Tentu saja empat orang itu terkejut mendengar ini. terutama sekali Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Mendengar betapa murid mereka tewas, keduanya saling pandang, lalu mengamati wajah Sian Li dan Kam Bi Eng bertanya.
"Tewas? Sian Lun.... tewas? Apa yang terjadi? Siapa yang telah berani membunuhnya?"
"Panjang ceritanya."
Sian Li mengeluh kemudian ia menceritakan betapa dalam perjalanan ke Bhutan itu mereka bertemu dengan Lulung Lama dan kemudian, ketika mereka pulang dari Bhutan, mereka bahkan terlibat dan bentrok dengan persekutuan pemberontak yang terdiri dari para Lama Jubah Hitam, Pangeran Gulam Sing dari Nepal, para pengemis Tongkat Hitam, dan orang-orang Pek-lian-kauw.
"Kami terlibat dengan mereka, terjadi bentrokan, bahkan aku sendiri pernah tertawan oleh mereka. Dan dalam pertempuran itu, Suheng tewas di tangan Pangeran Gulam Sing dari Nepal. Kami dibantu oleh pasukan Tibet dan para orang kang-ouw, dan bahkan kami mendapat bantuan dari Bibi Gak dan puteranya, Gak Ciang Hun. Bahkan di sana kami bertemu dan dibantu oleh Paman Sim Houw, Pendekar Suling Naga."
Dengan panjang lebar Sian Li menceritakan tentang pertempuran yang akhirnya dapat membasmi para pemberontak itu.
"Beberapa kali aku terancam behaya maut dan tentu aku sudah tewas pula seperti Suheng kalau saja tidak dibantu olehnya,"
Katanya sebagai penutup sambil menuding ke arah Yo Han yang masih berdiri di luar sambil mendengarkan dan menundukkan mukanya.
"Sian Li, siapakah dia?"
Kao Hong Li bertanya kepada puterinya sambil mengamati wajah yang menunduk itu.
"Ayah dan Ibu, benarkah kalian tidak mengenalnya?"\n\n\n\nTanya Sian Li sambil tertawa. Karena Sin Hong dan Hong Li kini mengamati wajahnya, Yo Han segera menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada mereka, berkata dengan suara terharu.
"Suhu dan Subo, harap maafkan teecu...."
"Yo Han....!"
Suami isteri itu berteriak. Jadi mereka sama sekali tidak mengira bahwa pemuda itu adalah Yo Han walaupun mereka merasa bahwa wajah pemuda itu tidak asing bagi mereka. Kini, mereka segera mengenalnya dan keduanya cepat keluar dari serambi dan Sin Hong dengan girang menarik tangan Yo Han dan disuruhnya bangkit berdiri.
"Yo Han, terima kasih kepada Tuhan bahwa engkau dalam keadaan sehat dan baik!"
Seru Sin Hong, wajahnya berseri karena gembira melihat pemuda itu yang pernah membuat dia merasa prihatin sekali karena kepergiannya. Dia kadang merasa berdosa kepada Yo Jin dan BiKwi, ayah ibu pemuda itu yang telah mempercayakan Yo Han kepadanya.
"Yo Han, engkau telah menjadi seorang pemuda dewasa!"
Seru Hong Li yang sebenarnya juga merasa sayang kepada murid yang pandai membawa diri ini.
"Ayah, ibu, kalian tidak tahu bahwa Han-ko sekarang telah menjadi Sin-ciang Tai-hiap yang memiliki kesaktian hebat! Kalau tidak ada dia, tentu aku tidak akan dapat pulang hari ini!"
Sian Li memuji, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.
"Benarkah? Luar biasa sekali! Bukankah sejak kecil engkau tidak suka mempelajari ilmu silat, Yo Han?"
Tegur Sin Hong. Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng yang masih tertegun mendengar kematian murid mereka, segera mengajak mereka semua untuk masuk dan bicara di dalam. Setelah semua duduk di ruangan dalam, barulah Yo Han menceritakan pengalamannya sejak dia dibawa pergi Ang I Moli sebagai penukaran atau tebusan atas diri Sian Li yang dibebaskan oleh iblis betina itu. Betapa dia kemudian menyadari akan perlunya membekali diri dengan ilmu kepandaian agar dapat menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menyadarkan mereka yang mengambil jalan sesat.
"Thian-li-pang?"
Kata Suma Ceng Liong mengingat-ingat.
"Seingatku, Thian-li-pang di Bukit Naga adalah perkumpulan para patriot yang menentang pemerintah. Mereka terkenal gagah perkasa dan diantara para pemimpinnya terdapat orang-orang yang sakti. Akan tetapi, aku pernah mendengar bahwa Thian-li-pang kemudian menjadi perkumpulan yang tidak bersih namanya. Para muridnya suka melakukan hal-hal yang jahat, bahkan kabarnya pernah mengadu domba perguruan-perguruan silat yang besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai dan Go-bi-pai. Kabarnya perkumpulan itu diselewengkan oleh dua orang tokohnya yang berjuluk Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong. Entah sampai di mana kebenaran berita itu."
Sin Hong dan isterinya terkejut.
"Yo Han, benarkah itu? Dan engkau menjadi murid Thian-li-pang yang tersesat itu?"
Tanya Sin Hong sambil menatap wajah pemuda itu penuh selidik.
"Apa yang diucapkan Suma Locianpwe memang benar. Thian-li-pang adalah perkumpulan yang anti pemerintah, anti penjajah, akan tetapi setelah Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong yang memegang pimpinan, perkumpulan itu dibawa menyeleweng ke jalan sesat. Memang mula-mula teecu dipaksa menjadi murid dua orang datuk itu. Akan tetapi kemudian teecu bertemu dengan orang ke tiga dari para datuk Thian-li-pang yang kemudian menjadi guru teecu yang sebenarnya. Beliau bernama Ciu Lam Hok dan disana beliau menjadi orang hukuman yang disiksa oleh dua orang suhengnya Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong itu. Kaki tangannya dibuntungi dan beliau di hukum di dalam sumur yang amat dalam. Teecu berhasil bertemu dan menjadi muridnya. Setelah beliau meninggal karena usia tua, teecu berhasil keluar. Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong saling menyalahkan ketika mendengar akan kematian Suhu Ciu Lam Hok dan mereka saling serang sendiri sampai keduanya tewas. Teecu yang menerima tugas dari mendiang Suhu untuk meluruskan kembali Thian-li-pang, berhasil menundukkan dan membujuk para pimpinan dan sekarang teecu yakin bahwa Thian-li-pang telah kembali ke jalan benar."
"Ciu Lam Hok....? Hem, tidak pernah aku mendengar nama itu. Yang terkenal hanyalah Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong,"
Kata Suma Ceng Liong.
"Ayah, nama Han-ko sebagai Sin-ciang Tai-hiap didaerah barat sudah sangat terkenal. Dibandingkan dengan dia, kemampuanku tidak ada artinya...."
"Aih, Li-moi,harap jangan terlalu memuji. Engkau membuat aku menjadi malu saja."
Pujian yang tiada hentinya dari Sian Li membuat Tan Sin Hong dan Kao Hong Li kagum, akan tetapi juga penasaran. Rasanya tidak mungkin Yo Han memiliki kepandaian yang melebihi Sian Li. Akan tetapi mereka tidak memperlihatkan perasaan-penasaran ini, hanya tersenyum gembira.
"Sian Li, ceritakan yang lebih jelas tentang kematian suhengmu."