Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 137

Memuat...

Kam Bi Eng yang masih belum dapat menghilangkan perasaan dukanya atas kematian Sian Lun, tiba-tiba berkata. Suma Ceng Liong mengangguk-angguk membenarkan permintaan isterinya. Sian Li mengerutkan alisnya. Berat tugas ini terasa olehnya.

Ia seorang yang tidak suka berbohong, tidak biasa membohong akan tetapi sekali ini, terpaksa ia harus berbohong Yo Han yang mengajarkan kepadanya bahwa untuk urusan ini, amat bijaksanalah kalau ia berbohong. Bagaimanapun juga, Sian Lun telah tewas, dan harus ia akui bahwa dalam saat terakhir, Sian Lun telah menebus penyelewengannya dengan perbuatan gagah, yaitu membelanya sampai mengorbankan nyawa. Kalau ia menceritakan penyelewengan Sian Lun, hal itu sama sekali tidak ada manfaatnya bahkan tentu akan membuat kakek dan nenek itu merasa menyesal bukan main. Bagaimanapun juga, amat sukar baginya untuk berbohong seluruhnya, maka iapun mengambil "jalan tengah". Sian Li menceritakan lebih jelas semua pengalamannya bersama Sian Lun ketika mereka terlibat dalam pertentangan dengan persekutuan pemberontak itu.

"Aku dan Suheng tertawan musuh yang selain lihai juga amat banyak jumlahnya,"

Katanya.

"Kemudian mereka itu, dengan kekuatan sihir mereka, menyihir Suheng dan mempengaruhi Suheng sehingga nampaknya Suheng suka membantu mereka. Apalagi mereka itu menggunakan dalih perjuangan melawan pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi, pada saat terakhir, Suheng dapat membebaskan diri dari pengaruh sihir, kemudian Suheng mengamuk dengan gagah perkasa. Akan tetapi, lawannya, Pangeran Gulam Sing dari Nepal memang tangguh bukan main sehingga akhirnya Suheng roboh dan tewas. Aku sendiri terbebas dari maut karena ada Han-ko yang mengamuk didekatku dan yang melindungi aku."

Suma Ceng Liong menghela napas panjang.

"Sudahlah, memang sudah nasibnya mati muda. Bagaimanapun juga, kita tidak perlu menyesali kematiannya karena dia gugur sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Aku bahkan kecewa tidak dapat melawan gerombolan itu disamping Sian Lun."

"Hemm, ingin aku mencoba kepandaian pangeran Nepal itu!"

Kata Kam Bi Eng dengan gemas dan dengan kedua mata agak merah karena ia menahan tangisnya.

"Kita tidak perlu mengingat lagi pangeran itu karena dia sudah tertangkap oleh pasukan Tibet dan sudah pasti akan dihukum mati,"

Kata Sian Li. Setelah tinggal di situ selama dua hari dua malam, Sin Hong dan Hong Li lalu mengajak puteri mereka dan juga Yo Han untuk pulang ke Ta-tung.

Mereka berjanji untuk membantu Suma Ceng Liong menyebar undangan kepada para sanak keluarga yang akan diundang menghadiri perayaan ulang tahun sekalian mengadakan pertemuan besar keluarga itu. Di sepanjang perjalanan, Sin Hong dan Hong Li kembali minta kepada Sian Li dan Yo Han untuk menceritakan lagi dengan terperinci semua pengalamannya. Bahkan Yo Han juga harus menceritakan semua pengalamannya, yang didengarkan pula oleh Sian Li karena kepada gadis itu, sebelumnya Yo Han hanya menceritakan garis besarnya saja. Ada rasa khawatir dalam hati Tan Sin Hong dan Kao Hong Li ketika mereka melihat sikap yang diperlihatkan Sian Li terhadap Yo Han di sepanjang perjalanan menuju pulang itu. Mereka melihat betapa mesra dan manisnya sikap Sian Li kepada Yo Han.

Memang mereka mengetahui bahwa sejak kecil, Sian Li amat sayang kepada Yo Han yang juga menyayangnya. Akan tetapi, dahulu kesayangan mereka adalah seperti kesayangan antara kakak dan adik, dan hal itu pun tidak aneh karena sejak Sian Li masih bayi, Yo Han yang mengasuhnya dan menjadi teman bermain. Akan tetapi ketika itu mereka masih kecil dan sekarang mereka bukan kanak-kanak lagi. Yo Han telah menjadi seorang laki-laki yang dewasa, sedangkan Sian Li telah berusia tujuh belas tahun, bagaikan setangkai bunga mulai berkembang dan mekar menjadi dewasa. Kemesraan yang diperlihatkan Sian Li terhadap Yo Han membuat suami isteri itu khawatir, apalagi melihat betapa sinar mata Sian Li kalau memandang Yo Han demikian penuh rasa kagum. Dan Yo Han telah merupakan seorang laki-laki yang tampan, gagah dan halus budi,

Sifat yang mudah sekali menjatuhkan hati setiap orang gadis. Mereka berdua dilanda kekhawatiran yang sama seperti dulu ketika Sian Li masih kecil. Khawatir kalau Sian Li terpengaruh! Walaupun yang mereka khawatirkan itu berbeda. Dahulu mereka khawatir kalau Sian Li ketularan watak Yo Han yang tidak suka belajar ilmu sllat sehingga Sian Li juga akan malas belajar silat dan menjadi seorang gadis yang lemah. Sekarang mereka khawatir kalau puteri mereka itu akan jatuh cinta kepada Yo Han, cinta seorang wanita terhadap seorang pria! Setiap kali mendapat kesempatan bicara berdua, yaitu di waktu malam dalam sebuah kamar rumah penginapan dimana mereka berdua berada, mereka berbisik-bisik membicarakan puteri mereka dan Yo Han dan keduanya memang sudah sepakat dan satu hati.

"Tidak dapat disangkal bahwa Yo Han memang telah menjadi seorang pemuda yang ganteng, tampan dan halus budi. Kalau dilihat dari keadaan lahiriahnya, memang tidak akan mengecewakan andaikata dia menjadi suami anak kita,"

Kata Hong Li.

"Engkau benar. Dan biarpun aku sendiri belum membuktikan, akan tetapi dari cerita Sian Li, aku percaya bahwa Yo Han memang telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Memang kalau dilihat keadaan wajahnya, tubuhnya, kepandaiannya, kita tidak akan malu mempunyai seorang mantu seperti dia."

Isterinya mengangguk.

"Memang sungguh sayang sekali. Sayang bahwa ibunya adalah Bi Kwi. Masih ngeri hatiku kalau mengenang kembali kejahatan yang pernah dilakukan ibunya. Seorang iblis betina yang kejam dan amat jahat, walaupun pada waktu-waktu terakhir dia telah menyadari kesalahannya dan bertaubat. Siapa tahu, sifatnya yang jahat itu akan diwarisi puteranya."

Sin Hong menghela napas panjang.

"Aku pun merasa berat sekali untuk berpikir seperti itu, akan tetapi apa boleh buat, demi kebahagiaan anak tunggal kita. Tidak mungkin kita membiarkan anak kita kelak hidup menderita kalau suaminya berubah wataknya menjadi jahat. Kita tidak dapat yakin bahwa Yo Han tidak mewarisi watak jahat ibunya. Memang nampaknya selama ini dia mirip dengan watak mendiang Yo Jin, ayahnya yang walaupun petani sederhana dan tidak pandai silat namun berjiwa gagah. Tidak mungkin mempertahan-kan nasib Sian Li secara untung-untungan. Hong Li termenung dan nampak khawatir sekali.

"Akan tetapi aku melihat sinar mata Sian Li kalau memandang kepadanya. Ah, aku khawatir kalau anak kita telah jatuh cinta kepada Yo Han...."

"Aaahh, kalau pun demikian, cintanya itu hanyalah cinta monyet. Sian Li belum dewasa benar, usianya baru tujuh belas tahun, cintanya, akan mudah goyah dan berubah. Justeru karena itu maka mereka harus cepat dipisahkan, kalau dibiarkan mereka bergaul lebih dekat dan akrab, bukan tidak mungkin mereka akan saling jatuh cinta."

Hong Li menghela napas panjang.

"Sebetulnya aku merasa malu dan tidak enak sekali. Yo Han demikian baik, akan tetapi klta.... ah, dahulu kita juga ingin memisahkan mereka, sekarang pun kita masih tidak menghendaki mereka bergaul dekat. Kalau dipandang sepintas saja, kita yang keterlaluan. Akan tetapi, demi kebahagiaan anak kita...."

"Ya, demi kebahagiaan anak kita. Akan tetapi kita harus mencari cara agar tidak kentara, dan terutama sekali agar Yo Han tidak sampai tersinggung."

"Itulah yang merisaukan hatiku. Alasan apa pula yang dapat kita pergunakan sekarang? Dahulu, kebetulan muncul Ang I Moli yang mengajak Yo Han pergi sebagai pengganti Sian Li. Akan tetapi sekarang? Bagaimana mungkin kita mengusir dia begitu saja?"

"Memang tidak boleh kita mengusirnya begitu saja. Dahulu aku sudah berjanji kepada ayah ibunya untuk merawat dan mendidik Yo Han, dan andaikata tidak ada permasalahan dengan Sian Li, janji itu sudah pasti akan kupegang teguh!"

"Lalu bagaimana kita harus bertindak agar pengusiran itu tidak menyinggung hatinya, akan tetapi berhasil baik?"

"Aku ada akal. Ingatkah engkau akan cerita Sian Li tentang puteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw? Nah, hilangnya anak itu dapat kita pergunakan untuk membujuk Yo Han! Ibu anak itu, siapa namanya.... o ya, Sim Hui Eng, ibunya Can Bi Lan adalah sumoi dari Bi Kwi, ibu Yo Han. Aku tahu benar betapa erat dan baiknya hubungan antara suci dan sumoi itu, seperti dua saudara kandung saja. Nah, kita ingatkan kepada Yo Han bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk membela keluarga Can Bi Lan yang dulu berjuluk Siauw Kwi itu, sebagai pengganti ibunya. Melihat hubungan yang amat baik antara ibunya dan Can Bi Lan, maka dia seperti keluarga sendiri saja dan sudah sepatutnya kalau dia mempergunakan kepandaiannya untuk berusaha mencari sampai dapat Sim Hui Eng yang hilang itu, atau setidaknya, memperoleh keterangan bagaimana jadi nya dengan anak yang hilang itu."

Kao Hong Li mengangguk-angguk, akan tetapi alisnya berkerut.

"Memang itu boleh kita jadikan pendorong agar dia pergi. Akan tetapi rasanya masih kurang kuat. Bagaimana kalau aku memberitahu kepadanya, tentu saja dengan lembut dan hati-hati, bahwa sekarang dia sudah dewasa, sudah sepantasnya kalau berdiri sendiri dan bahwa kini Sian Li sudah mulai besar dan dewasa sehingga tidak pantaslah kalau dia serumah dengan Sian Li? Juga dapat kusindirkan dengan halus kepadanya bahwa kita sudah menerima usul dan sedang menjajaki dan mempertimbangkan ikatan jodoh antara anak kita dengan seorang pangeran...."

Tan Sin Hong menatap tajam wajah isterinya.

"Pangeran....?"

Kao Hong Li tersenyum.

"Lupakah engkau akan Pangeran Cia Sun? Kita pernah berjumpa dengan dia dan aku tidak dapat melupakan betapa engkau kagum kepadanya, dan pernah melontarkan harapan agar anak kita dapat menjadi jodohnya?"

"Ihh, engkau melamun dari mengkhayal, terlalu jauh dan tinggi! Bagaimana mungkin kita mendapat mantu seorang pangeran seperti dia?"

Tan Sin Hong tersenyum, akan tetapi matanya bersinar-sinar penuh harapan. Pangeran Cia Sun memang bukan putera mahkota, bukan seorang pangeran yang kelak ada harapan untuk menjadi Kaisar. Biarpun demikian, dia adalah seorang pangeran yang tentu saja hidup mulia dan berkecukupan, juga lowongan jabatan dan kedudukan tinggi terbuka lebar untuk seorang pangeran. Apalagi Pangeran Cia Sun masih muda, terpelajar tinggi, dan pandai ilmu silat, bahkan pernah minta petunjuk kepada mereka tentang ilmu silat. Biarpun belum dapat dinamakan murid mereka karena hanya menerima petunjuk dan dilatih selama beberapa bulan saja ketika suami isteri itu pergi ke kota raja,

Namun mereka mengenal pangeran itu sebagai seorang pemuda yang baik, berbakat dan pantas menjadi mantu mereka. Yang membuat mereka mengharapkan terjadinya hal ini adalah pernah ayah dari pangeran muda itu, yaitu Pangeran Cia Yan, secara berkelakar mengatakan bahwa dia akan senang kalau dapat berbesan dengan Pendekar Bangau Putih, ketika mendengar bahwa pendekar itu mempunyai seorang puteri yang kini sedang memperdalam ilmu silatnya di rumah paman kakeknya. Pangeran Cia Sun memang hanya seorang cucu dari Kaisar Kian Liong, namun karena dia pangeran, tentu saja dalam pandangan suami isteri itu, dia lebih segala-galanya daripada pemuda lain. Akhirnya mereka tiba di kota Ta-tung dan Sian Li merasa gembira sekali tiba kembali di rumah orang tuanya yang telah ia tinggalkan selama lebih dari lima tahun.

Sin Hong dan Hong Li mempergunakan kesempatan selagi puteri mereka, Sian Li pergi belanja untuk keperluan menyambut hari sin-cia yang akan tiba sepekan lagi, untuk mengajak Yo Han berbicara. Mereka memanggil Yo Han untuk bicara di ruangan depan. Hal ini mereka maksudkan agar kalau Sian Li pulang, mereka dapat melihatnya dan puteri mereka itu tidak sempat ikut mendengarkan percakapan mereka. Sin Hong memulai percakapan itu dengan suara yang serius namun juga ramah.

"Yo Han, sudah beberapa hari engkau berada di sini, dan setelah engkau beristirahat, barulah hari ini aku ingin membicarakan suatu hal yang sejak kami bertemu kembali denganmu dan mendengar cerita Sian Li selalu menjadi ganjalan di hati kami. Yo Han memandang Sin Hong dengan sepasang mata yang tajam seperti hendak menembus dan menjenguk hati orang yang dianggap sebagai guru pertama, bahkan sebagai pengganti ayahnya itu.

"Suhu, katakanlah apa yang menjadi ganjalan hati Suhu dan Subo, mudah-mudahan teecu dapat membantu melegakan hati Suhu dan Subo."

Post a Comment