Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 134

Memuat...

"Yo Han, bagaimana engkau tahu bahwa ia sayang kepadaku?"

"Jelas sekali, Suhu. Ia menangis ketika berpisah, itu tandanya cinta, tandanya berat untuk berpisah. Kenapa Suhu tidak mau menerima ajakannya dan tinggal di sana sehingga Suhu selalu dapat dekat dengan enci Hong Li?"

Si Hong mengerutkan alisnya.

"Hemm, apakah engkau ingin tinggal di sana?"

Yo Han menggeleng kepala.

"Aku bicara untuk Suhu. Aku sendiri, aku akan tinggal di manapun menurut perintah Suhu, dan sebaiknya kalau aku tinggal bersama Suhu."

"Tidur di dalam hutan? Di bawah pohon? Di alam terbuka?"

"Biar di bawah jembatan pun aku suka, asal bersama Suhu."

Sin Hong tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, anak baik. Kalau begitu mari kita songsong kehidupan baru! Tinggalkan semua kehidupan lama, lupakan semua masa lalu! Hatiku menjadi semakin besar dan tabah karena ada engkau di sampingku! Hayo kita hadapi segala tantangan dan rintangan dalam hidup ini, muridku!"

"Baik, Suhu, teecu (murid) siap!"

Kata Yo Han dan keduanya melanjutkan perjalanan, melangkah dengan tegap dan dengan wajah cerah memandang jauh ke depan! Setelah tiba di tempat sunyi, Sin Hong menyuruh muridnya berhenti.

"Kita berhenti sebentar di sini. Duduklah, Yo Han, ada sesuatu yang akan kukatakan kepadamu."

Melihat sikap suhunya yang serius, Yo Han lalu duduk di atas rumput di bawah pohon. Sedangkan Sin Hong duduk di atas akar pohon itu. Sejenak dia memandang wajah muridnya dan hatinya dipenuhi rasa iba. Dan sudah mengambil keputusan untuk menceritakan semuanya kepada anak ini, agar dia tidak perlu menyimpan rahasia lagi. Dia percaya seorang anak seperti Yo Han ini akan mampu menerima keadaan yang bagaimana pahit pun.

"Yo Han, engkau tahu, untuk apakah engkau menjadi muridku dan hendak mempelajari ilmu silat?"

"Untuk menjadi seorang gagah, seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, Suhu,"

"Hemmm, tahukah engkau bahwa seorang gagah harus pertama-tama mengalahkan kelemahan hati sendiri? Bahwa seorang gagah berani menghadapi segala hal sulit, dan tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam duka dan putus asa?"

Anak itu mengangguk, matanya yang jeli dan tajam memandang wajah gurunya penuh selidik.

"Aku tahu, Suhu. Agaknya Suhu akan bicara mengenai ayah dan ibuku! Apakah mereka telah tewas?"

Bukan main anak ini, pikir Sin Hong. Cerdik bukan main! Dia pun mengangguk.

"Mereka tewas sebagai pendekar-pendekar perkasa, muridku!"

Dan dengan singkat dia menceritakan betapa ayah dan ibu anak itu tewas di tangan para pimpinan pemberontak dan betapa pula pembunuh itu pun kini telah terbasmi habis. Setelah dia selesai bercerita, dia melihat betapa wajah anak itu merah sekali dan kedua matanya mencorong.

"Muridku, seorang pendekar tidak seharusnya hanyut dalam kedukaan, akan tetapi melepaskan perasaan duka melalui tangis tidak dilarang!"

Baru saja Sin Hong berkata demikian, Yo Han menubruk kaki gurunya dan menangis tersedu-sedu,

Sin Hong membiarkannya saja, mengelus kepala muridnya sambil tersenyum. Tak lama kemudian, dia membimbing tangan muridnya dan mereka melanjutkan perjalanan tanpa berkata-kata. Pada suatu hari, Sin Hong dan Yo Han memasuki sebuah kota di Propinsi An-hui. Kota ini adalah kota Lu-jiang. Sebuah telaga kecil berada di dekat kota ini, dan sebuah sungai mengalir menuju ke selatan di mana sungai itu akan menumpahkan airnya dalam Sungai Yang-ce yang besar. Sin Hong amat tertarik melihat keindahan pemandangan di luar kota ini, di daerah perbukitan yang merupakan bagian terbelakang dari perbukitan lembah Sungai Yang-ce. Apalagi ketika melihat sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi, sebuah kuil yang berdiri di atas bukit kecil di luar kota Lujiang, dengan sebuah menara kecil tinggi,

Dia merasa tertarik dan mengambil keputusan untuk berhenti di tempat itu untuk beberapa lamanya. Kadang-kadang dia membutuhkan tempat yang baik untuk memberi pendidikan dan pelajaran ilmu silat kepada muridnya. Dan selama perantauannya bersama Yo Han, hari, pekan dan bulan lewat dengan cepat sekali dan tahu-tahu kini Yo Han telah berusia kurang lebih sembilan tahun. Sudah hampir dua tahun mereka merantau dan belum juga dia memperoleh sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan untuk dijadikan tempat tinggal dan belum juga dia dapat memutuskan pekerjaan apakah yang akan dilakukan. Karena dia bukan orang yang memiliki banyak uang, maka mereka harus berhemat, ada kalanya mereka bekerja membantu di kuil-kuil hanya sekedar mendapat-kan makan, dan pakaian mereka pun sudah mulai ditambal-tambal!

Sin Hong membiarkan keadaan mereka seperti itu karena hal ini merupakan gemblengan batin bagi muridnya, dan ternyata Yo Han sama sekali tidak pernah mengeluh, biarpun pakaiannya sudah bertambal-tambal dan kadang-kadang Sin Hong sengaja mengajak muridnya itu makan sehari sekali saja, bahkan pernah mereka berpuasa sampai dua hari dua malam! Melihat sikap Yo Han yang tabah, tak pernah mengeluh, hati Sin Hong merasa semakin suka kepada anak itu. Mereka memasuki kuil tua dan memilih tempat yang tidak bocor dan tidak begitu kotor, diruangan samping kiri. Yo Han lalu tanpa diperintah membersihkan tempat itu, menyapu dengan daun-daun kering dan mengumpulkan jerami untuk menjadi tilam agar lantai itu tidak terlalu lembab untuk diduduki atau pun ditiduri. Sin Hong mengeluarkan beberapa potong uang kecil dan menyerahkannya kepada muridnya.

"Yo Han, pergilah ke kota dan beli makanan dan sedikit arak."

"Baik, Suhu, akan tetapi teecu (murid) hendak membuat api unggun dan memasak air lebih dulu untuk dibuat air teh. Bukankah Suhu sudah merasa haus?"

Sin Hong tersenyum. Tidak rugi mempunyai seorang murid seperti Yo Han. Anak itu selalu memperhatikan keperluannya dan amat berbakti kepadanya. Tidak pernah dia merasa bahwa kehadiran Yo Han dalam kehidupannya menjadi beban. Bahkan sebaliknya, dalam diri anak itu dia menemukan seorang murid, seorang kawan, seorang pembantu, bahkan seorang penghibur karena anak itu pandai sekali memancing kegembiraannya. Yo Han lincah dan kadang-kadang jenaka dan nakal, akan tetapi tidak pernah membikin marah dan selalu siap melayani gurunya.

"Biarlah aku sendiri yang akan membuat air teh, Yo Han. Sejak kemarin engkau belum makan, tentu sudah lapar. Belilah roti kering dan dendeng, seguci kecil arak dan kalau engkau ingin membeli buah-buahan segar untukmu, belilah. Boleh kau habiskan uang itu membeli makanan."

Yo Han mengangguk dan mengantungi beberapa keping uang itu, lalu berpamit dan pergilah dia dengan cepat, setengah berlari, menuju ke kota yang temboknya sudah nampak dari situ. Kuil itu berada di atas bukit kecil dan dari situ dapat nampak kota Lu-jiang. Sin Hong mengikuti muridnya dengan pandang matanya sambil tersenyum. Yo Han tentu saja merasa lapar. Sejak kemarin siang dia belum makan, hanya minum air sumber saja karena suhunya mengajak dia berjalan terus. Dia bukan anak bodoh.

Dia tahu bahwa suhunya amat sayang kepadanya dan bahwa suhunya adalah seorang pendekar yang budiman. Kalau suhunya membiarkan dia kurang makan, bahkan kadang-kadang berpuasa, hal itu bukan karena gurunya itu hendak menganiayanya. Suhunya sendiri pun sama-sama tidak makan, dan dia tahu bahwa suhunya menahan lapar hanya untuk kepentingannya! Untuk menggemblengnya! Maka dia merasa semakin berterima kasih kepada gurunya itu, satu-satunya orang di dunia ini yang baik kepadanya, pengganti ayah ibunya, pengganti keluarganya! Mengingat kebaikan gurunya ini, hatinya menjadi gembira dan dia berloncatan menuju ke kota, membayangkan apa yang akan dibelinya. Dia sama sekali tidak mengingat akan kesukaan dirinya sendiri. Tidak! Dia akan membeli roti kering dan dendeng serta arak,

Kemudian sisa uang itu akan dibelikan buah jeruk yang manis, kesukaan gurunya! Ketika berloncatan dan berlarian, dia melihat tiga orang anak yang usianya sebaya atau hanya lebih tua dua tiga tahun darinya, bermain-main di tepi jalan. Dia tidak memperhatikan karena dia sedang melamun tentang apa yang akan dibelinya untuk menyenangkan hati gurunya dan baru dia terkejut bukan main ketika terdengar suara anjing menyalak dan seekor anjing berbulu putih telah menggigit kakinya! Yo Han sudah mulai dilatih oleh gurunya, berlatih kuda-kuda, pengerahan tenaga, dan langkah-langkah kaki yang menjadi dasar ilmu silat. Kini ketika dia merasa betapa kakinya menjadi sasaran moncong anjing yang terbuka, dia cepat menarik kaki kiri yang hendak digigit, lalu kaki kanannya menendang ke arah perut anjing yang tidak berapa besar itu.

"Hukkk! Kaing.... kaing....!"

Anjing itu terlempar bergulingan dan menguik-nguik kesakitan. Barulah Yo Han tahu bahwa yang ditendangnya itu hanyalah seekor anak anjing yang bulunya putih dan bagus sekali!

"Keparat kejam! Kau kurang ajar sekali, berani menendang anjing kesayangan kami yang tidak bersalah!"

Yo Han menengok dan ternyata tiga orang anak laki-laki yang tadi bermain-main di tepi jalan, kini sudah berdiri menghadapinya dengan sikap marah sekali. Kiranya anjing itu milik mereka, pikirnya dengan hati menyesal.

"Tapi.... tapi.... ia tadi akan menggigit kakiku...."

Dia membela diri.

"Menggigit? Huh, anak anjing kecil itu hanya mengajakmu main-main. Ia tidak pernah menggigit, kalau menggigit pun hanya main-main, tidak sakit. Akan tetapi dengan kejam engkau telah menendangnya!"

Post a Comment