Selain engkau memang keturunan dari para pimpinan Hek-houwpang, juga engkau memiliki ilmu kepandaian tinggi
Di bawah pimpinanmu, te ntu He k-houwpang akan menjadi semakin kuat.
Semua orang menyatakan setuju, akan tetapi Cin Cin menggeleng kepala dan memandang kepada Siong Ki
Siong Ki , tidak perlu engkau memujiku seolah engkau sendiri tidak memiliki kemampuan
Padahal, melihat dari tangkis anmu tadi saja, aku tahu bahwa engkau kini te lah menjadi seorang yang amat lihai
Belum tentu aku akan mampu mengalahkanmu
Siapakah gurumu, Siong Ki.
Guruku adalah beliau yang tadinya akan menjadi gurumu, Cin Cin, yaitu Huang-ho Sinliong.
Aihhh .!
Mata yang indah itu te rbelalak
Sungguh beruntung engkau, dan betapa malangnya aku
Aku yang dikirim ke sana hampir celaka dan gagal menjadi muridnya, sedangkan engkau malah menjadi muridnya
Pantas engkau hebat
Paman Thio Pa, ada calon ketua Hek-houwpang yang hebat di sini
The Siong Ki inilah yang paling te pat menjadi ketua
Aku sendiri akan pergi sekarang juga.
Cin Cin, kenapa te rgesa-gesa
Engkau hendak pergi ke manakah?
Aku hendak mencari ibuku
Apakah ada yang tahu di mana sekarang ibu berada?
Ah, Ibumu
Beliau telah menjadi guruku yang pertama sekali.
.
kata Siong Ki
Mendengar ini Cin Cin memandang heran
Gurumu?
Benar Cin Cin
Bahkan aku te lah mengikuti ibumu yang hendak mencarimu
Akan tetapi dalam perjalanan, kami diserang penjahat dan berpisah
Aku te rlunta-lunta dan teringat akan Huang-ho Sin liong, maka aku melakukan perjalanan yang jauh itu dan akhirnya berhasil sampai ke Hong-cun dan dite rima sebagai murid.
Tahukah engkau di mana ibu sekarang?
Siong Ki menggeleng kepala
Cin Cin, ibumu telah menikah lagi kata Thio Pa dengan suara lirih dan berhati-hati
Namun, tetap saja Cin Cin terkejut bukan main, wajahnya berubah kemerahan dan ia membalikkan tubuh menghadapi Thio Pa dan memandang dengan sinar mata penuh selidik
Me nikah......
Di ..
dimana ibu sekarang?
tanyanya dengan suaranya terdengar lirih
Thio Pa menggeleng kepalanya
Ibumu dan suaminya pernah datang ke sini dan mencarimu, akan tetapi mereka tidak mengatakan dimana mereka tinggal
Juga hanya sebentar saja mereka datang menemui mendiang suheng Lai Kun,
kata Thio Pa singkat dan agaknya dia juga merasa tidak enak hati untuk membicarakan ibu gadis itu yang telah menikah lagi
Suasana menjadi hening, semua orang te rdiam karena mereka semua maklum betapa berita itu te ntu mendatangkan perasaan yang amat tidak enak dalam hati gadis yang perkasa itu
Juga tidak seorangpun berani bertanya mengapa tangan kiri Cin Cin buntung
Mereka semua merasa jerih dan takut te rhadap gadis yang ganas dan amat lihai itu
Sejenak Cin Cin termenung, te nggelam dalam lamunan
Ia membayangkan betapa ibunya yang selama ini dirindukannya, kini telah bersanding dengan seorang pria lain, bukan ayahnya yang telah tewas
Pria lain! Dan mungkin telah mempunyai anak-anak lain pula! Sukar baginya untuk dapat menerima kenyataan pahit ini
Hatinya terasa panas, iapun memandang kepada Thio Pa, sinar matanya mencorong tajam penuh selidik sehingga menggetarkan hati orang yang dipandangnya
Paman Thio Pa, katakan, siapakah suami ibu itu?
Biarpun hatinya merasa tidak enak, te rpaksa Thio Pa mengaku
Suaminya yang baru adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai bernama Lie Koan Tek!
Ahhh.......!
Seruan ini hampir berbareng keluar dari mulut Siong Ki dan Cin Cin
Biarpun hampir sama bunyinya, namun seruan itu dikeluarkan oleh dua hati yang berlainan perasaannya
Siong Ki te rkejut bukan main mendengar nama Lie Koan Tek yang dianggap sebagai seorang pendekar yang menyeleweng, karena telah membantu pemberontak menyerbu Hek-houw-pang, orang yang te lah membunuh ayahnya, dan sekarang malah menjadi suami Coa Liu Hwa, bekas isteri ketua Hek-houw-pang yang te was! Adapun Cin Cin te rkejut karena iapun sudah mendengar nama pendekar ini
Bagaimana ibunya tiba-tiba dapat menjadi isteri pendekar Siauw-lim pai itu
Kalau sudah diketahui bahwa ibunya menjadi isteri pendekar itu, agaknya tidak te rlalu sukar untuk mencarinya karena nama besar pendekar itu membuat dia mudah dicari dan ditemukan
Karena iapun merasa tidak enak dan bahkan canggung dan malu mendengar ibunya menikah lagi, Cin Cin tidak mau banyak bicara lagi
Cin Cin lalu berkata singkat,
Selamat tinggal, aku mau pergi sekarang!
Dan iapun melompat keluar dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ, diiringi pandang mata kagum dari semua orang
Paman dan bibi, akupun harus pergi sekarang,
kata Siong Ki dan ucapan ini mengejutkan semua orang
Eh, nanti dulu, Siong Ki
Kenapa engkaupun ikut-ikutan hendak pergi
Kami belum mendengar semua pengalamanmu......
kata Thio Pa
Sebaiknya engkau tinggal di sini dan menjadi ketua He k-houw-pang,
kata pula seorang paman lain
Terima kasih, akan tetapi aku masih mempunyai tugas penting dari suhu
Kelak, kalau semua urusanku telah beres, aku akan datang lagi
Selamat tinggal!
Pemuda itupun berkelebat dan le nyap dari situ
Orang-orang He k-houw-pang menghela napas panjang
Dua orang muda yang belasan tahun meninggalkan Hek-houw-pang, telah kembali sebagai orang-orang yang amat lihai, yang sedianya akan dapat memperkuat Hek-houw-pang dengan menjadi ketua
Akan te tapi, mereka pergi lagi dan tak dapat dicegah
Akhirnya, setelah semua urusan perkabungan penguburan je nazah Lai Kun selesai, mereka mengadakan perundingan di antara mereka sendiri dan karena Thio Pa merupakan saudara tertua, maka Thio Pa dipilih menjadi ketua Hek-houwpang menggantikan Lai Kun yang telah tewas
-ooo0dw0ooo-
Bibi, harap jangan khawatir
Cin-taijin (pembesar Cin) yang kumaksudkan ini adalah seorang pejabat tinggi dan penting di Lok-yang
berkuasa dan kaya raya
Yang mengutusku adalah Cin hu-jin (nyonya Cin), isterinya yang tertua
Keluarga itu membutuhkan pembantu wanita yang bersih dan rajin, dan aku melihat pute rimu Alian dan Akim itu te pat untuk menjadi pembantu di sana
Pembantu wanita di keluarga itu hampir sama dengan dayang di is tana kaisar, akan hidup mewah dan te rhormat,
demikian antara lain bujukan seorang wanita berusia tigapuluhan tahun kepada seorang ibu di dusun itu
Ibu itu berusia limapuluhan tahun, seorang janda yang mempunyai dua orang puteri yang sudah menjelang dewasa
Alian berusia tujuhbelas tahun, sedangkan adi knya, A kim berusia limabelas tahun
Sebagai gadis -gadis dusun, kakak beradik ini sederhana dan polos
Namun, mereka memiliki kulit yang bersih dan putih, dengan wajah yang segar bagaikan bunga mawar te rsiram embun pagi dan tubuh yang padat dan kuat karena te rbiasa bekerja berat sejak kecil
Biarpun sederhana, namun bentuk wajah mereka manis dan kalau saja mereka mengenakan pakaian yang bersih dan indah, wajah mereka dirias, tentu mereka akan menjadi gadis-gadis yang menarik hati
Akan tetapi, toanio
Aku hidup menjanda, miskin dan hanya mempunyai dua orang anak itu
Kalau mereka semua pergi, lalu dengan siapa aku hidup
Memang aku ingin melihat mereka senang dan berkecukupan, akan te tapi seorang saja dari mereka, toanio
Yang seorang boleh kauajak bekerja pada pembesar itu, dan yang kecil biar tinggal di rumah menemaniku.
Aku membutuhkan dua orang bibi
Bukankah kalau mereka pergi berdua, berarti mereka tidak akan kesepian dan ada temannya
Bibi jangan khawatir, kalau mereka pergi, bibi dapat membayar seorang pembantu.........
Aihhh, toanio sungguh bicara yang bukanbukan
Untuk makan sendiri saja sulit, bagaimana dapat membayar pembantu?
Kalau dua orang anak bibi bekerja di Lok-yang, bibi tidak akan menjadi miskin lagi
Lihat, Cin hujin telah menyuruh aku meninggalkan uang untuk dua orang puterimu, dan dengan uang ini, engkau dapat hidup dan membayar pembantu selama satu tahun
Dan sebelum uang ini habis, kedua orang anakmu te ntu sudah pulang, karena setiap tahun baru mereka diperbolehkan pulang, membawa pakaian dan uang untu k bibi
Dan tahun baru tinggal tujuh bulan lagi.
Wanita yang berpakaian mewah itu mengeluarkan sebuah kantung dan membuka kantung itu sehingga nampak beberapa potong uang perak yang berkilauan
Wanita berpakaian mewah dan pesolek itu mengaku sebagai Lu-toanio (nyonya Lu) utusan keluarga pembesar dari kota Lok-yang yang datang ke dusun itu untuk mencari pembantu wanita