"Nah, engkau loncatlah ke atas dan cepat tinggalkan tempat ini, Sian Li,"
Kata Cu Ki Bok, suaranya agak gemetar. Sian Li memegang tangan pemuda itu. Ia dapat mendengar getaran suara itu dan ia pun terharu.
"Akan tetapi bagaimana dengan engkau sendiri, Ki Bok? Mereka akan tahu bahwa engkau telah membebaskan aku, dan tentu engkau akan celaka...."
Ki Bok tersenyum dan menggeleng kepala.
"Aku cukup penting bagi perjuangan Suhu dan kawan-kawan. Kesalahanku itu kecil saja karena engkau bukanlah orang Mancu, bukan musuh penting. Sudahlah, aku dapat menjaga diriku sendiri, Sian Li kau pergilah....!"
Sian Li melepaskan pegangan tangannya, melangkah ke arah pagar bambu, akan tetapi terhenti lagi dan menengok.
"Ki Bok...."
Ia meragu.
"Ada apa lagi, Sian Li. Cepat-cepatlah, jangan sampai mereka datang mengejar."
"Aku hanya ingin minta maaf padamu...."
"Minta maaf? Untuk apa?"
Ki Bok memandang heran.
"Engkau begitu mencintaiku dan sudah kau buktikan dengan pertolongan ini, akan tetapi aku....aku tidak dapat membalas cintamu. Maafkan aku, Ki Bok."
Cu Ki Bok tertawa, namun suara ketawanya sumbang,
"Sudah nasibku Sian Li, cinta tak dapat bertepuk sebelah tangan. Engkau tidak bersalah. Cinta tidak dapat dipaksakan, hanya aku yang tidak tahu diri. Nah, pergilah dan jangan pikirkan aku lagi...."
Tiba-tiba mereka melihat beberapa bayangan berkelebat dan Ki Bok terbelalak ketika melihat bahwa gurunya, Lulung Lama, ketiga Pek-Lian Sam-li dan belasan orang pembantu mereka telah mengepung tempat itu!
"Omitohud, tidak kusangka bahwa muridku yang paling kupercaya, sekarang bahkan meng-khianatiku! Sungguh seperti memelihara anak harimau, ketika kecil dan lemah dirawat dan dipelihara, setelah besar dan kuat hendak menubruk pemeliharanya sendiri. Engkau murid murtad!"
"Suhu, teecu hendak membebaskan Nona Tan Sian Li karena ia tidak bersalah, dan karena teecu tidak tega melihat ia celaka. Suhu, ia bukan musuh kita, dan membebaskannya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan perjuangan kita. Bagaimana Suhu dapat mengatakan bahwa teecu murtad dan pengkhianat? Suhu, kalau Suhu menghendaki agar perjuangan kita mendapat dukungan para pendekar di dunia kang-ouw, sebaiknya Suhu membebaskan Nona ini."
Terdengar suara tawa merdu, disambung suara Ji Kim, orang ke tiga Pek-lian Sam-liyang cantik manis dan lincah.
"Hi-hik, apakah Losuhu masih belum mengerti? Muridmu itu telah tergila-gila kepada gadis ini, dan orang yang tergila-gila seperti dia itu mau berbuat apa saja untuk orang yang dicintainya. Kalau perlu melawan guru sendiri demi membela wanita yang dicintainya, heh-heh!"
"Benar sekali, Losuhu. Muridmu ini tidak ada harganya sama sekali, bahkan berbahaya karena sewaktu-waktu dia dapat mengkhianati kita,"
Kata Ji Kui. Cu Ki Bok marah sekali dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka tiga orang wanita itu.
"Pek-Lian Sam-li, kalian ini hanya tamu akan tetapi tidak tahu diri! Aku tahu mengapa kalian membenciku, karena aku tidak sudi melayani rayuan kalian, bukan? Kalian sungguh menjemukan, kalian perempuan-perempuan hina yang berkedok pejuang!"
"Ki Bok tutup mulutmu!"
Lulung Lama membentak. Sian Li yang sejak tadi mendengarkan saja, kini melangkah maju dan ia pun berseru nyaring.
"Ucapan Ki Bok benar! Tiga orang wanita jalang ini tak tahu malu! Ki bok seribu kali lebih berharga daripada mereka ini, Losuhu."
"Hi-hik, engkau sudah mau mampus masih banyak lagak!"
Bentak Ji kui, dan bersama adiknya ia sudah menyerang ke arah Sian Li. Gadis berpakaian merah ini, bergerak cepat, mengelak dan biarpun ia ber-tangan kosong, ia membalas dengan serangan yang dahsyat.
"Ki Bok, pinceng tidak mungkin dapat membiarkan engkau kelak mengkhianatiku. Nah, terimalah hukumanku ini!"
Pendeta Lama itu mener-jang kedepan dan menghantam dengan tangan kanan ke arah kepala murid sendiri.
"Suhu....!"
Ki Bok berseru dan cepat melempar tubuhnya ke belakang. Biarpun dia sudah mengelak cepat, namun angin pukulan itu masih menyambar dahsyat dan tubuhnya terjengkang dan terguling-guling sampai lima meter lebih.
"Ki Bok....! Losuhu engkau tidak boleh membunuhnya!"
Sian Li berteriak, akan tetapi tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu sudah menyerangnya dari tiga penjuru dan biarpun ia dapat menangkis dan mengelak, tetap saja ia terhuyung ke belakang. Seorang penjaga yang memegang pedang menyam-butnya dengann tusukan pedangnya, Sian Li adalah seorang gadis gemblengan. Biarpun ia kurang pengalaman dan ilmu-ilmunya belum masak benar, namun ia telah mewarisi ilmu-ilmu hebat. Ketika ada angin tusukan pedang menyambar tubuh bagian iga dari samping,