Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 37

Memuat...

Persoalan apa yang telah membuatnya terperanjat" Si Kelelawar sudah keluar dari bangunan loteng, tiba tiba tongkat bambunya ditekan ke bawah kemudian menutul keatas wuwungan rumah, tubuhnya yang kurus itupun segera melambung tinggi ke angkasa.

Bersamaan itu tongkat bambunya meluncur ke tengah udara dengan kecepatan tinggi.

Tatkala tubuh kurusnya meluncur kebawah, sepasang ujung bajunya segera dipentangkan seperti Kelelawar mementang sayap, ia seolah-olah berubah menjadi seekor Kelelawar hitam yang amat besar.

Begitu meluncur ke bawah, lagi lagi badannya melejit, sementara dalam genggaman tangannya telah bertambah dengan sebuah tabung bambu.

Tabung itu tak lain adalah tabung bambu yang baru saja dimasukkan Sim Ngo-nio ke dalam tabung bambu besar tadi.

Ketika tongkat bambunya meluncur ke bawah, si Kelelawar segera pentang mulutnya dan secara tepat menggigit ujung tongkat tadi.

Lagi lagi badannya yang kurus kering berputar bagai gangsingan ditengah udara, kemudian melesat masuk ke dalam ruang loteng.

Begitu duduk kembali diposisinya semula, dia mulai tertawa, tertawa bangga.

Suara tertawa itu berkumandang hingga keluar hutan bambu, menggema disisi telinga semua orang, begitu tajam dan nyaring suara tertawanya hingga jauh melebihi suara gemerisik daun bambu yang dimainkan angin.

Suara tertawanya sangat aneh, dibalik suara mencicit, terselip pula perasaan menakutkan yang sukar dilukiskan dengan perkataan.

Semua orang mulai bergidik, mulai merinding, tanpa terasa bulu kuduk mulai berdiri.

"Suara tertawanya mirip sekali!

" tiba tiba Ciu Kiok menjerit keras.

Lui Sin, Siau Jit maupun Han Seng pun mempunyai perasaan yang sama, seperti itulah suara tertawa yang mereka dengar ketika bertemu si Kelelawar fajar tadi.

Tapi sekarang suara tertawa itu kedengaran begitu aneh, begitu menakutkan.

Kembali paras muka Suma Tang-shia berubah, gumamnya: "Kenapa bisa jadi begini?

" Terdengar suara yang parau tua bergema dari samping tubuhnya: "Setelah berada disini banyak tahun, baru pertama kali ini kulihat ia bersikap begitu" Itulah suara dari Sim Ngo-nio, dia sudah berjalan naik ke panggung batu dan menghampiri Suma Tang-shia.

Paras muka perempuan tua inipun tampak sangat aneh.

"Benar" ujar Siau Jit pula, "bila dilihat dari tingkah lakunya sekarang, dia sama sekali tak mirip seorang manusia idiot" " kata Suma Tang-shia "Sesaat tadi memang tidak mirip, tapi sekarang sudah mirip kembali sambil tertawa getir.

Sewaktu Siau Jit berpaling lagi, diapun ikut tertawa getir.

Betul saja, waktu itu si Kelelawar sedang mengawasi tabung bambu dikiri kanan tangannya secara bergantian sambil tertawa bodoh.

Suara tertawa yang berkumandang pun sama sekali tak mirip dengan suara tertawa manusia normal.

Suara tertawa ini berbeda sekali dengan suara tertawanya sebelum Siau Jit mengucapkan perkataannya tadi.

Dibalik suara tertawanya terselip perasaan gembira yang sukar dilukiskan dengan perkataan, membuat siapa pun yang mendengar, merasa makin seram dan ngeri.

Siau Jit merasa amat ngeri, bulu romanya mulai bangkit berdiri.

"Baru pertama kali ini kudengar ia tertawa seperti itu" kembali Suma Tang-shia berkata sambil tertawa getir.

"Begitu pula dengan aku" Sim Ngo-nio menambahkan.

"Mungkinkah ada saat dia mulai tersadar kembali?

" timbrung Han Seng.

Sim Ngo-nio termenung tanpa menjawab, sementara Suma Tang-shia menyahut setelah berpikir sejenak: "Hal ini kurang jelas" "Tapi bagaimana pun juga, jangan harap dia bisa meloloskan diri dari hutan bambu ini" Sim Ngo-nio menambahkan.

Suma Tang-shia manggut-manggut.

"Ke tiga belas lapis alat perangkap itu dirancang dan diterapkan setelah melalui pertimbangan serta perhitungan yang matang, lagipula semua peralatan ditanam pada bagian yang tidak mencolok, kendatipun ia dapat menemukan letaknya, belum tentu dapat merusaknya, jadi hal yang mustahil bila dia sanggup lolos dari tempat ini" "Bila ia dapat keluar dari barisan, berarti tak mungkin akan tetap tinggal didalam hutan bambu" lanjut Sim Ngo-nio, "kalau sampai terjadi hal semacam ini, perkampungan Suma-san-ceng sebagai barisan pertama pasti sudah dibumi hangus oleh dirinya" "Tapi bagaimana dengan tongkat bambunya?

" tanya Lui Sin tiba tiba.

"Kenapa dengan tongkat bambu itu?

" "Kelelawar yang kami jumpai fajar tadi justru membawa tongkat bambu yang sama!

" kata Lui Sin.

"Kau yakin sama?

" desak Suma Tang-shia.

"Walaupun aku tak berani memastikan seratus persen, namun ukuran maupun warnanya sama sekali tak berbeda" "Kalau dibicarakan kembali, peristiwa ini memang sangat aneh" ujar Sim Ngo-nio, "selama banyak tahun berada disini, belum pernah kulihat dia membawa tongkat bambu semacam itu" Suma Tang-shia mengiakan, paras mukanya tamak lebih murung dan serius.

"Masa kejadian ini begitu kebetulan?

" desak Lui Sin.

Suma Tang-shia hanya termenung tanpa menjawab.

Berkilat sorot mata Siau Jit, tiba tiba ujarnya: "Toaci, bolehkah kami berjalan lebih dekat lagi dengan si Kelelawar itu agar bisa melihat lebih jelas?

" "Boleh saja" jawab Suma Tang-shia setelah termenung sejenak, perlahan ia berpaling kearah Sim Ngo-nio.

"Padahal kita tak usah kelewat kuatir atau was was" kata Sim Ngo-nio sesudah berpikir sejenak, "bila Kelelawar itu tak bermasalah, biar kita mendekatinya pun tak bakal ada mara bahaya, andaikata ia sudah peroleh kembali kesadaran nya, dengan andalkan kekuatan kita semu a, rasanya masih mampu untuk menghadapinya" "Baik!

" kata Suma Tang-shia kemudian sambil mengangguk, "mari kita tengok dia dari luar pagar pendek itu" "Aaah benar" tiba tiba Sim Ngo-nio berseru, "sebetulnya apa yang telah terjadi?

" "Mari kita bicarakan sembari berjalan" kata Suma Tang-shia, kepada Siau Jit bertiga katanya pula, "setelah melewati dinding tinggi, aku harap kalian mengikuti aku dengan hati hati" Dia berbicara dengan nada serius.

"Toaci tak usah kuatir" sahut Siau Jit.

"Benar, kami sama sekali tidak mencurigai atau meragukan perkataan nona" sambung Han Seng.

Kembali Suma Tang-shia tertawa.

II "Sejujurnya, hutan bambu itu merupakan sebuah wilayah yang sangat berbahaya katanya, "karena itu mohon maaf bila terpaksa aku harus bawel dan banyak bicara" "Hahaha, nona tak usah kuatir, kami dua bersaudara masih belum ingin mati sekarang" kata Lui Sin sambil tertawa keras.

Kembali Suma Tang-shia tertawa, dengan berpegangan dibahu Siau Jit, ia mulai menuruni anak tangga batu.

Dalam pada itu suara tertawa aneh dari si Kelelawar telah berhenti.

Lebih kurang tiga tombak diatas dinding kiri sebelah timur lapangan batu, terdapat sebuah pintu berbentuk rembulan, walau tidak dilengkapi daun pintu, namun diatasnya tergantung sebuah papan nama yang bertuliskan: Mati untuk yang berani masuk!

Sesungguhnya, barisan bunga itu telah ditetapkan oleh perkampungan Suma san-ceng sebagai daerah terlarang, andaikata ada orang ingin tahu yang menerobos masuk sampai disitu dan tiba ditempat ini, semestinya mereka akan segera menghentikan langkahnya sesudah membaca tulisan itu.

Melongok kebalik pintu, terlihat sebatang pohon bambu dan tidak terlihat jalanan lainnya.

Pintu gua itu terletak disisi kiri dengan lebar setengah kaki, tapi satu meter diantaranya kini sudah tertutup oleh dahan bambu yang malang melintang.

Suma Tang-shia segera berhenti didepan pintu sambil berkata: "Siau kecil, cabut pedangmu" "Untuk apa?

" tanya Siau Jit tertegun.

"Tentu saja membabat batang bambu yang melintang di depan pintu masuk!

" Sambil meloloskan pedangnya kata Siau Jit kemudian: "Siaute hanya tahu membabat sambil maju, bila menemui kegagalan, jangan lupa toaci memberi petunjuk" Kontan Suma Tang-shia tertawa cekikikan.

"Biarpun toaci mu kesalnya sampai ingin mati, saat ini masih belum ingin mati beneran" Siau Jit tertawa, cahaya pedang berkelebat, dia mulai membabat kutung ranting dan dahan bambu yang menghadang jalanan.

Tangan kanan Suma Tang-shia masih berpegangan diatas pundak kiri Siau Jit, dia tampak begitu lemah.

Ditengah cahaya pedang, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan memasuki hutan bambu.

Ternyata jalanan yang terbentang dibalik pintu bukan hanya ada sebuah, tapi banyaknya luar biasa, selain banyak bahkan rapat dan membingungkan, persis seperti sebuah jaring laba-laba.

Setiap cabang jalan, nyaris dimulai dari pintu masuk tersebut.

Baru tiga kaki memasuki hutan bambu, jalanan itu telah terpecah menjadi sembilan buah jalan, setiap pecahan jalan memiliki bentuk yang tak berbeda.

Setiap cabang jalan itupun hanya membentang sejauh tiga tombak, tidak lebih tidak kurang.

Pada cabang jalan tersebut kembali muncul cabang jalan lain, bagi Siau Jit yang menguasahi ilmu barisan, setelah belok berapa kali, dia mulai kehilangan pegangan dan bingung sendiri.

Terlebih Han Seng dan Lui Sin, mereka hanya merasakan pandangannya kabur dan berkunang, dalam keadaan begini mereka hanya bisa mengintil dibelakang Suma Tang-shia dan Siau Jit secara ketat.

Sim Ngo-nio berjalan dipaling belakang, namun dia pula yang paras mukanya nampak sangat serius, seolah kuatir kalau berapa orang yang berjalan duluan itu salah langkah hingga berakibat fatal.

Dari mimiknya ini, bisa disimpulkan bahwa ia sudah membuang waktu cukup lama untuk mempelajari barisan tersebut, sekalipun sesungguhnya dia tidak tertarik dengan ilmu semacam itu.

Terbukti Suma Tang-shia memang seseorang yang sangat ahli, biarpun setiap langkah dia lakukan dengan hati hati, namun tak pernah salah langkah.

Makin ke dalam, hutan bambu semakin lebat dan rapat, sebagian besar jalanan bahkan sudah terputus oleh lebatnya tanaman, hal ini menunjukkan entah sudah berapa lama tempat tersebut tak pernah dijamah manusia.

Kendatipun begitu, Suma Tang-shia tetap bisa mengenali daerah disitu dengan jelas dan tepat.

Setiap langkah yang dilakukan seakan sudah berada didalam perhitungannya, kalau bukan sangat ahli, bagaimana mungkin ia dapat melakukan kesemuanya itu" Setelah berjalan sekian lama, akhirnya tak tahan Siau Jit menghela napas panjang dan bergumam: "Sekarang, aku benar-benar merasa sangat kagum" "Kau mengagumi aku?

" tanya Suma Tang-shia sambil tertawa.

"Benar" Siau Jit mengangguk, "jangankan keluar dari barisan ini, bahkan untuk menentukan arah mata angin pun, sekarang aku sudah tak mampu" "Berarti kau kagum seratus persen?

" "Betul, kagum dan takluk seratus persen" Kontan saja Suma Tang-shia tertawa cekikikan, tiba tiba serunya: "Belok kiri!

" Siau Jit menyahut sambil belok ke kiri, pedangnya bergetar cepat dan "Sreeet!

Post a Comment