"Beri tanda untuk mundur, sedapat mungkin keluar dari tempat ini"
Kata Yu Siang Ki yang tidak ingin mengorbankan teman-temannya dan maklum bahwa setelah muncul dua orang sakti yang sama sekali tidak pernah disangkanya, keadaan pasukannya terancam bahaya. Kakek pengemis itu mengangguk lalu meloncat pergi sambil mengeluarkan pekik seperti orang menangis. Itulah tanda untuk mundur, maka paniklah pasukan pengemis. Mereka mulai mundur sambil mempertahankan diri, didesak oleh musuh yang kini mendapat hati.
Jalan keluar kiranya malah lebih sukar daripada jalan masuk karena selain pasukan Hsi-hsia dan pendeta-pendeta jubah merah, juga kini sudah muncul pula Thai-lek Kauw-ong dan Siauw-bin Lomo dari sebelah kiri dan dari sebelah kanan muncul pula Kam Sian Eng dan Suma Kiat"
Percuma saja para pengemis melakukan perlawanan dan berusaha lari. Mereka disapu sampai bersih, dan tidak seorang pun dapat lolos dari tempat itu. Ketika Bu-tek Siu-lam mendengar bahwa pengemis muda yang tampan gagah ini adalah seorang Kai-pangcu (Ketua Pengemis) yang memimpin pasukan pengemis, ia menjadi kagum dan berkata,
"Eh, kiranya engkau seorang pangcu. Hi-hik, Aku mendengar laporan para pengemis anak buahku bahwa ada seorang ketua pengemis muda belia yang katanya adalah putera mendiang Yu Kang Tianglo. Engkaukah orangnya?"
"Benar, dan aku pun tahu bahwa engkaulah orang dari barat yang menampung kaum sesat untuk menyelewengkan dunia pengemis ke dalam kejahatan. Sudah tiba saatnya kita membuat perhitungan"
Kata Yu Siang Ki, sedikit pun tidak gentar dan ia sudah menggerakkan tongkat panjangnya.
"Hi-hi-hik, bagus. Bouw Lek Couwsu akan suka sekali menerima bantuanmu dan anak buahmu. Eh, bocah ganteng, engkau ikut saja denganku membantu Couwsu."
"Bu-tek Siu-lam, Kau kira aku Yu Siang Ki orang macam apakah? Lihat tongkatku"
Pemuda itu sudah menerjang dengan gerakan yang dahsyat. Tongkatnya mengeluarkan suara mengaung ketika menyambar ke arah kepala Bu-tek Siulam. Namun kakek ini hanya tertawa mengejek dan berkata,
"Hi-hik, percuma kau melawan"
Tongkat Siang Ki lewat di dekat kepalanya ketika tokoh banci ini mengelak. Namun sungguh tak disangkanya ketika tongkat itu seperti seekor naga membalikkan tubuh sudah membalik dan menusuk ke arah dadanya. Ketika ia cepat miringkan tubuh, tongkat itu kembali tahu-tahu sudah menghantam ke arah pinggangnya.
"Hiyaa.., kau boleh juga.."
Seru tokoh ini, terkejut dan juga kagum. Kiranya biarpun masih muda, pengemis ini memiliki kepandaian yang hebat. Pantas saja menjadi ketua kai-pang dan juga tidak mengecewakan menjadi putera mendiang Yu Kiang Tianglo yang dulu amat tersohor. Pada saat itu, muncul dua orang pengemis tua. Tubuh mereka sudah terluka di lengan dan pundak, dan wajah mereka penuh keringat, pandang mata mereka penuh kegelisahan. Mereka serentak menerjang Bu-tek Siu-lam membantu Yu Siang Ki dan seorang di antara mereka berkata,
"Pangcu mari kita lari, keadaan sudah berbahaya dan mendesak.."
Kiranya dua orang pengemis ini yang melihat betapa pasukannya yang sedang melakukan usaha mengundurkan diri dihajar habis-habisan oleh musuh, kini berusaha membujuk Siang Ki untuk menyelamatkan diri. Mendengar ucapan mereka ini, Siang Ki mempercepat gerakan tongkatnya sehingga ujung tongkatnya berubah menjadi puluhan buah banyaknya, yang kesemuanya menyerbu ke arah jalan darah dan bagian-bagian lemah dari tubuh Bu-tek Siu-lam.
"Hi-hi-hi-hik, dasar pengemis tak tahu diri"
Seru Bu-tek Siu-lam dan tubuhnya berkelebat ke arah dua orang pengemis tua itu. Guntingnya yang besar menyambar dan mengeluarkan bunyi nyaring "Klikk"
Klakk"
Dua orang pengemis itu menjerit keras dan tubuh mereka roboh menjadi.. empat potong. Siang Ki kaget dan kemarahannya meluap. Ia segera menerjang, mainkan ilmu tongkat ajaran ayahnya sambil mengerahkan semua tenaga sin-kang di tubuhnya. Lenyaplah tubuh pemuda ini, berkelebatan dengan loncatan cepat, diselimuti gulungan sinar tongkatnya yang menyambar-nyambar. Bunyi mengaung, makin meninggi sampai melengking-lengking nyaring.
Namun, yang dihadapi pemuda lihai ini adalah Bu-tek Siu-lam, seorang tokoh besar, seorang di antara Bu-tek Ngo-sian. Sungguhpun dasar ilmu silat Bu-tek Siu-lam tidak semurni ilmu silat Yu Siang Ki, namun jauh lebih berbahaya dan ganas, juga kakek banci ini menang tenaga dan menang pengalaman. Semua terjangan tongkat Yu Siang Ki yang demikian dahsyatnya dapat terbendung oleh gunting sehingga terdengarlah berkali-kali suara nyaring disusul percikan bunga api ketika kedua senjata itu bertemu. Yu Siang Ki terkejut. Setiap kali senjatanya bertemu senjata lawan, lengannya menjadi kesemutan. Inilah tandanya bahwa tenaga sin-kang lawan amat kuat.
Dan ia pun dapat melihat betapa teman-temannya roboh seorang demi seorang, melihat pula munculnya Siauw-bin Lo-mo si kakek sakti di samping Pak-sin-ong dan Bu-tek Siu-lam ini. Habislah harapannya, bukan hanya untuk menolong Pangeran Mahkota Khitan, bahkan kini ia sendiri terancam, pasukannya hancur dan entah bagaimana dengan nasib Kwi Lan. Semua kegagalan ini membuat ia menjadi nekat dan marah. Tongkatnya diputar makin hebat dan kini ia tidak pedulikan apa-apa lagi, semua perhatiannya ia curahkan dalam penyerbuan terhadap Bu-tek Siulam.
"Bocah tampan yang bodoh. Engkau masih tidak mau menyerah?"
Bu-tek Siu-lam mengejek dan terpaksa ia pun mempercepat gerakan guntingnya karena biarpun masih muda, lawannya ini benar-benar tak boleh dipandang ringan. Jarang ia menemui lawan semuda tapi setangguh ini, dan diam-diam ia makin kagum. Alangkah akan senangnya mempunyai seorang kekasih seperti pemuda ini, pikirnya. Tampan, kulitnya putih halus, matanya jernih tajam, lahir batinnya gagah perkasa dan jantan. Namun tidaklah mudah menangkap pemuda tampan ini, dan mereka sudah bertanding sampai seratus jurus lebih.
Yu Siang Ki juga menjadi bingung. Ia maklum bahwa ia tidak akan menang melawan kakek yang amat sakti ini. Betapapun juga, ia harus mempertahankan diri dan kalau perlu mengadu nyawa dengan Bu-tek Siu-lam. Tidak terlalu penasaran kalau ia mati bersama kakek ini yang memiliki ilmu jauh lebih tinggi dari padanya. Ia harus menggunakan akal, kalau tidak, hanya mengandalkan ilmu silat saja tak mungkin ia dapat membunuh Bu-tek Siu-lam. Berpikir demikian, Siang Ki yang sudah menjadi nekat dan putus harapan itu lalu mencondongkan tubuh ke depan, tongkatnya menyambar ke arah kepala lawan disusul tangan kiri yang melepaskan tongkat dan memukul dengan jari-jari terbuka ke arah dada. Serangan tongkatnya tidak berbahaya, dan pukulan inilah yang berbahaya, mengandung tenaga sin-kang yang kuat. Bu-tek Siu-lam bukan anak kecil, dan ia tahu akan akal ini, yaitu yang disebut serangan membesar-besarkan yang kosong menyembunyikan yang isi.
Menghadapi sambaran tongkat, ia hanya menundukkan kepala dan berbareng ia menggerakkan gunting besarnya, yang sudah dibuka dan siap menggunting lengan kiri Yu Siang Ki yang mengirim pukulan ke dada. Tangan kiri Siang Ki sudah meluncur ke depan dengan sepenuh tenaga dan gunting itu siap menanti untuk mencaplok lengan. Terlambatlah Siang Ki untuk menarik kembali lengannya, dan memang sesungguhnya inilah akalnya, akal seorang nekat yang hendak mengadu nyawa. Ia menggunakan lengan kirinya itu untuk memancing, menjadi umpan dan kalau perlu mengorbankan lengan kirinya dicaplok gunting lawan. Begitu melihat gunting menyambar lengan kirinya, tanpa menarik kembali lengan kirinya, kaki kanannya maju melangkah dan tongkatnya menghantam ke arah pinggang lawan sekerasnya.
Hebat pukulannya ini, cepat dan tak tersangka-sangka. Ia akan kehilangan lengan kiri, akan tetapi pukulannya tentu akan membinasakan lawannya. Bu-tek Siu-lam terkejut setengah mati melihat betapa lengan kiri itu sama sekali tidak mengelak atau ditarik kembali, membiarkan menjadi korban gunting. Sebagai seorang ahli tingkat tinggi, ia menjadi curiga dan menarik kembali guntingnya sehingga ketika terdengar suara "klik", hanya ujung lengan baju Siang Ki saja tergunting. Dengan gerakan reflex yang mengagumkan, kakek itu sudah miringkan tubuh dan sekaligus menggerakkan guntingnya menangkis tongkat. Ia terlambat sedikit, tongkat yang tertangkis itu menyeleweng ke bawah dan menghantam paha kirinya.
"Bukkk.."
Bu-tek Siu-lam terhuyung ke belakang, meringis kesakitan. Biarpun tulang pahanya tidak remuk, namun celananya pecah dan tampak pahanya yang putih itu kini menggembung dengan warna biru kemerahan.
"Bocah sinting. Kau tak mengenal kasihan orang"
Teriaknya marah-marah dan kini terpincang-pincang ia menerjang maju, guntingnya menyambar-nyambar ganas dan diam-diam tangan kirinya mengeluarkan senjatanya yang ke dua, yaitu seutas benang dengan jarumnya. Yu Siang Ki kaget dan menyesal sekali. Ia berhasil memukul lawannya, akan tetapi tahu pula bahwa ia hanya mendatangkan luka di kulit saja. Maka terpaksa ia lalu membela diri dan memutar tongkatnya. Akan tetapi sebentar saja Yu Siang Ki menjadi repot terdesak secara hebat.
Ia melihat jarum berkilauan yang menyambar-nyambar seperti seekor lebah hidup, dan celakanya, jarum itu menyambar ke arah kedua matanya. Pemuda ini terpaksa membantu tongkatnya dengan ujung lengan baju dikibaskan setiap kali ada sinar berkilau menyambar mata. Namun dengan cara begini, permainan tongkatnya menjadi kacau-balau. Ketika kembali gunting menyambar pinggang, ia menangkis dengan tongkat. Kilauan jarum menyambar mata, ia kibas dengan lengan kiri dan berusaha menangkap jarum. Akan tetapi jarum yang diikat benang itu seperti hidup digerakkan tangan kiri Butek Siu-lam, kini jarum itu terbang membalik dan tahu-tahu telah menancap d pergelangan tangan kanan Yu Siang Ki"
Pemuda ini mengeluh, tongkatnya terlepas, dan ketika ia membungkuk untuk menyambar kembali senjatanya, punggung gunting lawannya menotok tengkuknya. Yu Siang mengeluh perlahan dan roboh pingsan.
Dalam, keadaan tidak berdaya, Kiang Liong terpaksa menonton saja ketika ia dan para tawanan lain dibelenggu, karena yang melakukan ini adalah Bouw Lek Couwsu sendiri yang masuk ke ruangan tahanan ditemani Bu-tek Siu-lam, Pak-sin-ong dan Siauw-bin Lo-mo. Di antara para tawanan, hanya dia dan Puteri Mimi yang kini dalam keadaan sehat. Akan tetapi apa artinya dia dan Puteri Mimi berdua saja menghadapi empat orang kakek sakti ini? Belum waktunya untuk menerjang dan mati-matian mengadu nyawa, pikirnya.
Terpaksa ia berpura-pura lemah dan tidak berbuat sesuatu sehingga mereka semua ini terbelenggu dengan rantai-rantai baja, diikat pada dinding kamar tahanan Kiang Liong disudut kiri, dan berbaris di sebelah kanannya adalah Pangeran Talibu, Yu Siang Ki, Kam Kwi Lan dan Puteri Mimi. Lima orang muda belia berbaris dalam keadaan terbelenggu di dalam kamar tahanan itu, nasib mereka berada di tangan kakek-kakek yang kejam, dan ganas. Puteri Mimi terisak-isak menangis. Melihat ini, Kiang Liong berkata perlahan dan tenang menghibur,
"Harap puteri jangan gelisah dan putus harapan. Percayalah bahwa Bouw Lek Couwsu yang amat mengharapkan bantuan Khitan tidak akan begitu gila untuk membunuh puteri dan Pangeran. Ia melakukan ini sebagai gertakan saja untuk mengancam dan membujuk Pangeran Talibu yang saya lihat amat gagah dan keras hati tidak mau menyerah sehingga mengalami siksaan. Kalau dia nanti sadar dan melihat puteri menangis, hal ini amat tidak baik bagi pertahanannya. Engkau adalah puteri Panglima Kayabu yang gagah perkasa, tidak semestinya takut menghadapi bahaya yang baru sekian saja."
Puteri Mimi menghentikan tangisnya. Hanya air matanya yang masih mengalir turun melalui kedua pipinya, akan tetapi. makin lama air mata itu pun makin mengecil dan akhirnya berhenti.
"Terima kasih, Kiang-kongcu. Sesungguhnya, aku tidak akan memalukan nama besar ayahku dan aku bukan menangis karena takut. Kematian di tangan musuh bukanlah apa-apa bagiku. Yang kutangisi dan kusedihkan adalah keadaan Pangeran Talibu. Melihat keadaan jasmaninya tersiksa seperti itu sudah cukup mengenaskan, akan tetapi melihat betapa ia tadi.. ah, Kongcu, engkau tahu bahwa dia adalah kakak kandungku, bahwa dia adalah Pangeran Mahkota. Hati siapa takkan berduka melihat kakak sendiri dan pangerannya menjadi.. menjadi.. gila..?"
Kiang Liong menarik napas panjang. Ia tadi pun melihat betapa Pangeran Talibu memeluk dan menciumi adik kandungnya itu secara berlebihan bahkan secara tidak patut. Pelukan dan ciuman yang mengandung nafsu berahi sepenuhnya. Bahkan sedemikian hebat nafsu itu menggelora dan menguasai Pangeran tadi sehingga Pangeran itu tidak mempedulikan kehadiran orang lain dan hendak memaksa Sang Puteri. Hal ini memang benar-benar tidak wajar dan ini pula yang menyebabkan ia tadi turun tangan menolong Sang Pangeran.
"Puteri Mimi, harap kau suka tenang. Saya tahu bahwa sikapnya tadi tidak wajar, seperti juga sikap Mutiara Hitam ini, akan tetapi percayalah, mereka ini pasti terkena racun yang hebat. Mereka berdua bukanlah orang-orang jahat dan juga tidak gila. Tunggu saja kalau mereka sadar, tentu kita akan. mendengar keterangan mereka.."
Terdengar keluhan Kwi Lan. Mimi menoleh ke sebelah kirinya, melihat Kwi Lan menggerakkan kaki tangan yang terbelenggu, kemudian kepalanya dan akhirnya membuka matanya. Sejenak mata itu nanar dan bingung, kemudian Kwi Lan menoleh ke kanan kiri dan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan. Mata itu kini memandang ke arah pintu besi dan mulutnya memaki.
"Heh si bedebah Bouw Lek Couwsu, kakek tua bangka mau mampus yang tak tahu malu. Kau pengecut besar yang hanya mengandalkan jebakan-jebakan rahasia, racun-racun menjijikkan dan bantuan pengeroyokan. Kalau memang kau mengaku jantan pemimpin bangsa biadab Hsi-hsia, hayo kita bertanding sampai selaksa jurus"