"Kau bawa dia dan mari kita pergi"
Katanya lirih.
"Heh-heh-heh, nanti dulu, Ibu. Masih ada lagi yang harus kubawa bersama kita. Aku tanggung Bouw Lek Couwsu akan lebih senang hatinya dan yang akan kubawa ini merupakan tanggungan akan bala bantuan Khitan, Heh-heh"
"Siapa?"
"Puteri Panglima Besar Khitan. Kau tunggu sebentar, Ibu."
Suma Kiat menyarungkan pedangnya yang tadi terampas Kiang Liong, mengebut-ngebutkan bajunya dan meloncat keluar dari dalam kamar. Di ruangan tengah Suma Kiat bertemu dengan Suma Ceng yang berjalan tergesa-gesa bersama Puteri Mimi.
"Kiat-ji (Anak Kiat), apakah yang terjadi? Aku mendengar suara ribut-ribut. Apakah.. kau bertengkar lagi? Mana Liong-ji?"
"Heh-heh-heh, anakmu sudah mampus"
Suma Kiat terkekeh kurang ajar dan matanya melahap Puteri Mimi yang jelita.
"Apa..? Di mana dia..?"
Suma Ceng menjerit. Akan tetapi dengan lebih kurang ajar lagi Suma Kiat mendorong dengan tangan kanannya ke arah dada bibinya sambil membentak.
"Pergilah kau"
Nyonya Kiang itu cukup mengenal ilmu silat sehingga ia cepat miringkan tubuh mengelak dari dorongan kurang ajar itu. Akan tetapi tidak cukup mengenal kecurangan dan kelihaian keponakannya. Dengan sabetan kaki yang amat cepat, Suma Kiat menyerang. Kedua kaki nyonya itu tersabet, terangkat dan tubuhnya terbanting ke lantai. Kepalanya membentur lantai dan nyonya ini pingsan.
"Kau jahat"
Mimi membentak marah, sepasang matanya yang indah lebar itu terbelalak.
"Heh-heh, tidak kepadamu, manis."
Suma Kiat terkekeh, tangannya menjangkau hendak menangkap. Akan tetapi Puteri Mimi bukan seorang wanita lemah. Cepat ia mengelak dan tangan kirinya yang dikepal keras menghantam dada Suma Kiat, disusul tendangan kaki kanannya.
"Heh-heh, kau gesit juga, manis"
Suma Kiat dengan gerakan seenaknya mengelak dan berusaha menangkap lagi. Namun Mimi dengan nekat melakukan perlawanan, mengirim pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan mengarah bagian berbahaya dan lemah dari tubuh lawan.
Terdengar suara ribut-ribut, tanda para penghuni rumah sudah terbangun semua oleh suara hiruk-pikuk ini. Suma Kiat cukup cerdik, tidak mau melayani gadis itu lebih lama lagi. Tiba-tiba ia berseru dan tangannya menyelonong, mengirim pukulan yang amat kuat ke arah muka Mimi. Gadis ini terkejut dan cepat berusaha menangkis, akan tetapi ternyata pukulan ini hanya gertakan belaka dan di lain saat tubuh Mimi sudah menjadi lemas karena tertotok oleh tangan kiri Suma Kiat. Mimi mengeluh dan tubuhnya yang akan roboh itu disambar oleh Suma Kiat dan dipanggulnya, dibawa lari ke arah kamar Kiang Liong. Melihat Suma Kiat kembali membawa tubuh seorang gadis Khitan yang cantik, Sian Eng tidak berkata apa-apa. Wanita ini lalu menyambar tubuh Kiang Liong, dikempit dengan lengan kirinya, kemudian berkata singkat.
"Hayo pergi, ikuti aku"
Bagaikan bayangan dua setan, ibu dan anak ini menghilang melalui jendela dan terus melompat ke atas genteng, berlari-lari dan lenyap ditelan kegelapan malam. Di dalam gedung menjadi gempar. Pangeran Kiang dan para pelayan serta pengawal menjadi kaget dan gelisah melihat Nyonya Kiang pingsan di ruangan tengah. Lebih kaget lagi mereka melihat bahwa Puteri Mimi telah lenyap, demikian pula Kiang Liong lenyap dari dalam kamarnya yang kacau-balau keadaannya. Setelah Nyonya Kiang siuman, barulah Pangeran Kiang mendengar akan perbuatan Suma Kiat. Ia menghela napas panjang dan mengomel.
"Ah, tidak disangkanya dia menurun ayahnya.."
Tentu saja Pangeran Kiang ini kenal akan Suma Boan yang memang amat jahat. Mendengar ucapan suaminya, Nyonya Kian atau Suma Ceng bangkit dan berkata ketus.
"Perlu apa memburuk-burukkan nama Kakakku yang sudah mati? Lebih baik kau cepat-cepat berusaha, mengerahkan pengawal untuk mencari Liong-ji dan Puteri Mimi"
Pangeran Kiang menggerakkan pundak, akan tetapi ia keluar dari kamar isterinya untuk mengerahkan pasukan pengawal. Lenyapnya Kiang Liong tidaklah amat menggelisahkan hatinya. Pertama karena ia tahu akan kelihaian Kiang Liong sehingga lenyapnya tidak perlu dikhawatirkan. Ke dua karena ia memang kurang peduli akan pemuda itu yang menurut hukum adalah putera sulungnya akan tetapi yang ia ketahui dengan yakin di dalam hati bukanlah keturunannya. Ia maklum akan permainan asmara antara isterinya dan Suling Emas, maka melihat sikap dan wajah Kiang Liong, melihat pula betapa Suling Emas amat mencinta pemuda itu, ia merasa yakin bahwa pemuda itu adalah keturunan Suling Emas. Akan tetapi ia terlampau mencinta isteri, maka ia tidak pernah membicarakan hal ini. Sementara itu, Kiang Liong dan Mimi dibawa lari Kam Sian Eng dan Suma Kiat.
Semalam suntuk mereka berlari seperti terbang cepatnya menuju ke barat. Mereka melewati kota Lok-yang, terus ke barat sampai mereka tiba di luar sebuah hutan besar di kaki Bukit Fu-niu-san di lembah Sungai Kuning. Malam telah terganti pagi dan matahari telah bersinar cemerlang. Mereka berhenti di luar hutan dan Kiang Liong yang sudah tertotok lemas kembali dilempar oleh wanita berkerudung itu sehingga rebah telentang di atas tanah. Suma Kiat duduk di bawah pohon, tubuh Mimi dipangkunya.