Sian Li mengepal tinju, marah sekali kalau teringat kepada suhengnya itu. Cu Ki Bok mengerutkan alisnya.
"Nona Sian Li, tentu saja kalau kebetulan engkau bertemu dengan suhengmu itu...."
"Dia bukan suhengku lagi! Mungkin aku akan membunuh jahanam itu kalau bertemu dengan dia!"
"Nah, itulah yang kurisaukan. Kalau Nona bertemu dan bicara dengan dia, hal itu masih tidak mengapa. Akan tetapi kalau sampai Nona menyerangnya, padahal kini Sian Lun telah menjadi sekutu kami, tentu semua orang akan membantunya dan Nona akan dipersalahkan. Oleh karena itu, mengingat bahwa urusan antara Nona dengan Sian Lun merupakan urusan pribadi, sebaiknya Nona bersabar hati dan menunggu sampai kelak setelah kalau kalian berada di luar lingkungan kami, barulah Nona dapat membuat perhitungan. Jangan di sini, Nona."
Sian Li mengangguk-angguk. Benar juga, Pikirnya. Sian Lun telah menjadi sekutu mereka. Kalau ia menyerang Sian Lun, tentu mereka akan membantunya, bahkan pemuda di depannya ini tentu saja terpaksa harus berpihak kepada Sian Lun pula.
"Baiklah, aku tidak akan menyerangnya. Akan tetapi setidaknya ajaklah dia ke sini agar aku dapat bertanya sendiri kepadanya. Baru akan puas hatiku dan yakin bahwa dia benar-benar telah menyeleweng."
"Akan kuusahakan, Nona."
Pemuda itu lalu mengajak Sian Li keluar dari kamarnya. Dan kini, dalam keadaan sadar dan tidak terbelenggu, gadis itu mendapat kesempatan mengamati keadaan di sarang Hek I Lama itu. Tempat itu merupakan perkampungan besar dan di tengah-tengah terdapat bangunan induk yang bentuknya seperti kuil. Bangunan induk itu besar sekali, sedangkan tempat dimana ia dikurung merupa-kan bangunan disebelah kiri bangunan induk. Di dalam perkampungan itu terdapat banyak rumah-rumah yang bentuknya sama, dan itulah tempat tinggal para anggauta Hek I Lama. Terdapat pula bangunan baru berupa pondok-pondok yang menjadi tempat tinggal para anggauta pasukan Nepal, juga tempat para tamu dari pengemis tongkat hitam. Setelah keluar dari rumah tempat ia di tahan,
Nampaklah oleh Sian Li betapa melarikan diri dari situ merupakan hal yang tidak mungkin. Banyak sekali anggau-ta gerombolan itu berkeliaran, dan penjagaan juga diadakan dengan amat ketatnya. Baru rumah di mana ia dikurung itu saja dijaga oleh sedikitnya dua puluh orang! Tak mungkin ia dapat pergi tanpa diketahui dan sekali ketahuan, tentu ia akan dikeroyok puluhan, bahkan ratusan orang. Cu Ki Bok berkata benar. Bodoh sekali kalau ia berusaha melarikan diri. Sebaiknya bersabar menanti kesempatan yang lebih baik. Selama ia tidak diganggu, ia akan tinggal di situ, menanti kesempatan melarikan diri, atau menanti sampai munculnya Yo Han karena ia merasa yakin bahwa Yo Han pasti tidak akan membiarkan saja ia menjadi tawanan gerombolan. Teringat akan Yo Han, Sian Li tersenyum. Bekas suhengnya itu hebat bukan main!
"Kenapa Nona tersenyum?"
Tanya Cu Ki Bok dan ketika gadis itu memandang kepadanya, pemuda itu pun tersenyum.
"Senang melihat Nona gembira,"
Sambungnya.
"Tempat ini indah sekali, dan penjagaannya amat kuat. Engkau benar sekali, Ki Bok. Aku harus menanti dengan sabar dan tidak akan mencoba kebodohan melarikan diri. Dan kalau engkau beritikad baik, jangan sebut Nona kepadaku. Namaku Sian Li."
Wajah pemuda itu berseri.
"Aku tahu bahwa engkau adalah gadis yang selain gagah perkasa dan cerdik, juga berhati mulia, Nona.... eh, Sian Li. Sungguh aku akan merasa bahagia sekali kalau akhirnya akan dapat menjauhkanmu dari bencana dan ancaman bahaya. Nah, sekarang engkau akan kutinggalkan. Akan tetapi sekali lagi kuperingatkan, jangan mencoba untuk membuat keributan. Nona.... eh, kau akan selalu diawasi, Sian Li. Dan seperti kukatakan tadi, aku yang diserahi tugas menjagamu dan bertanggung jawab."
Sian Li mengangguk tegas.
"Baik Ki Bok. Dan aku sudah berjanji, bukan? Aku tidak akan suka melanggar janjiku sendiri."
Ki Bok tersenyum dan pergi meninggalkannya. Hemm, pemuda itu semakin tampan kalau tersenyum, pikir Sian Li. Sayang pemuda sebaik itu berada di tengah orang-orang Hek I Lama, tempat yang sungguh tidak sesuai dengan dirinya. Dan ia teringat betapa Ki Bok juga telah menguasai ilmu kepandaian silat yang tangguh.
Sian Li berjalan-jalan, dan kemana pun ia pergi di dalam kampung para pendeta Lama itu, ia tahu bahwa semua mata mengamatinya. Ia selalu dibayangi secara diam-diam. Ketika ia tiba di pintu gerbang, satu-satunya pintu gerbang di perkampungan itu, ia melihat betapa di situ terdapat puluhan orang penjaga! Dan perkampungan itu dikelilingi pagar tembok yang tinggi, bahkan di sudut-sudutnya terdapat menara di mana terdapat penjaga pula. Seperti benteng saja. Belum lagi perondaan yang ia lihat dilakukan pasukan kecil Hek I Lama. Sukarlah untuk dapat melarikan diri dari perkampungan itu, dan agaknya lebih sukar lagi untuk menyusup masuk! Biarpun demikian, ia yakin bahwa Yo Han akan dapat menyerbu masuk dan menemukan dirinya. Benar seperti dikatakan Ki Bok, kemana pun ia pergi, sampai ke pintu gerbang pun,
Tidak ada orang yang melarangnya, namun makin dekat dengan pintu gerbang, semakin banyak orang membayangi dan mengamatinya. Agaknya semua anggauta Hek I Lama sudah mendapat perintah untuk mengamatinya akan tetapi tanpa mengganggu-nya. Diam-diam ia bersukur dan berterima kasih kepada Cu Ki Bok. Akan tetapi karena teringat betapa ia ditipu Sian Lun, bahkan lalu dibelenggu oleh bekas suhengnya itu, ia amat membenci Sian Lun. Ia berusaha untuk menemui bekas suheng itu, sekarang ia tidak sudi lagi mengaku suheng kepadanya, namun usahanya sia-sia saja. Ia sampai pula di pemondokan para orang Nepal, dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu lagi ketika melihat betapa mata orang-orang Nepal itu memandang kepadanya seperti sekumpulan srigala memandang seekor domba muda yang gemuk.
Juga ia merasa jijik ketika melihat sekelompok anggauta pengemis tongkat hitam yang berpakaian butut dan dekil, kotor sekali dan jorok. Dengan berindap-indap ia kini menghampiri bangunan yang berbentuk kuil. Baru tiba di pekarangan saja sudah mendengar suara orang berdoa, diiringi ketukan kayu berirama. Dan ketika ia tiba di ambang pintu gerbang masuk, nampak asap tebal mengepul tebal dari ruangan depan yang menjadi ruangan sembahyang seperti pada kuil-kuil biasa. Kiranya bangunan induk ini di bagian depannya memang merupakan kuil yang luas dengan ruangan sembahyang yang mewah. Dan di tempat ini, penjagaan lebih ketat lagi walaupun penjaganya tidak tampak berjaga, melainkan para pendeta yang bertugas di situ. Ia dibiarkan masuk ke ruangan ke dua di belakang ruangan sembahyang dan ternyata ruangan ini lebih luas lagi.
Yang membuat ia terkejut adalah ketika ia melihat sebuah peti mati berada di tengah ruangan ini, lengkap dengan meja sembahyang dan dikelilingi pendeta-pendeta Lama yang berdoa. Ada orang mati di sini! Dan setelah ia menjenguk ke dalam, baru ia tahu mengapa tadi dalam perjalanan berkeliaran di perkampungan itu, ia tidak bertemu dengan tokoh-tokoh persekutuan itu. Kiranya mereka samua berkumpul di ruangan ini, agaknya melayat yang mati! Dan semua orang itu agaknya tidak mempeduli-kan Sian Li yang berada di luar pintu. Dengan terang-terangan Sian Li memandang ke arah kelompok yang duduk di ruangan itu. Ia melihat mereka lengkap semua! Lulung Lama, Cu Ki Bok, Hek-pang Sin-kai ketua perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam, Pangeran Gulam Sing dengan dua orang jagoannya yaitu Badhu dan Sagha,
Ada pula Pek-lian Sam-li bersama Liem Sian Lun yang duduk di tengah-tengah antara mereka. Ia melihat lagi ke arah peti mati besar itu. Aih! Semua orang melayat dan Dobhin Lama tidak nampak di antara mereka. Siapa lagi kalau bukan ketua para Lama Jubah Hitam itu yang berada di dalam peti mati? Tentu kakek tua renta itu tewas satelah bertanding melawan Yo Han! Ia melihat Sian Lun mengangkat muka memandang kepadanya, akan tetapi suhengnya itu menunduk kembali. Sian Li ingin menghampiri bekas suheng itu, memaki-makinya, atau menyeretnya dan menyerangnya. Akan tatapi ia teringat akan janjinya kepada Ki Bok dan pada saat itu, ia melihat Ki Bok juga memandang kepadanya. Bahkan pemuda itu lalu bangkit, dan dengan tenang menghampirinya, keluar dari pintu dan berkata dengan suara lirih
"Harap jangan memasuki ruangan berkabung ini, Sian Li. Kecuali kalau angkau ingin melayat."
"Dobhin Lama?"
Tanya Sian Li, juga berbisik sambil memandang ke arah peti mati. Ki Bok mengangguk.
"Supek sudah terlalu tua. Pertandingan dengan Sin-cing Tai-hiap menghabiskan tenaga-nya. Dia meninggal karena kehabisan tenaga dan napas, tidak terluka. Pendekar aneh itu terlalu lihai baginya...."
Diam-diam Sian Li merasa bangga dan girang bukan main. Akan tetapi diam saja, lalu melirik ke arah Sian Lun yang masih menunduk, dan berkata,
"Aku masih ingin bicara dengan jahanam itu."
Ki Bok mengangguk.