Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 130

Memuat...

"Ki Bok, ada apakah? Apa yang terjadi?"

Tanya Sian Li, memandang tajam.

"Di mana Yo-toako?"

Tanyanya lirih. Sian Li menoleh ke arah kamar Yo Han.

"Dia masih tidur, ada apakah?"

"Sian Li, keadaan gawat. Mereka hendak datang memaksamu bekerja sama dan kalau engkau menolak, mereka akan membunuhmu. Aku.... aku tidak mungkin dapat menolongmu, tidak mungkin mencegah mereka. Sekarang, kau ambillah keputusan, Sian Li. Maukah engkau membantu kami dan bekerja sama dengan kami?"

Sian Li mengerutkan alisnya.

"Engkau sudah tahu akan watakku, Ki Bok. Aku tidak mau bekerja sama dengan siapapun juga."

"Kalau begitu, Sian Li, engkau harus cepat lari, sekarang juga. Mari kubantu engkau lolos dari sini. Cepat, mereka akan mengejar kita!"

Ki Bok menyambar tangan Sian Li.

"Kita melalui jalan belakang!"

Akan tetapi Sian Li merenggutkan tangannya hingga terlepas.

"Aku akan bertanya kepada Han-ko lebih dulu,"

Katanya. Pada saat itu, terdengar suara gaduh di luar pondok, suara banyak orang datang ke tempat itu. Wajah Ki Bok berubah.

"Celaka, mereka sudah datang. Sian Li mari cepat kita lari!"

Pada saat Sian Li meragu, Yo Han muncul dari dalam kamarnya.

"Pergilah menyelamatkan diri, Li-moi, biar aku yang akan menghadapi mereka dan menghadang mereka yang akan mengejarmu."

Tadinya Yo Han sudah siap untuk mengajak Sian Li melarikan diri begitu penyerbuan tiba dan mempergunakan kesempatan selagi terjadi pertempuran sehingga mereka dapat meloloskan diri tanpa harus menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai. Akan tetapi agaknya kini keadaan berubah. Sebelum serbuan itu tiba, keselamatan Sian Li terancam.

"Tidak Han-ko. Aku akan tinggal di sini membantumu menghadapi mereka,"

Kata Sian Li.

"Li-moi, jangan bodoh! Musuh terlampau banyak Larilah dulu, aku akan meng-halangi mereka dan nanti akan menyusulmu. Saudara Ki Bok, kalau benar engkau mencintainya, cepat selamatkan adikku itu!"

Setelah berkata demikian, Yo Han berlari keluar sambil cepat mengenakan caping lebarnya yang tadi dia lipat dan sembunyikan di balik baju ketika dia memasuki perkampungan itu. Caping lebar yang bertirai itu menyembunyikan mukanya. Ki Bok mencabut sabuk baja yang kedua ujungnya berpisau, lalu menodongkan sebatang pisaunya ke punggung Sian Li sambil berkata,

"Engkau pura-pura menjadi tawananku agar lebih mudah mengelabuhi mereka!"

Bisiknya.

Tangan kanan menodongkan pisau, tangan kiri memegang pergelangan tangan Sian Li. Gadis itu maklum. Ia tidak dapat membantah lagi karena Yo Han telah berlari keluar dan ia mengerti akan maksud Ki Bok. Biarpun hatinya amat mengkhawatirkan keselamatan Yo Han, namun ia harus mentaati keinginan Yo Han. Kalau ia membangkang dan nekat melawan, tentu hal itu bahkan membuat Yo Han harus repot melindunginya. Maka, ia pun menurut saja ketika Ki Bok menariknya melarikan diri keluar dari pondok itu melalui jendela kamar Yo Han yang berada di sudut belakang. Ketika mereka meloncat keluar dari rumah itu, mereka melihat betapa dibelakang rumah itu pun sudah penuh dengan anak buah Hek I Lama yang memegang senjata. Melihat Cu Ki Bok, mereka tertegun, akan tetapi pemuda itu dengan tenang segera berkata,

"Kalian kepung dan jaga rumah ini, jangan biarkan siapapun keluar. Aku harus cepat mengamankan tawanan ini agar jangan sampai lolos!"

Setelah berkata demikian, dengan sikap kasar dia menarik lengan Sian Li sambil menodongkan pisaunya ke tengkuk gadis itu. Para anak buah perkumpul-an pendeta Lama yang memberontak terhadap Tibet itu saling pandang, akan tetapi mereka tidak berani mencegah Cu Ki Bok,

Apalagi mereka masih belum tahu apa artinya semua keributan itu. Mereka hanya melihat para pimpinan berlari menyerbu ke rumah pondok itu dari depan dan mereka mendapat perintah untuk mengepung pondok itu. Mereka hanya mendengar bahwa Sin-ciang Tai-hiap sudah menyelundup ke sarang mereka. Hal ini saja sudah cukup membuat mereka tegang. Siapa yang tidak akan merasa gentar mendengar bahwa Sin-ciang Tai-hiap, pendekar yang sudah mengalahkan dan mengakibatkan tewasnya Dobhin Lama itu berada diantara mereka? Sin-ciang Tai-hiap atau Yo Han telah membuka daun pintu depan pondok itu, tepat pada saat semua orang yang tadi lari dari bangunan induk itu ke situ telah tiba di depan pondok. Banyak anak buah Hek I Lama memegang obor sehingga tempat itu menjadi terang.

Suara berisik mereka itu seketika lenyap dan mereka orang diam, bahkan ada yang menahan napas saking tegang dan juga jerih. Mereka melihat pria bercaping lebar yang mukanya tersembunyi di balik tirai caping itu berdiri tegak di depan pintu, menentang mereka. Sosok tubuh yang mendatangkan ketegangan dan kegentaran itu sebetulnya biasa saja. Tubuh yang sedang dan tegap, dengan pakaian sederhana pula, tidak memegang senjata apa pun. Rambut hitam panjang terurai lepas. Mukanya sama sekali tidak nampak, akan tetapi sepasang mata di balik tirai tipis itu seperti mencorong menembus tirai tertimpa sinar obor yang bergerak-gerak. Sosok tubuh yang tidak mengesankan, akan tetapi karena semua orang tahu bahwa pendekar ini baru saja menyebabkan Dobhin Lama tewas, maka mereka menjadi gentar.

Dari balik tirainya, Yo Han melihat bahwa pondok itu telah di datangi sedikitnya tiga puluh orang dan masih ada puluhan orang anak buah Hek I Lama berada di belakang rombongan itu. Dia melihat Pangeran Nepal Gulam Sing bersama Badhu dan Sagha, juga beberapa orang tosu Pek-lian-kauw, Hek-pang Sin-kai dan anak buahnya, beberapa Pendeta Lama yang agaknya menjadi pimpinan. Akan tetapi dia tidak melihat adanya Lulung Lama, juga tidak melihat Pek-lian Sam-li. Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang amat berbahaya karena selain mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi, memiliki pula ilmu sihir dan ahli menggunakan racun, juga mereka berjumlah banyak. Kiranya tidak mungkin dia seorang diri saja akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi, kalau Sian Li sudah lolos, agaknya bukan tidak mungkin baginya untuk melarikan dan meloloskan diri dari kepungan mereka.

"Omitohud.... kiranya Sin-ciang Tai-hiap yang terkenal itu tidak datang melalui pintu gerbang depan seperti seorang gagah, melainkan secara curang menyelundup masuk seperti maling!"

Kata seorang pendeta Lama, seorang diantara para pembantu Lulung Lama sambil memegang sebatang tongkat pendeta berkepala naga yang lebih panjang dari pada tubuhnya yang tinggi.

"Losuhu, siapa yang curang agaknya perlu diteliti lebih jauh, aku ataukah perkumpulan Hek I Lama yang terdiri dari pendeta-pendeta yang sudah selayaknya bersikap jujur, adil dan mengharamkan perbuatan sesat. Ketua kalian, Dobhin Lama, telah menantangku untuk mengadu ilmu dengan taruhan bahwa kalau dia kalah, dia akan mengembalikan mutiara hitam dan membebaskan Liem Sian Lun. Kami bertanding dan Tuhan membimbingku sehingga ketua kalian kalah. Dobhin Lama telah dengan gagah mengakui kekalahan dan mengembalikan mutiara hitam, akan tetapi kalian tidak membebaskan Liem Sian Lun, bahkan secara curang sekali menawan Tan Sian Li. Nah, siapa yang curang?"

Tiba-tiba Gulam Sing mencabut goloknya yang melengkung, mengangkat goloknya itu tinggi di atas kepalanya dan dia pun setelah mendengar ucapan Yo Han melalui penterjemahnya, berteriak dalam bahasanya sendiri.

"Sin-ciang Tai-hiap, engkau ini manusia sombong! Engkau telah mengalahkan Dobhin Lama, akan tetapi hal itu terjadi karena dia sudah tua dan kehabisan tenaga. Kini engkau berani lancang menyusup ke sini seperti pencuri, jangan harap akan dapat keluar lagi hidup-hidup!"

Ketika ucapan itu hendak diterjemahkan, Yo Han mendahului.

"Aku mengerti apa yang kaukatakan, Pangeran Gulam Sing. Dan aku mengerti pula mengapa engkau dan gerombolanmu keluar dari Nepal sebagai orang-orang pemberontak pelarian. Kini engkau bergabung dengan Lama Jubah Hitam yang juga memberontak terhadap pemerintah Tibet, tentu hanya untuk mencari kawan saja agar kelak dapat membalas budi dan membantumu memberontak terhadap pemerintah Nepal!"

"Sin-ciang Tai-hiap, mati hidupmu di tangan kami dan engkau masih membuka mulut besar? Kepung dan keroyok!"

Teriak seorang pemimpin Hek I Lama dan Pangeran Nepal itu sudah mendahului dengan serangan golok melengkung yang amat tajam itu, disusul rekan-rekannya sehingga dalam beberapa detik saja hujan senjata telah menyerang ke arah tubuh Yo Han. Yo Han maklum bahwa dia diserang oleh banyak orang pandai, maka dia mengerahkan gin-kangnya dan tubuhnya berkelebat begaikan seekor burung walet cepatnya, berloncatan dan mengelak dari hujan senjata yang menyambar dari segenap penjuru itu. Dia harus memberi waktu kepada Sian Li untuk dapat lolos terlebih dahulu sebelum dia sendiri melarikan diri. Sebaliknya dia memancing datangnya semua tokoh di tempat itu agar pelarian Sian Li dapat berjalan lancar.

Sian Lun telah tewas dan tidak perlu di-pikirkan lagi. Sambil berloncatan mengelak, kaki tangannya bergerak dengan tamparan dan tendangan. Beberapa orang pengeroyok terpelanting. Usahanya memang berhasil. Semua tokoh yang dirinya memiliki kepandaian yang tinggi saja yang hanya mengepung dengan senjata di tangan, tanpa berani lancang ikut mengeroyok. Akan tetapi Yo Han tetap merasa khawatir karena belum juga nampak Lulung Lama dan Pek-Sian Sam-Li ikut mengeroyok. Dia khawatir kalau-kalau empat orang yang paling lihai itu menjadi penghalang bagi lolosnya Sian Li yang tadi dibantu oleh Cu Ki Bok. Kekhawatiran Yo Han itu memang terbukti benar, Cu Ki Bok, berhasil membawa Sian Li lari sampai ke dekat pagar bambu runcing dan tidak pernah ada penjaga yang berani menghalanginya. Mereka berhenti di bawah pagar bambu runcing.

Post a Comment