Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 121

Memuat...

Nenek Bu Ci Sian meloncat dekat dan memegang pundak cucunya.

"Sudah begini dewasa, sampai tidak dapat mengenalmu tadi!"

"Dan kini menjadi seorang yang begitu ganas, membunuhi orang seperti membunuh semut saja!"

Kata pula Kam Hong dengan alis berkerut karena hatinya merasa tidak puas melihat betapa cucunya tadi membunuh semua lawannya. Suma Lian lari menghampiri kakeknya, memegang tangan kakeknya dan berkata dengan lagak manja,

"Aih, Kakek ini! Bertahun-tahun tidak saling jumpa, begitu bertemu langsung memarahi aku! Bukannya memberi hadiah! Ketahuilah, Kong-kong, terpaksa sekali kami harus membunuh semua orang ini. Kalau seorang saja kami biarkan lolos, maka nyawa sumoiku dan nyawa seorang pendekar lain yang menjadi sandera tentu akan melayang!"

"Eh? Apa maksudmu? Dan siapakah orang muda ini?"

"Kakek dan Nenek, dia ini adalah suhengku sendiri, namanya Gu Hong Beng, murid dari paman Suma Ciang Bun."

Kakek dan nenek itu mengangguk-angguk dan memandang kepada Hong Beng dengan kagum. Seorang pemuda yang perkasa, pikir mereka.

"Bagus, kalau begitu bukan orang lain,"

Kata Bu Ci Sian. Hong Beng lalu melangkah maju dan memberi hormat kepada mereka.

"Harap Ji-wi Locianpwe memaafkan kalau saya bersikap kurang hormat,"

Katanya.

"Lian-ji, sebenarnya apakah yang telah terjadi dan apa artinya kata-katamu tadi bahwa kalau kalian tidak membunuh semua orang ini maka nyawa sumoimu dan seorang pendekar lain akan melayang?"

Suma Lian, dibantu olen Hong Beng, lalu menceritakan semua yang telah terjadi, tentang Hong Beng yang menjadi utusan Siangkoan Lohan untuk menyerahkan surat kepada Coa Tai-ciangkun, tentang Li Sian dan Kun Tek yang menjadi sandera dan betapa mereka tadi diserang oleh orang-orang Ang I Mo-pang yang menjadi sekutu Tiat-liong-pang. Hong Beng menceritakan pula akan isi surat rahasia yang telah dibacanya. Mendengar cerita mereka, Kam Hong mengerutkan alisnya,

"Wah, kalau begitu gawat sekali. Surat itu harus diperlihatkan kepada Liu Tai-ciangkun secepat-nya!"

"Maaf Locianpwe, yang harus menerima adalah panglima she Coa, bukan she Liu,"

Bantah Hong Beng. Kakek itu tersenyum,

"Engkau belum tahu apa yang terjadi di dalam benteng itu, orang muda. Untung bahwa engkau bertemu dengan kami, kalau tidak, begitu memasuki benteng, tentu engkau akan ditangkap dan dianggap mata-mata yang sesungguhnya dari kaum pemberontak."

Kakek itu lalu menceritakan apa yang telah terjadi, betapa Coa-tai-ciangkun dan antek-anteknya telah ditangkap dan kekuasaan di benteng itu telah dipegang olen pemerintah. Hong Beng terkejut mendengar keterangan itu.

"Wah, kalau sudah begini, lalu bagaimana baiknya, Locianpwe?"

"Kami mengenal Liu-ciangkun dengan baik, mari kalian kami ajak masuk ke benteng menemuinya dan berunding. Peristiwa yang terjadi di dalam benteng itu dirahasiakan sehingga orang luar tidak ada yang tahu, maka pihak pemberontak juga tidak tahu bahwa sekutu mereka yang berada di dalam benteng telah ditangkap semua."

Mereka berempat lalu kembali ke benteng dan karena para penjaga mengenal baik kakek dan nenek yang pernah berjasa besar dalam menggulung komplotan yang berkhianat, maka empat orang ini dapat memasuki benteng tanpa banyak susah, bahkan segera mereka malam itu juga disambut sendiri oleh Panglima Liu yang dibangunkan dari tidur dan diberi laporan.

"....Ah, Jiwi Locianpwe datang kembali tentu membawa berita penting,"

Kata panglima itu dengan ramah, dan dia mengamati Hong Beng dan Suma Lian penuh perhatian,

"siapakah Ji-wi yang gagah perkasa ini?"

Kam Hong segera menjawab.

"Mereka ini adalah dua orang cucu kami, Tai-ciangkun, dan memang benar bahwa kedatangan kami membawa berita yang amat penting. Orang muda bernama Gu Hong Beng ini, bersama dua orang kawannya yang juga pendekar-pendekar yang menentang gerakan Tiat-liong-pang dan para tokoh sesat, telah tertawan oleh Siangkoan Lohan. Dua orang dijadikan sandera dan dia ini dipaksa untuk menjadi utusan, mengirim surat untuk Coa-ciangkun. Dia melakukannya hanya untuk menyelamatkan dua orang kawannya dan kebetulan sekali dia bertemu dengan kami, maka kami bawa ke sini."

Hong Beng lalu menceritakan kembali semua yang terjadi di Tiat-liong-pang kemudian dia menyerahkan surat yang ditulis oleh Siangkoan Lohan untuk diberikan kepada Coa-ciangkun itu kepada Panglima Liu.

Panglima itu membacanya dan dia pun mengerutkan alisnya, lalu memanggil semua perwira pembantunya. Malam itu juga mereka mengadakan rapat, dihadiri pula oleh Kam Hong, Bu Ci Sian, Gu Hong Beng dan Suma Lian. Dalam rapat itu lalu diambil keputusan banwa Gu Hong Beng akan membawa pasukan yang dianggap "sekutu"

Pemberontak untuk bergabung. Kesempatan ini akan dipergunakan oleh pasukan untuk mengepung Tiat-liong-pang tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga akan memudahkan penyerangan mereka kalau saatnya tiba. Kakek Kam Hong, nenek Bu Ci Sian dan cucu mereka, Suma Lian, akan menyelinap ke dalam sarang gerombolan pemberontak dan akan membantu gerakan pasukan itu dari dalam.

"Jangan khawatirkan nasib adik Li Sian,"

Kata Suma Lian kepada Hong Beng.

"Aku akan berusaha sedapat mungkin untuk menyelamatkan ia dan kawannya lebih dulu!"

Gu Hong Beng menyetujui. Memang itu satu-satunya jalan terbaik. Dia akan kembali dan membawa pasukan, tentu pihak pemberontak takkan mencurigainya dan pasukan itu akan dapat mengepung pemberontak dengan leluasa dan tanpa dicurigai.

Dia sendiri kalau sudah tiba di dalam akan segera berusaha membebaskan dua orang kawannya itu, bergabung dengan Suma Lian. Hatinya lega kalau mengingat bahwa Suma Lian ditemani oleh kakek dan neneknya, dua orang yang dia tahu amat sakti, maka hatinya tidak perlu mengkhawatirkan "tunangannya"

Yang sekali ini benar-benar menjatuhkan hatinya itu! Dia tahu bahwa dia telah jatuh cinta kepada tunangannya sendiri, setelah bertemu dengan Suma Lian yang kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik menarik. Setelah berunding masak-masak, Suma Lian bersama kakek dan neneknya lalu meninggalkan benteng karena mereka akan bergerak terpisah, bahkan kalau mungkin mendanului menyelundupkan ke dalam sarang pemberontak dan membantu pasukan dari sebelah dalam.

Kao Hong Li melakukan pengejaran dan mencari jejak Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Namun, sampai di pegunungan dekat dengan sarang gerombolan pemberontak Tiat-liong-pang, gadis ini kehilangan jejak mereka. Ia pun memasuki hutan, mengambil keputusan untuk menyelidiki Tiat-liong-pang karena ia tahu bahwa musuh besarnya itu, Sin-kiam Mo-li yang memimpin rombongan penyerbu ke Istana Gurun Pasir dan membunuh kakek dan neneknya, tentu bersekutu dengan para pemberontak seperti yang sudah didengarnya. Pemberontak Tiat-liong-pang itu kabarnya mengumpulkan banyak tokoh sesat sehingga keadaan mereka kuat sekali. Karena belum mengenal keadaan daerah itu, Kao Hong Li bersikap hati-hati sekali.

Ia tidak berani melakukan perjalanan di waktu malam, maka ia lalu melewatkan malam di dalam hutan, di atas pohon besar. Ia mengisi perutnya dengan roti dan daging kering yang dibawanya sebagai bekal, minum air putih jernih yang dibawanya dalam botol. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kao Hong Li sudah membersihkan tubuhnya di sebuah sumber air kecil di tengan hutan. Ia merasa segar dan tenaganya pulih kembali. Setelah berganti pakaian yang ringkas, ia melanjutkan penyelidikannya. Dengan hati-hati ia hendak keluar dari dalam hutan itu, menuju ke bukit di mana sore kemarin ia sudah melihat perkampungan Tiat-liong-pang. Ketika ia tiba di pinggir hutan, tiba-tiba nampak bayangan beberapa orang berkelebat dan tahu-tahu ia telah dikepung lima orang laki-laki yang nampaknya gagah.

"Hemmm, engkau tentu kaki tangan pemberontak!"

Seorang di antara mereka membentak dengan sikap mengancam.

"Hayo menyerah untuk kami tawan daripada kami harus mempergunakan kekerasan!"

"Menyerah sajalah, Nona. Kami adalah orang-orang gagah yang segan untuk mempergunakan kekerasan terhadap seorang wanita lemah!"

Kata orang kedua. Hong Li adalah seorang gadis yang galak, cerdik dan pandai bicara. Dari sikap dan ucapan mereka, ia dapat menduga bahwa mereka ini bukanlah penjahat, bukan pula anak buah pemberontak. Kalau bukan mata-mata pasukan pemerintah, tentu mereka ini pendekar-pendekar yang menentang gerakan pemberontakan Tiat-liong-pang. Akan tetapi, ucapan mereka yang memandang rendah kepadanya memanaskan perutnya dan mendorongnya untuk menguji kepandaian mereka. Maka ia lalu tersenyum sindir, menghadapi mereka yang mengepungnya itu dengan sikap tenang saja.

"Hemmm, andaikata, benar aku ini kaki tangan pemberontak dan tidak mau menyerah, lalu kalian ini mau apakah? Kalian ini mirip lima ekor anjing hutan yang menggonggong mengancam seekor kucing hutan, akan tetapi tidak berani menyerang!"

Kucing hutan adalah harimau, maka dengan menyebut dirinya kucing hutan dan mereka itu anjing hutan, berarti Hong Li meninggikan dirinya dan merendahkan mereka. Seorang di antara mereka, yang berkumis tebal, mengerutkan alisnya.

"Nona, jangan disangka kami hanya menggertak saja. Kami adalah para pendekar yang siap menggempur para pemberontak, dan kalau engkau mata-mata pemberontak, kami tidak segan-segan mempergunakan kekerasan kalau engkau tidak mau menyerah dengan baik-baik."

Hong Li tersenyum mengejek dan melirik kepadanya,

"Hemmm, ingin sekali aku melihat kekerasan yang bagaimana yang hendak kalian lakukan? Apakah kalian ini lima orang laki-laki hendak mengeroyok aku? Pendekar macam apa kalau beraninya hanya keroyokan?"

Si kumis tebal menjadi merah mukanya.

Post a Comment