"Tidak penting aku siapa, yang penting, apa kau benar Pangeran Mahkota Talibu?"
Suaranya gemas dan tidak sabaran. Pemuda itu menahan senyum yang mengembang di bibirnya, lalu mengangguk.
"Aku mengenalmu, Ya.. Aku mengenalmu. Kau tidak, asing bagiku.. tapi di mana dan kapankah? Nona, kau siapakah?"
"Wah, kau cerewet benar, apakah pangeran-pangeran memang cerewet? Aku datang untuk menolongmu."
Pemuda itu tiba-tiba membelalakkan matanya dan berseru.
"Nona, awas.."
Kwi Lan yang sudah lega hatinya karena yakin bahwa pemuda inilah Pangeran Mahkota Khitan yang harus ditolongnya, cepat membalikkan tubuh dan pedang Siang-bhok-kiam sudah berada ditangan kanannya. Kiranya tiga orang itu, sisa para penjaga sudah kembali ke situ dan berdiri di depan guha dengan senjata di tangan dan sikap mengancam. Melihat ini, Pangeran Talibu mengeluh, memejamkan mata dan berkata lirih.
"Nona, kenapa kau mengorbankan diri untukku? Kenapa..?"
Ia tidak berani menoleh, tidak tega menyaksikan nona ini dikeroyok para penjaga yang ia tahu amat lihai. Di samping kekhawatirannya, ia pun masih mengingat-ingat di mana dan kapan ia pernah melihat nona ini. Wajah yang jelita itu bukan asing baginya, wajah yang amat dikenalnya, akan tetapi ia tidak ingat kapan dan di mana. Pangeran Talibu makin merapatkan matanya, keningnya berkerut ketika ia mendengar suara.
"cring-cring-trang-trang"
Bertemunya senjata tajam, diseling bentakan marah tiga orang penjaga yang mengeroyok nona itu. Ia tahu betapa lihai para penjaga itu, terutama sekali hwesio-hwesio jubah merah. Seorang gadis remaja seperti tadi mana akan mampu bertahan melawan pengeroyokan mereka? Melawan seorang di antara mereka saja sudah cukup berat. Kecuali kalau dara itu memiliki ilmu kehebatan sehebat ibunya. Ibunya. Teringatlah ia sekarang. Gadis itu mirip benar dengan ibunya. Hanya bedanya tua dan muda. Mata itu, bibir itu. Ia menjadi makin heran dan makin khawatir.
Sepuluh menit sudah lewat. Suara pertempuran sudah berhenti. Ah, tentu gadis yang mirip ibunya itu sudah menggeletak menjadi mayat. Atau tertawan. Ih, kalau ia teringat akan nasib lima orang gadis yang jatuh ke tangan Bouw Lek Couwsu, Butek Siu-lam dan Siauw-bin Lo-mo, ia menjadi ngeri. Lebih baik dara ini mati saja daripada tertawan hidup-hidup. Talibu membuka matanya dan.. ia terbelalak heran dan juga kagum. Tiga orang penjaga sudah menggeletak di depan guha, tak bernyawa lagi. Adapun dara itu sejenak memandang ke sekeliling depan guha, kemudian meloncat masuk ke dalam guha, gerakannya seperti seekor burung, demikian ringan dan lincah. Wajahnya tetap tenang dan napasnya biasa saja seakan-akan bukan seperti orang yang baru saja dikeroyok tiga lawan berat.
"Tahanlah, aku akan melepaskan belenggu"
Bisik Kwi Lan dan sinar hijau berkelebat ketika ia menggerakkan pedangnya. Terdengar suara nyaring empat kali. Pangeran Talibu menggigit bibir karena setiap kali pedang membabat belenggu, ia merasa kulit tangan atau kakinya panas dan sakit. Akan tetapi kini ia telah bebas, belenggu yang mengikat kaki tangannya sudah putus semua. Ia menjadi makin kagum, memandang Kwi Ian dengan sepasang mata bersinar-sinar.
"Nona, kau.."
"Sstt, mari kita lari"
Kwi Lan menyambar tangan Pangeran itu dan ditariknya keluar dari guha, diajak lari cepat meninggalkan guha. Tak jauh dari guha Talibu melihat mayat dua orang hwesio jubah merah, maka mengertilah ia mengapa hanya ada tiga orang penjaga yang tadi mengeroyok gadis perkasa ini. Kiranya yang dua orang sudah dipancing keluar dan dibunuh pula. Talibu lalu mengambil sebatang pedang milik hwesio itu, barulah ia mengikuti Kwi Lan sambil berkata.
"Nona, kau benar hebat. Aku kagum dan berterima kasih.."
"Sssttt, jangan cerewet. Kita belum bebas"
Bisik Kwi Lan galak. Talibu yang berjalan berindap-indap di belakang gadis ini mau tak mau tersenyum. Gadis ini hebat, memiliki ilmu silat tinggi dan ketabahan yang luar biasa. Juga galaknya tidak kepalang. Baru sekali ini selama hidupnya ia dimaki-maki cerewet beberapa kali oleh seorang gadis remaja. Dia, putera Ratu Khitan, Pangeran Mahkota yang disembah-sembah rakyatnya, kini dicerewet-cerewetkan oleh seorang gadis jelita yang galak.
Akan tetapi belum lama mereka pergi, baru tiba di daerah hutan, terdengar bunyi terompet dan dari empat penjuru muncullah pasukan Hsi-hsia yang mengurung mereka. Pangeran Talibu tertawa, membuat Kwi Lan terheran dan gadis ini menoleh, memandang Pangeran itu, khawatir kalau-kalau dalam keadaan terancam pangeran itu menjadi gila karena takut. Akan tetapi Pangeran yang tak berbaju, tubuhnya luka-luka itu berdiri tegak dengan sikap gagah, pedang yang dipungutnya tadi melintang di depan dada, matanya bersinar-sinar, wajahnya amat tampan. Pangeran itu membalas pandang mata Kwi Lan dan berkata.
"Bagus, Seperti inilah selayaknya seorang pangeran tewas. Tidak mati konyol dalam guha sebagai tawanan. Mati dalam medan perang adalah mati nikmat, mati terhormat. Namun, kalau Tuhan menghendaki dan aku akan dapat terbebas daripada ancaman ini sehingga dapat melanjutkan hidup, percayalah, aku Talibu selama hidupku tidak akan pernah melupakan engkau. Sekarang aku tidak peduli lagi. Andaikata kita berdua takkan dapat lolos, bagi aku, mati dalam bertanding di sampingmu merupakan kehormatan besar. Ha-ha-ha"
Kwi Lan memandang dengan mata berseri. Sungguh patut menjadi seorang pangeran. Patut menjadi putera angkat ibu kandungnya. Patut menjadi kakak angkatnya. Pemuda ini memiliki semangat pendekar, jiwa satria, dan amat tampan"
Ia pun tersenyum dan berkata lirih.
"Pangeran Talibu, selama nyawa saya belum meninggalkan badan, selalu masih ada harapan untuk hidup. Mari kita menghajar anjing-anjing Hsi-hsia itu"
"Bagus. Kau hebat sekali, Nona. Marilah kita mati bersama atau bebas"
Pangeran Talibu berseru penuh semangat sambil menerjang maju, memutar pedangnya.
Melihat gerakan pedang Pangeran itu, Kwi Lan maklum bahwa orang-orang Hsi-hsia untuk sementara tidak mungkin dapat merobohkannya, maka ia pun lalu meloncat maju memutar pedangnya, tidak jauh dari Sang Pangeran karena ia harus memasang mata melindungi Pangeran itu dari marabahaya. Begitu enam orang memapaki pedangnya, Kwi Lan membuat gerakan menyilang dengan pedang agak ke bawah dan robohlah tiga orang lawan dengan perut terobek pedang. Tiba-tiba terdengar suara bergelak ketawa dan Kwi Lan cepat-cepat meloncat mundur ketika ada angin hebat menyambar dari kanan kiri. Kiranya Siauw-bin Lo-mo telah berdiri di depannya dan tadi mengirim pukulan dengan tangan kirinya.
"Kakek busuk"
Mari kita mengadu nyawa"
Bentak Kwi Lan yang menjadi marah sekali melihat musuh besarnya Ini.
"Heh-heh-heh, kau masih belum kapok?"
Siauw-bin Lo-mo mengejek dan cepat menubruk maju. Kwi Lan menyambar dengan tusukan pedang, akan tetapi sambil membuang diri ke kiri, kakek itu maju terus, tangannya menjangkau dan hampir saja pundak Kwi Lan kena dicengkeram. Hebat bukan main dan aneh gerakan kakek lihai ini. Kwi Lan berlaku hati-hati, tidak memberi kesempatan kepada kakek bertangan kosong itu untuk mendekati dirinya dengan jalan memutar pedang ke mana pun bayangan kaki itu berkelebat. Dengan gerakannya yang lincah dan ilmu pedang yang ganas, untuk sementara Kwi Lan dapat, bertahan terhadap desakan kakek ini, akan tetapi hatinya gelisah karena ia kini sama sekali tidak dapat membagi perhatiannya untuk melindungi Pangeran Talibu.
"Pangeran, kau larilah"
Bentak Kwi Lan nyaring sambil menubruk dengan pedangnya yang diputar membentuk lingkaran panjang. Namun Siauw-bin Lo-mo sambil terkekeh-kekeh dapat menghindarkan diri dan membalas dengan sebuah tendangan kuat yang dipapaki sabetan pedang dengan gemas oleh Kwi Lan.