" sahut Suma Tang-shia tertawa.
"Selesai kasus disini, siaute pasti akan secara khusus mencarikan pasangan yang serasi untuk diri toaci" Mendengar itu, Suma Tang-shia tertawa cekikikan, suara tertawanya begitu sendu, begitu tak berdaya, apa boleh buat.
Angin musim gugur berhembus memenuhi halaman, semakin banyak dedaun yang berguguran, tapi suara tertawa Suma Tang-shia membuat suasana yang sudah sendu terasa makin pilu.
OoOoo Tengah hari, awan putih memenuhi jagad raya.
Awan dimusim gugur bagai selembar kain sutera yang tipis, cahaya sang surya menembusi lapisan awan, memancar lembut ke permukaan bumi, begitu lembut bagai kerlingan genit seorang kekasih.
Siau Jit dan Suma Tang-shia berjalan menelusuri sebuah jalan setapak ditengah kebun bunga, dibelakang mereka mengikuti Lui Sin, Han Seng serta Ciu Kiok.
Kondisi tubuh Ciu Kiok sudah jauh lebih sehat, dibimbing dua orang dayang, ia dapat berjalan lebih santai.
Kebun bunga itu terletak disebelah timur perkampungan Suma-san-ceng.
Biarpun Siau Jit adalah tamu yang sering berkunjung ke perkampungan itu, namun baru pertama kali ini dia melewati jalan setapak ditengah kebun bunga.
Sekilas pandang, jalan setapak itu tak jauh berbeda dengan kebun kebun bunga lain, namun sewaktu lewat disana, entah mengapa timbul suatu perasaan aneh dihati Siau Jit.
Dia bahkan sangat yakin kalau perasaan aneh itu bukan timbul lantaran dia berada disuatu tempat yang asing.
Entah karena melihat perubahan mimik wajah Siau Jit atau karena alasan lain, tiba tiba Suma Tang-shia bertanya: "Siau kecil, apakah kau merasakan sesuatu yang aneh dengan jalan setapak ini?
" "Anehnya memang aneh, hanya tidak kutemukan dimana letak keanehan itu" Suma Tang-shia segera tertawa, sambil belok ke sebuah persimpangan jalan katanya: "Kau seharusnya dapat melihat letak keanehan itu" Tergerak pikiran Siau Jit.
"Maksudmu kelewat banyak persimpangan jalan disini?
" "Sebetulnya bisa saja kita jalan lurus ke depan sana, tapi dalam kenyataan aku berbelok ke kiri menikung ke kanan dan tiada hentinya memasuki persimpangan jalan yang ada" "Mula mula kusangka setelah berbelok satu persimangan jalan, seharusnya toaci akan berjalan lurus, tapi setelah mendengar ucapan toaci, aku jadi sedikit mengerti" "Kalau begitu coba kau terangkan" "Persimangan jalan yang ada disini tampaknya memang kacau tak beraturan, padahal dalam kenyataan memiliki kepanjangan yang sama, hanya saja arahnya , , , , , , ,,
" "Kenapa dengan arahnya?
" tanya Suma Tang-shia tertawa.
"Arah timur, selatan, barat, utara hampir semuanya terdapat hal yang sama, berapa kali aku merasa hakekatnya sedang berputar ditempat yang sama, mana ada jalan setapak macam begini?
" Suma Tang-shia tidak menjawab, lagi lagi dia belok memasuki sebuah persimpangan jalan.
Tiba tiba Siau Jit berkata: "Bila dugaan siaute tak salah, seharusnya disini telah dipasang sebuah barisan bunga" Suma Tang-shia manggut-manggut.
"Apakah sudah kau lihat ilmu barisan apa?
" "Bukankah Lak-hap-tin?
" ujar Siau Jit setelah termenung sejenak.
Mula mula Suma Tang-shia agak tertegun, kemudian sahutnya sambil tertawa: "Tak kusangka kau benar benar dapat menebaknya, selama ini aku hanya tahu kalau ilmu pedangmu sangat lihay dan tangguh, tak nyana dibidang ilmu barisan pun kau memiliki pengetahuan yang luar biasa" "Dimasa tua, guruku tertarik untuk mempelajari ilmu dibidang tersebut , , , , , ,,
" "Dan kau kebagian ilmunya" "Tentu saja, kalau tidak bagaimana mungkin bisa menemukan ilmu barisan tersebut sekarang" "Tapi sejujurnya, mempelajari ilmu semacam itu betul betul bikin otak seperti mau meledak" kata Suma Tang-shia tertawa.
n "Belum pernah tahu kalau ternyata toaci menguasahi juga , , , , ,,
"Dari seluruh wilayah perkampungan Suma-san-ceng, hanya daerah seputar sini yang sama sekali tak dilengkapi dengan alat perangkap" tukas Suma Tang-shia cepat.
"Andaikata kami tidak membuntuti toaci dan berjalan semaunya sendiri, apa yang bakal terjadi?
" "Maka kalian hanya akan berputar terus diseputar tempat ini" "Bukankah kita dapat menebang pepohonan disitu dan membuka sebuah jalan lewat?
" "Itu mah tergantung bagaimana nasibmu" "Kalau kebetulan bernasib jelek?
" "Begitu menyentuh tombol rahasia dibalik pepohonan, besar kemungkinan kau akan tewas dibawah hujan panah!
" "Bagaimana dengan para dayang , , , , , , ,,
" Suma Tang-shia tertawa, potongnya: "Tempat ini sudah ditetapkan sebagai daerah terlarang, tanpa perintah dilarang masuk, jadi seandainya ada yang tersesat, yaa jangan salahkan orang lain" "Berarti si Kelelawar dikurung dalam barisan ini?
" tanya Siau Jit kemudian.
"Boleh dibilang begitu,,,,
andaikata selama hidup si Kelelawar berada dalam kondisi idiot, cukup barisan ini sudah mampu mengurungnya sepanjang masa, tapi jika tiba tiba kesadarannya pulih kembali, susahlah untuk diprediksi mulai sekarang" "Atau dengan perkataan lain, kecuali barisan ini masih ada perlengkapan lainnya?
" "Masa kau lupa" Aku kan sudah mengatakan kalau disini seluruhnya terdapat tiga belas lapis alat perangkap yang sangat hebat?
" "Tidak" Siau Jit menggeleng.
"Ooh, mungkin kau merasa sangsi dengan perkataanku itu?
" tanya Suma Tang-shia sambil tertawa.
"Aku baru teringat setelah menyaksikan ilmu barisan yang diterapkan disini" "Oya?
" "Hanya untuk membangun ilmu barisan inipun, aku yakin sudah banyak tenaga, pikiran dan beaya yang dihamburkan, apakah kau tidak merasa agak kelewatan untuk membuang begitu banyak harta dan waktu hanya untuk melindungi seorang idiot?
" Suma Tang-shia mengangguk sedih.
"Akupun berpendapat begitu, menurut anggapanku, lebih baik kita hadiahkan sebuah bacokan saja ke tubuh si Kelelawar daripada mencari kesulitan dan masalah, tapi ayahku sekalian tidak sependapat" "Para cianpwee dan enghiong kebanyakan memang berpikiran begitu, kelewat berbelas kasihan" keluh Siau Jit sambil tertawa getir.
"Itulah dia, jadi aku sendiripun tak bisa mengatakan apakah tindakan yang mereka lakukan ini benar atau tidak" Kembali Siau Jit menghela napas.
"Moga moga saja sikap baik dan berbudi mereka terhadap si Kelelawar tidak keliru" "Aku cukup tahu akan keampuhan dan kedahsyatan dari berapa alat jebakan yang terpasang diseputar tempat ini, aku tak percaya kalau si Kelelaw ar sanggup melarikan diri dari loteng itu" "Dan yakin pula kalau Lui Hong bukan tewas ditangan si Kelelawar?
" Suma Tang-shia tidak menanggapi, ia terbungkam.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, kembali mereka melewati dua buah tikungan, diantara ranting daun dan pepohonan, lamat lamat tampak sebuah dinding pagar tinggi berwarna coklat.
Setelah termenung berapa saat, Suma Tang-shia baru berkata: "Benarkah peristiwa berdarah itu merupakan hasil karya si Kelelawar, setelah melihat keadaan Kelelawar nanti, aku yakin kita bisa menarik sebuah kesimpulan" Siau Jit manggut-manggut.
"Ciu Kiok pun seharusnya dapat mengenali apakah orang itu adalah si Kelelawar yang melukai dirinya atau bukan" "Menurut apa yang kuketahui, Kelelawar tak punya saudara, jadi aku rasa tak mungkin ada orang yang mirip dengan si Kelelawar" Sementara itu Suma Tang-shia telah mengajak mereka berbelok satu tingkungan, begitu selesai berbelok, mereka telah keluar dari dalam barisan bunga.
Selapis dinding pagar yang tinggi terbentang satu tombak dihadapan mereka, disisi dinding itu terlihat sebuah undak-undakan batu yang membentang keatas, diujung dinding merupakan sebuah panggung datar, sekeliling panggung dipagari dengan balok kayu besar.
Sambil menunjuk kearah panggung itu, ujar Suma Tang-shia: "Dengan berdiri diatas panggung itu, kita dapat menyaksikan dengan jelas loteng kecil tempat Kelelawar disekap, panggung ini semuanya berjumlah empat buah, atau dengan perkataan lain, mau kabur kearah mana pun, segala gerak gerik Kelelawar tak akan lolos dari pengamatan kami" "Masa Kelelawar tak mengerti bagaimana cara membuka jendela dan pintu loteng?
" tanya Siau Jit keheranan.
"Naik saja keatas panggung, entar kalian akan mengerti dengan sendirinya" usul Suma Tang-shia sambil menaiki anak tangga batu menuju keatas panggung.
Siau Jit menyusul dibelakangnya.
Sepanjang pembicaraan berlangsung, Han Seng dan Lui Sin yang mengikuti dibelakang mereka dapat mendengar dengan sangat jelas, perasaan keheranan mereka sedikitpun tidak berada dibawah Siau Jit, namun kedua orang itu berusaha menahan diri agar tidak ikut menimbrung.
Tentu saja Ciu Kiok yang paling terheran heran, dia bahkan sudah melupakan rasa sakit pada lehernya dengan mempercepat langkah kakinya.
Serombongan manusia itu bagai barisan sukma, tanpa menimbulkan suara berjalan menuju ke panggung.
Panggung datar itu terbuat dari batu putih, satu tombak lebih tinggi dari dinding pagar, luasnya pun mencapai satu tombak lebih, dengan begitu meski ada tujuh orang yang berdiri disana, mereka sama sekali tak merasa kesemitan.
Angin yang berhembus diatas panggung amat kencang, hembusan angin mengibarkan ujung baju mereka.
Disisi belakang dinding tinggi itu merupakan sebuah hutan bambu, hembusan angin yang kencang membuat daun bambu bergemerisik ramai.
Ketinggian pohon bambu lebih rendah dari permukaan panggung, jadi tumbuhan itu sama sekali tidak menghalangi pandangan mereka, dari atas panggung mereka dapat melihat dengan jelas suasana dalam loteng yang dikelilingi kebun bambu itu.
Benar saja, bangunan loteng itu sama sekali tidak dilengkapi pintu maupun jendela.
Disanapun tak ada dinding tembok tapi berupa jeruji yang terbuat dari balok kayu besar, jadi kalau dibilang bangunan itu adalah sebuah loteng, lebih tepat dibilang sebagai gardu dua tingkat.
Diseputar bangunan loteng itu merupakan lapisan tembok pendek, tingginya tak sampai satu tombak.
Dinding pendek itulah yang memisahkan bangunan dengan hutan bambu.