Tiba-tiba Hong Li berseru sambil menyodorkan sepasang pedangnya, pedang rampasan yang cukup baik, bahkan tadi ia pergunakan untuk melawan iblis betina itu. Sin Hong menoleh dan tersenyum kepadanya sambil menggeleng kepala. Pada saat itu, Hong Li menahan jeritnya dan semua orang pun menahan napas ketika melihat betapa selagi Sin Hong menoleh kepada Hong Li,
Sin-kiam Mo-li telah dengan amat cepatnya menyerang dengan tusukan pedang Cui-beng-kiam! Hebat sekali pedang ini memang. Ketika ditusukkan, bukan saja mengeluarkan suara mengaung yang aneh, akan tetapi juga mendatangkan hawa dingin yang membuat orang bergidik karena seram. Tusukan Cui-beng-kiam itu masih disusul dengan totokan maut yang dilakukan dengan kebutan merah yang beracun itu! Namun, Sin Hong bukan seorang pemuda yang ceroboh atau lengah. Biarpun tadi dia menanggapi usul Hong Li dan menolak pemberian pedang sambil menoleh ke arah Hong Li, namun seluruh perhatiannya masih tertuju kepada calon lawannya sehingga tentu saja serangan dahsyat itu dapat diketahuinya dan cepat sekali tubuhnya sudah bergerak dengan amat lincahnya,
Membuat langkah-langkah yang gesit dan aneh tubuhnya meliuk ke sana sini dan dia pun sudah dapat mengelak dari semua serangan pedang dan cambuk itu. Sin Hong bukan saja mampu menghindarkan semua serangan lawan, bahkan dia mampu membalas dengan dahsyat. Perlu diketahui bahwa pada saat itu, Sin Hong menguasai banyak sekali ilmu silat yang tinggi, dan tingkatnya tidak kalah oleh para pendekar lainnya. Bahkan mungkin orang seperti Ouwyang Sianseng takkan mampu mengalahkannya dengan mudah. Ilmu-ilmunya bahkan lebih tinggi daripada Ouwyang Sianseng, hanya tentu saja masih belum matang dibandingkan orang tua ini. Dari tiga orang gurunya yang sakti, Sin Hong sudah mempelajari ilmu-ilmu yang hebat.
Mendiang Tiong Kni Hwesio atau ketika mudanya terkenal dengan nama Wan Tek Hoat berjuluk Si Jari Maut, dia telah mempelajari Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa), Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) yang digabung dengan Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa), juga melatih diri untuk menghimpun sin-kang dengan ilmu Tenaga Inti Bumi. Dari Kao Kok Cu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, dia menerima ilmu hebat Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Pukulan Naga Sakti), dan dari nenek Wan Ceng dia mempelajari Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) dan ilmu pedang Ban-tok-kiamsut. Bahkan lebih dari itu, tiga orang tua sakti itu lalu menggabungkan ilmu-ilmu mereka dan mengambil inti sarinya untuk dimasukkan ke dalam sebuah ilmu silat tangan kosong yang mereka ciptakan bersama yang mereka beri nama Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih).
Dan ilmu inilah yang sekarang dipergunakan oleh Sin Hong untuk menghadapi Sin-kiam Mo-li yang amat lihai dengan senjata cambuk beracun dan pedang pusaka Cui-beng-kiam! Sin-kiam Mo-li adalah seorang datuk sesat yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi. Demikian lihainya sehingga dengan bantuan belasan orang datuk dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, ia berhasil menyerbu ke Istana Gurun Pasir dan berhasil menewaskan kakek dan nenek sakti penghuni istana tua itu dan juga Tiong Khi Hwesio yang tinggal bersama mereka, walaupun untuk itu ia harus kehilangan belasan orang kawan, bahkan yang hidup hanya ia sendiri, Thian Kong Cinjin dan Thian Kek Sengjin yang juga masih menderita luka-luka yang cukup berat.
Kebutannya amat terkenal kehebatannya, dengan gagangnya yang terbuat dari emas, dan bulu kebutan yang mengandung racun jahat. Juga ilmu pedangnya cukup tinggi, ditambah lagi dengan kuku-kuku jari tangannya yang beracun kalau ia sudah mainkan ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam). Namun, sekali ini kembali Sin-kiam Mo-li harus mengakui keunggulan lawannya yang biarpun masih muda, namun telah memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa itu. Biarpun bertangan kosong, namun kedua lengan tangan Sin Hong merupakan dua benda yang tak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata manapun juga, bahkan lebih hidup dan mempunyai banyak perubahan, baik pada tekukan sikunya, pergelangan tangannya, maupun jari-jarinya, tidak seperti senjata tajam yang kaku dan mati. Kedua lengan itu bergerak-gerak seperti hidup,
Kadang-kadang membentuk leher dan kepala bangau, kadang-kadang bergerak seperti menjadi sepasang sayap dan jari-jari tangan itu dapat membentuk moncong bangau yang panjang runcing. Selain itu, dari kedua tangan itu keluar hawa pukulan yang amat kuat! Kedua lengan pemuda itu tidak hanya menjadi hidup dengan perubahan aneh-aneh, akan tetapi bahkan kadang-kadang dapat dipergunakan untuk menangkis kebutan dan lengan itu berubah keras kaku seperti baja! Hanya terhadap Cui-beng-kiam pemuda itu tidak berani menangkis langsung dengan tangannya karena dia cukup mengenal pedang pusaka ampuh itu, dan kalau pedang itu menyambar, dia hanya mengelak atau menangkis dari samping dengan jalan menyampok sehingga lengannya atau tangannya tidak beradu langsung dengan mata pedang.
Perkelahian itu berlangsung dengan seru dan mati-matian, Sin-kiam Mo-li yang sudah maklum bahwa ia tidak akan mampu lolos dari situ kecuali mengadu nyawa, menjadi nekat dan karena kenekatannya ini, maka gerakannya menjadi liar dan buas, amat berbahaya karena ia mencurahkan seluruh daya dan tenaganya untuk menyerang dan merobohkan lawan! Sebaliknya, tentu saja Sin Hong tidak ingin mengadu nyawa dan tidak nekat seperti lawannya. Dia memakai perhitungan dan membagi perhatiannya antara menyerang dan membela diri. Biarpun demikian, karena Sin Hong menang segala-galanya, perlahan-lahan dia mulai mendesak iblis betina itu dan suatu saat yang baik, sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Sin Hong menyambut sambaran kebutan dengan pukulan tangan dilanjutkan dengan cengkeraman!
Hebat sekali sambutannya ini terhadap kebutan karena seketika nampak bulu kebutan berhamburan dan ternyata bulu-bulu kebutan itu telah rontok semua! Tinggal gagangnya saja yang masih berada di tangan Sin-kiam Mo-li dan wanita ini terkejut bukan main, apalagi ketika Sin Hong mendesaknya dengan totokan-totokan tangan kanan sedangkan tangan kiri pemuda itu melakukan gerakan mencengkeram ke arah pergelangan tangan Sin-kiam Mo-li untuk merampas pedang Cui-beng-kiam! Sin-kiam Mo-li yang sudah menjadi semakin gentar karena kebutannya rontok, memutar pedangnya untuk melindungi diri, akan tetapi ia terhuyung dan terus mundur. Pada saat yang amat berbahaya bagi Sin-kiam Mo-li itu, tiba-tiba nampak sinar amat menyeramkan meluncur dan pedang Ban-tok-kiam yang sinarnya kehitaman itu sudah menusuk ke arah dada Sin Hong!
"Curang, keparat!"
Teriak Kao Hong Li dan semua orang memandang kaget melihat betapa Sin Hong yang diserang secara tiba-tiba oleh Ouwyang Sianseng dengan menggunakan Ban-tok-kiam untuk menolong Sin-kiam Mo-li, berusaha untuk mengelak dengan membuang diri kesamping. Namun, Ouwyang Sianseng memang lihai bukan main. Biarpun lawannya sudah mengelak cepat, dia masih sempat membalikkan pedang yang luput sasaran itu dan pundak kiri Sin Hong terserempet pedang Ban-tok-kiam! Pemuda itu mengaduh dan tubuhnya roboh terguling!
"Siancai....! Sungguh tak tahu malu engkau, Ouwyang Sianseng!"
Kam Hong membentak dan kakek ini sudah mencabut suling emas dan kipasnya, lalu menyerang Ouwyang Sianseng yang bersenjata kipas pula di tangan kiri dan pedang Ban-tok-kiam di tangan kanan!
"Jangan sentuh aku....!"
Sin Hong berseru mencegah ketika Hong Li, hendak menubruk dan menolongnya. Hong Li terkejut dan menghentikan gerakannya. Sebagai cucu kakek dan nenek penghuni Istana Gurun Pasir, tentu saja ia sudah pernah mendengar dari ayahnya tentang kehebatan Ban-tok-kiam. Sekali terkena goresan pedang pusaka itu, jangan harap akan dapat bertahan untuk hidup terus! Racunnya amat jahat, sesuai dengan namanya. Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun) memang berbahaya sekali, bahkan seorang nenek sakti seperti Teng Siang In, ibu kandung Suma Ceng Liong, mantu dari Pendekar Super Sakti Pulau Es,
Begitu terluka oleh Ban-tok-kiam yang pada waktu itu terjatuh ke tangan Sai-cu Lama yang jahat, tidak dapat tertolong nyawanya dan tewas! Dan kini Sin Hong terkena pedang itu, bukan sekedar tergores, melainkan terluka pundaknya! Tentu saja Hong Li memandang dengan hati khawatir sekali. Akan tetapi dengan sikap tenang sekali, Sin Hong mencengkeram tanah, membongkar permukaan tanah sampai dia memperoleh tanah bersih yang lembut, mencengkeram tanah itu dengan tangan kanannya, merobek baju bagian pundak kiri lalu menggosok-gosok luka di pundak itu dengan tanah! Beberapa kali dia menggosok dengan keras sampai luka itu mulai mengucurkan darah merah yang sehat, barulah dia berhenti, lalu sekali melompat. dia sudah menghadapi Sin-kiam Mo-li lagi sambil tersenyum.
"Sin-kiam Mo-li, mari kita lanjutkan perkelahian kita!"
Katanya dan tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk menjawab, dia sudah menyerang lagi dengan hebatnya. Sin-kiam Mo-li terpaksa memutar Cui-beng-kiam untuk melindungi tubuhnya. Melihat betapa Sin Hong seolah-olah tidak merasakan lukanya,
Hati Hong Li merasa tenang kembali walaupun ia masih amat khawatir. Tentu saja ia tidak tahu bahwa memang satu-satunya obat penawar racun Ban-tok-kiam hanya tanah itulah! Hal ini tentu saja tadinya menjadi rahasia penghuni Istana Gurun Pasir dan hanya diberitahukan kepada Sin Hong sebagai murid terakhir mereka. Bahkan Kao Cin Liong sendiri tidak tahu akan hal ini! Sementara itu, melihat betapa ayah mertuanya sudah menghadapi Ouwyang Sianseng dan Sin Hong sudah pula menyerang Sin-kiam Mo-li, Suma Ceng Liong lalu melompat ke depan menghadapi Siangkoan Liong. Dia tahu bahwa pemuda ini amat lihai pula, dan kini memegang pedang Koai-liong-kiam, maka daripada membiarkan seorang di antara para pendekar terancam bahaya kalau menghadapinya, dia pun sudah maju menantangnya.
"Siangkoan Liong, majulah dan mari kita tentukan siapa yang lebih unggul di antara kita, daripada engkau nanti bertindak curang seperti Ouwyang Sianseng, melakukan pengeroyokan dan serangan gelap! Atau, kalau engkau takut menghadapi aku, berlututlah agar kami menangkapmu sebagai pimpinan pemberontak dan menyerahkanmu kepada pemerintah!"
Tentu saja Siangkoan Liong yang berhati angkuh itu tidak sudi untuk menyerah. Tanpa banyak cakap lagi dia pun sudah menerjang maju, menyerang Suma Ceng Liong dengan sengit. Pedang Koai-liong-kiam di tangannya diputar dengan cepat dan terdengarlah suara mengaung yang mengerikan, seolah-olah dari pedang itu keluar auman binatang buas dan pedang itu mengeluarkan sinar berkilauan. Cu Kun Tek yang juga ikut nonton di situ merasa tidak enak sekali. Pedang yang berada di tangan pemuda itu adalah pedang pusaka keluarganya.
Sepatutnya dialah yang harus maju melawan Siangkoan Liong untuk merampas pedangnya kembali. Akan tetapi dia pun maklum betapa lihainya Siangkoan Liong dah bahwa kalau dia yang maju, kecil sekali harapannya pedang pusaka Koai-liong-kiam itu akan dapat dirampasnya kembali, bahkan bukan tidak mungkin dia sendiri akan roboh menjadi korban pedang pusaka milik keluarganya itu! Maka, melihat Suma Ceng Liong yang maju, dia pun diam saja, karena dia sudah tahu siapa adanya pendekar itu, cucu Pendekar Super Sakti Pulau Es! Seperti juga Sin Hong yang menghadapi Sin-kiam Mo-li dengan tangan kosong, Suma Ceng Liong juga menghadapi Siangkoan Liong dengan tangan kosong pula! Kini terjadilah pertempuran yang amat seru. Ouwyang Sianseng, seperti juga dua orang anak buahnya itu,
Maklum bahwa dia sudah terkurung dan terhimpit, maka satu-satunya jalan hanyalah melawan dengan nekat, kalau perlu mengadu nyawa dengan lawannya. Apalagi yang dilawannya adalah Pendekar Suling Emas yang dia tahu amat tinggi ilmu kepandaiannya. Sekali ini dia sama sekali tidak dapat mengandalkan ilmu silatnya, karena dia seolah-olah bertemu dengan gurunya! Dia kalah dalam segala hal, baik keaslian ilmu silat, kecepatan gerak maupun kekuatan tenaga sakti. Satu-satunya yang diandalkan hanya kenekatannya dan dia pun menyerang dengan membabi buta, mengandalkan kenekatan dan kehebatan pedang Ban-tok-kiam. Kakek Kam Hong maklum pula akan kelihaian lawan. Diam-diam dia merasa menyesal dan sayang sekali mengapa seorang laki-laki yang demikian pandai seperti Ouwyang Sianseng sampai terperosok ke dalam kehidupan sesat.
Orang she Ouwyang ini selain tinggi ilmu silatnya, juga ahli pedang dan ahli dalam kesusastraan, memiliki kecerdikan. Akan tetapi ternyata nafsu dan ambisinya jauh lebih besar dari semua itu sehingga menyeretnya untuk melakukan perbuatan sesat demi tercapainya keinginan hatinya untuk mengejar kesenangan. Dan dia tahu bahwa orang seperti ini memang berbahaya sekali kalau dibiarkan berkeliaran. Tentu dia akan berusaha untuk melakukan kegiatan pemberontakan pula, atau akan menghimpun orang-orang sesat untuk mencapai ambisinya, yaitu kekuasaan dan kesenangan. Biarpun sudah puluhan tahun lamanya pendekar sakti ini lebih banyak mengasingkan diri dan hidup tenteram, tidak pernah lagi membunuh orang, sekali ini terpaksa dia mengambil keputusan untuk menyingkirkan Ouwyang Sianseng,
Demi keamanan kehidupan banyak manusia yang tidak berdosa. Kalau orang she Ouwyang ini dapat bebas dan membuat keonaran, banyak menjadi korban adalah rakyat jelata yang tidak berdosa sama sekali. Berpikir demikian Kam Hong lalu mempercepat gerakannya dan mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk mendesak lawan. Ouwyang Sianseng yang sejak tadi memang sudah mengeluarkan semua ilmunya namun selalu tak mampu mengimbangi permainan lawan, begitu didesak, menjadi repot sekali. Sinar emas yang bergulung-gulung, yang diikuti suara melengking tinggi rendah seperti suling ditiup itu, amat mengacaukan pikirannya. Suara itu mengandung tenaga mujijat yang membuat permainan pedangnya kacau dan suatu saat, kipasnya bertemu dengan kipas lawan.
"Desss....! Prakkk....!"
Kipas di tangan kiri Ouwyang Sianseng hancur berkeping-keping.