"Ahhh....!"
Hong Beng terkejut dan kagum sekali,
"Pantas saja dia tadi mengenal Swat-im Sin-kang begitu aku mempergunakan ilmu itu."
"Kasihan, dia berduka karena kehilangan kekasihnya, yaitu gadis yang kami tolong dari dalam sarang Tiat-liong-pang itu."
"Kwee Ci Hwa....?"
"Benar. Sudahlah, Suheng. Bagaimana sekarang? Apakah aku dapat membantumu?"
Hong Beng menjawab ragu.
"Aku sendiri masih bingung, Sumoi. Kalau tugas ini tidak kulaksanakan, nyawa Kun Tek dan nona Li Sian terancam bahaya maut. Mereka tentu akan dibunuhnya kalau aku tidak kembali ke sana membawa balasan dari Panglima Coa. Akan tetapi kalau aku melanjutkan tugas ini, berarti aku membantu pemberontakan itu. Isi surat itu amat penting."
Sambil berjalan menuju ke perbentengan, Hong Beng memberi penjelasan kepada Suma Lian agar gadis itu dapat membantunya mencari akal yang baik.
"Sebaiknya kau lanjutkan itu. Biar aku menanti di luar benteng, siap membantu-mu kalau engkau terancam bahaya kegagalan. Kalau di dalam surat hanya disebutkan engkau seorang sebagai utusan, tentu akan menimbulkan kecurigaan kalau aku ikut masuk ke dalam benteng."
Hong Beng membenarkan pendapat itu. Akan tetapi, selagi mereka berjalan sambil bercakap-cakap, tiba-tiba saja bermunculan tiga belas orang berpakaian serba merah, dipimpin oleh seorang yang berpakaian hijau! Mereka ini segera membuat gerakan mengepung Hong Beng dan Suma Lian, dan orang berpakaian hijau yang bertubuh kurus sekali itu, dengan suaranya yang parau menudingkan pedangnya ke arah Hong Beng.
"Hemm, sudah kami duga, tentu engkau berkhianat! Baiknya Mo-li menyuruh aku melakukan penghadangan di sini! Ternyata engkau benar saja menemui kawanmu ini dan hendak berkhianat kepada Tiat-liong-pang!"
Hong Beng tidak mengenal orang itu, akan tetapi Suma Lian segera mengenalnya.
"Hei bukankah engkau Tok-ciang Hui-moko Liok Cit, tikus busuk itu?"
Bentaknya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka si kurus berpakaian hijau. Orang itu memang Liok Cit, tangan kanan Sin-kiam Mo-li yang bertugas di situ memimpin tiga belas orang anggauta Ang I Mopang atas perintah Sin-kiam Mo-li yang cerdik dan yang meragukan kejujuran Hong Beng. Kini dia pun mengenal Suma Lian, dan wajahnya berubah agak pucat. Celaka, pikirnya. Gadis liar yang amat lihai itu kiranya teman Gu Hong Beng ini! Makin yakinlah dia bahwa Hong Beng memang bersekutu dengan pihak musuh.
"Tangkap mereka berdua, hidup atau mati!"
Perintahnya dengan suara lantang. Perintah ini berarti bahwa orang-orang Ang I Mo-pang itu boleh membunuh pemuda dan gadis itu. Maka tiga belas orang itu segera mencabut pedang masing-masing dan membuat lingkaran, membentuk barisan aneh yang berlari-lari mengelilingi Hong Beng dan Suma Lian. Gadis ini sama sekali tidak merasa khawatir, bahkan marah sekali. Dicabutnya suling emas dari balik bajunya, dan ia berkata kepada Hong Beng dengan sikap tenang sekali.
"Suheng, kau hadapi barisan siluman ini, aku akan menghajar si cacing kurus itu. Biarkan aku menggempur barisan untuk berhadapan dengan tikus itu!"
Mendengar betapa gadis yang lihai itu menyebut Hong Beng sebagai suheng, makin khawatirlah hati Liok Cit.
"Hayo gempur mereka!"
Bentaknya dari luar barisan. Tiga belas orang anggauta Ang I Mopang ini memang ahli dalam hal pembentukan barisan yang aneh-aneh. Biarpun tingkat kepandaian mereka itu kalau maju seorang demi seorang tidak akan ada artinya bagi para pendekar seperti Hong Beng dan Suma Lian, akan tetapi kalau sudah membentuk barisan, mereka menjadi kekuatan yang dahsyat, yang dapat bekerja sama dengan baik sekali sehingga seolah-olah dikendalikan oleh satu pikiran, dengan tiga belas pasang kaki dan tangan, dengan tiga belas batang pedang! Barisan itu sambil tetap berlari mengelilingi gadis dan pemuda itu, mulai menyerang, bertubi-tubi dan saling melindungi, susul menyusul, ke arah tubuh Hong Beng dan Suma Lian.
Namun Hong Beng yang ketika berangkat melaksanakan tugas memperoleh kembali pedangnya, yaitu sepasang pedang, kini sudah siap dengan sepasang senjata itu, memutarnya dengan ilmu pedang Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang hebat. Sedangkan Suma Lian sudah menerjang ke depan, memutar suling emasnya dengan Ilmu Suling Naga Siluman yang mengeluarkan suara melengking-lengking dan membentuk gulungan sinar kuning emas yang menyilaukan mata. Hong Beng yang maklum bahwa gadis itu lihai sekali, bahkan dia tahu bahwa gadis itu memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi darinya, kini memutar sepasang pedang untuk membendung serangan tiga belas anggauta barisan Ang I Mo-pang itu, memberi kesempatan kepada Suma Lian untuk menerjang keluar.
Kesempatan ini memang dipergunakan oleh gadis itu. Ia memutar sulingnya semakin dahsyat sambil menerjang ke arah kiri. Anggauta barisan yang berlari di sebelah kiri, cepat menangkis dengan pedangnya ketika ada sinar emas mencuat ke arahnya, dibantu pula oleh teman di kanan kirinya yang menahan serangan Suma Lian dengan tusukan pedang mereka ke arah gadis itu. Namun, Suma Lian memutar sulingnya, menangkis pedang-pedang itu dan tangan kirinya mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang mendorong ke arah mereka. Hawa dingin menyambar dahsyat ke arah tiga orang anggauta barisan itu, dan mereka mengeluarkan teriakan kaget sambil terhuyung ke belakang, namun tempat mereka segera diisi oleh tiga orang teman lainnya sehingga jalan keluar bagi Suma Lian tertutup lagi.
Melihat ini, Gu Hong Beng menerjang pula ke bagian itu, sepasang pedangnya menyambar-nyambar, akan tetapi segera sepasang pedang itu disambut oleh tidak kurang dari enam batang pedang lawan. Tiba-tiba Suma Lian mengeluarkan bentakan melengking dan tubuhnya berkelebat meloncat tinggi melampaui atas kepala para pengepungnya! Ketika barisan itu hendak menghalanginya, ia kembali mendorongkan tangan kirinya yang kini mengandung tenaga sakti Hui-yang Sin-kang yang panas dan mereka yang berusaha menghalanginya itu pun terdorong mundur dan berteriak kaget karena merasa betapa hawa panas menyambar ke arah mereka. Barisan menjadi kacau dan Suma Lian sudah tiba di luar barisan. Tanpa membuang waktu lagi, ia pun segera menyerang Liok Cit dengan suling emasnya.
"Tikus pengecut, sekarang kuantar kau ke neraka!"
Bentak Suma Lian dan Liok Cit yang menjadi ketakutan, cepat menyambut dengan pedangnya dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk membendung serangan suling emas yang sinarnya menyilaukan mata itu. Sementara itu, Hong Beng juga mengamuk dengan pedangnya. Barisan itu sudah kacau karena enam orang di antara mereka telah dibikin terhuyung oleh pukulan Swat-im Sin-kang dan Hui-yang Sin-kang dari Suma Lian tadi. Kini, Hong Beng memainkan ilmu pedangnya dengan dahsyat,
Mengerahkan tenaganya sehingga tubuh dan pedangnya bagaikan bola api yang menggelinding ke sana ke mari, dan barisan itu pun menjadi semakin kacau dan tidak dapat mempertahankan lagi keutuhan atau kerapian gerakan mereka. Sementara itu, perkelahian antara Suma Lian melawan Liok Cit terjadi berat sebelah. Liok Cit yang berjuluk Tok-ciang Hui-moko (Iblis Terbang Tangan Beracun) itu ternyata bukan tandingan Suma Lian. Dia tidak berani mencoba-coba untuk mempergunakan sihirnya, karena hal ini hanya berarti menggugah harimau tidur. Gadis itu memiliki kekuatan sihir yang jauh lebih kuat darinya, maka akan percuma saja kalau dia mempergunakan sihir. Satu-satunya jalan bagi Liok Cit hanyalah mempertahankan diri dan sedapat mungkin mencari kesempatan untuk dapat melarikan diri.
Akan tetapi, agaknya Suma Lian tidak mau melepaskan lagi musuhnya ini. Ia teringat akan perbuatan Liok Cit yang lalu, mencoba untuk menyihirnya, dan menculik Yo Han sehingga mengakibatkan tewasnya ayah ibu anak itu, bahkan dirinya sendiri hampir celaka kalau saja tidak ada Sin Hong yang menolongnya. Maka, Suma Lian mendesak dengan suling emasnya dan tidak memberi jalan keluar sama sekali. Liok Cit melawan mati-matian, sambil terus mundur dan akhirnya, tanpa dapat dihindarkannya lagi, ujung suling gadis itu menyentuh pelipis kirinya. Tubuh Liok Cit terjungkal dan dia tewas seketika tanpa mengeluarkan suara lagi! Setelah merobohkan Liok Cit, Suma Lian lalu membalikkan tubuhnya dan terjun ke dalam pertempuran membantu Hong Beng yang dikeroyok oleh barisan Ang I Mo-pang.
Barisan itu memang sudah kacau balau, bahkan telah kehilangan tiga orang anggauta barisan yang roboh terkena pedang di tangan Hong Beng. Maka, begitu Suma Lian masuk, sisa pasukan menjadi semakin kacau dan gentar. Namun, sepasang pendekar itu agaknya tidak mau melepaskan mereka. Hal ini memang sudah semestinya, karena kalau ada seorang saja di antara mereka lolos dan melapor kepada pimpinan Tiat-liong-pang, tentu rahasia Hong Beng diketahui dan akan celakalah Li Sian dan Kun Tek yang menjadi sandera. Maka, mereka mengamuk dan sisa barisan yang berusaha menyelamatkan diri itu sia-sia saja, akhirnya mereka roboh seorang demi seorang dan setelah perkelahian itu berhenti, tiga belas orang anggauta Ang I Mo-pang dan Liok Cit sudah tewas semua, tubuh mereka malang melintang diantara darah yang membasahi tanah.
"Bagus, bagus! Orang-orang muda mempergunakan kepandaian untuk melakukan pembunuhan terhadap banyak orang, sungguh menyedihkan!"
Hong Beng dan Suma Lian cepat membalikkan tubuh mereka, siap siaga menghadapi lawan baru. Juga mereka terkejut karena kehadiran orang yang mengeluarkan suara itu sama sekali tidak mereka ketahui, hal ini saja menunjukkan betapa lihainya orang itu. Dan ketika mereka membalik, mereka melihat dua orang kakek dan nenek sudah berdiri di situ sikap mereka tenang dan berwibawa. Kakek itu sudah tua, usianya antara tujuh puluh tahun berpakaian sastrawan sederhana, sikapnya lembut namun berwibawa, wajahnya masih memperlihatkan ketampanan dan kegagahan. Adapun nenek itu belasan tahun lebih muda, usianya sekitar lima puluh empat tahun, wajahnya masih nampak cantik dan sepasang matanya bergerak lincah dan penuh semangat.
"Kong-kong dan Bo-bo (Kakek dan Nenek)....!"
Suma Lian berseru ketika ia mengenal kedua orang itu. Mereka itu memang kakek Kam Hong dan nenek Bu Ci Sian yang baru saja meninggalkan benteng pasukan pemerintan setelah mereka menolong Panglima Liu, utusan dari kota raja. Kalau Suma Lian langsung mengenal mereka, kedua orang tua itu tertegun sejenak, akan tetapi mereka pun teringat bahwa gadis cantik dan gagah yang memegang sebatang suling emas itu bukan lain adalah Suma Lian, cucu mereka sendiri!
"Hemmm, kiranya engkau, Lian?"