapa engkau mendekat

Apakah engkau masih penas aran dan hendak membunuh aku dan isteriku

Silakan kalau begitu.

Akan te tapi, melihat ibunya roboh pingsan agaknya semua kemarahannya le nyap atau setidaknya mereda dari hati Cin Cin

Ingin ia menubruk dan menangisi ibunya, akan tetapi panasnya hati membuat ia masih menahan perasaannya dan ia memandang kepada Lie Koan Tek

Me ngingat namamu yang besar sebagai pendekar Siauw-lim-pai, demi kehormatan Siauwlim-pai, ceritakanlah apa yang te lah terjadi dan mengapa pula ibuku sampai dapat menjadi isterimu!

Koan Tek maklum bahwa semua harus diceritakan kepada gadis ini untuk mengobati hati itu yang agaknya terluka hebat

Sambil duduk di atas rumput, berhadapan dengan gadis bertangan kiri buntung itu, Koan Tek menceritakan keadaan dirinya

Nona, engkau te ntu sudah mendengar akan malapetaka yang menimpa Siauw-lim-pai belasan tahun yang lalu, bukan

Post a Comment