Halo!

Kelelawar Tanpa Sayap Chapter 27

Memuat...

Dalam berapa jam saja dia seolah sudah bertambah tua berapa tahun.

Rasa cemas, kuatir, tegang memang paling gampang membuat seseorang bertambah tua.

Tiada manusia yang berlalu lalang ditengah jalan, hanya berapa lembar daun kering bergulingan diatas lantai beralas batu hijau, dimainkan hembusan angin.

Tiba tiba terdengar suara gonggongan anjing menggema membelah keheningan, tapi dengan cepat suasana jadi hening kembali.

Bersamaan dengan berhentinya suara gonggongan, sebuah lampu lampion muncul disudut jalan.

Lampion dengan cahaya api berwarna hijau muda, bagaikan segumpal api setan, melayang, melambung ditengah jalan raya.

Disusul kemudian muncul sesosok tubuh manusia.

Seorang gadis muda dengan kepala tertunduk berdiri bagai segumpal asap dibawah cahaya lentera, dia mengenakan pakaian berwarna putih.

Lampu lentera berada dalam genggaman tangan kirinya sementara tangan kanannya disembunyikan dibalik pakaian.

Cahaya lentera menerangi wajahnya, tapi setengah dari mukanya tertutup oleh rambut panjangnya yang hitam lekat.

Kini rambutnya sudah terurai kebawah, terurai bagai aliran air terjun, setengah menutupi bahunya, setengah yang lain menutup sebagian mukanya.

Gerak gerik perempuan itu tidak cepat, tapi tidak pula lambat, dia tidak mirip sedang berjalan, pada hakekatnya seperti lagi melayang ditengah udara.

Sama sekali tak ada hawa kehidupan, tiada hawa manusia barang secuwil pun.

Lui Ang pun mendengar suara lolongan anjing itu, justru karena mendengar suara lolongan, ia baru berjalan keluar dari balik pintu gerbang.

Maka diapun menyaksikan lampu lampion itu, melihat gadis tersebut, satu ingatan yang sangat aneh melintas dalam benaknya.

Manusia atau setankah perempuan muda itu" Bahkan dia sendiripun merasa keheranan, mengapa ingatan semacam itu bisa melintas dalam benaknya" Tapi dalam kenyataan, seorang gadis muda dengan dandanan semacam itu, membawa lamion, kemudian dalam suasana seperti ini muncul diujung jalan raya, bagaimana pun pemandangan semacam ini gampang menimbulkan kecurigaan dan keraguan orang lain.

Memandang bayangan wanita itu, mendadak Lui Ang merasa seakan pernah kenal, dia tidak mundur ke dalam pintu tapi tetap berdiri ditempat semula, menyaksikan gadis itu berjalan mendekat.

Walaupun didalam kenyataan gadis itu sedang berjalan menelusuri jalan raya, entah mengapa, Lui Ang merasa gadis itu sedang berjalan menuju ke pintu gerbang perusahaannya.

Mau apa dia datang ke piaukiok ditengah malam buta begini" Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, gadis itu sudah tiba didepan pintu piaukiok, bahkan perlahan-lahan membalikkan badan berjalan menuju ke undak-undakan didepan pintu gerbang.

Lui Ang merasakan jantungnya berdebar makin keras.

Asal dia berteriak, kawanan piausu yang berada dalam kantor pasti akan berhamburan keluar, tapi saat itu dia seolah kehilangan pikiran, hatinya kalut, panik dan sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan, orang tua itu hanya mengawasi gadis tersebut mendekatinya selangkah demi selangkah.

Perasaan pernah mengenal makin lama semakin bertambah kental dan kuat.

Akhirnya dibawah cahaya lentera, ia dapat melihat raut muka gadis itu, si nona berdiri persis satu meter dihadapannya, berdiri dengan kepala tetap tertunduk.

Sekonyong-konyong Lui Ang merasakan hatinya bergidik, bulu kuduknya bangun berdiri.

Perasaan seram, bergidik itu seolah timbul dari dasar hatinya yang paling dalam, tapi seperti juga timbul dari tubuh gadis itu.

Akhirnya Lui Ang tak kuasa menahan diri, sapanya: "Nona, kau , , , , , , ,,

" Nona itu menghela napas sedih.

Ucapan Lui Ang seketika terpotong, hatinya makin bergidik, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi: "Apakah nona ada keperluan di kantor piaukiok kami?

" " Ehmm!

" "Boleh tahu ada urusan apa?

" Untuk kesekian kalinya gadis itu menghela napas, ia sama sekali tidak menjawab.

"Lohu Lui Ang, pengurus rumah tangga sini, bila nona ada urusan atau ingin mencari seseorang, katakan saja kepadaku, biar kulaporkan kedatangan nona ke dalam" Gadis itu menghela napas sedih.

II "Pengurus tua bisiknya, "masa kau sudah tak kenal lagi dengan diriku?

" Nadanya sedih, penuh kepedihan yang mendalam.

Lui Ang makin keheranan.

"Sebetulnya nona adalah , , , , , , ,,

" Belum habis dia bertanya, gadis itu sudah mendongakkan kepalanya, walaupun masih tertutup sebagian oleh rambutnya yang panjang, namun dibawah cahaya lentera, raut mukanya dapat terlihat dengan sangat jelas.

Ternyata gadis itu tak lain adalah Lui Hong!

Nyaris Lui Ang melompat setinggi satu meter dari permukaan tanah, dalam waktu sekejap dia sendiripun tak tahu harus berteriak kegirangan atau menjerit kaget.

Sekujur badannya gemetar keras, suaranya gemetar jauh lebih hebat, bisiknya: "Kenapa , , , , ,,

kenapa bisa kau nona?

" Kemudian diapun dapat melihat paras muka Lui Hong dengan sangat jelas, dapat melihat pula perubahan mimik mukanya.

Paras muka Lui Hong saat itu pucat pasi bagai mayat, entah karena silau oleh pantulan cahaya lentera atau memang sama sekali tak ada rona darah ditubuhnya.

Dia berdiri dengan mata melotot, terbelalak lebar, perasaan seram, ngeri terpancar dari balik kelopak matanya.

Tatapan ngeri itu seakan sudah mengakar, biji matanya seolah sudah membeku dibalik kelopak matanya yang kaku, sama sekali tiada hawa kehidupan.

Seluruh wajahnya kaku, seluruh tubuhnya sama sekali tiada hawa kehidupan.

Lui Ang menyaksikan Lui Hong tumbuh hingga dewasa, namun selama ini belum pernah ia jumpai mimik muka si nona seseram itu, belum pernah menyaksikan wajahnya tampil begitu menakutkan.

"Nona,,,

kau , , , , ,,

sebenarnya kenapa kau?

" tak tahan tanyanya.

Lui Hong tidak menjawab, mimik mukanya sama sekali tak berubah.

Lui Ang tak dapat menahan diri, kembali tanyanya: "Sebenarnya kau telah pergi ke mana?

" "Ke temat yang sangat jauh!

" jawaban Lui Hong kedengaran berasal dari tempat yang amat jauh.

"Untung kau telah pulang dengan selamat, tahukah kau, betapa cemas dan paniknya ayahmu" Lui Hong menghela napas sedih.

"Aku tahu, ayahku sangat menguatirkan diriku, itulah sebabnya walaupun aku tak bisa pulang dalam keadaan utuh, tapi sebagian tubuhku telah pulang kemari" Lui Ang terperangah, melongo karena ucapan tersebut.

Ia betul betul tak paham dengan ucapan Lui Hong, tapi dengan cepat orang tua itu mengerti.

Terdengar Lui Hong berkata lagi: "Inilah kepala ku, harap kau terima dengan baik" Sambil berkata, gadis itu mencopot batok kepalanya dari badan lalu disodorkan kehadapan Lui Ang.

Tanpa sadar Lui Ang menyambut sodoran itu, setelah batok kepala itu berada dalam genggaman, ia baru merasa ngeri dan ketakutan.

"Setannn , , , , ,,

!

" jeritnya keras keras, sukma serasa melayang tinggalkan raga, sambil memegang batok kepala Lui Hong, ia jatuh terduduk ke tanah, matanya membalik dan seketika jatuh tak sadarkan diri.

Cahaya yang memancar dari lentera ditangan Lui Hong pun ikut padam seketika.

Bersamaan dengan padamnya lampion itu, sinar lentera didepan piaukiok ikut mati, seketika suasana ditempat itu berubah jadi gelap gulita.

Tubuh Lui Hong yang tak berkepala pun ikut lenyap tak berbekas dibalik kegelapan.

Tang Bu dan Ciu Liong dua orang piausu sedang meronda di lapangan berlatih dalam gedung piaukiok sehabis pulang menghantar jenasah saudara saudaranya yang tewas.

Walaupun mereka berada tak jauh dari pintu gerbang, namun tak mendengar pembicaraan antara Lui Ang dengan Lui Hong, namun sempat mendengar teriakan aneh dari pengurus tua itu.

Tentu saja mereka pun dapat mendengar kalau suara teriakan itu sangat aneh dan tidak biasa.

"Siapa yang sedang berteriak?

" seru Tang Bu tanpa sadar.

"Mirip suara empek Ang" Ciu Liong sendiripun merasa tidak begitu yakin.

Lui Ang menjerit aneh dalam kondisi kaget, ngeri dan ketakutan, tentu saja suara teriakannya jauh berbeda dengan keadaan biasa.

"Bukankah empek Ang sedang berjaga di pintu gerbang?

" tanya Tang Bu dengan kening berkerut.

"Hah,,,,

jangan jangan diluar pintu gerbang telah terjadi sesuatu!

" sambil berseru, Ciu Liong meloloskan golok panjangnya dan lari menuju ke pintu gerbang dengan kecepatan tinggi.

Tang Bu tak berani berayal, dia ikut meloloskan senjata kaitannya dan menyerbu keluar.

Berapa orang piausu dalam gedung yang menyaksikan hal itu segera tahu kalau telah terjadi sesuatu, serentak mereka menggembol senjata dan ikut meluruk ke depan.

Dalam berapa kali lomatan Tang Bu serta Ciu Liong telah keluar dari pintu gerbang.

Dalam berapa kali lomatan Tang Bu serta Ciu Liong telah keluar dari pintu gerbang.

"Empek Ang!

" teriak Ciu Liong.

Tak ada jawaban, suasana tetap hening, tak berayal dia menyiapkan goloknya sembari menerjang makin ke depan.

Tang Bu kuatir temannya dicelakai orang, sambil memutar sepasang senjata kaitannya, dia ikut menyusul dari belakang.

Tiba diluar pintu gerbang, mereka jumpai Lui Ang jatuh tak sadarkan diri diatas tanah, mereka pun melihat batok kepala manusia yang berada ditangan orang tua itu.

"Kepala manusia!

" jerit Ciu Liong sambil celingukan ke sekeliling tempat itu.

Cepat Tang Bu menyulut obor, begitu sinar terang memancar keluar, paras mukanya kontan berubah hebat, jeritnya: "Batok kepala siocia!

" "Apa!

" teriak Tang Bu dengan wajah berubah, cepat dia menengok ke arah batok kepala itu.

Kembali paras mukanya berubah, tiba tiba teriaknya lagi: "Lihat, diatas tembok pagar berdiri seseorang!

" Mengikuti arah yang ditunjuk, Tang Bu ikut melongok, betul juga diatas dinding tembok sebelah timur, lamat lamat tampak seseorang berdiri tegak disana.

"Cepat ambil lentera!

" teriaknya keras keras.

Seorang piausu yang menyusul datang kebetulan membawa sebuah lentera, mendengar teriakan itu, dia segera menyodorkan lenteranya.

Dengan cepat Ciu Liong sambar lentera itu, kemudian dengan tangan kiri membawa lampu, tangan kanan membawa golok, dia berlarian menuju ke arah dinding sebelah timur.

Tang Bu serta kawanan piausu lainnya segera mengejar dari belakang, paras muka setiap orang berubah jadi amat tegang dan serius.

Dengan cepat Ciu Liong telah tiba disamping bayangan manusia itu, ia saksikan orang itu mengenakan baju berwarna putih salju, ditinjau dari postur badan, seharusnya dia adalah seorang wanita.

Semenjak masih berada ditempat kejauhan, Ciu Liong sudah merasakan kalau orang itu seperti kekurangan sesuatu, tanpa berjalan semakin dekat pun dia sudah melihat dengan jelas bahwa wanita itu kehilangan batok kepalanya.

Untuk sesaat jagoan ini berdiri tertegun, perasaan bergidik, ngeri menyelimuti hatinya.

Sementara itu Tang Bu telah menghampirinya, dengan suara parau bisiknya: "Apa , , , , ,,

apakah tubuh itu adalah jenasah , , , , ,,

jenasah siocia?

Post a Comment