Kun Tek mengerutkan alisnya, akan tetapi melihat sinar mata Li Sian yang lembut dan senyum manis ditujukan kepadanya, dia pun mengangguk dan menoleh kepada Hong Beng sambil berkata,
"Nah, bicaralah!"
Hong Beng menahan senyumnya karena baginya, sikap Kun Tek itu nampak lucu sekali.
"Begini, Kun Tek dan nona Pouw. Memang sepintas lalu tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mati sebagai orang-orang gagah yang tidak sudi menyerah. Akan tetapi, kurasa jalan itu amat bodoh karena apa untungnya kalau kita mati konyol? Mereka itu akan melanjutkan gerakan pemberontakan mereka, sehingga rakyat banyak yang akan menderita dan mati pula, juga sakit hati nona Pouw takkan dapat dibalas sama sekali! Dan mereka itu memberi kesempatan kepada kita, karena mereka membutuhkan tenaga kita. Nah, kenapa kita tidak berlaku cerdik? Tentu saja aku sendiri tidak sudi untuk benar-benar membantu mereka! Akan tetapi, mengapa kita tidak mempergunakan kelemahan mereka, yaitu membutuhkan tenaga kita, untuk berusaha meloloskan diri? Kita boleh pura-pura menyerah, dan kita melihat perkembangan selanjutnya. Yang penting, kalau kita dapat bebas dari belenggu-belenggu ini, kita dapat bergerak leluasa. Andaikata kita akan mengamuk juga, sebelum kita mati, kita akan dapat menewaskan banyak lawan sebelum kita mati konyol! Bukankah itu jauh lebih baik daripada mati konyol seperti babi-babi dalam kandang?"
Kun Tek bukan seorang bodoh. Mendengar pendapat Hong Beng ini, dia pun mulai mengangguk-angguk dan melihat kebenarannya. Dia tadi terlalu terburu nafsu menduga bahwa kawannya itu ketakutan lalu ingin menyerah agar selamat. Kini dia tahu bahwa kalau mereka menakluk, hal itu hanya untuk mencari kesempatan agar dapat memberontak dan menghantam musuh dengan leluasa. Dan tentu saja dia setuju sekali!
"Cu-koko, kurasa pendapat saudara Gu Hong Beng ini ada benarnya juga. Kalau aku diberi kesempatan, tentu akan kukerahkan seluruh tenaga dan kepandaianku untuk menyerang dan membunuh si keparat Siangkoan Liong!"
Kata Li Sian. Kun Tek mengangguk-angguk.
"Memang benar juga. Aku pun setuju kalau kita menyerah pura-pura saja, hanya untuk mencari kesempatan lolos dan menghantam mereka. Akan tetapi terserah kalian yang bicara, kalau aku yang disuruh bicara dengan mereka, kiranya aku hanya dapat memaki dan mencaci mereka!"
"Serahkan saja kepadaku,"
Kata Hong Beng gembira.
"Aku akan membantu saudara Gu Hong Beng,"
Sambung Li Sian dan Kun Tek diam saja, namun setuju sepenuhnya. Kalau mereka dapat berhasil lolos, kemudian menghajar para pemberontak, dan akhirnya mereka dapat bebas, dan dia bersama Li Sian tidak mati, alangkah akan bahagianya. Dia akan dapat hidup berdua dengan gadis pujaannya itu, menjadi suami isteri! Bayangan ini saja mendatangkan semangat kepada Kun Tek!
"Sekarang, lebih baik kita memperkuat tubuh. Kita menerima hidangan yang mereka suguhkan, makan sekenyangnya, kemudian kita bersamadhi malam ini menghimpun tenaga baru. Besok, barulah kita menghadapi mereka dan aku sudah mengatur siasat untuk menghadapi mereka. Harap kalian jangan heran dan menyangka yang bukan-bukan kalau aku bersikap ramah kepada mereka. Mengertikah kalian, terutama engkau, saudara Kun Tek?"
Kun Tek mengangguk, setelah melihat Li Sian mengangguk.
"Aku akan sekuat tenaga menahan kemarahanku kalau melihat muka mereka!"
Katanya. Li Sian menghadiahinya sebuah senyum manis.
"Aku percaya engkau akan kuat, Cu-koko. Seorang gagah harus kuat segala-galanya, terutama sekali menekan perasaannya sendiri, bukan?"
Senyum itu cukup sudah bagi Kun Tek. Dia mau menebus apa saja untuk memperoleh senyuman seperti itu.
"Jangan khawatir, Moi-moi, demi engkau, aku dapat melakukan apa saja!"
Katanya bangga dan sekali ini pipi Li Sian menjadi agak merah kedua pipinya karena ia melihat betapa ada senyum mengembang di bibir Hong Beng.
Demikianlah, tiga orang muda ini mulai memperlihatkan sikapnya yang suka bekerja sama ketika mereka menerima hidangan yang disuguhkan, dan mereka melihat bahwa memang pihak lawan agaknya ingin sekali menarik mereka sebagai pembantu. Buktinya, hidangan yang disuguhkan selain banyak, juga masih panas dan cukup mewah, seperti hidangan di rumah makan besar saja! Mereka bertiga makan kenyang, akan tetapi hanya minum arak sedikit saja, lebih banyak minum air teh yang mereka minta dari petugas yang menyuguhkan makanan dan minuman. Setelah itu, semalam suntuk mereka duduk bersila dan bersamadhi, menghimpun tenaga murni untuk memulihkan kekuatan mereka dan melenyapkan kelelahan. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Ouwyang Sianseng sudah datang berkunjung. Dia tidak diikuti oleh Siangkoan Liong.
Ouwyang Sianseng cukup cerdik untuk menjauhkan dulu pemuda itu, mengingat betapa Li Sian mendendam kepadanya. Sebaliknya, dia datang bersama Siangkoan Lohan! Dua orang paling tinggi kedudukannya dalam persekutuan pemberontakan itu, datang mengunjungi tiga orang tawanan muda itu! Hal ini saja sudah meyakinkan hati Hong Beng bahwa mereka itu benar-benar mengharapkan kerja sama, dan hal ini amat baik. Setelah mengucapkan selamat pagi dengan sikap lembut seperti biasanya, Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan lalu duduk di atas bangku yang berada di kamar tahanan itu, menghadapi tiga orang tawanan yang masih duduk bersila. Kun Tek dan Li Sian hanya mengangguk sebagai jawaban, akan tetapi Hong Beng membalas ucapan selamat pagi itu dengan suara yang cukup ramah.
"Bagaimana, orang-orang muda yang gagah. Apakah Sam-wi (Kalian bertiga) sudah mengambil keputusan dan pilihan yang tepat?"
Hong Beng menjawab dengan suara yang cukup tenang.
"Ouwyang Sianseng, aku telah mendapat kepercayaan dua orang kawanku ini, untuk menjadi wakil pembicara mereka. Sebelum kami menjawab, harap jelaskan lagi apakah pilihan yang harus kami pilih itu?"
Ouwyang Sianseng tersenyum. Sikap pemuda itu saja sudah melegakan hati, tidak seperti kemarin di mana mereka bertiga itu memperlihatkan sikap bermusuhan dan tidak ada kompromi.
"Hanya ada dua pilihan sederhana saja. Kalian sanggup bekerja sama dengan kami, membantu kami berjuang melawan pemerintahan penjajah Mancu, atau kalian menolak, terpaksa kami akan membunuh kalian sebagai musuh yang berbahaya. Nah, bagaimana keputusan kalian bertiga....?"
"Nanti dulu, Locianpwe,"
Kata Hong Beng, kini menyebut locianpwe untuk menghormati orang tua yang memang sakti itu.
"Kalau kami menolak, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Akan tetapi, kalau kami menerima, lalu bagaimana? Apakah yang harus kami lakukan? Bukankah sekarang belum terjadi perang antara pasukan yang Locianpwe pimpin dan pasukan pemerintah?"
"Lohan, coba jelaskan tentang kedudukan dan rencana kita kepada mereka ini,"
Kata Ouwyang Sianseng, suaranya ramah dan halus akan tetapi jelas bernada memerintah dan hal ini saja menunjukkan bahwa kedudukan kakek ini masih lebih tinggi daripada ketua Tiatliong-pang itu. Siangkoan Lohan yang dulunya adalah seorang yang terkenal sebagai ketua perkumpulan orang gagah yang pernah membantu Kerajaan Mancu sehingga dia dihadiahi seorang puteri, dapat mengerti akan siasat rekannya untuk membujuk orang-orang muda berilmu tinggi ini agar mau bekerja sama membantu mereka. Maka dia pun menarik napas panjang dan berkata dengan suara tenang setelah mengisap hun-cwe emasnya dan mengepulkan asap yang berbau tembakau harum.
"Memang menggemaskan sekali kalau mengingat betapa penjajah Mancu yang dulunya kita semua harapkan akan mampu memimpin bangsa kita ke arah kemakmuran kini ternyata malah menindas bangsa kita dan mendatangkan banyak kesengsaraan kepada rakyat, sedangkan mereka sendiri hidup serba berkelebihan! Hal inilah yang membuat kami semua merasa penasaran untuk berjuang menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu! Kalian tiga orang muda yang perkasa, tentu mempunyai jiwa patriot, siap untuk mengusir penjajah dan menyelamatkan bangsa dan tanah air kita. Untuk menumbangkan kekuasaan Mancu yang besar, tentu saja kita membutuhkan bantuan semua tenaga para patriot dan terus terang saja, kami terpaksa menerima uluran tangan dari dunia hitam. Kita membutuhkan tenaga mereka, karena itu, kami tidak mempedulikan perasaan pribadi, yang penting menghimpun tenaga untuk menumbangkan pemerintah penjajah. Tentu saja, kami akan merasa gembira sekali kalau para pendekar dan patriot, seperti kalian, suka membantu perjuangan ini."
Dia berhenti sebentar untuk melihat reaksi dari tiga orang muda itu. Kun Tek yang diam-diam tidak percaya, kalau menurutkan gairah hatinya, ingin memaki-maki dan mengatakan bohong, akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, demi Li Sian tentu saja, dan dia hanya menundukkan mukanya agar jangan nampak isi hatinya melalui sikap dan pandang matanya. Li Sian lebih mampu menguasai perasaannya, maka dia pun mendengarkan seolah-olah merasa tertarik.
"Akan tetapi, Pangcu."
Kata Hong Beng dengan sikap hormat.
"Biarpun semua yang Pangcu katakan itu benar belaka, akan tetapi bagaimana Pangcu akan dapat melakukan perlawanan terhadap kekuasaan pemerintahan yang mempunyai banyak balatentara? Baru pasukan yang berjaga di tapal batas utara ini saja sudah banyak sekali! Dan tiga orang seperti kami ini, dapat berbuat apakah terhadap pasukan pemerintah yang besar jumlahnya?"
Siangkoan Lohan tersenyum bangga. Dia dan Ouwyang Sianseng memang sudah bersepakat untuk menceritakan segalanya kepada tiga orang muda itu. Bukankah andaikata mereka itu menolak, mereka akan dibunuh dan semua rahasia itu akan terkubur bersama mereka? Dan kalau mereka suka bersekutu, berarti mereka adalah orang-orang sendiri yang layak mengetahui keadaan mereka.
"Hemmm, tentu kalian memandang rendah kepada kami. Akan tetapi ketahuilah, kami sudah lama mengadakan persiapan untuk gerakan perjuangan ini. Kami sendiri sudah mengumpulkan orang-orang yang menjadi anggauta kami, dan yang jumlahnya tidak kurang dari lima ratus orang. Selain itu, kami mengadakan kontak dengan pimpinan bangsa Mongol, bahkan keturunan Jenghis Khan yang perkasa. Mereka sudah siap dengan pasukan yang akan dapat melintasi perbatasan dengan mudah berkat kekuasaan kami yang telah memungkinkan penyeberangan itu tanpa terhalang. Selain itu, kami tidak takut menghadapi pasukan penjaga perbatasan ini, karena mereka itu pun akan membantu kami!"