"Dengar baik-baik, pinceng pernah menjadi wakil Dalai Lama, merupakan orang ke dua sesudah Dalai Lama yang berkuasa di negeri ini! Dan sekarang pinceng adalah calon Dalai Lama atau pemilik Dalai Lama yang baru! Sekali aku memerintahkan, engkau akan mati!"
"Losuhu, mati hidup bukan di tangan siapapun, melainkan di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa! Kalau Tuhan sudah menghendaki aku harus mati, maka tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini yang akan mampu mencegahnya, sebaliknya, kalau Tuhan menghendaki aku hidup, tidak ada kekuasaan pula yang akan mampu membunuhku. Mati hidup di tangan Tuhan, akan tetapi baik buruknya langkah hidup berada di tangan kita masing-masing. Oleh karena itu, aku tetap akan melangkah melalui jalan kebenaran dan aku menyerahkan jiwa ragaku kepada Tuhan. Aku tetap menolak untuk menjadi kaki tangan pemberontak, apapun yang akan menjadi akibatnya!"
Semua pendeta Lama yang berada di situ, diam-diam merasa kagum. Bahkan Kim Sim Lama juga merasa kagum. Pemuda ini, biarpun bongkok, ternyata jiwanya tidak bongkok dan semangatnya tegak lurus. Akan tetapi, betapapun kagum hatinya, dia tidak rela membiarkan Sie Liong pergi karena tentu semua rahasia akan ketahuan dan mereka terancam bahaya serbuan Dalai Lama sehelum mereka kuat benar.
"Sie Liong, engkau masih muda akan tetapi selain memiliki ketabahan besar, juga kesombongan yang agak berlebihan. Agaknya engkau terlalu mengandalkan ilmu kepandaianmu sendiri sehingga merasa bahwa di kolong langit ini tidak ada orang yang akan mampu mengalahkanau. Nah, ingin sekali pinceng melihat sampai berapa hebat kepandaianmu maka angkau berani menentang kami! They Ku Lama, pinceng ingin melihat seorang di antara kalian mengujinya!"
Kata Kim Sim Lama. Biasanya, kalau menghadapi lawan berat, Tibet Ngo-houw tentu maju berlima. Akan tetapi kini yang mereka hedapi hanya seorang pemuda bongkok, betapapun lihainya, kalau mereka maju berlima mengeroyok seorang pemuda bongkok,
Hal ini tentu saja amat merendahkan nama besar mereka sebagai pembantu-pembantu utama Kim Sim Lama! Bahkan Thay Ku Lama sendiripun merasa sungkan kalau harus bertanding melawan pemuda bongkok itu, maka dia memberi isyarat kepada Thay Bo Lama, saudara termuda diantara mereka berlima, untuk maju menandingi Sie Liong. Thay Bo Lama bertubuh kurus kering dan wataknya memang keras dan berangasan. Begitu menerima isyarat dari suhengnya, dia sudah melompat ke depan menghadapi Sie Liong. Tangan kirinya sudah memegang sebatang tombgk karena tadi dia sudah menyambar tombaknya yang dia letakkan di atas lantai di bawah meja. Kini, dengan tombak berdiri di sebelah kirinya, tangan kanannya bergerak ke depan, telunjuknya menuding ke arah muka Sie Liong.
"Orang muda sombong! Ketika masih kecil dahulu engkau sudah mengganggu kami, sekarang setelah dewasa, engkau masih datang mengganggu. Agaknya memang sudah dikehendaki Tuhan bahwa engkau akan mati di tanganku! Nah, engkau majulah, perlihatkan kepandaianmu kepada Thay Bo Lama!"
Sie Liong bersikap tenang. Dia sudah siap sedia menghadapi ancaman yang paling hebat karena dia maklum bahwa hanya dengan pertolongan Tuhan saja dia akan dapat lolos dari tempat ini, lolos dari ancaman bahaya maut.
"Thay Bo Lama, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin berkelahi atau bermusuhan dengan siapapun juga di sini. Maka, tentu aku tidak akan menyerang siapapun, dan hanya akan membela diri kalau aku diserang."
"Sombong! Sambutlah serangan tombakku ini!"
Dia segera menggerakkan tombaknya dan terdengarlah suara bersiutan karena tombak itu bergerak dengan cepat dan kuat bukan main. Ketika menyerang dengan tusukan, tombak itu meluncur seperti anak panah saja, menusuk ke arah dada Sie Liong! Sie Liong melihat gerakan ini dapat menduga bahwa lawannya yang kurus kering seperti cecak mati kering itu agaknya memiliki tenaga yang amat besar. Untuk meyakinkan dugaannya, diapun mengerahkan tenaganya pada tongkat yang dipegangnya, lalu dengan tubuh miring dia menangkis dari samping.
"Trranggg....!"
Dugaan Sie Liong memang tepat. Biarpun lawannya itu kurus kering dan kelihatan lemah, namun ternyata di dalam lengan yang kecil dan hanya tulang terbungkus kulit itu terdapat tenaga raksasa yang mengejutkan. Untung bahwa dia telah menduga sebelumnya sehingga tidak merasa terkejut. Juga tidak sampai terpental karena diapun sudah mengerahkan tenaganya ketika menyambut dengan tangkisan tadi. Di lain pihak, Thay Bo Lama yang terkejut. Bocah bongkok itu mampu menangkis tombaknya dan tongkat yang dipegang bocah itu tidak sampai terpental atau patah, bahkan kedudukan kakinya sendiri yang menjadi goyah karena dia merasa seolah tombaknya bertemu dengan pagoda baja yang amat kuatnya!
"Bagus! Bocah bongkok kiranya engkau telah mewarisi sedikit ilmu dari Pek Sim Sian-su dan karenanya menjadi sombong! Akan tetapi awas, hari ini engkau akan mampus di tangan pinceng!"
Bentak Thay Bo Lama sambil melintangkan tombaknya di depan dada.
"Thay Bo Lama, ingatlah bahwa engkau yang memaksaku untuk berkelahi, bukan aku yang mencari permusuhan!"
Jawab Sie Liong dengan sikap yang amat tenang.
"Hyeeeeeehhhh.... haittt....!"
Thay Bo Lama mengeluarkan teriakan nyaring, lengan kirinya membuat gerakan memutar di depan dada untuk mengumpulkan tenaga sakti yang dipusatkan di kedua lengan. Kakek yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun ini ternyata memang masih amat kuat sehingga dari kedua lengannya itu timbul getaran melalui tombaknya dan kini tombak itu bagaikan hidup menyambar ke arah Sie Liong.
"Wyuuuuuutt.... singgggg....!"
Ketika dielakkan, senjata itu menyambar-nyambar dan melakukan serangan bertubi-tubi dan selain mendatangkan sambaran angin yang amat kuat, juga mengeluarkan suara bersiutan dan bardesing.
Namun, Sie Liong dapat selalu menghindairkan diri dengan tidak terlampau sulit, menggunakan gerakan kedua kakinya yang lincah untuk membuat tubuhuya selalu meliuk-liuk dan menyusup-nyusup di antara sinar tombak, dan kadang-kadang tongkatnya menolak tombak dengan tangkisan yang demikian kuat sehingga beberapa kali tombak itu menyeleweng dan Thay Bo Lama sendiri terhuyung! Sie Liong maklum bahwa dia berada di dalam bahaya, juga dalam keadaan serba salah. Kalau dia terlalu lama melayani Thay Bo Lama, tentu tenaganya akan terkuras karena di situ masih terdapat banyak lawan yang tentu akan maju satu demi satu. Sebaliknya, kalau terlalu cepat dia mengalahkan Thay Bo Lama, hal ini hanya akan membuat mereka menjadi semakin penasaran dan marah kepadanya! Jalan lari tidak mungkin lagi karena dia sudah terperosok ke dalam sarang mereka.
Bagaimanapun juga, dia harus menghadapi ancaman bahaya itu dengan gagah. Tiba-tiba dia mempercepat gerakan tongkatnya dan dia mainkan Thian-te Sin-tung di bagian yang menekan dan menyerang. Begitu Sie Liong mengubah gerakannya dan mulai menyerang, Thay Bo Lama terkejut. Dia melihat betapa tongkat itu seperti berubah menjadi banyak sekali. Sebagian menahan tombaknya, sebagian pula menyerangnya bagaikan gelombang lautan yang menyarbu dirinya! Beberapa kali tubuhnya nyaris terpukul dan dia terus memutar tombak, melindungi tubuhnya sambil terdesak mundur. Padahal, belum ada tiga puluh jurus dia melawan! Cepat dia mengerahkan tenaga sakti dan mulutnya berkemak-kemik. Dia hendak menggunakan kekuatan sihir untuk mengalahkan lawan yang masih muda itu.
"Hyaaaahh, orang muda berlututlah engkau!"