Bukan main kaget rasa hati Suma Hui. Adiknya ini sejak kecil pendiam dan serius, tak banyak bicara akan tetapi sama sekali tidak cengeng! Belum pernah ia melihat adiknya menangis seperti ini, apalagi sekarang sudah berusia tujuh belas tahun, sudah dewasa! Ciang Bun menangis terisak-isak? Sukar ia membayangkannya, akan tetapi kini hal itu terjadi di depannya. Tentu saja ia merasa kaget dan juga khawatir dan dirangkulnya adiknya itu, seperti ketika mereka masih kecil dan dituntunnya Ciang Bun, diajak duduk di bawah pohon yang rindang. Tempat itu sunyi tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.
"Bun-te, tenanglah. Ingat, tidak baik seorang pendekar gagah seperti engkau ini menangis. Hapus air matamu dan mari kita bicara secara dewasa. Ceritakanlah apa yang merisaukan hatimu sampai engkau menangis. Aku encimu, saudara tunggalmu, aku akan membelamu lahir batin!!
"Enci Hui, tolonglah aku, enci....! Suma Ciang Bun mencoba untuk menghentikan tangisnya. Semua kegelisahan hatinya tumpah pada saat itu melalui air mata dan akhirnya dia merasa dadanya agak lega.
"Hemm, tentu saja aku akan menolongmu, adikku, kalau perlu dengan taruhan nyawaku. Nah, ceritakan, apakah masalah itu?!
Ciang Bun mengusap air matanya dan kini dia dapat memandang wajah encinya dengan mata agak merah.
"Enci Hui, tadi engkau mengatakan bahwa aku tidak wajar....!
"Aihh....! Itu? Aku hanya main-main. Mungkin engkau masih terlalu kekanak-kanakan, tidak biasa bergaul dengan wanita sehingga engkau masih belum dapat menyukai gadis-gadis. Hal itu tidak aneh, kenapa dirisaukan?! Suma Hui tersenyum, merasa lega karena ternyata yang dirisaukan adiknya itu hanyalah persoalan sepele saja.
Akan tetapi Ciang Bun menggeleng kepala.
"Bukan, bukan hanya itu, enci. Ketahuilah, memang aku.... ada sesuatu yang tidak wajar kepadaku, di dalam hatiku....!
Suma Hui mengerutkan alisnya, bangkit berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada adiknya.
"Hemmm, apa maksudmu, adikku? Ada ketidakwajaran apa dalam hatimu? Engkau sungguh membikin aku heran dan cemas.!
"Enci, kalau tidak ada engkau, tentu rahasia ini akan kubawa mati. Kepada ayah dan ibu sendiri aku enggan bercerita. Ketahuilah, memang ada ketikdakwajaran di dalam hatiku, ada suatu kelainan yang terasa amat menakutkan hatiku. Sejak dahulu, aku.... aku tidak pernah merasa suka kepada wanita, akan tetapi aku.... aku malah tertarik kepada pria, kepada pemuda....!
"Ehhh....?! Sepasang mata Suma Hui terbelalak dan ia memandarg adiknya seperti melihat hantu di siang hari.
"Enci Hui, jangan.... jangan memandang padaku seperti itu....!! Suma Ciang Bun mengeluh.
"Jangan engkau juga menganggap aku seperti setan....!
"Bun-te....!! Suma Hui maju merangkul adiknya dan beberapa lamanya enci dan adik ini saling rangkul dengan hati nelangsa. Suma Hui teringat akan nasib dirinya sendiri dan kini ia melihat adiknya menghadapi masalah yang lebih rumit lagi.
"Bagaimana.... bagaimana bisa begitu....? Aku.... aku tidak mengerti, adikku, sungguh, aku belum mengerti....! Suma Hui meragu.
"Mungkinkah itu bahwa engkau.... engkau adalah seorang pria pembenci wanita....?!
"Tidak, enci. Aku sama sekali tidak membenci wanita. Aku kira.... aku akan dapat bersahabat dengan wanita, sahabat baik, seperti aku dengan engkau ini.... akan tetapi, hanya sampai di situ saja. Persahabatan biasa, tidak ada daya tarik menimbulkan gairah berahi. Pendeknya, aku tidak pernah berani melihat wanita, enci, semua wanita kupandang seperti aku melihatmu, seperti saudara, seperti sahabat.!
"Apa salahnya dengan itu?! Suma Hui menegas karena ia belum mengerti dan selama hidupnya baru sekarang ia mendengar hal seperti ini.
"Memang tidak salah, akan tetapi.... aku.... aku tertarik oleh pria, oleh pemuda, merasa mesra berdekatan dengan pemuda dan timbul gairah berahiku. Aku.... aku hanya dapat jatuh cinta kepada pemuda, enci....!
"Hehh....?! Suma Hui terbelalak, melepaskan rangkulannya, lalu mendekat lagi dan menjamah dahi adiknya seperti hendak melihat apakah adiknya tidak sedang terserang demam sehingga mengigau.
Ciang Bun tersenyum sedih melihat encinya meraba dahinya. Dengan halus dia menjauhkan tangan encinya.
"Enci Hui, aku tidak gila.... biarpun kadang-kadang aku sendiri bertanya-tanya apakah aku sudah gila. Tidak, aku belum gila dan mudah-mudahan tidak akan gila. Akan tetapi, aku melihat kenyataan yang menakutkan ini pada diriku. Aku.... aku agaknya mempunyai selera seperti wanita. Tubuhku pria, segala-galanya, akan tetapi seleraku, juga terutama sekali dalam hal selera berahi, aku seperti.... seperti wanita....!
"Ahhh....!!
"Enci Hui, jangan ber-ah-eh-uh saja. Tolonglah aku!!
Suma Hui menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah dengan tubuh lemas. Ia merasa tidak berdaya sama sekali, bahkan bingung.
"Bagaimana aku harus menolongmu, Bun-te?!!Mungkin ada obat....!
"Kita bicarakan saja dengan ayah dan ibu, minta nasihat mereka....!
"Tidak! Aku akan malu sekali kalau engkau menceritakan hal itu kepada mereka, aku akan lari minggat!!
Gadis itu merasa prihatin sekali sehingga memikirkan keadaan adiknya, ia dapat sedikit melupakan kedukaan hatinya sendiri. Ia kecewa bahwa ia tidak dapat bertemu dengan Cin Liong yang memimpin pasukan menyerbu ke Nepal dan ia merasa nelangsa selama ini. Akan tetapi kini semun keprihatinan hatinya ditujukan unttrk Ciang Bun.