Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 113

Memuat...

"Engkau....!! Dan iapun menghantamkan tangannya ke arah kepala suaminya!

Tek Ciang kaget setengah mati. Akan tetapi dia masih sempat menggulingkan tubuhnya dari atas pembaringan sehingga terhindar dari hantaman maut.

"Hui-moi, ada apakah....?!

"Keparat jahanam! Kiranya engkau malah orangnya....?! Suma Hui menjerit sambil menangis dan cepat membereskan kembali pakaiannya yang tadi sudah hampir tertanggal seluruhnya oleh jari-jari tangan Tek Ciang. Tek Ciang sendiri dalam kekagetannya cepat membereskan pakaiannya sendiri, lalu menyalakan lilin. Kamar itu menjadi terang kembali dan Suma Hui meloncat turun dari atas pembaringan, menghadapi suaminya dengan sepasang mata berapi-api walaupun ada air mata menetes-netes turun.

"Engkau....!! Telunjuknya menuding ke arah muka Tek Ciang yang memandang dengan mata terbelalak.

"Engkau lah orangnya! Jahanam terkutuk, engkau lah orangnya yang telah memperkosaku dahulu!! Setelah berkata demikian, dengan kemarahan meluap Suma Hui menerjang ke depan dan menyerang dengan sekuat tenaganya, menghantam ke arah dada Tek Ciang dengan tanganterbuka. Akan tetapi Tek Ciang mengelak dan meloncat ke belakang.

"Hui-moi, apa yang kau katakan ini....? Sudah jelas perbuatan terkutuk itu dilakukan oleh Kao Cin Liong....!

"Tutup mulutmu yang busuk! Baru sekarang aku mengerti! Ternyata engkau adalah seekor ular busuk yang amat jahat, khianat, curang dan pengecut! Engkau lah yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dan engkau menimpakan kesalahan kepada orang lain! Tak perlu menyangkal, daging menonjol dan berambut yang tumbuh di punggungmu itulah saksinya.! Suma Hui menyerang lagi dengan sengit.

!Kau salah sangka....! Tek Ciang membela diri akan tetapi suaranya gemetar dan lemah karena dia kehabisan akal setelah rahasianya terbuka. Dia merasa menyesal sekali mengapa di punggungnya tumbuh daging jadi itu, dan mengapa pula sampai Suma Hui mengetahui tentang tonjolan daging itu. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dahulu ketika dia memperkosa Suma Hui, biarpun gadis itu berada dalam keadaan terbius, namun Suma Hui masih setengah sadar ketika tangannya bergerak dan jari-jari tangannya menyentuh punggung yang telanjang dan bertemu dengan tonjolan daging berambut itu. Dia menyimpan rahasia itu di dalam hatinya. Hanya itulah satu-satunya tanda yang dikenalnya dari tubuh pemerkosanya. Sungguh tak pernah dia mengira bahwa yang punggungnya menonjol itu adalah Tek Ciang!

Suma Hui menyerang dengan beringas dan kini Tek Ciang juga berusaha untuk menundukkan. Pria ini maklum bahwa rahasianya sudah terbuka dan dia hendak menundukkan Suma Hui melalui kekerasan. Maka, sambil mengelak diapun balas menyerang dan sebuah tendangan mengenai paha Suma Hui, membuat wanita ini terguling.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara keras dan daun pintu jebol. Muncullah Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li. Suami isteri ini terkejut sekali mendengar suara gaduh di kamar pengantin dan ketika mereka keluar dari kamar menghampiri kamar pengantin, mereka mendengar perkelahian itu, bahkan mereka sempat mendengarkan kata-kata Suma Hui yang terakhir tadi yang membuat mereka terkejut setengah mati. Ketika perkelahian menghebat, Suma Kian Lee tidak sabar lagi dan sekali dorong robohlah daun pintu.

Mereka melihat Suma Hui baru merangkak hendak bangkit dan Louw Tek Ciang berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

"Apa yang telah terjadi?! Suma Kian Lee bertanya, suaranya marah, penuh selidik.

"Hui-ji, apa artinya kata-katamu tentang pemerkosaan dan daging tumbuh di punggung tadi?! Kim Hwee Li juga bertanya.

Tendangan tadi tidak mendatangkan luka berat, akan tetapi tetap saja Suma Hui melangkah dengan terpincang-pincang menghampiri ibunya. Air matanya bercucuran.

"Ibu.... ayah.... dia.... dialah.... iblis terkutuk yang dahulu memperkosaku! Buktinya adalah tonjolan daging berambut di punggungnya.... dahulu aku mengetahui tanda itu secara tidak disengaja dan tadi.... tadipun hanya kebetulan saja.... dialah jahanam busuk itu!!

"Aihhhh....!! Kim Hwee Li menjerit.

"Hahhh....?! Suma Kian Lee juga berteriak kaget dan dia lalu melangkah maju menghampiri muridnya. Tek Ciang menjadi semakin pucat dan dia sudah melirik ke arah jendela dan pintu, seperti tikus tersudut hendak mencari jalan keluar untuk melarikan diri.

"Tek Ciang! Apa artinya ini? Benarkah apa yang diceritakan Hui-ji?! Suma Kian Lee bertanya ragu karena dia belum mau percaya begitu saja akan hal yang demikian jauh berlawanan dengan perkiraan dan harapan hatinya.

"Ti.... tidak.... suhu....! Jawab Tek Ciang gugup dan suaranya gemetar.

"Kalau tidak, buka bajumu dan perlihatkan kepada kami apakah benar ada tonjolan daging jadi di punggungmu!! Kim Hwee Li membentak dan kini wanita yang ccrdik itupun sudah dapat menduga dan membayangkan apa yang dahulu telah terjadi. Suma Kian Lee hanya berdiri terbelalak, sampai tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking hehatnya perasaan memenuhi hatinya.

Marah, heran, ragu-ragu, menyesal dan malu bercampur aduk menjadi satu. Dialah yang setengah memaksakan terikatnya perjodohan antara puteri tunggalnya dan Tek Ciang, bahkan dia telah mengangkat Tek Ciang menjadi murid utama, murid yang mewarisi ilmu-ilmu keluarga Pulau Es dan kini, ternyata pemuda ini yang telah memperkosa Suma Hui! Tentu saja sukar baginya untuk dapat menerima kenyataan ini.

"Ayah, aku sekarang mengerti semuanya!! Suma Hui berteriak lantang.

"Ayahnya telah tewas karena bersama penjahat bayaran bermaksud membunuh Cin Liong, dan penyerangan itu tentu dilakukan karena mereka ingin menyingkirkan Cin Liong yang dianggap menghalangi niatnya untuk menarik kita sebagai keluarga. Keparat ini mendendam kepada Cin Liong atas kematian ayahnya maka dia merencanakan perbuatan terkutuk itu dengan mempergunakan nama Cin Liong untuk memfitnah. Cin Liong kita musuhi sedangkan dia sendiri, si keparat busuk ini, tampil sebagai pahlawan yang membela nama baik keluarga kita! Dia memperoleh keuntungan ganda. Dapat membalas dendam kepada Cin Liong dengan fitnah itu, dapat menguasai diriku, dan dapat mewarisi ilmu keturunan keluarga kita, ayah....!

"Louw Tek Ciang! Jawablah dan coba sangkal semua itu dengan penjelasan yang tepat kalau memang engkau bukan seorang iblis terkutuk seperti yang digambarkan oleh Hui-ji!! Suma Kian Lee membentak dan mukanya berobah merah sekali.

"Suhu, teecu....! Tek Ciang berkata gagap karena memang apa yang dikatakan Suma Hui itu tepat sekali, menelanjangi seluruh perbuatannya sehingga dia tidak dapat menyangkal lagi.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketawa seorang laki-laki.

"Ha-ha-ha, Tek Ciang, apakah engkau bukan laki-laki lagi yang tidak berani menghadapi semua ini?!

Mendengar suara yang amat dikenalnya ini, suara Jai-hwa Siauw-ok, gurunya yang lain, guru rahasia, wajah Tek Ciang menjadi cerah. Datangnya bantuan ini sungguh di waktu yang tepat sekali. Dia mengangkat dadanya dan berkata.

"Suhu, semua itu benar dan setelah sekarang aku menjadi suami Hui-moi....!

"Jahanam!! Suma Kian Lee sudah menubruk maju dan melakukan pukulan maut dengan tenaga Hwi-yang Sin-ciang. Angin keras yang amat panas menyambar ke depan. Tek Ciang tentu saja mengenal pukulan ini dan tahu betapa hebat dan berbahayanya serangan gurnnya. Akan tetapi karena hatinya sudah menjadi besar dengan datangnya Jai-hwa Siauw-ok, diapun mengerahkan tenaganya dan sambil mengelak, diapun menangkis, mengerahkan tenaga sambil membongkokkan tuhuhnya dan ketika lengannya menangkis, terdengar suara aneh seperti suara katak dari perutnya.

"Desss....!! Tubuh Tek Ciang terhuyung, akan tetapi dengan menggulingkan tubuhnya, dia dapat meloncat bangkit kembali. Suma Kian Lee terbelalak. Tenaga tangkisan itu tadi cukup kuat dan bukan dari ilmu keluarganya, melainkan ilmu aneh yang mirip Ilmu Hoa-mo-kang atau Ilmu Katak Buduk. Memang dugaannya benar. Ketika menangkis tadi, Tek Ciang mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok, untuk menyatakan bahwa mulai saat itu dia adalah lawan keluarga Suma, pula kalau dia mengeluarkan Hwi-yang Sin-ciang pula, jelas dia kalah kuat oleh gurunya.

Kim Hwee Li dan Suma Hui sudah menerjang maju pula, akan tetapi pada saat itu, terdengar seruan dari luar.

"Tek Ciang, keluarlah!!

Tek Ciang menggerakkan tangan, melemparkan sesuatu ke tengah kamar itu. Terdengar bunyi ledakan keras dan asap memenuhi kamar.

"Awas asap beracun!! teriak Suma Kian Lee untuk memperingatkan anak isterinya dan dia sendiri cepat melompat ke arah jendela dari mana tadi dia melihat tubuh Tek Ciang berkelebat keluar. Setibanya di luar, dia melihat pemuda itu telah meloncat ke atas genteng dan di atas wuwungan telah berdiri seorang laki-laki yang berusia lima puluh tahun lebih, berpakaian indah pesolek dan wajahnya ganteng.

!Iblis busuk, jangan lari!! Suma Kian Lee yang kini merasa marah bukan main itu kembali menyerang Tek Ciang. Serangannya lebih hebat daripada tadi karena dia menggunakan kedua tangan menyerang secara beruntun, tangan kanan mengerahkan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang yang panas sedangkan tangan kiri menghantam dengan pengerahan tenaga sakti Swat-im Sin-ciang yang amat dingin.

Pendekar ini, walaupun belum mampu menggabungkan kedua tenaga yang berlawanan intinya itu, ternyata kini sudah sedemikian mahirnya untuk mempergunakannya secara beruntun dengan kedua tangan. Tentu saja Tek Ciang menjadi gentar. Dia maklum akan kehebatan gurunya ini, dan dia sendiri walaupun sudah mempelajari kedua ilmu mujijat itu, namun latihannya belum matang dan tentu saja dia belum mampu mempergunakannya secara berbareng pada kedua lengannya.

Melihat serangan hebat ditujukan kepada muridnya, Jai-hwa Siauw-ok mendengus dan berkata.

"Mana ada murid dibunuh gurunya sendiri?! Dan diapun melangkah maju menangkis dari kiri sedangkan Tek Ciang menangkis dari kanan.

"Dess! Desss!! Kedua orang itu menangkis dua macam pukulan dan Tek Ciang yang menangkis pukulan Swat-im Sin-ciang itu merasa tubuhnya kedinginan dan dia terhuyung ke belakang. Akan tetapi, tangkisan Jai-hwa Siauw-ok membuat dia dan Suma Kian Lee melangkah mundur, tanda bahwa kekuatan mereka berimbang.

"Keparat! Siapa engkau berani mencampuri urusan antara guru dan murid?! bentak Suma Kian Lee, terkejut melihat bahwa orang ini lihai pula.

"Ha-ha, dia muridku, tentu saja kubela dia,! kata Jai-hwa Siauw-ok sambil membalas serangan lawan. Kedua tangannya bergerak, jari-jari tangan terbuka dan terdengar suara bercicitan ketika jari-jari tangan itu meluncur cepat sekali mendatangkan hawa dingin.

"Cuiiiittt....!! Jari tangan Jai-hwa Siauw-ok kembali menyambar ke arah dada Suma Kian Lee dan pada saat itu, Tek Ciang juga menyerangnya dengan pukulan Toat-beng Bian-kun!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Suma Kian Lee melihat muridnya sendiri berani menyerangnya dengan pukulan maut. Bahkan mengeroyoknya bersama seorang tokoh jahat, dan menggunakan ilmu keluarga Pulau Es untuk menghantamnya.

"Iblis murtad!! bentaknya dan dia menyambut pukulan Tek Ciang dengan pengerahan tenaga untuk merobohkan murid itu. Akan tetapi, sambaran jari tangan Jai-hwa Siauw-ok sudah tiba dan biarpun Kian Lee mengelak dan membatalkan niatnya merobohkan Tek Ciang, melainkan hanya menangkis serangan pemuda itu, tetap saja jari tangan Jai-hwa Siauw-ok menyerempet bajunya.

"Brettt....!! Dan baju di dada Kian Lee terobek, kulitnya tergurat sehingga terasa perih seperti tergurat pedang. Dia terkejut dan maklum bahwa itu adalah ilmu yang disebut Kiam-ci (Jari Pedang) yang amat lihai.

Post a Comment