"Jangan marah kepadanya, Li-moi. Aku bahkan kagum, karena dia seorang laki-laki yang jantan, gagah dan jujur. Sekarang yang penting kita harus mencari di mana adanya suhengmu. Aku ingin bertemu dengannya dan kalau mungkin akan kusadarkan dia dari pengaruh sihir."
"Bagaimana kalau dia tidak terpengaruh sihir, melainkan kalau dia memang menyeleweng dan tersesat, Han-ko? Menurut keterangan Ki Bok, Suheng memang telah terpikat oleh Pek-lian Sam-li."
Di dalam suara gadis itu masih terkandung kemarahan terhadap Sian Lun.
"Kalau memang demikian, aku akan berusaha untuk me-nyadarkan dan mengingatkannya agar kembali ke jalan benar. Bagaimanapun juga dia adalah suhengmu dan perlu diingatkan kalau dia tergoda, Li-moi."
"Terserah kepadamu, Han-ko. Akan tetapi, kita harus berhati-hati sekali karena biarpun aku kelihatan bebas namun setiap gerak-gerikku diamati dan sedikit saja mereka itu curiga, tentu mereka akan mengepung dan mengeroyok kita. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Han-ko, karena kalau mereka tahu bahwa engkau adalah Sin-ciang Tai-hiap, tentu mereka tidak akan memberi ampun. Engkau telah membunuh Dobhin Lama."
Yo Han menggeleng kepala.
"Aku tidak membunuhnya. Ketika kami bertanding, biarpun aku dapat mematahkan tongkatnya, akan tetapi aku tidak melukainya. Dia tewas karena usianya yang sudah tua, dan agaknya dia telah terlalu memaksa diri sehingga kehabisan tenaga. Tentu saja aku akan berlaku hati-hati sekali untuk menyelidiki suhengmu. Sebabaiknya engkau gambarkan keadaan perkampungan ini dan di mana aku dapat mencari Sian Lun."
Mereka berbisik-bisik dan Sian Li memberi gambaran tentang perkampungan di situ. Setelah mendapat keterangan jelas, mereka lalu memasuki pondok.
Perkampungan di dalam rimba itu terdiri dari beberapa buah bangunan yang cukup besar dan perkampungan itu dikelilingi pagar bambu runcing dan dijaga ketat. Yo Han termenung di dalam kamarnya, memikirkan jalan baik untuk dapat menyelamatkan Sian Li dan Sian Lun. Pemuda ini merasa prihatin sekali. Dia maklum bahwa serbuan orang-orang kang-ouw dan terutama sekali para pendeta Lama dan pasukan Tibet akan menimbulkan perang atau pertempuran mati-matian di tempat itu. Dia membayangkan dengan hati sedih bahwa pertempuran itu tentu akan mengakibatkan tewasnya banyak orang. Dia sendiri tidak pernah mau menggunakan ilmu kepandaiannya untuk membunuh orang lain.
Dia tidak pernah menilai jahat kepada orang lain karena dia maklum bahwa seorang yang dianggap jahat dan melakukan perbuatan yang jahat, sebetulnya hanya orang yang sedang menderita penyakit saja. Orang yang menyeleweng daripada kebenaran adalah orang sakit. Bukan badannya yang sakit, melain-kan batinnya. Akan tetapi, seperti juga penyakit badan, penyakit batin ini suatu waktu akan dapat sembuh. Sedangkan orang yang sehat batinnya, sekali waktu mungkin saja jatuh sakit. Setiap orang mengakui bahwa tidak ada seorang pun manusia yang sempurna. Yang sempurna hanyalah Tuhan. Setiap orang manusia sudah pasti mempunyai kesalahan, setiap orang manusia berdosa. Dan kita sendiri, setiap orang dari kita, juga seorang manusia, karenanya kita masing-masing ini adalah orang berdosa dan bersalah. Oleh karena itu, pantaskah kita mencela orang lain yang bersalah?
Orang itu sama saja dengan kita, hanya macam kesalahan atau meacam dosanya saja yang berbeda, ada yang kadarnya besar ada yang kecil. Akan tetapi, kita ini senasib sependeritaan, takkan dapat lepas daripada kesalahan, daripada dosa. Seyogianya kalau melihat orang lain berdosa, kita membantunya dengan petunjuk dan peringatan, seperti melihat orang lain sakit, sepatutnya kita memberi obat dan hiburan. Jangan melihat orang lain terperosok ke dalam lumpur, malah kita injak kepalanya! Uluran tangan untuk menariknya keluar dari lumpur merupakan kewajiban luhur. Yo Han teringat kembali akan ancaman pertempuran. Dia menghela napas panjang. Apa yang dapat dia lakukan? Di dunia ini penuh dengan perang. Perang merupakan korban api besar yang timbul dari percikan api kecil. Dimulai dari konflik atau pertentangan dalam batin setiap orang manusia sendiri.
Konflik yang timbul karena adanya keinginan-keinginan yang tak ada habisnya. Konflik dalam batin sendiri ini mencuat keluar menimbulkan konflik antar pribadi, karena bentrokan kepentingan, bentrokan keinginan, saling berebut kebenaran, berebut keenakan sendiri. Konflik-konflik antar pribadi ini dapat membengkak menjadi konflik antar keluarga, antar golongan, kemudian berkobar menjadi konflik antar bangsa dan antar negara yang menimbulkan perang. Yo Han sudah memesan kepada para orang kang-ouw untuk membantunya membebaskan Sian Lun dan Sian Li, dan dia sudah minta kepada mereka agar jangan membunuh dan setelah kedua orang muda itu dapat diselamatkan, agar para orang kang-ouw tidak mencampuri perang yang terjadi antara pasukan Tibet dan para pemberontak. Dia sendiri pun tidak akan ikut campur dengan pertempuran itu.
Dia hanya ingin melindungi Sian Li dan Sian Lun agar dapat lolos dari tempat itu dengan selamat. Setelah Ki Bok melaporkan tentang Yo Han yang berkunjung sebagai utusan Sin-ciang Tai-hiap dan sekarang pemuda itu tidak mau pergi karena menuntut di bebaskannya Sian Li, Lulung Lama segera memanggil semua pimpinan dan pembantunya untuk meng-adakan perundingan. Mereka semua berkumpul di bangunan induk, di ruangan yang luas di mana selalu dipergunakan untuk mengadakan pertemuan. Mereka semua berkumpul dan karena waktu itu sedang terjadi perkabungan kematian Dobhin Lama, maka seluruh pimpinan dan pembantu yang tadinya bertugas di luar, sudah berkumpul pula untuk berkabung. Lengkaplah mereka yang kini berada di ruangan itu. Lulung Lama yang ditemani muridnya, Cu Ki Bok, duduk di kursi pimpinan.
Belasan orang pendeta Lama jubah hitam yang menjadi pembantu-pembantunya hadir pula. Gulam Sing, Pangeran dari Nepal itu pun hadir bersama para pembantunya, termasuk Badhu dan Sagha. Dari pihak Pek-lian-kauw, hadir selain Pek-lian Sam-li, juga tiga orang tosu Pek-lian-kauw yang datang melayat. Hek-pang Sin-kai juga hadir bersama empat orang rekannya. Jumlah mereka yang berada di ruangan itu tidak kurang dari empat puluh orang. Di dekat Pek-lian Sam-li duduk pula Liem Sian Lun. Wajah tampan Sian Lun yang biasanya cerah itu kini nampak agak muram. Kerut merut di antara kedua alisnya, pandang matanya yang sayu, mulutnya yang agak cemberut itu menggambarkan betapa dia tidak tenang dan tidak senang. Pek-lian Sam-li agaknya salah perhitungan terhadap pemuda ini.
Memang dalam kesempatan pertama, Sian Lun yang masih hijau dalam hal pengalaman itu mudah mereka rayu dan mereka jatuhkan. Sian Lun dibakar nafsunya sendiri. Apalagi tiga orang wanita Pek-lian-auw itu menggunakan kekuatan sihir. Pemuda itu bertekuk lutut dan melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan dia mentaati ketika mereka menyuruh dia menawan sumoinya sendiri, wanita pertama yang pernah menjatuhkan hatinya! Dan dia bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bagian dari perjuangan mereka, karena para pimpinan itu menghendaki agar dia menawan dan membujuk Sian Li sehingga gadis itu mau pula membantu perjuangan mereka. Kesalahan perhitungan Pek-lian Sam-li adalah bahwa mereka mengira Sian Lun sudah benar-benar setia kepada mereka,
Mengira bahwa mereka telah dapat menundukkan pemuda itu dengan kecantikan mereka sehingga mereka menjadi lengah dan tidak lagi menggunakan kekuatan sihir untuk menguasai Sian Lun. Dan dalam keadaan sadar sepenuhnya inilah dia mulai merasa menyesal. Nafsu bagaikan gelembung sabun. Kesenangan yang didatangkannya hanya selewat saja, disusul kebosanan karena nafsu mendorong kita mengejar yang baru, yang belum kita miliki. Kita dipermainkan nafsu seperti anak kecil dipermainkan mainan-mainan. Mainan lama yang dahulunya amat disenangi, mendatangkan bosan dan diganti mainan baru yang mengasyikkan. Daya tarik tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu berkurang kekuatannya sehingga Sian Lun mulai dapat melihat betapa perbuatannya selama ini amat memalukan. Dia telah membiarkan dirinya menjadi boneka, menjadi permainan tiga orang wanita itu.
Bahkan dia begitu buta sehingga tidak melihat bahwa dia diperalat. Dia mau saja melakukan penipuan untuk menawan Sian Li secara amat curang. Padahal dia amat mencinta sumoinya itu. Dia merasa malu, malu kepada Sian Li, malu kepada diri sendiri dan kalau dia membayangkan betapa guru-gurunya akan mendengar tentang dirinya, betapa kedua orang gurunya yang sudah melepas budi besar kepadanya, yang menganggap dia seperti anak sendiri, akan merasa berduka, kecewa dan menyesal, ingin Sian Lun menjerit-jerit dan menangis. Namun, semua telah terlambat. Dia telah mengkhianati sumoinya. Perjuangan menentang penjajah Mancu memang baik, dan setiap orang pendekar sepatutnya bangga kalau membantu perjuangan membebaskan rakyat dan tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu.
Akan tetapi, bagaimana mungkin perjuangan itu dapat melalui jalan yang benar kalau dipimpin orang-orang sesat seperti Pek-lian Sam-li dari Pek-lian-kauw, para pem-berontak Nepal dan pemberontak Tibet? Malam tadi, biarpun ada Pek-lian Sam-li yang menemaninya, dia tidak dapat tidur memikirkan Sian Li. Dia merasa bersalah kepada sumoinya itu dan merasa menyesal sekali. Dia harus dapat membebaskan sumoinya, dan sudah mengambil keputusan untuk minta kepada Lulung Lama agar Sian Li dibiarkan bebas. Kalau permintaannya ditolak, dia pun akan menyatakan tidak mau lagi membantu mereka! Dan sore hari ini, Lulung Lama memanggil semua sekutunya untuk meng-adakan pertemuan di ruangan luas itu. Setelah memberi salam kepada semua orang, Lulung Lama berkata dengan suara lantang,
"Kita sudah mengadakan persiapan dan penjagaan untuk menyambut datangnya Sin-ciang Tai-hiap yang pasti akan datang ke sini untuk membebaskan Nona Tan Sian Li. Akan tetapi sampai hari ini, dia tidak muncul dan mengirim utusan untuk menuntut agar nona itu kita bebaskan. Padahal, seperti kalian ketahui, kita menghendaki agar Nona Tan Sian Li dan juga kalau mungkin Sin-ciang Tai-hiap sendiri, suka bekerja sama dengan kita menentang penjajah Mancu. Kalau dia tidak mau kita tidak dapat membebaskan Nona Tan Sian Li karena ia sudah mengetahui semua rahasia pergerakan kita. Bagaimana pendapat anda sekalian?"
Pangeran Gulam Sing, melalui penterjemahnya, berkata,
"Siapakah utusan Sin-ciang Tai-hiap itu? Di mana dia sekarang? Seharusnya dia itu ditangkap ketika datang ke sini."
"Suhu, biar teecu (saya) yang menjelaskan, karena teecu mengetahui dengan jelas,"
Kata Cu Ki Bok kepada Lulung Lama yang mengangguk setuju. Setelah mendapatkan persetujuan gurunya. Ki Bok memberi keterangan.
"Utusan itu bernama Yo Han dan dia adalah kakak misan Nona Tan Sian Li. Dia pula yang menjadi perantara ketika aku mengajukan tantangan kepada Sin-ciang Tai-hiap untuk bertanding melawan ketua kita mendiang Dobhin Lama. Ketika dia mendengar bahwa kita tidak akan membebaskan Nona Tan Sian Li, Yo Han berkeras tidak mau pergi dan hendak menemani Nona Tan Sian Li di sini. Sekarang, dia masih berada di sini, di pondok yang menjadi tempat tinggal nona itu. Aku sudah memesan kepada para penjaga agar melakukan pengawasan yang ketat."
Gulam Sing yang masih merasa penasaran karena dia gagal memperkosa Sian Li, berkata,
"Kalau begitu, Yo Han itu dan juga gadis itu harus dihadapkan ke sini sekarang juga! Kita paksa nona itu bekerja sama, dan kita paksa utusan itu untuk membujuk Sin-ciang Tai-hiap agar mau datang ke sini dan bekerja sama pula. Kalau mereka tidak mau, kita bunuh saja mereka!"
Karena pendapat ini dianggap benar, demi keselamatan dan kepentingan mereka agar rahasia persekutuan mereka tidak sampai terbongkar, semua orang mengangguk setuju. Juga Lulung Lama mengangguk-angguk. Tentu saja Cu Ki Bok menjadi khawatir sekali. Dia tahu bahwa akan sukar bahkan hampir tidak mungkin membujuk Sian Li agar mau bekerja sama. Nasib gadis itu terancam bahaya maut. Dan mungkin saja untuk menyenangkan hati Pangeran Gulam Sing, sekutu yang dianggap kuat dan dapat diandalkan itu, gurunya akan menyerahkan Tan Sian Li kepadanya. Dapat dia membayangkan betapa ngerinya nasib gadis yang dicintanya itu kalau terjatuh ke tangan Gulam Sing. Akan tetapi sebelum dia sempat menemukan kata-kata untuk membantah dan membela Sian Li, tiba-tiba Sian Lun sudah bangkit berdiri.
"Losuhu, biar aku yang memanggil mereka ke sini!"
Tanpa menanti jawaban, Sian Lun sudah melangkah cepat, keluar dari ruangan itu. Cu Ki Bok sudah tahu bahwa Sian Lun telah mengkhianati Sian Li dia amat dibenci gadis itu. Kalau Sian Lun yang memanggil Sian Li dan Yo Han, tentu akan terjadi keributan, apa-lagi dia tidak suka dan tidak percaya kepada pemuda yang mudah begitu saja terjatuh ke dalam bujuk rayu tiga orang wanita seperti Pek-lian Sam-li.
"Dia tidak semestinya pergi. Dia belum dapat dipercaya benar!"
Serunya.
"Ha-ha-ha, biarlah aku yang memanggil mereka!"
Kata Pangeran Gulam Sing yang segera berlari keluar, diikuti oleh Badhu, Sagha dan beberapa orang pembantunya.
Pek-lian Sam-li yang juga mengkhawatirkan Sian Lun yang kini tidak lagi mereka pengaruhi dengan sihir, bangkit dan berdiri keluar pula. Setelah mereka semua tiba di luar, ternyata Sian Lun telah tidak nampak. Agaknya pemuda itu berlari cepat meninggalkan tempat itu. Segera mereka semua melakukan pengejaran ke tempat pemondokan Sian Li. Melihat para pimpinan yang tadi mengadakan pertemuan rapat itu kini berlarian ke arah pondok tawanan, para petugas yang melakukan penjagaan menjadi terkejut dan mereka pun mengikuti dari belakang. Sian Lun memang berlari secepatnya ke pondok di mana Sian Li berada. Dia sudah mengambil keputusan nekat. Dia harus membebaskan Sian Li. Kalau dia berterus terang kepada Lulung Lama, tak mungkin permintaannya akan dikabulkan. Tadi dia sudah mendengar sendiri rencana mereka.
Kalau Sian Li tidak mau menyerah dan bekerja sama, mereka akan membunuhnya agar gadis itu tidak membocorkan rahasia persekutuan mereka. Tidak ada jalan lain. Dia harus segera membebaskan Sian Li atau memberi kesempatan kepada Sian Li untuk melarikan diri selagi ada kesempatan, selagi para pimpinan yang lihai mengadakan pertemuan di ruangan itu. Dia akan melindunginya, menjadi perisai, kalau perlu mempertaruhkan nyawa menghadapi para penjaga yang mengejar agar Sian Li dapat lari. Dia sudah melakukan dosa besar dan dia harus menebusnya sekarang juga selagi masih ada kesempatan. Sian Li dan Yo Han terkejut ketika mereka mendengar orang mendorong pintu pondok terbuka dan ketika mereka berdua keluar dari dalam kamar masing-masing, mereka melihat Sian Lun dengan wajah pucat telah berada di situ.
"Hemm, jahanam busuk, mau apa engkau ke sini!"
Bentak Sian Li, seketika kemarahannya berkobar begitu ia melihat Sian Lun. Bahkan ia sudah bergerak maju hendak menyerang pemuda itu.
"Li-moi, jangan terburu nafsu, dengarkan dulu apa kehendaknya,"
Yo Han mencegah dan menghampiri mereka. Sian Lun memandang Yo Han, tidak mengenal pemuda itu akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu pemuda ini yang tadi dibicarakan sebagai utusan Sin-ciang Tai-hiap. Dia tidak peduli dan memandang kembali kepada Sian Li.
"Sumoi, cepat. Engkau larilah sekarang juga, biar aku yang akan menghadapi para pengejar. Cepat, selagi para pimpinan sedang mengadakan rapat pertemuan di bangunan induk. Cepat, mereka akan membunuhmu kalau engkau tidak mau membantu mereka. Aku telah bersalah, Sumoi, akan tetapi biarlah kesempatan terakhir ini kupergunakan untuk menebus dosa. Cepat larilah engkau dari tempat ini, Sumoi."