Bi Sian tidak melihat pilihan la-in kecuali mengangguk. Ia menyarungkan pedangnya kembali. Thai-yang Suhu segera memberi hormat kepadanya.
"Nona yang masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga sebatang pedang pusaka yang ampuh sekali. Kalau boleh pinto mengetahui apa nama pedang pusaka itu, nona."
Bi Sian merasa bangga dengan pedangnya. Ia menepuk gagang pedang di pinggangnya dan menjawab,
"Totiang (bapak pendeta), pedangku ini adalah Pek-lian-kiam peninggalan ayahku."
Makin giranglah rasa hati Thai-yang Suhu. Pek-lian-kiam, sebatang pedang yang patut menjadi miliknya, bahkan menjadi lambang dari perkumpulannya, yaitu Pek-lian-kauw! Akan tetapi dia menyembunyikan kegirangan ini di dalam hatinya saja. Bagaimanapun juga, pedang itu harus dapat menjadi miliknya!
Bong Gan dan Bi Sian merasa kagum sekali ketika memasuki gedung besar yang didirikan di antara pohon-pohon dalam hutan di lereng bukit itu. Sebuah gedung yang besar dan di dalamnya mewah sekali, seperti rumah raja-raja maja layaknya. Dan di sekeliling gedung itu terdapat banyak rumah-rumah, merupakan perkampungan yang dikelilingi tembok seperti sebuah benteng saja. Itulah tempat tinggal Pangeran Maranta Sing, pangeran Nepal yang menjadi buruan pemerintahnya, karena telah memberontak itu. Dia tinggal di perbatasan itu bersama anak buahnya, yaitu sisa-sisa para perajurit anggauta pasukan pemberontakan yang dipimpinnya dan telah gagal itu. Bong Gan dan Bi Slan dijamu oleh Pangeran itu yang menyambut mereka dengan ramah dan hormat. Bong Gan memperlihatkan kegembiraannya dan Bi Sian akhirnya juga merasa gembira karena pihak tuan rumah sungguh ramah kepadanya.
"Harap jangan khawatir tentang Pendekar Bongkok,"
Kata Pangeran Maranta Sing sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih di balik mukanya yang kehitaman dan kumisnya yang melintang panjang itu bergerak-gerak ketika dia bicara.
"Kalau dia berani datang ke daerah ini, sudah pasti kami dapat menangkapnya. Daerah ini telah kami kuasai bersama Kim-sim-pang, maka harap ji-wi tenang saja. Kita pasti akan dapat menangkapnya."
"Apa yang diucapkan Pangeran Maranta Sing ini benar, adik-adikku yang baik,"
Kata Pek Lan.
"Betapapun lihainya Pendekar Bongkok, dia tidak akan mampu menandingi Kim Sim Lama, apalagi di sini terdapat ji-wi yang bekerja sama dengan kami. Nah, mari kita minum demi berhasilnya kita menangkap Pendekar Bongkok!"
Mereka makan minum sambil bercakap-cakap dengan gembira.
Dari percakapan itu tahulah Bong Gan dan Bi Sian bahwa Pangeran Maranta Sing ini adalah seorang pangeran dari Nepal yang bersekutu dengan Kim-sim-pang, dan betapa Kim-sim-pang menentang pemeribtah Dalai Lama di Tibet. Kalau diam-diam Bong Gan merasa amat tertarik oleh janji-janji dan harapan yang dibayangkan dalam percakapan itu oleh pangeran Nepal itu maupun Thai-yang Suhu dan Pek Lan, Bi Sian sendiri sama sekali tidak tertarik. Bahkan ia tidak ingin melibatkan diri dalam pemberontakan itu, karena yang terpenting adalah menemukan Pendekar Bongkok dan membalas kematian ayahnya!
"Nona, cicipilah masakan ini!"
Kata Pangeran Nepal itu ketika melihat Bi Sian belum mencicipi masakan yang warnanya merah. Bong Gan sudah memakannya, akan tetapi gadis itu agaknya tidak mau mencicipi masakan yang asing baginya itu.
"Ini adalah masakan aseli dari Nepal, lezat sekali dan merupakan masakan kehormatan bagi tamu yang diagungkan!"
Bi Sian tertarik, dan merasa tidak enak untuk tidak memperhatikan karena dikatakan bahwa masakan itu adalah masakan kehormatan bagi tamu yang diagungkan!
"Pangeran, masakan ini terbuat dari apakah?"
Tanyanya, masih merasa ragu untuk mencicipinya karena warnanya yang merah seperti darah walaupun bau-nya sedap dan masih mengepul panas.
"Bahan masakan ini amat langka dan amat sukar diperoleh karena ini adalah sumsum di dalam tulang punggung biruang salju yang besar, kuat dan ganas! Karena merupakan sumber kekuatan sebuah binatang raksasa, maka masakan ini selain lezat, juga mengandung khasiat yang luar biasa untuk kekuatan dan kesehatan.
Marilah nona, sebagai tamu agung, nona harus mencicipinya!"
Pangeren itu mempergunakan sebuah sendok yang bersih, mengambilkan masakan itu dan menaruhnya ke dalam mangkok di depan Bi Sian.
"Dan engkau juga, saudara Coa Bong Gan, mari ambil lagi masakan ini."
Bong,Gan tersenyum.
"Sudah sejak tadi saya memakannya dan memang lezat sekali, suci. Rasanya seperti otak, akan tetapi masakannya memakai bumbu yang aneh dan sedap bukan main. Juga terasa hangat di dalam dada dan perut. Cobalah, suci!"
Bi Sian semakin tertarik, juga untuk menghormati tuan rumah yang demikian ramah dan hormat, ia lalu mencoba mencicipi masakan itu. Memang lezat!
"Adik Yauw Bi Sian, harap jangan sungkan dan ragu. Ketahuilah bahwa Pangeran Maranta Sing ini adalah seorang ahli obat dan ahli masak! Masakan sumsum tulang punggung biruang itu memang hebat dan aku sendiripun sudah mesanakan khasiatnya!"
Kata Pek Lan.
"Siancai, memang benar sekali,"
Kata pula Thai-yang Suhu.
"Pinto yang makan masakan itu merasa seperti muda kembali! Masakan itu tentu dapat membuat orang berumur panjang, dan dapat memperkuat tenaga sin-kang!"
Mendengar ucapan kedua orang itu, Bi Sian semakin tertarik dan iapun tidak berkeberatan lagi untuk makan masakan itu cukup banyak.
Karena ia dan Bong Gan yang menjadi tamu kehormatan, maka semangkok besar masakan merah itu diperuntukkan mereka berdua dan mereka pun memakannya sampai habis! Bi Sian mulai merasa bergembira dan merasa mendapatkan teman-teman yang menyenangkan. Maka iapun minum arak lebih banyak dari pada biasanya. Apalagi arak yang disuguhkan itu manis dan harum, terbuat dari anggur Nepal yang baik. Setelah makan minum sampai kenyang, wajah Bi Sian yang cantik itu telah berubah kemerahan dan mulutnya pun hampir tak pernah hentinya tersenyum manis. Akan tetapi, ketika ia memegang kepalanya dan kepala itu terkulai ke atas meja, Bong Gan cepat bangkit dari tempat duduknya dan menghampirinya.
"Suci, kau kenapakah....?"
Katanya lembut sambil menyentuh pundak gadis itu. Bi Sian mengangkat muka, tersenyum dan pandang matanya saja sudah jelas menunjukkan bahwa ia mabok! Dan juga pandang matanya itu aneh, begitu sayu dan penuh gairah.
"Sute.... aku.... ah, agaknya terlalu banyak minum anggur, kepalaku agak pening...."
Pek Lan memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Bong Gan, lalu berkata,
"Adik Bong Gan, kasihan itu adik Bi Stan mabok. Ia butuh istirahat. Mari kuantar kalian ke kamar kalian."
Pek Lan bangkit berdiri dan membantu Bong Gan memapah Bi Sian menuju ke sebelah dalam gedung itu, diikuti pandang mata Pangeran Maranta Sing yang tersenyum lebar dan Thai-yang Suhu mengangguk-angguk puas. Tidak percuma saja ia merupakan seorang ahli sihir dan ahli ramuan obat beracun. Ia telah mencampurkan pembius yang lembut pada anggur yang diminum Bi Sian, dan masakan yang disuguhkan Pangeran Maranta Sing itu mengandung pula obat perangsang yang amat kuat! Pek Lan membawa mereka ke sebuah kamar yang besar dan mewah, di mana terdapat sebuah tempat tidur yang lebar. Kembali Pek Lan memberi isyarat kedipan mata kepada Bong Gan dan pemuda ini mengerti.
"Nah, inilah kamar kalian, adik Bong Gan. Biarkan adik Bi Sian beristirahat dan tidur, nanti peningnya tentu akan hilang. Dan engkau juga perlu beristirahat, engkaupun sudah minum terlalu banyak, adik Bong Gan. Kalian mengasolah!"
"Tapi, enci Pek Lan!"
Bong Gan membantah.
"Mengapa hanya satu kamar? Kamar ini untuk suci saja, akan tetapi di mana kamarku?"
"Pangeran hanya memberikan sebuah kamar saja untuk kalian berdua, dan kurasa kamar inipun cukup besar, tempat tidurnyapun cukup luas untuk kalian bardua. Nah, selamat tidur."
Pek Lan menutupkan daun pintu kamar itu dari luar sambil tersenyum kepada Bong Gan. Bi Sian hanya mendengar sayup-sayup saja apa yang mereka bicarakan. Ia telah terlalu pening sehingga tidak perduli lagi bahwa ia berada sekamar dengan sutenya.
"Aku.... aku pening.... mau tidur....!"
Katanya dan ia hendak melangkah ke arah pembaringan, akan tetapi ia terhuyung dan tentu akan jatuh kalau tidak segera dirangkul oleh Bong Gan.
"Marilah, suci, mari kubantu engkau.... akupun agak pening.... mari kita beristirahat....!"
Bong Gan memapah suci-nya ke tempat tidur, lalu membantu sucinya berbaring. Dengan hati-hati dia lalu meraba kaki suci-nya melepaskan sepasang sepatunya. Bi Sian terbelalak ketika merasa kakinya diraba sute-nya dan sepatunya dilepaskan.
"Sute.... kenapa.... kau di sini....? Aku mau tidur, pergilah...."
Akan tetapi Bong Gan tidak mau tidur, bahkan duduk di tepi pembaringan sambil menatap wajah suci-nya yang rebah telentang.
"Suci, kita mendapatkan satu kamar saja. Kamar ini untuk kita berdua."
Dengan mata sayu Bi Sian menatap wajah pemuda itu. Gairah yang tidak wajar membakar dirinya dan wajah sute-nya itu tampak tampan luar biasa.
".... kenapa begitu.... ah.... sudahlah, aku mau tidur...."
Tiba-tiba Bi Sian membuka matanya lagi karena merasa betapa wajahnya dibelai tangan orang. Ketika ia melihat tangan sute-nya meraba dun membelai kedua pipi dan dagunya, ia tidak meronta hanya menegur lembut.
"Sute.... jangan begitu...."
"Suci, alangkah cantiknya engkau. Aih, suci, aku cinta sekali kepadamu, suci!"
Dan Bong Gan sudah memeluk, mendekap dan menciumi muka gadis itu. Bi Sian dalam keadaan setengah sadar, akan tetapi obat perangsang telah mulai menguasai dirinya.
"Jangan, sute.... jangan...."
Mulutnya mendesah, akan tetapi kedua lengannya balas merangkul leher pemuda itu. Dan terjadilah apa yang selalu diharapkan dan dirindukan Bong Gan. Dia berhasil menguasai diri suci-nya, berhasil menggaulinya berkali-kali tanpa gadis itu menolak atau memberontak, bahkan gadis itu, di luar kesadarannya, telah membalas semua kemesraanya dengan penuh gairah.
Akhirnya, jauh lewat tengah malam, keduanya tidur pulas kelelahan, masih saling rangkul. Pada keesokan harinya, ketika pengaruh obat bius dan obat perangsang meninggalkan kepala dan tubuh Bi Sian dan ketika gadis itu terbangun dari tidurnya, dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat dirinya dalam keadaan bugil tidur berangkulan dengan sutenya yang juga berbugil! Dan seketika terasalah olehnya kelainan dalam dirinya, tahulah ia apa yang telah terjadi! Ia telah melakukan hubungan dengan sute-nya, hubungan suami isteri! Dengan muka sebentar merah sebentar pucat, ia segera mengenakan pakaiannya, kemudian meloncat turun dari atas pembaringan. Sekali tendang, pembaringan itu roboh dan Bong Gan terbangun gelagapan. Dia melihat sucinya sudah berpakaian dan berdiri membelakanginya, dengan pedang Pek-liam-kiam terhunus di tangannya.
"Sute, kenakan pakaianmu. Cepat!"
Suara sucinya membentak dan jelas bahwa sucinya marah bukan main.
"Ehh.... kenapa kita.... kenapa aku di sini.... kenapa tidur di sini dan.... eh, apa yang telah kita lakukan ini....?"
Bong Gan bersandiwara, bicara dengan gagap dan gelisah.
"Cepat pakai pakaianmu kataku!"