Bentaknya.
"Orang macam engkau layak mampus!"
Dan Sian Li langsung saja menyerang bekas suhengnya itu dengan penuh kebencian. Saking dahsyatnya serangan gadis itu, biarpun Sian Lun sudah menangkis, tetap saja dia terhuyung ke belakang.
"Sumoi, nanti dulu....!"
Teriaknya.
"Siapa sumoimu? Aku tidak sudi menjadi sumoi seorang pengkhianat jahanam!"
Dan Sian Li sudah menyerang lagi, mengerahkan tenaganya dan kembali Sian Lun terhuyung ke belakang.
"Sumoi....!"
Sian Li tidak memberi kesempatan kepada bekas suhengnya untuk banyak cakap lagi karena ia sudah menerjang lagi, dengan serangan-serangan yang dimaksudkan untuk membunuh!
Ia bukan hanya membenci Sian Lun karena telah mengkhianatinya, membantu pihak musuh untuk mencurangi dan menangkapnya, akan tetapi juga karena ia mendengar dan melihat sendiri betapa bekas suheng itu telah bermain gila dengan tiga orang wanita cabul dari Pek-lian-kauw! Pada saat Sian Lun terhuyung dan Sian Li terus mendesaknya, dan berhasil menendang paha Sian Lun sehingga pemuda itu terpelanting, tiba-tiba muncul Pek-lian Sam-li yang segera turun tangan membantu Sian Lun dan mengeroyok Sian Li! Melihat munculnya tiga orang wanita yang memang dibencinya ini, Sian Li menjadi semakin marah dan ia pun mengamuk. Akan tetapi, tiga orang wanita itu juga memiliki ilmu kepandaian yang hebat, apalagi mereka maju bertiga sehingga begitu mereka membalas dan mendesak, Sian Li mulai terdesak mundur.
"Tahan! Jangan berkelahi!"
Tiba-tiba muncul Cu Ki Bok melerai.
"Sam-li, ajak Sian Lun manyingkir,"
Katanya. Tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu tidak berani membantah. Mereka tahu bahwa Ki Bok adalah seorang pemuda yang berdisiplin dan setelah kini Lulung Lama menjadi Ketua Hek I Lama, maka pemuda itu berarti menjadi wakilnya. Mereka bertiga lalu menggandeng tangan Sian Lun dan diajak pergi dari situ. Sementara itu, Ki Bok menghampiri Sian Li dan menghiburnya.
"Sian Li, apa gunanya membuat ribut dengan bekas suhengmu itu? Kalau engkau sudah tidak menyukai-nya dan tidak mau berhubungan dengannya, lebih baik kau diamkan saja dia. Membikin ribut di sini sungguh tidak menguntungkan dirimu, dan pula, jangan-jangan orang akan menganggap engkau...."
"Menganggap aku kenapa?"
Sian Li mendesak, mukanya masih kemerahan karena marah.
"Maaf, mungkin saja orang akan menganggap engkau cemburu melihat keakrabannya dengan Pek-lian Sam-li...."
"Gila! Akan kuhancurkan mulut orang yang menganggap aku cemburu! Siapa yang cemburu? Biar dia menggandeng seratus orang perempuan, apa peduliku? Biar dia mampus! Yang membuat aku marah adalah karena dia adalah murid paman kakekku. Kalau guru-gurunya mengetahui akan kelakuannya, tentu dia pun akan mereka hukum berat!"
"Sudahlah, kelak dapat saja engkau membuat laporan kepada guru-gurumu, atau boleh saja engkau menghukum dia, akan tetapi kalau kalian sudah tidak berada di sini. Kalau engkau membuat ribut di sini, tentu aku akan ikut repot menanggung akibatnya."
Demikian-lah, sampai hari itu, Lulung Lama belum memberi keputusan mengenai diri Sian Li. Dan Ki Bok sedang menimbang-nimbang dan mencari jalan terbaik untuk membebaskan gadis itu.
Dia jatuh cinta kepada Sian Li, akan tetapi kalau gadis itu tidak mau bekerja sama dengan Hek I Lama, terpaksa mereka harus berpisah dan dia harus mencarikan jalan terbaik agar gadis itu dapat keluar dari perkampungan yang menjadi pusat Hek I Lama itu secara aman. Ketika dua orang penjaga melapor tentang munculnya seorang bernama Yo Han mencarinya, Ki Bok segera menuju ke pintu gerbang. Begitu melihat Yo Han, teringatlah dia akan pemuda yang dia temui bersama Sian Li tempo hari. Pemuda yang menjadi perantara menyampaikan tantangan mendiang Dobhin Lama kepada Sin-ciang Tai-hiap. Alisnya berkerut karena pertemuan ini sungguh mengejutkan hatinya, akan tetapi dia pun diam-diam merasa girang dan menaruh harapan untuk dapat mengadakan hubungan dengan Sin-ciang Tai-hiap melalui "perantara"
Ini.
"Kiranya saudara Yo Han yang datang berkunjung! Selamat datang, dan benarkah bahwa engkau hendak bicara dengan aku?"
Tanya Ki Bok. Yo Han memberi hormat.
"Benar sekali, dan saya datang untuk bicara tentang nona Tan Sian Li."
"Silakan masuk, saudara Yo Han, kita bicara di dalam,"
Ajak Ki Bok, mempersi-lahkan tamunya untuk memasuki pondok penjagaan di dekat pintu gerbang. Dengan lagak seorang yang jujur dan tidak curiga, Yo Han melangkah masuk mengikuti pemuda tinggi tegap yang tampan gagah itu, dan mereka lalu duduk berhadapan di atas bangku, di dalam pondok atau gardu penjagaan. Ki Bok sudah memberi isyarat kepada para petugas jaga untuk menjauhi gardu agar mereka berdua dapat bicara dengan leluasa tanpa terdengar orang lain. Karena pemuda itu merupakan seorang tokoh penting dalam perkumpulan Lama Jubah Hitam, maka para petugas menghormatinya dan mentaati perintahnya.
"Saudara Yo Han, selamat datang dan aku girang sekali menerima kunjunganmu ini. Angin baik apakah yang membawamu ke sini? Diam-diam Yo Han mendongkol akan tetapi juga waspada sekali. Pemuda di depannya ini sudah dia kenal ilmunya, dan ternyata selain lihai, juga cerdik dan licin bagaikan ular, pendai bersikap manis budi seperti ini. Yo Han mengerutkan alisnya.
"Aku datang karena diutus oleh Sin-ciang Tai-hiap,"
Katanya sengaja berhenti, untuk melihat tanggapan orang itu. Wajah Ki Bok nampak berseri mendengar disebutnya pendekar itu. Agaknya harapannya akan semakin besar dan kesempatan semakin terbuka untuk dapat mengajak pendekar sakti itu bekerja sama.
"Aih, sungguh merupakan kehormatan sekali dan terima kasih atas perhatian Sin-ciang Tai-hiap yang kami kagumi."
Sudahlah tidak perlu bersandiwara,"
Kata Yo Han.
"Tai-hiap marah sekali karena kecurangan kalian. Tidak kami sangka bahwa Hek I Lama, perkumpulan besar yang terhormat itu dapat melanggar janji dan melakukan kelicik-an dan kecurangan. Bukankah janjinya sebelum bertanding, kalau ketua kalian kalah oleh Tai-hiap, maka Sian Lun akan dibebaskan dan mutiara hitam akan dikembalikan. Mutiara itu memang telah dikembali-kan kepada Tai-hiap, akan tetapi kenapa Sian Lun tidak dibebaskan, sebaliknya adikku Sian Li malah ditangkap pula? Pantaskah hal securang itu dilakukan oleh orang-orang Hek I Lama yang gagah? Sepatutnya hanya dilakukan orang-orang pengecut, bukan anggauta perkumpulan pejuang yang menganggap dirinya pahlawan."
Ki Bok tidak marah mendengar umpat caci ini dan hal ini saja sudah membuktikan bahwa dia memang cerdik dan mampu mengendalikan perasaan hatinya. Dia malah tersenyum ramah.
"Harap tenang dan bersabarlah, saudara Yo Han, atau lebih baik kusebut Yo-toako (Kakak Yo) saja karena tadi engkau mengatakan bahwa engkau adalah kakak Nona Sian Li. Benarkah itu?"
Yo Han mengangguk.
"Aku adalah kakak misan Tan Sian Li,"
Jawabnya. Dia tidak berterus terang, akan tetapi juga tidak terlalu membohong, karena bukankah dia termasuk kakak dari gadis itu, walaupun bukan kakak misan melainkan kakak seperguruan? Dia juga merasa seperti anak sendiri dari orang tua gadis itu, maka sepatutnya saja kalau dia mengaku gadis itu sebagai adiknya.
"Bagus, kalau begitu aku dapat bicara terus terang. Sesungguhnya, Sian Lun telah setuju untuk membantu perjuangan kami melawan orang-orang Mancu. Oleh karena itu, dia sengaja menawan sumoinya agar suka pula bekerja sama dengan kami. Sekarang, Nona Sian Li menjadi tamu kami, bukan tawanan dan diperlakukan dengan baik dan terhormat. Kami menunggu sampai Nona Sian Li juga menyetujui sikap suhengnya, dan mau pula bekerja sama dengan kami. Bahkan kami mengharapkan agar engkau suka menyampaikan himbauan kami kepada Sin-ciang Tai-hiap untuk bergabung dengan kami, bersama-sama menentang penjajah, Mancu."
"Hemm, aku tidak tahu apakah Taihiap suka menerima ajakan itu atau tidak. Yang jelas, dia marah sekali karena janji yang merupakan taruhan pertandingan itu dilanggar. Pula, bagaimana aku dapat percaya bahwa adikku Sian Li diperlakukan dengan baik di sini sebelum aku bertemu dengannya dan melihat sendiri?"
"Engkau ingin bertemu dengan adikmu itu, Yo-toako? Baik, baik, tentu saja engkau boleh dan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi tentu saja kita harus lebih dahulu menghadap Suhu dan minta persetujuannya."
"Menghadap ketua kalian Dobhin Lama?"
"Tidak, menghadap Suhu Lulung Lama,"
Jawab Ki Bok singkat. Yo Han merasa heran akan tetapi diam saja tidak bertanya lagi dan dia mengikuti Cu Ki Bok yang mengajaknya memasuki perkampungan itu. Di rumah induk, dia dibawa Lulung Lama di ruangan depan rumah besar itu dan di situ Yo Han tidak saja melihat Lulung Lama akan tetapi juga para tokoh lain di tengah ruangan depan itu terletak sebuah peti mati. Diam-diam Yo Han terkejut.