Mendengar itu, Lie Bun Siu campur bicara.
"Di antara orang Han juga ada yang memeluk agama Islam," katanya. "Aku mempunyai minat untuk memuja Tuhan Junjungan kamu!"
Ketua itu menjadi serba salah. Tidak ada alasan untuk menolak Bun Siu. Pula, sebagai seorang budiman, ia tetap bersyukur dan berterima kasih pada pemuda ini. Bun Siu bukan hanya menolong dia tetapi semua bangsanya. Di sebelah itu, ia hanya terpengaruh sama hari kecilnya. Ia juga tidak puas yang gadis bangsanya yang paling cantik dinikahkan kepada orang Han. Ia terpengaruh keras rasa kebangsaannya.
"Soal ini sangat sulit, tidak dapat aku memutuskan sendiri," akhirnya ia kata. "Di dalam ini hal kita harus menanyakan pendapatnya Hapulam, tertua kita yang paling terpelajar*'
Hapulam itu adalah orang tua suku bangsa Tiehyen yang paling paham tentang kitab suci. Si ketua lantas menghampirkan ahli kitab itu, yang berada di antara mereka
"Hapulam," tanyanya, lantas, "pernahkah bangsa kita mengalami peristiwa seperti ini? Aku minta sukalah kau memberikan keterangan yang jelas."
Ditanya begitu, Hapulam tunduk. Ia berpikir.
"Pelajaranku sangat rendah, apa pun aku tidak mengerti," sahutnya selang sesaat.
"Jikalau Hapulam yang terpelajar masih menyebutkan tidak tahu apa-apa maka lain orang pastilah terlebih tidak tahu apa- apa lagi!" kata si ketua.
Didesak demikian, Hapulam berkata juga: "Kuran Surah 49 ayat 13 mengajarkan:-'Manusia, seorang pria dan seorang wanita, membuatmu menjadi sekian bangsa dan agama, untuk menggampangkan kamu saling mengenal, maka dalam pandangan Tuhan, yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling baik. Di dalam dunia ini, pelbagai bangsa dan agama, semua ada ciptaan Allah, maka juga Allah bilang, yang paling baik ialah paling mulia. Pula ada ajaran yang menganjurkan untuk kita mencintai tetangga kita dekat dan jauh, kawan, dan melayani baik-baik tetamu kita. Orang Han ialah tetangga kita yang jauh, asal mereka tidak mengganggu kita, kita harus mencintai serta melayaninya."
"Kau benar," berkata si ketua. "Tetapi anak perempuan kita, dapatkah dia dinikah orang Han?"
"Surah 2 ayat 221 membilang," berkata Hapulam: "'Jangan kamu nikah wanita yang memuja boneka sampai mereka telah mempercayai agama kita-jangan kamu menikahkan anak perempuan kepada pria yang memuja boneka sampai pria itu mempercayai agama kita. Surah 4 ayat 23 pun melarang menikah dengan wanita yang ada suaminya atau sanak langsung, selainnya itu, semua diperbolehkan sampai pun pada bujang dan budak. Maka kenapa dia tidak dapat menikah sama orang Han?"
Selama Hapulam berkhotbah itu, orang banyak berdiri mendengari dengan tenang dan perhatian, maka itu mereka menjadi mengerti baik sekali. Dari itu, lantas mereka pada membilang: "Petunjuk Alto tidak bisa salah lagi!" Pula ada yang memuji Hapunun dengan berkat* "Apa pun yang kita tidak mengerti, kita boleh pergi menanyakan kepada Hapolam, dia pasti dapat rnenjehtskannya dengan baik."
"Baiklah!" berkata si ketua. "Kuran menyatakan demikian maka orang Han yang baik ialah saudara yang baik dari kita bangsa Kazakh! Saudara Lie hendak menikah sama Aman, Junjungan kita telah mengizinkannya, maka itu sekarang kamu boleh mulai!" Semenjak kecil Lie Bun Siu tidak dapat melupai Supu, rintangannya ayah Supu membuat mereka renggang, sebab ayah Supu membenci orang Han, sekarang ia maju untuk memperebuti Aman, sengaja ia dandan sebagai pemuda, ingin ia membikin bangsa ini mempercayai bahwa orang Han juga ada yang baik. Dengan begitu juga dengan sendirinya dapat ia memberi penjelasan kepada Supu hal kekeliruan pandangan ayah pemuda itu. Mengenai pertandingan ini, ia mempunyai maksudnya sendiri, meski di muka umum terang nampak ia menyalak di antara Supu dan Sangszer untuk merebut Aman.
Oood~wooO
Sangszer ketahui lihainya Lie Bun Siu di dalam hal mengguaai senjata tajam, la telah melihat bagaimana nona itu menempur kawanan berandal. Maka ia bersangsi. Sebaliknya, ia mempercayai benar ilmu gulat atau peluk banting bangsanya, dari itu ia memilih ilmu kepandaiannya ini. Lantas ia memasang kuda-kudanya.
"Saudara Lie, silahkan maju!" ia menantang.
"Baik!" menyahut Bun Siu, yang lantas menyingkap ujung bajunya yang panjang, untuk diselipkan ke pinggangnya, setelah itu ia bertindak ke gelanggang, berdiri di depan penantangnya itu Di mana kedua pihak sudah siap sedia, Sangszer lantas membuka kedua tangannya, sambil mementang, ia maju untuk menubruk. Atau mendadak Bun Siu berseru kaget, terus dia lari ke arah kiri dimana ada- pepohonan lebat Dia seperti melihat sesuatu, yang dia lantas kejar.
Semua orang menjadi heran, terutama Sangszer. Semua orang tidak mengerti, kenapa di saat seperti itu, si pemuda Han lari kabur. Hingga ada yang menduga-duga mungkin dia jeri terhadap si pemuda Kazakh...
Sangszer berdiri sekian lama, kemudian ia kata kepada Supu: "Supu, saudara Lie telah pergi, maka itu marilah kita berdua saja yang bertempur.''
Supu menerima baik tantangan itu, meski sebenarnya ia masih mengherani Bun Siu.
"Ya, marilah!” ia menjawab, bahkan ia terus maju. Maka tidak tempo lagi, keduanya lantas bergulat.
Dua orang muda ini ada tandingan yang setimpal. Semenjak masih kecil mereka suka berkelahi, mereka menang dan kalah bergantian, hanya kali ini, dalam usia dewasa, mereka harus mencari keputusan. Maka bisa dimengerti yang mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Sedari berumur lima belas tahun, Sangszer sudah menaruh hati kepada Aman, disebabkan rapatnya pergaulan Aman dengan Supu, ia menjadi tidak dapat menyelak di antara mereka, ia cuma bisa menindas hatinya sendiri. Sampai sekarang ia masih tidak berani mendekati Aman walaupun Supu telah menjadi musuh Aman, disebabkan Supu dibuang karena tuduhan telah membunuh Cherku. Barulah menit ini harapannya timbul. Bukankah Aman sendiri yang menghendaki ini pertarungan umum? Dengan ini nanti terlihat kesudahannya Allah mengampuni Supu atau tidak...
Umumnya Supu menang unggul sedikit daripada Sangszer, tetapi setelah tadi ia mesti membanting tulang melayani si untai ia masih terpengaruh keletihannya, dari itu, segera ternyata, lawannya itu menang di atas angin. Pula ia keras memikirkan Lie Bun Siu, yang pergi tanpa sebab.
Sebenarnya Bun Siu kabur karena sejenak itu matanya melihat satu orang yang berkelebat di dalam rimba, berkelebat cepat bagaikan bayangan tetapi toh ia mengenali baik potongan tubuh Tan Tat Hian, tanpa pikir panjang lagi, ia lari mengubar. Laginya untuk ia, pertandingan itu tidak ada artinya. Taruh kata ia menang, ia toh tidak- bisa menikah dengan Aman- Di samping itu, Tat Hian ialah musuh besarnya. Akan tetapi, sesampainya ia di dalam rimba, Tat Hian telah lenyap tidak keruan peran, sia-sia belaka ia mencarinya. Kemudian ia mendengar suara kuda kabur ke arah barat daya, ia lantas menduga kepada musuh itu. Saking tergesa-gesa, ia tidak dapat kembali kepada kuda putihnya, ia kabur menyusul dengan menjembat seekor kuda yang lagi makan rumput di dekatnya.
Sesudah berlari-lari beberapa lie, Bun Siu tiba di gurun pasir. Ia mendaki tanjakan pasir bagaikan bukit, untuk melihat kehlingan. Di sini ia bisa memandang ke sekitarnya dengan leluasa, tidak seperti tadi semasa di padang rumput Ia lantas melihat di arah barat daya itu —- jauh letaknya seekor kuda lagi berdiri diam dan di samping binatang itu ada satu tubuh manusia rebah tak berkutik. Ia menduga kepada Tan Tat Hian, ia lantas mengeprak kudanya untuk lari keras ke arah itu.
Tidak lama maka tibalah ia di tempat kuda dan orang itu rebah menggeletak. Ia berkuatir orang hanya berpura-pura mati, dari itu sebelum mendatangi dekat, ia menggunai bandringnya, guna menotok jalan darah tiongteng dari orang itu. Setelah mendapat kenyataan orang terus berdiam saja- suatu bukti benar dia telah mati - barulah ia datang menghampirkan.
Benar-benar orang itu Tan Tat Hian adanya!
"Heran!" pikirnya. Tat Hian mati dengan mulut mengeluarkan darah, suatu tanda bahwa ia telah teriuka di dalam. Ia sudah putus jiwa akan tetapi tubuhnya masih hangat. Jadi dia mati belum lama. Bun Siu menggeledah tubuhnya, maka terlihat kulit dadanya bertanda mataag biru sebesar telapakan tangan dan tujuh atau delapan tulang iganya patah. "Entah siapa yang menghajar dia?" pikir nona ini. "Lihai penyerang itu!"
Karena ini, ia lantas melihat ke sekitarnya. Ia masih sempat melihat satu titik hitam di tempat jauh. Inilah satu penunggang kuda, yang kudanya dilarikan. Ia menjadi mencurigai penunggang kuda itu, sebab kantung gendolan dan sakunya Tat Hian bekas dirobek dengan pisau, dan peta tidak ada di tubuhnya itu.
"Istana rahasia sudah didapatkan, apa perlunya orang itu dengan peta tersebut?" ia berpikir. Ia berdiri berdiam sekian lama di samping tubuh musuhnya itu. Lega juga hatinya walaupun musuh ini terbinasakan lain orang. Kemudian ia lantas menaiki kudanya, untuk kembali kepada orang-orang Kazakh. Tepat ia mendengar gemuruh ramai: "Sangszer menang! Sangszer menang!" Ia terperanjat. Pikirnya: "Kalau Sangszer menikah dengan Aman dan aku memberitahukan Supu bahwa akulah kawannya semenjak masih kecil, bagaimana pilarnya?'' Memikir begitu, ia likat sendirinya. Tapi ia berjalan terus mendekati rombongan.
Supu masih rebah di tanah, ia mencoba terbangkit bangun tetapi sukar. Ia merayap, ia berdiri, lalu terhuyung dan roboh pula. Sangszer mengasih bangun "Supu," katanya, "jikalau kau penasaran, kau beristirahatlah, nanti kita mengulangi pertandingan kita ini."
Supu menggeleng kepala, matanya mengawasi Aman, sinar matanya itu menandakan remuknya hatinya.
Aman bisa melihat sinar mata itu, tanpa merasa, air matanya mengalir.
"Benar-benar mereka sangat mencinta satu pada lain," pikir Lie Bun Siu, yang bisa melihat roman muda-mudi Itu. "Dalam hidupnya, pastilah Supu tidak dapat mencintai lain orang lagi Pula Aman, kalau dia menikah sama Sangszer, tidak nanti dia dapat melupai Supu, tidak nanti dia menyenangi Sangszer, maka untuk kedua belah pihak tidak ada kebaikannya..."
Kembali Bun Siu mengawasi Supu. Pemuda itu pergi ke pinggiran, jalannya masih rada limbung, tangannya memegangi kepalanya, rupanya dia merasa pusing. Di pinggiran itu, dia duduk dengan napasnya masih belum tenang. Ia menjadi merasa kasihan pada kawannya itu. Maka ia masuk ke dalam gelanggang.
"Sangszer," katanya, "tadi aku pergi mengejar satu orang, pertandingan kita gagal. Maka itu mari sekarang kita mengulanginya." Ia berhenti sejenak, baru ia menambahkan: "Kau tentunya masih lelah, aku sebaliknya masih segar, kalau kita bertanding sekarang, tidak adil. Maka ini baiklah kita atur begini, hari ini pertandingan ditunda sampai besok!"
Sangszer rada jeri pada lawannya itu. "Baik," sahutnya. "Kita bertanding besok."
Bangsa Kazakh mengira, setelah Sangszer mengalahkan Supu, Aman bakal menikah sama si pemenang ini, tidak tahunya si pemuda gagah she Lie telah muncul pula dan menantang Sangszer, dengan begitu, urusan menjadi tertunda. Karena itu, sampai malamnya, mereka masih menduga-duga entah siapa yang bakal menjadi pemenang terakhir. Umumnya mereka menduga Bun Siu yang bakal menang, hanya mereka heran, pemuda itu bertubuh halus dan romannya tampan sekali, siapa tahu, dia bertenaga kuat dan ilmu berkelahinya mahir, lapi dia bakal berkelahi dengan tangan kosong. Dapatkah dia mengalahkan Sangszer? Kenapa tadi dia kabur tidak keruan?