Gadis itu te rsenyum
Memang manis sekali Kui Eng
Sepagi itu, biarpun belum mandi, belum bersolek, rambutnya masih kusut, demikian pula pakaiannya belum diganti yang baru, namun kecantikannya nampak le bih asli, tanpa bedak tanpa gincu
Koko, apakah engkau mengharapkan aku keluar menemuimu?
Tentu saja
Bukankah aku akan pergi
Hatiku merasa tidak enak sekali tadi, terpaksa meninggalkan rumah sebelum sempat berpamit denganmu yang kukira masih tidur.
Hati Kui Eng merasa gembira bukan main
Koko Thian Ki, tahukah engkau bahwa malam tadi aku tidak pernah tidur barang sekejappun
Dan tadi, le wat tengah malam, aku sudah turun dari pembaringan dan diam-diam aku sibuk di dapur.
Lewat tengah malam sibuk di dapur
Untuk apa?
tanya Thian Ki heran
Untuk membuat ini!
katanya dan gadis itu memperlihatkan bungkusan-bungkusan kepada Thian Ki, wajahnya tersipu namun berse ri gembira
Aku menyembelih ayam dan menggorengnya, memasaknya seperti kesukaanmu, dan memanggang roti......untuk bekalmu di jalan, koko
Turunkanlah buntalanmu itu agar kumasukkan bungkusan ini ke dalam buntalanmu.
De ngan hati terharu Thian Ki menurunkan buntalan pakaiannya dan menyerahkannya kepada Kui Eng
Gadis itu membuka buntalan, menaruh bungkusan makanan ke dalam buntalan dan tibatiba ia berkata dengan suara yang sedih
Koko, engkau akan pergi merantau seorang diri
Bagaimana kalau pakaianmu kotor dan robekrobek
Siapa yang akan mencuci pakaianmu dan menjahit yang robek
Aih, kalau aku boleh pergi bersamamu, te ntu aku yang akan mencuci pakaianmu, memasakkan makanan untukmu, dan menjahit pakaianmu yang robek.
Thian Ki menerima kembali buntalan pakaiannya dan menalikan di punggungnya seperti tadi
Tercium olehnya bau masakan daging ayam yang sedap, dan te rasa betapa bungkusan makanan yang kini berada dalam buntalan di punggungnya itu masih hangat
Eng-moi, engkau baik sekali
Terima kasih atas kebaikanmu ini, Eng-moi
Aku pergi takkan lama
Ibu dan suhu memesan agar paling lama a ku pergi dua tahun, harus sudah pulang.
Dua tahun
Aih, lama amat, koko! Aku.....lalu aku bagaimana............?
Mendengar suara gadis itu tergetar seperti hendak menangis, Thian Ki yang tidak ingin diantar tangis segera berkata sambil tersenyum
Aih adik yang manis, mana kelincahanmu yang biasa
Engkau biasanya lincah jenaka dan tidak cengeng............
Akupun tidak cengeng!
Kui Eng berkata dan membalikkan tubuh, berdiri membelakangi Thian Ki
Koko, engkau berangkatlah, pergilah!
Eng-moi, jagalah ibu dan suhu baik-baik selama aku tidak berada di rumah
Nah, Eng-moi, aku pergi sekarang
Selamat tinggal.
Kui Eng tidak menjawab, bahkan tidak lagi menengok
Karena mengira bahwa gadis itu tidak mau melihat dia pergi, Thian Ki melangkah meninggalkannya
Akan te tapi baru lima langkah, dia berhenti dan membalikkan tubuhnya
Dia mendengar tangis tertahan dan ketika dia menengok, dia melihat gadis itu menangis, mencoba untuk tidak bersuara, akan te tapi kedua pundaknya bergoyang-goyang, kepalanya menunduk dan kedua tangannya menutupi mukanya
-ooo0dw0ooo-
Eng-moi..........!
Thian Ki sekali loncat telah berada di dekat gadis itu dan menyentuh pundaknya,
Kenapa engkau menangis......?
Suara Thian Ki terdengar lembut penuh getaran kasih sayang
Koko
..
!
Kui Eng membalik dan merangkul
Bagaikan tanggul pecah, tangisnya mengguguk dan ia menempelkan mukanya di dada Thian Ki, kedua le ngannya melingkari pinggang
Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya menangis seperti anak kecil
Thian Ki membiarkan saja gadis itu menangis sepuasnya, karena dia tahu bahwa tangis merupakan obat paling ampuh untuk melarutkan segala macam rasa penasaran, kecewa ataupun duka
Dia merasa betapa dia amat iba dan menyayang gadis ini
Rasa ibanya le bih banyak disebabkan karena dia melihat betapa gadis ini amat mencintanya, namun dia sendiri belum yakin apakah ada cinta seperti itu di hatinya terhadap Kui Eng
Dia tidak merasakan desakan nafsu berahi terhadap Kui Eng
Tidak ada hasrat untuk mendekat, dan mencumbunya
Yang ada hanyalah perasaan iba dan ingin menghiburnya agar tidak berduka
Tenanglah, Eng-moi
Kuatkan hatimu dan hentikan tangismu.
setelah tangis gadis itu agak mereda, Thian Ki berbisik, membujuknya dan tangannya mengelus rambut kepala yang bersandar di dadanya itu
Bajunya di bagian dada te rasa basah oleh air mata gadis itu
Koko.....aku......aku ingin ikut......
akhirnya gadis itu dapat berbisik
Hampir Thian Ki tertawa
Sungguh Kui Eng masih separti kanak-kanak saja
Kanak kanak yang manja, pikirnya
Aih, Eng-moi
Hal itu tidak mungkin kita lakukan
Suhu dan ibu te ntu akan marah kepada kita.
Aku takut kehilangan engkau, koko.........aku tidak akan dapat hidup tanpa engkau di sisiku...
Thian Ki memejamkan matanya
Hatinya terharu sekali
Demikian besarkah cinta hati Kui Eng kepadanya
Dia merasa seperti berdosa kalau tidak membalas cinta kasih yang demikian besarnya
Eng-moi, aku pergi bukan untuk selamanya
Aku pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan suhu kepadaku
Aku pergi mencari obat, untuk menyembuhkan diriku
Engkau tinggallah di rumah
Kalau aku pulang kelak, aku sudah berhasil mendapatkan Liong-cu-kiam dan sudah sembuh dari cengkeraman hawa beracun.
Teringat akan keadaan tubuh Thian Ki, Kui Eng dapat menenangkan hatinya
Ia masih mendekap tubuh pemuda itu, menengadah dan dengan air mata masih membasahi pipi dan mata yang kemerahan oleh tangis, ia menatap wajah pemuda yang dicintainya itu
Koko......aku akan menunggumu di rumah..
semoga engkau berhasil......
Kedua lengannya melepaskan rangkulan di pinggang, dan iapun melangkah mundur sampai tiga langkah
Thian Ki memandang dengan perasaan iba dan sayang
Aku pergi, Eng-moi
Jagalah s ubu dan ibu baikbaik.
Thian Ki lalu membalik dan melangkah dengan cepatnya meninggalkan Kui Eng yang masih berdiri seperti patung
Baru setelah bayangan Thian Ki le nyap di sebuah tikungan jauh di depan, Kui Eng menghela napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu pulang dengan langkah gontai
Sepekan kemudian, setelah Thian Ki pergi, Cian Bu Ong dan Sim Lan Ci berkemas untuk melakukan perjalanan jauh
Melihat ayah ibunya berkemas, Kui Eng tentu saja ingin ikut, namun selalu dilarang oleh ayahnya
Bahkan ketika ia merengek kepada Sim Lan Ci yang kini dipanggil subo olehnya, wanita itu menghiburnya dengan le mbut
Kui Eng, kami pergi untuk mencarikan obat bagi Thian Ki
Obat itu hanya te rdapat di pegunungan Himalaya, yaitu Swe-hiat-ang-cio (Rumput Merah Pencuci Darah)
Perjalanan ini jauh sekali dan sulit, namun aku yakin ayahmu dan aku akan mampu mendapatkan rumput merah itu
Engkau jagalah di rumah, Kui Eng
Siapa tahu, sebelum kami kembali, Thian Ki yang lebih dulu pulang
Kalau engkau ikut pula dengan kami, bagaimana kalau Thian Ki pulang?
Akhirnya, karena bujukan ayahnya dan subonya, Kui Eng mau ditinggalkan walaupun ia selalu cemberut
Suami isteri itupun berangkat meninggalkan dusun, menuju ke barat, ke pegunungan Himalaya untuk mencarikan obat pemunah racun yang amat langka itu
Akan te tapi, orang yang memiliki watak lincah je naka dan penuh semangat seperti Kui Eng, bagaimana mungkin tahan untuk hidup seorang diri saja di rumah mereka
Apalagi seluruh penghuni dusun itu kini menganggap ia sebagai pengganti ayahnya dan selalu melapor kepadanya kalau te rjadi hal-hal yang menyulitkan
Seolah ia yang menggantikan ayahnya menjadi kepala dusun! Hanya satu bulan saja ia dapat bertahan
Setelah hatinya tidak dapat menahannya lagi, ia mengumpulkan para pemuka dan sesepuh dusun itu, meninggalkan pesan bahwa ia akan pergi menyusul Thian Ki dan menyerahkan kepengurusan dusun itu kepada mereka
Juga ia menyerahkan perawatan rumah keluarganya kepada para pelayan
Setelah itu, Kui Eng meninggalkan dusun, menggendong sebuah buntalan pakaian dan bekal uang yang cukup
Ia ingin mencari Thian Ki.! -ooo0dw0ooo-
Suhu dan bibi, te cu (murid) te lah menerima budi yang berlimpah dari ji-wi (anda berdua)
Sampai matipun teecu tidak akan melupakan budi itu dan kalau teecu tidak sempat membalasnya, teecu hanya berdoa semoga Tuhan yang akan membalas budi kebaikan ji-wi kepada teecu.
Pemuda berusia duapuluh dua tahun itu bertubuh tinggi te gap, wajahnya tampan dan dari pakaian dan bentuk rambutnya, juga kuku jari tangannya, dapat diketahui bahwa dia seorang pemuda yang pandai menjaga diri, nampak rapi dan anggun, walaupun pakaiannya te rbuat dari kain yang sederhana
Terutama sepasang mata pemuda itu yang membayangkan bahwa dia bukan pemuda biasa