Namun, dia sudah memperhitungkan sehingga dia membiarkan dirinya terjatuh ke atas tanah lalu dia bergulingan. Dengan cepat tubuhnya berguling-guling ke sana-sini sehingga mematahkan tenaga luncuran sambil memperhatikan keadaan barisan lawan. Seperti yang diduganya, lima orang Tibet Ngo-houw itu mengira bahwa dia tentu terluka, dan mereka itu sudah datang menghampiri dengan cepat, dengan gerakan lenggak-lenggpk seperti seekor ular. Tiba-tiba Sie Liong yang bergu-lingan itu tubuhnya menyambut dan setelah cukup dekat, dia meloncat dan mengeluarkan suara melengking nyaring, tongkatnya bergerak-gerak sehingga ujungnya menjadi banyak dan diseranglah tiga orang yang berada di tengah-tengah!
Serangan yang tiba-tiba ini membuat Thay Pek Lama, Thay Hok Lama dan Thay Bo Lama yang berada di tengah-tengah terkejut bukan main. Juga Thay Ku Lama dan Thay Si Lama yang menjadi kepala dan ekor barisan itu terkejut. Mereka tadi salah perhitungan. Mereka mengira bahwa Sie Liong terluka. Sungguh tak mereka sangka kini pemuda itu bahkan menyerang dengan hebat ke arah bagian barisan yang lemah. Tiga orang sute mereka itu hanya mampu membantu dengan penyaluran tenaga, sama sekali tidak dapat menangkis atau mengelak karena mereka itu seperti terkait dan terjepit! Padahal, serangan tongkat di tangan pemuda bongkok itu dahsyat bukan main karena dia memainkan jurus-jurus Thian-te Sin-tung!
"Lepaskan ikatan!"
Bentak Thay Ku Lama yang melihat betapa tiga orang sutenya terancam bahaya maut oleh tongkat kayu yang digerakkan secara lihai sekali itu. Terlepaslah tangan mereka yang bergandengan dan kini tiga orang pendeta Lama yang diserang itu dapat menggunakan kaki tangan mereka untuk membela diri. Merekapun segera bargerak, ada yang mengelak dan ada yang menangkis. Namun, gerakan mereka malepaskan diri dari ikatan barisan tadi terlambat sedikit dan akibatnya, Thay Pek Lama terjengkang dengan pundak tertotok ujung tongkat, Thay Hok Lama juga terpelanting karena kakinya menjadi lumpuh sebelah ketika ujung tongkat singgah di lutut kirinya,
Sedangkan Thay Bo Lama terhuyung ke belakang, dadanya kena didorong tangan kiri Sie Liong sehingga terasa napasnya sesak dan dadanya nyeri. Masih untung bagi tiga orang pendeta Lama itu bahwa Sie Liong hanya berniat menghancurkan Siang-thouw Coa-tin itu saja, tidak berniat membunuh sehingga baik tongkat maupun tangan kirinya, menyerang dengan tenaga yang terbatas. Bagaimanapun juga, jelas bahwa barisan itu dapat dia pecahkan dan kini lima orang pendeta Lama itu berdiri dengan muka berubah merah karena malu dan marah. Tiga orang pendata Lama yang tadi terkena serangan, juga sudah dapat memulihkan tenaga dan mereka sudah menyambar senjata masing-masing, seperti juga yang dilakukan Thay Ku Lama dan Thay Si Lama! Melihat ini, Sie Liong menjura.
"Apakah ucapan Tibet Ngo-houw tidak dapat dipercaya lagi? Aku sudah menandingi barisanmu dan berhasil memecahkannya, kenapa kalian malah mengeluarkan senjata?"
"Pendekar Bongkok, apakah engkau takut?"
Thay Ku Lama bertanya dengan suara mengejek, juga empat orang sutenya mengeluarkan suara mengejek, semua ini tentu saja untuk menghibur atau menutupi kekalahannya tadi yang membuat mereka merasa malu, penasaran dan marah. Mendengar ini, tiba-tiba saja Sie Liong menekuk punggungnya yang bongkok ke belakang dan dia monangadah, memandang langit-langit ruangan yang luas itu dan diapun mengeluarkan suara ketawa yang membuat semua orang di situ terkejut dan tercengang.
Suara ketawa itu amat nyaring melengking, akan tetapi juga bergelak dan gemuruh seperti gelombang, mendatangkan getaran dahsyat yang seolah-olah akan meruntuhkan bangunan ruangan itu! Bahkan Kim Sim Lama sendiri memandang kagum. Belum pernah selamanya dia bertemu dengan seorang pemuda seperti ini, yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali! Bukan hanya hebat ilmu kepandaiannya, akan tetapi juga luar biasa sekali tabah dan beraninya! Seorang diri memasuki sarangnya dan menyambut tantangan Tibet Ngo-houw! Sungguh hampir tak masuk akal dan sukar dipercaya! Kehebatan Sie Liong ini saja sudah mendatangkan perasaan sayang di dalam hatinya dan betapa akan senangnya kalau dia dapat mempunyai seorang pendukung atau pembantu seperti pemuda bongkok itu!
"Ha-ha-ha-ha-ha!"
Sie Liong menghentikan ketawanya yang bergelombang dan bergemuruh tadi, lalu menudingkan tongkatnya ke arah muka Tibet Ngo-houw dan suaranya terdengar tidak seperti tadi, lemah lembut, melainkan tegas dan berani penuh kekuatan dan kegagahan.
"Tibet Ngo-houw, bukan aku yang takut, melainkan kalian! Buktinya kalian mengeroyok aku! Seorang seperti aku ini, apa artinya takut? Aku seorang sebatangkara yang tidak memiliki apa-apa, tubuhpun cacat, dan kematian bagi-ku hanya kembali ke tempat yang jauh lebih baik daripada di dunia yang penuh kekotoran dan manusia busuk macam kalian ini! Bagiku, yang ada hanyalah berpegang kepada kebenaran dan keadilan. Demi kebenaran dan keadilan, matipun tidak apa-apa! Kematian hanya pulang dan kembali kepada sumber kebenaran dan keadilan! Sebaliknya, kalian ini biarpun berpakaian pendeta, selalu menuruti nafsu angkara murka, menjadi setan sehingga kalian takut mati, karena kematian kalian akan menyeret kalian kepada kerajaan setan dan iblis!"
Seperti juga suara ketawanya tadi, kini ucapannya itu membuat banyak orang di situ merasa panas dingin dan bulu tengkuk mereka meremang. Akan tetapi, Tibet Ngo-houw yang sudah merasa malu dan penasaran, tidak memperdulikan semua itu dan atas isyarat Thay Ku Lama, mereka sudah bergerak mengepung dengan senjata masing-masing di tangan Sie Liong berada di tengah-tengah dan diapun sudah siap siaga. Dia tahu bahwa kalau dia dikeroyok dengan pengepungan seperti ini, akan rugilah dia kalau hanya mempertahankan diri saja. Kalau sampai dia terdesak, akan sukarlah meloloskan diri dari kepungan, sukar untuk membalas serangan lawan yang tentu bertubi-tubi datangnya. Oleh karena itu, diapun mengambil keputusan untuk mendahului lawan dan mengambil sikap menyerang dan mengamuk!
Tiba-tiba dia mengeluarkan lengkingan dahsyat dan tubuhnya bergerak ke kiri. Pemuda bongkok itu sudah menyerang Thay Bo Lama yang berada di sebelah kirinya. Karena dia menggunakan jurus dari ilmu tongkat Thian-te Sin-tung, tentu saja serangannya itu hebat bukan main. Thay Bo Lama menggerakkan tombaknya menangkis, dan Thay Hok Lama yang berada di sampingnya juga mengayun rantai baja untuk melindungi sutenya, juga untuk menyerang Sie Liong! Namun, begitu serangannya gagal, Sie Liong tidak membiarkan dirinya diserang. Serangan Thay Hok Lama itu dia hindarkan dengan loncatan ke kanan dan dia sudah menotokkan ujung tongkatnya ke arah leher Thay Si Lama.
"Tar-tar-tarrrr!"
Thay Si Lama menggerakkan cambuknya meledak-ledak ketika ujung tongkat di tangan Sie Liong itu bagaikan seekor lalat menyambar-nyambar ke arah lehernya.
Dia tahu betapa hebatnya totokan itu kalau mengenai sasaran, maka dengan sibuk diapun melindungi dirinya dengan putaran cambuk. Sementara itu, Thay Pek Lama juga menggerakkan siang-kiam (sepasang pedang) untuk membantu suhengnya dan membalas serangan Sie Liong. Ketika pedang itu menyambar pinggang dan leher, Sie Liong melempar tubuh ke bawah dan bergulingan ke arah Thay Ku Lama. Begitu melompat, tongkatnya sudah menyerang dengan tusukan ke perut orang pertama Tibet Ngo-houw itu! Lama ini cepat memutar golok menjaga dirinya. Akan tetapi Sie Liong sudah membalik ke belakang lagi untuk menyerang Thay Hok Lama! Amukan Sie Liong itu mangejutkan Tibet Ngo-houw. Gerakan pemuda itu demikian cepat, membagi-bagi serangan sehingga mereka tidak sempat menyusun kekuatan untuk mengepung dan menghimpit. Melihat ini, dengan muka merah dan hati panas sekali Thay Ku Lama berseru nyaring.
"Ngo-heng-tin (barisan lima unsur)!"
Mendengar bentakan ini, para sutenya sadar dan mereka segera berlompatan menjauhi Sie Liong dan membuat berisan segi lima! Dan merekapun mulai bergerak mengelilingi Sie Liong, semakin lama semakin cepat dan lingkaran yang mereka buat itu semakin sempit.
Sie Liong tidak berani lagi menyerang seperti tadi karena maklum bahwa begitu dia menyerang seorang di antara mereka, yang empat orang akan menubruk dan menyerangnya dari empat jurusan secara berbareng! Dia pernah mendengar dari Pek Sim Sian-su tentang beberapa tin (barisan) dan Ngo-heng-tin merupakan barisan yang berbahaya, apalagi karena lima orang anggautanya mempergunakan lima macam senjata sehingga sukar sekali diduga gerakan dan corak penyerangan mereka. Akan tetapi diapun teringat pelajaran yang diberikan oleh para gurunya. Antara lain Pek Sim Sian-su pernah menceritakan sifat dan kehebatan Ngo-heng tin.
"Dalam Ngo heng tin terdapat unsur Im yang pula, demikian kata kakek sakti itu. Lima unsur itu saling bantu, sehingga kalau ada seorang anggauta diserang, selain dia sendiri dapat membela diri, juga ada anggauta lainnya yang melindunginya, sedangkan tiga orang lainnya tentu akan membarengi saat itu untuk menghantam lawan. Memang kalau lima orang anggauta Ngo heng tin itu memiliki tenaga dan kepandainn yang setingkat denganmu, amat sukarlah mengalahkan mereka. Akan tetapi, dengan Thian te Sin tung dan langkah langkah ajaib, tentu engkau akan dapat mempertahankan diri. Kalau engkau bisa memecahkan unsur yang paling membantu itu, baru engkau akan dapat mengacaukan pertahanan mereka. Usahakan agar engkau mengenal siapa di antara mereka itu yang saling melindungi, siapa yang memegang unsur air, api, kayu, tanah dan angin."
Demikianlah petunjuk yang diperolehnya dari Pek Sim Sian su.
Terdengar seruan keras ketika Thay Ku Lama membuka serangan pertama! Golok di tangannya itu mula mula diacungkan ke atas, dan kedua kaki pendeta yang bertubuh gemuk dengan perut gendut itu ditekuk sehingga tubuhnya hampir berjongkok. Dari perutnya berbunyi suara berkokokan seperti suara katak besar dan perut yang gendut itu bergoyang goyang, kemudian tubuhnya meloncat ke depan dan tangan kirinya dengan jari terbuka mendorong ke arah Sie Liong. Uap hitam disertai angin keras menyambar ke arah Sie Liong.
Itulah pukulan Hek in Tai hong ciang (Tangan Angin Taufan Awan Hitam) yang amat berbahaya. Sie Liong mengenal pukulan ampuh, maka diapun melempar tubuh ke kiri sehingga angin pukulan itu lewat. Ketika sinar golok di tangan kanan Thay Ku Lama menyambar, dia menggerakkan tongkatnya menangkis, lalu membalas dengan totokan totokan ke arah tujuh jalan darah utama di bagian depan tubuh lawan! Menghadapi jurus hebat dari Thian te Sin tung ini yang membuat dirinya terancam maut oleh totokan-totokan, Thay Ku Lama menjadi sibuk dan cepat memutar goloknya untuk melindungi tu-buhnya. Thay Si Lama cepat sekali memutar cambuknya, selain melindungi sehengnya, juga ujung cambuk itu berusaha membelit tongkat untuk merampasnya! Sie Liong mulai merasakan keampuhan barisan Ngo-heng-tin.
Dengan otomatis, ketika Thay Ku Lama diserangnya, Thay Si Lama sudah berada di situ, melindunginya dan ikut pula menyerangnya. Dia meloncat tinggi melewati tubuh para pengepungnya dan tiba di belakang Thay Hok Lama, akan tetapi begitu lima orang pengeroyoknya membuat gerakan berlari dan berlompatan, dirinya sudah dikepung lagi oleh barisan segi lima itu. Dia cepat menubruk ke depan, menggerakkan pedangnya yang mula-mula menusuk ke arah sepasang mata Thay Pok Lama, kemudian ujung tongkat digetarkan untak menghantam leher dan ubun-ubun secara bergantian. Thay Hok Lama cepat mengeluarkan sepasang pedangnya menangkis, dan pada saat itu, secara otomatis pula Thay Hok Lama sudah menggunakan rantai bajanya melindungi Thay Pek Lama. Dan kedua orang pendeta Lama ini bergabung dan menyerang Sie Liong.
Setelah mencoba untuk mengamuk beberapa belas jurus lamanya, tehulah Sie Liong bahwa benar seperti dikatakan gurunya, lima orang itu saling melindungi. Dia lalu mencari mata rantai yang tidak bersambung dalam barisan itu. Tiba-tiba dia menyerang Thay Si Lama dengan hebatnya. Dia tahu bahwa tentu Thay Pek Lama yang akan melindungi suhengnya itu. Dan benar saja, Thay Pek Lama secara otomatis telah melindungi Thay Si Lama, akan tetapi ketika mereka berdua hendak membalas serangan Sie Liong, pemuda itu telah membalik secara tiba-tiba dan diapun sudah menyerang Thay Bo Lama! Dia sudah memperhitungkan bahwa tentu Thay Ku Lama yang akan melindungi orang termuda dari Tibet Ngo-houw itu. Ketika Thay Ku Lama bergerak, diapun menarik kembali serangannya dan tiba-tiba dia menyerang Thay Hok Lama si mata satu!
Serangannya sekali ini hebat bukan main, karena selain tongkatnya membuat serangan tusukan beruntun yang dahsyat, juga tangan kirinya dengan tenaga sin-kang sepenuhnya melakukan hantaman dengan ilmu Pay-san-ciang (Tangan Menolak Gunung), ilmu pukulan sakti yang dia pelajari dari Hek Bin Tosu. Thay Hok Lama terkejut bukan main dan memutar rantai melindungi dirinya. Dia mengharapkan perlindungan Thay Bo Lama seperti telah menjadi bagian masing-masing dalam barisan itu, namun baru saja Thay Bo Lama bergerak mundur karena desakan Sie Liong yang ternyata hanya pura-pura itu, maka sekali ini, Thay Hok Lama harus melinduagi diri sendiri dan tidak mempunyai pelindung lain. Akan tetapi, serangan Sie Liong itu terlampau hebat. Dia mampu monangkis tongkat, akan tetapi tidak mampu manghindarkan diri sama sekali dari tangan kiri Pendekar Bongkok yang memukulnya. Namun dia masih berusaha menangkis dangan tangan kirinya.
"Desss....!"
Tubuh Thay Hok Lama terpelanting keras dan terbanting sampai terguling-guling. Tentu saja para Lama yang lain menjadl terkejut bukan main. Tak pernah mereka bermimpi bahwa Ngo-heng-tin akan dapat dipecahkan sedemikian mudahnya oleh Pendekar Bongkok sehingga belum lewat tiga puluh jurus saja seorang dari mereka sudah roboh! Tiba-tiba nampak bayangan merah berkelebat dan tahu-tahu Kim Sim Lama yang memegang sebatang tongkat pendeta telah berada di tempat di mana tadi Thay Bo Lama berdiri.
"Ngo-seng-tin (Barisan Lima Bintang)!"
Serunya dengan suaranya yang lembut namun berwibawa.
Empat orang Lama itupun bergerak dan dipimpin oleh Kim Sim Lama sendiri, mereka membentuk barisan Bintang Lima yang gerakannya aneh namun cepat, seperti bintang yang berkedap-kedip karena senjata mereka digerak-gerakkan berkilauan dan kedudukan mereka selalu berubah. Tiba-tiba mareka berlima itu menyerang dari lima penjuru! Sie Liong cepat memutar tongkatnya melindungi diri, dan tangan kirinya mendorong dengan pukulan yang dia ubah-ubah pula untuk membingungkan para pengeroyoknya. Tongkatnya membentuk benteng yang amat kuat sehingga semua senjata terpental kalau hendak menerobos ke dalam lingkaran benteng sinar itu. Hanya tongkat di tangan Kim Sim Lama saja yang mampu membuat Sie Liong merasakan lengannya terguncang hebat dan kedudukan kakinya terhuyung.
"Trakkk!"
Pertemuan antara tongkat di tangan Sie Liong dan tongkat pendeta berkepala naga yang besar di tangan Kim Sim Lama amatlah hebatnya. Bukan saja Sie Liong tergetar, juga Kim Sim Lama tercengang dan jelas nampak betapa wajahnya dibayangi kekaguman dan keheranan karena dia mendapatkan kenyataan bahwa pemuda itu mampu menandingi kekuatan sing-kangnya! Sie Liong tidak membiarkan dirinya dilanda kekagetan, melainkan cepat dia menghindarkan diri dari sambaran tombak Thay Bo Lama yang menusuk ke arah lehernya. Dia merendahkan dirinya dan tangan kirinya mendorong ke arah penyerangnya itu, cepat sekali.
"Hyaaaattt....!"
Hawa yang amat dingin menyambar ganas ke arah dada Thay Bo Lama. Ternyata Pendekar Bongkok telah mempergunakan Swat-liong-ciang (Tangan Naga Salju) yang dilatihnya dari Swat Hwa Cinjin, seorang di antara Himalaya Sam Lojin. Pukulan ini memang mengandung sin-kang yang berhawa dingin seolah-olah ada hawa salju yang menyambar ganas. Thay Bo Lama terkejut dan menangkis dengan lengan kirinya pula.
"Plakkk!"
Dan akibatnya, tubuhnya terguling dan diapun menggigil kedinginan! Saat itu dipergunakan oleh Thay Ku Lama untuk menyambarkan goloknya yang mengeluarkan suara berdesing! Sie Liong menundukkan mukanya dan menggerakkan tongkat menangkis. Pada saat yang sama, tongkat naga di tangan Kim Sim Lama kembali menyambar. Sie Liong yang maklum akan kehebatan pemimpin pemberontak ini, terpaksa menggunakan tongkat yang tadi membalik ketika menangkin golok Thay Ku Lama, untuk menghadapi sambaran tongkat naga Kim Sim Lama.
"Dukkk!"
Sekali ini, demikian kuatnya Kim Sim Lama menghantamkan tongkatnya, pula karena Sie Liong baru saja menangkis golok Thay Ku Lama sehingga tenaganyapun tidak sepenuhnya.
Aki-batnya Sie Liong terpelanting! Kesempatan itu dipergunakan oleh Thay Si Lama untuk manghantamkan cambuknya ke arah kepala Sie Liong. Cambuk itu melecut dengan cepat seperti kilat menyambar! Sie Liong masih berhasil menggerakkan tongkatnya menangkis walaupun dia sudah terpelanting. Namun, ujung cambuk itu membelit tongkatnya dan terjadi tarik menarik. Sie Liong mengerahkan tenaga dan tangan kirinya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah Thay Si Lama. Thay Si Lama yang menguasai ilmu silat Sin-kun Hoat-lek, yaitu silat yang bukan saja mengandung tenaga sin-kang kuat, akan tetapi bahkan juga mengandung ilmu sihir itu, tidak gentar dan diapun menggerakkan telapak tangan kiri menyambut.
"Desss....!"
Hebat buken main pertempuran dua telapak tangan dan akibatnya, tubuh Thay Si Lama terjengkang dan diapun muntah darah! Sie Liong sendiri juga terjengkang karena kedudukannya tadi tidak menguntungkan ketika dia mengadu tenaga dalam dengan Thay Si Lama. Kuda-kudanya tidak kokoh karena dia tadi dalam keadaan terpelanting dan terhuyung. Pada saat dia terjengkang, ujung tongkat di tangan Kim Sim Lama menyambar dan menyentuh punggungnya. Sie Liong terkulai lemas dan roboh pingsan! Melihat betapa Thay Si Lama muntah darah, empat orang rekannya menjadi marah dan mereka sudah menggerakkan senjata untuk melumatkan tubuh Pendekar Bongkok.
"Tahan!"
Kim Sim Lama berseru dan tongkatnya diputar melindungi tubuh Sie Liong. Lima orang Harimau Tibet itu kini memandang heran kepada pemimpin mereka. Bahkan Thay Si Lama yang mengusap darah dari bibirnya, mengerutkan alisnya.
"Maaf, susiok (paman guru), akan tetapi Pendekar Bongkok ini berbahaya sekali. Sudah selayaknya kalau dia dibunuh!"
Katanya dengan nada tidak senang.
"Hemm, kalian ini sudah berpengalaman luas, mengapa masih berpandangan picik dan masih mudah dipengaruhi kemarahan dan dendam? Yang penting bagi kita adalah langkah yang kita perhitungkan, langkah yang pasti akan mengun-tungkan usaha kita! Kalau dia kalian bunuh, lalu apa untungnya? Boleh jadi dia lihai, akan tetapi tidak cukup lihai untuk membuat kita gentar. Pula, apa artinya dia seorang diri saja menghadapi kita? Sebaliknya, kalau dia tidak dibunuh, banyak pilihan bagi kita untuk memanfaatkan bocah ini dan menarik keuntungan sebesarnya."
Lima orang pendeta Lama itu memandang penuh perhatian dan Thay Ku Lama mewakili para sutenya bertanya.
"Susiok, manfaat apa yang dapat kita ambil dari bocah bongkok ini?"
"Ha-ha-ha-ha! Nah, kalian lihatlah,"
Katanya kepada belasan orang pembantu utamanya.
"Tanpa pimpinan pinceng, kalian sama seperti sekumpulan gajah kehilangan pembimbing. Biarpun kalian kuat, kelau tidak pandai mempergunakan akal, tidak akan ada gunanya dan tidak akan mencapai jauh! Dengarlah. Kita semua telah melihat bahwa bocah ini, biarpun masih muda dan tubuhnya bongkok, namun dia telah mewarisi ilmu kepandaian yang hebat dan kiranya hanya pinceng seorang saja yang akan mampu menandinginya. Kalian semua, kalau maju satu lawan satu, bukanlah tandingannya! Nah, kalian tentu tahu betapa akan baik dan menguntungkan sekali bagi kita kalau saja dia mau membantu gerakan kita."
"Akan tetapi, susiok! Dia adalah murid Himalaya Sam Lojin, bahkan juga murid Pek Sim Sian-su. Dia musuh kita dan mana mungkin dia mau membantu gerakan kita?"
Thay Si Lama mencela.
"Bagaimana kalau kita mempergunakan sihir agar dia kehilangan ingatan dan suka membantu kita?"
Kata Thay Hok Lama. Kim Sim Lama menggeleng kepalanya.
"Memang benar bahwa kiranya takkan mungkin dia membantu kita, dan penggunaan sihirpun tidak ada artinya bagi seorang yang sudah memiliki sin-kang sekuat itu."
"Pinceng dapat membuatkan racun perampas ingatan...."
Kata pula Thay Hok Lama si ahli racun. Kim Sim Lama tetap menggeleng kepalanya.
"Biarpun dia sudah kehilangan ingatan, watak dasarnya tentu melarang dia untuk membantu kita. Dan apa artinya orang yang kehilangan ingatan untuk kita? Bahkan dia akan dapat menimbulkan kekacauan karena ketololannya. Tidak, agaknya kita tidak boleh mengharapkan dia membantu perjuangan kita dengan tenaganya."
"Lalu untuk apa lagi, susiok?"
Thay Pek Lama bertanya. Kim Sim Lama tersenyum dan mukanya yang merah kekanak-kanakan itu kini kelihatan cerdik luar biasa. Matanya mencorong, berkilat dan mulutnya tersenyum mengejek.
"Kita dapat mempergunakan dia untuk memperuncing hubungan yang sudah memburuk antara Dalai Lama dan para tosu. Kalau dia sebagai utusan para tosu sampai terbunuh oleh Dalai Lama, barulah kematiannya ada gunanya untuk kita."
Lima orang Tibet Ngo-houw mengangguk-angguk dan merekapun melihat manfaat itu.
"Akan tetapi, bagaimana caranya agar dia dapat terbunuh oleh Dalai Lama, atau agar para tosu menganggap kematiannya disebabkan oleh Dalai Lama?"
"Tentu saja satu-satunya jalan adalah agar dia mati di dalam istana Dalai Lama di Lasha!"
Kata Kim Sim Lama.
"Akan tetapi, bagaimana caranya menyelundupkan dia ke dalam istana?"
Tanya Thay Bo Lama. Kim Sim Lama tersenyum lagi.
"Tidak percuma pinceng menyebar orang-orang ke dalam Lasha. Biarlah kita menanti kesempatan yang baik. Sementara ini, kita tahan dia di dalam penjara lebih dulu."
"Akan tetapi, hal itu berbahaya sekali, susiok! Dia amat lihai, kalau dibiarkan hidup di dalam penjara, bagaimana kalau sekali waktu dia memberontak dan berhasil lolos dari dalam penjara?"
Thay Ku Lama berseru khawatir.
"Ha-ha-ha-ha, mengapa engkau begitu bodoh? Tentu saja kita harus membuat dia tidak berdaya lebih dahulu. Nah sekarang racunmu perampas ingatan itu kita butuhkan, Thay Hok Lama."
Thay Hok Lama merasa girang karena dia dapat berjasa. Cepat dia mengeluarkan dua butir pel hitam.