Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 34

Memuat...

"Bisa dibayangkan betapa sengitnya pertarungan yang berlangsung waktu itu" gumam Han Seng sambil memandang ke tempat kejauhan.

Suma Tang-shia manggut manggut.

"Semasa masih hidup, setiap kali menyinggung pertarungan tersebut, ayahku selalu melonjak emosinya" "Bagaimana akhir dari pertempuran sengit itu?

" tanya Lui Sin.

"Dari delapan orang jago tangguh yang terlibat dalam pengeroyokan itu, lima diantaranya tewas seketika, sisanya yang tiga orang menderita luka parah.

Kalau dilihat secara phisik, kondisi ayahku terhitung paling utuh" "Paling utuh?

" lagi lagi Lui Sin tertegun.

"Maksudku dilihat dari penampilannya, luka yang ia derita paling enteng" "Bagaimana pula dengan si Kelelawar?

" "sekujur badan bermandikan darah dan penuh luka, konon isi perutnya tergetar hingga bergeser karena termakan pukulan dahsyat, terakhir ayahku dengan ilmu pukulan Siau-thian-seng menghajar ubun ubunnya!

" "Dan ternyata dia belum mati?

" seru Lui Sin sambil menghembuskan napas panjang.

"Waktu itu dia sudah roboh terkena pukulan hingga muntah darah dan tak sanggup bangkit lagi, siapa pun menyangka dia pasti mati, siapa tahu lewat berapa saat kemudian ternyata ia mercnta dan merangkak bangun kembali, hanya otaknya jadi miring, dia jadi idiot" "Terbukti orang ini memang memiliki daya tahan yang luar biasa, melebihi siapa pun, karena itulah meski sudah terhajar pukulan siau-thian-seng dari ayahmu, dia masih tetap bisa hidup" gumam Lui Sin.

"Dengan pengalaman yang dimiliki delapan jago tangguh dari Kanglam, seharusnya dugaan mereka tak bakal salah" "Saat itu mereka pun sempat mempersoalkan masalah ini, namun setelah dicoba berulang kali, kenyataan membuktikan bahwa Kelelawar memang sama sekali sudah kehilangan ingatan, dia telah berubah jadi seorang idiot" "Apa yang kemudian mereka lakukan?

" kembali Han Seng bertanya.

"Semua orang merasa terlalu keenakan jika menghabisi nyawa si Kelelawar dengan begitu saja, maka mereka tidak melancarkan serangan mematikan lagi" "Masa mereka membiarkan si Kelelawar meninggalkan dunia ini dengan begitu saja?

" Siau Jit termenung sejenak, katanya pula: "Bagi seorang idiot yang memiliki ilmu silat tinggi, membiarkan dia mengembara dalam dunia persilatan jelas merupakan satu persoalan yang sangat membahayakan" Suma Tang-shia manggut-manggut.

"Tentu saja mereka pun sudah mempertimbangkan sampai kesitu, karena itu, meskipun tidak sampai membunuhnya, namun mereka telah menyekapnya disuatu tempat" "Dia disekap dimana?

" kembali Siau Jit bertanya.

"Dalam rumahku" "Perkampungan Suma-san-ceng di timur kota?

" tanya Siau Jit tertegun.

"Memang kau sangka aku punya berapa rumah?

" Siau Jit tertawa getir, sementara Han Seng dan Lui Sin berdiri tertegun, kejadian ini sungguh diluar dugaan mereka.

Terdengar Suma Tang-shia berkata lebih jauh: "Tiga dari delapan jago yang masih hidup, satu tinggal di Pek-san, Hek-sui, yang seorang lagi malah jauh diluar Giok-bun-kwan, hanya ayahku yang bertempat tinggal paling dekat, lagipula perkampungan Suma san-ceng tersohor karena punya dinding baja tembok tembaga, oleh sebab itulah akhirnya diputuskan untuk menyekap si Kelelawar ditempat ini" "Peristiwa itu sudah lewat banyak tahun, apakah si Kelelawar tak pernah pulih kembali daya ingatannya?

" tanya Siau Jit lagi setelah termenung seje nak.

Suma Tang-shia menggeleng.

"Setiap berapa hari, aku selalu pergi menengok kondisi dan keadaannya, tapi walau ditinjau dan dipandang secara apa pun, dia tetap seperti seorang idiot" "Pernahkah ayahmu berpikir, seandainya suatu saat kesadaran dan pikiran orang ini pulih kembali, peristiwa mengerikan apa lagi yang bakal terjadi?

" tanya Siau Jit tertawa egir.

"Tentu saja pernah.

Karena itulah diluar loteng yang digunakan untuk menyekap si Kelelawar telah terpasang tiga belas lapis jebakan dan perangkap yang sangat lihay, jika si Kelelawar bersikeras hendak menerobos keluar, dia pasti akan menyentuh satu diantara sekian banyak alat jebakan, begitu satu alat tergerak maka semua alat perangkap lain akan ikut tergerak, akibatnya sekeliling wilayah itu bakal rata dengan tanah!

" "Bahan peledak?

" seru Siau Jit tanpa sadar.

"Betul, perangkap terakhir memang berisikan bahan peledak yang khusus dikirim dari Kwan-gwa, Bi-lek-tong "Berarti salah satu dari ke delapan jagoan itu adalah tokoh dari perguruan Bi-lek-tong?

" "Pemilik Bi-lek-tong!

" Suma Tang-shia membenarkan, "dialah salah satu diantara tiga orang yang hidup" "Itu berarti mustahil bagi si Kelelawar untuk keluar dari situ dalam keadaan hidup?

" tanya Han Seng.

"Tidak mungkin" dengan sangat yakin Suma Tang-shia menegaskan, "aku pernah memeriksa ga mbar peta dari alat perangkap itu, sekalipun kau memb awa petunjuk peta itupun, tidak mungkin bisa keluar dari situ dengan badan utuh" "Lantas bagaimana dengan makan si Kelelawar sehariannya?

" tanya Han Seng tiba tiba.

"Semua makanan akan dikirim melalui sebuah tabung panjang yang tertanam dalam dinding, ketika lapar, dia akan mengambil sendiri" Kemudian setelah tertawa hambar, terusnya: "Kalau melihat cara hidupnya, mungkin jauh lebih enak hidup seekor anjing, terkadang akupun merasa heran, buat apa ayah sekalian menahannya terus, apa pula manfaatnya" "Betul, kenapa tidak sekali bacok habisi nyawanya, jadi tak perlu repot repot lagi" kata Lui Sin.

"Itulah kelemahan kaum hiap-kek" sambung Han Seng sambil tertawa, "terkadang mereka tak bisa lepas dari masalah keadilan, kebenaran dan kebajikan" "Itu mah tergantung dengan siapa kita berhadapan" protes Lui Sin.

Terdengar Siau Jit bertanya lagi: "Sewaktu berada dijalan raya tadi, bukankah toaci pun melihat ada seorang kakek buta yang mengaku dirinya sebagai sang Kelelawar?

" "Waktu itu kebetulan kalian menghadang jarak pandangku, sampai Lui enghiong meneriakkan nama Kelelawar tanpa sayap, aku baru terusik rasa heranku hingga ikut turun dari kereta, sayang waktu itu kalian sudah pergi dari situ" Setelah berhenti sejenak dan tertawa, lanjutnya: "Tapi bukan masalah, gampang sekali jika kalian ingin tahu apakah orang itu Kelelawar yang asli atau bukan , , , , ,,

datang dan berkunjung saja ke perkampungan Suma-san-ceng" "Betul!

" teriak Lui Sin tanpa sadar.

"Hanya saja , , , , ,,

" Han Seng kelihatan agak ragu.

Sambil tertawa Suma Tang-shia segera menukas: "Tak ada istilah mengganggu atau tidak, sekalipun kalian tidak minta, aku tetap akan mengajak kalian untuk berkunjung ke situ" "Sekarang juga mau ke sana?

" tanya Siau Jit.

"Aku rasa ada baiknya menunggu sampai Ciu Kiok sadar kembali" kata Suma Tang-shia.

Sekali lagi Siau Jit mengangguk.

"Betul, dia adalah satu satunya korban yang berhasil lolos dari ujung golok Kelelawar, jadi dia memang sepantasnya ikut ke sana" "Dengan begitu semuanya akan jadi jelas, apa benar Kelelawar yang ia jumpai adalah Kelelawar yang disekap dalam perkampungan Suma-sa n-ceng, atau Kelelawar yang kita jumpai" L ui Sin menambahkan.

"Moga moga saja ketiganya berasal dari satu orang yang sama" kata Han Seng sambil tertawa getir, "kalau tidak, seorang Kelelawar saja sudah bikin kita pusing, apa jadinya bila muncul Kelelawar yang lain" Lui Sin berpaling memandang kamar Ciu Kiok sekejap, kemudian katanya: "Entah bagaimana kondisi Ciu Kiok, kira kira kuat tidak ia diajak melakukan perjalanan?

" "Dia lemah karena telah kehilangan banyak darah, asal istirahat sejenak lagi, tanggung semangat dan kekuatan tubuhnya akan pulih kembali" "Jite" pesan Lui Sin kemudian, "beritahu Sun toa-nio, begitu Ciu Kiok tersadar kembali, minta dia segera memberi kabar" "Toako, tampaknya watak temperamenmu yang seperti bahan peledak, kini sudah banyak berubah" sahut Han Seng sambil manggut manggut.

Lui Sin tertawa ewa.

"Manusia toh gampang berubah" katanya.

Tanpa bicara lagi Han Seng membalikkan badan sambil beranjak pergi.

Kembali Lui Sin mendongak sambil menghembuskan napas panjang, tiba tiba bisiknya: "Aaai, musim gugur sudah mendekati puncaknya!

" Dia meraupkan tangannya, menangkap selembar daun yang sedang melayang ditengah udara.

Ia memang banyak berubah, meskipun Siau Jit tidak kenal orang ini namun banyak tahu tentang sifat serta perangainya dimasa silam, tapi kini, ia merasa semua tingkah laku dan sepak terjang orang ini sudah jauh berbeda dibandingkan dulu.

Tiba tiba Suma Tang-shia meraih selembar daun yang gugur dan bergumam: "Aku tidak menyukai musim gugur, khususnya di puncak musim gugur seperti ini" Siau Jit tidak menjawab, dia hanya membungkam.

Kembali Suma Tang-shia menatap wajah Siau Jit sekejap, lalu tanyanya perlahan: "Tahukah kau mengapa?

" "Ehmm" "Apa maksudmu ehmm?

" "Itu tandanya dia tahu" sela Lui Sin, kemudian setelah tersenyum lanjutnya, "justru aku yang tak habis mengerti, mengapa seorang gadis yang masih begitu muda macam dirimu ternyata begitu sensitif perasaan hatinya" Suma Tang-shia tertawa.

n "Karena kau berkata begitu, hal ini menandakan bila kau benar benar tidak tahu oyatgll katanya.

"Karena kau masih belum melihat kalau sesungguhnya aku sudah tidak muda lagi" Kontan Lui Sin tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, jadi kau beranggapan dirimu sudah tua sekali?

" "Buat seorang wanita setua aku belum juga menikah, hal ini pertanda kalau dia sudah tua" kata Suma Tang-shia sambil tertawa.

Lui Sin tertegun.

Kembali Suma Tang-shia melanjutkan: "Selewat puncak musim gugur akan tiba musim dingin, itu berarti setahun kembali berlalu, coba bayangkan sendiri, bagaimana mungkin perempuan macam diriku menyukai suasana puncak musim gugur?

" Walaupun masih tertawa, terlihat jelas kalau tawanya begitu sedih dan sendu.

"Sungguh tak disangka ada begitu banyak masalah yang gamang membuat kalian kaum wanita risau dan kuatir" gumam Lui Sin sambil tertawa getir.

Saat inilah Siau Jit baru buka suara: "Padahal banyak sekali pendekar kenamaan dalam dunia persilatan yang jatuh cinta kepada toaci, hanya selama ini toaci tak pernah pandang sebelah matapun terhadap mereka" "Banyak diantara mereka, bahkan kau pun tak pandang sebelah mata, bagaimana mungkin toaci mu bisa menaruh perhatian?

Post a Comment