Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 33

Memuat...

Ketika Siau Po menyuguhkan bubur untuknya, orang tua itu hanya makan sedikit .

Kedua matanya mendelik ke atas sehingga yang terlihat hanya bagian yang putih saja, tampaknya dia sedang menguras otaknya memikirkan sesuatu .

Siau Po tidak memperdulikan thay-kam tua itu, selesai makan dia langsung beranjak tidur, dia ingat janjinya pada kentungan ketiga tengah malam nanti, pikirannya terus membayangkan wajah Lui Cu sehingga dia tidak dapat pulas .

Ketika bangun, dia berjinjit perlahan-lahan menuju pintu, Dia tidak ingin mengejutkan thay-kam tua itu .

Tapi, baru saja dia membuka daun pintu, Hay kongkong sudah menegurnya .

"Siau Kui cu, hendak ke mana kau?" "Aku ingin buang air kecil." sahutnya .

"Kenapa tidak di dalam kamar saja?" tanya Hay kongkong dengan suara tajam .

"Aku tidak dapat tidur, aku ingin mencari udara segar di taman!" Siau Po khawatir dia akan dicegah oleh Hay kongkong, Tanpa membuang waktu lagi dia segera melangkah keluar, tapi baru kakinya maju satu tindak, tahu-tahu kerah lehernya telah tercekat kemudian dia ditenteng masuk oleh Hay kongkong .

Saking terkejutnya, Siau Po sampai menjerit, diam-diam dia berpikir dalam hati .

"Apakah dia tahu aku ada janji dengan dayang cilik itu dan dia hendak mencegahnya?" Belum selesai pikirannya melayang, tubuhnya sudah dibanting ke atas tempat tidur, otak Siau Ku cu bekerja kilat, cepat dia berkata .

"Ah, kongkong," katanya sembari tertawa, "kenapa kongkong masih suka bercanda" Sudah beberapa hari kongkong tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku, jurus apakah yang kongkong mainkan barusan?" "Hem!" Hay kongkong mendengus dingin .

"Ini jurus "Menangkap biawak" yang tidak pernah gagal .

Lihatlah, sekarang biawak tua akan meringkus biawak kecil!" "Huh! Biawak tua meringkus biawak kecil?" dalam hati Siau Po jengkel sekali otaknya segera bekerja, sepasang matanya mengedar, dia ingin meloloskan diri, karena ingat janji dengan Lui Cu .

Dia juga memikirkan manisan buahnya, Pasti dus-nya sudah ringsek karena tertindih tubuhnya ketika dibanting Hay kongkong tadi .

Hay kongkong menghenyakkan pantatnya di atas tempat tidur .

"Kau memang berani, juga sangat berhati-hati .

Apalagi kau juga cerdas, ilmu silatmu masih belum cukup berarti, tapi kau mempunyai bakat besar .

Sayang.. .

Sayang...." Siau Po tertawa, "Kongkong, apanya yang disayangkan?" Dia bersikap seakan-akan hatinya sedang gembira sekali .

Hay kongkong tidak langsung menjawab dia menarik nafas dalam-dalam, Sesaat kemudian dia baru berkata lagi .

"Aksen suara Peking-mu sudah maju banyak, kalau delapan bulan yang lalu, aksenmu sudah sebaik sekarang, tentu tidak mudah aku mengetahuinya...." Siau Po terkejut setengah mati, tubuhnya menggigil, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya .

Tapi dia memaksakan dirinya untuk tertawa .

"Kongkong, kau..." "Anak, berapa tahun usiamu sekarang?" Siau Po dapat mendengar nada suaranya yang tidak sekeras tadi lagi, hatinya menjadi lega .

Rasa takutnya agak berkurang, Dia berusaha untuk bersikap tenang .

"Tahun.. .

ini usiaku empat.. .

belas." "Mengapa jawabanmu ragu-ragu?" "A.. .

ku tidak tahu berapa usiaku yang sebenarnya .

Ibu.. .

juga tidak mengingatnya," sahut Siau Po .

Sebenarnya jawaban Siau Po itu bukan asal mengoceh saja .

Dia memang tidak tahu berapa usianya yang sebenarnya .

Hay kongkong menganggukkan kepalanya, ia juga terbatuk-batuk .

"Dulu ketika belajar ilmu silat, aku pernah tersesat .

Maksudku, salah latihan .

Akhirnya timbullah penyakit batuk ini .

Kemudian aku tahu penyakit ini tidak dapat disembuhkan lagi...." "Sebaliknya, kongkong, Aku rasa batukmu malah sudah membaik...." Hay kongkong menggelengkan kepalanya .

"Membaik" Tidak! Sedikit pun tidak! Aku merasa dadaku semakin nyeri, hal ini memang tidak pernah aku katakan padamu, karena itu kau pun tidak mengetahuinya...." "Sekarang bagaimana" Apakah kongkong ingin aku mengambilkan obat?" tanya Siau Po .

"Mataku fidak bisa melihat, aku tidak mau sembarangan minum obat!" Siau Po terdiam .

Tidak berani dia bicara sembarangan Menurutnya, watak Hay kongkong malam ini aneh sekali, dia merasa perasaannya tidak enak .

"Jodoh mu bagus sekali, Nak .

Kau sudah menjadi sahabat Raja, Kelak di kemudian hari, banyak hal yang dapat kau lakukan, Kau pun belum membersihkan tubuh, sebetulnya aku dapat melakukannya, hanya saja.. .

sekarang ini rasanya sudah terlambat." Siau Po bingung, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan thay-kam tua itu .

Dia tidak tahu yang dimaksudkan dengan membersihkan tubuh adalah dikebiri, Dia hanya merasa kata-kata orang tua itu aneh sekali .

"Kongkong, sekarang sudah larut malam, sebaiknya kongkong beristirahat saja," kata Siau Po .

"Tidur, ya tidur sebetulnya waktu tidur sudah terlalu banyak, Pagi tidur, siang tidur, malam juga tidur .

Kalau orang kebanyakan tidur, untuk selamanya dia tidak akan terjaga lagi, Anak, kalau seseorang tertidur untuk selamanya, bukankah dia tidak akan merasakan penderitaan lagi" Dia juga tidak akan mengalami sengsaranya batuk-batuk seperti ini .

Bukankah bagus sekali?" Siau Po membungkam, dia tidak berani memberi komentar apa-apa .

Hatinya tercekat, dia merasa kata-kata Hay kongkong malam ini semakin lama semakin aneh .

"Anak!" Terdengar Hay kongkong berkata kembali "Masih ada siapa di rumahmu?" Sebetulnya pertanyaan itu sederhana sekali Sering diajukan oleh siapa pun juga, tetapi masalahnya Siau Po menyamar sebagai Siau Kui cu .

sedangkan dia tidak pernah tahu riwayat hidup thay-kam cilik itu, Bagaimana kalau dia salah bicara" Namun, biar bagaimana pun, dia tidak bisa mengabaikan pertanyaan itu .

"Di rumahku masih ada seorang ibu saja, tentang yang lainnya, entahlah, aku merasa tidak bergairah membicarakannya." "0h.. .

jadi hanya tinggal ibumu seorang, Kalian orang Hokkian, Biasanya bagaimana kalian menyebut ibu?" tanya Hay kongkong .

Sekali lagi Siau Po terkesiap .

"Mengapa dia bisa mengatakan aku orang Hok-kian" Apakah karena Siau Kui cu memang orang suku itu" Mungkinkah si kura-kura tua ini sudah mengetahui samaranku" Kalau benar, apakah dia juga tahu bahwa akulah yang membutakan kedua matanya?" Pikiran Siau Po terus bekerja, sedangkan mulutnya menjawab dengan gugup .

"Aih! Un.. .

tuk apa kau menanyakan hal itu?" Hay kongkong menarik nafas daIam-dalam .

"Usiamu masih begitu muda, tapi mengapa hatimu begitu jahat" sebenarnya kau menuruni watak ibumu atau ayahmu?" Rasa terkesiap dalam hati Siau Po jangan ditanyakan lagi .

Tapi pada dasarnya dia memang berani, Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa tertawa .

"Aku tidak mirip dengan siapa pun .

Watakku tidak terlalu bagus, tetapi juga tidak terlalu buruk." Hay kongkong kembali terbatuk-batuk .

"Kau tahu, sejak masih muda aku sudah dikebiri, karena itulah aku menjadi thaykam...." Hampir saja Siau Po mengeluarkan seruan terkejut, sekarang dia baru mengerti apa maksudnya membersihkan diri .

Diam-diam dia berpikir dalam hati, "Aku belum dikebiri, dan aku pun tidak mau .

Pokoknya aku harus mencari akal untuk meloloskan diri dari tempat ini!" "Sebenarnya aku mempunyai seorang anak Iaki-laki." Thay-kam tua itu melanjutkan kata-katanya .

"Sayangnya, ketika berusia delapan tahun, dia meninggal .

Kalau tidak, mungkin cucuku saja sudah seusiamu sekarang, Eh, laki-laki she Mau itu, apakah dia itu ayahmu ?" Jantung Siau Po berdebar-debar .

"Bukan! Bukan!" sahutnya cepat .

Tanpa terasa nada suara atau dialek Siau Po kembali sebagaimana dulunya, yakni aksen orang Yangciu .

"Aku juga mempunyai dugaan demikian seandainya kau adalah anakku tidak nanti aku tinggalkan kau dalam bahaya untuk melarikan diri sendiri .

Biar bagaimana, aku pasti berusaha menyelamatkanmu!" "Sayangnya aku tidak mempunyai ayah yang sebaik dirimu," kata Siau Po dengan suara yang manis sekali .

"Aku sudah mengajarkan dua macam ilmu kepadamu Yang pertama Tay Kim-na hoat dan Taycu Taypi Cian-yap jiu! Tentunya kedua ilmu itu sudah kau pahami dengan baik, bukan?" kata Hay kongkong kembali .

"Ya, Tapi ada baiknya kongkong mengajarkan aku ilmu lainnya, Kepandaian kongkong terhitung nomor satu di dunia, tentu baik sekali apabila ada yang mewariskannya, Dengan demikian nama kongkong akan terangkat sehingga menjadi terkenal," kata Siau Po memuji .

Hay kongkong menggelengkan kepalanya .

"Nomor satu di dunia" Aku tidak berani menerimanya, Kau tahu, orang yang berkepandaian tinggi di dunia ini banyak sekali, Bahkan tidak terhitung.,." Hay kongkong menghentikan kata-kata-nya sejenak, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu, Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya .

"Coba kau tekan perutmu, kurang lebih tiga dim dari pusar dan katakan apa yang kau rasakan?" Siau Po tidak mengerti mengapa dia disuruh melakukan hal itu, tetapi dia menurut .

Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia mengeluarkan seruan tertahan karena bagian yang ditekan itu terasa nyeri, Nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin bercucuran .

"Bagaimana" Enak bukan?" suara Hay kongkong benar-benar tidak enak didengar .

Panas sekali hati Siau Pp disindir sedemikian rupa, Dia pun memaki dalam hatinya .

"Dasar kura-kura tua tidak tahu mampus! Kura-kura tua busuk!" mulut dia menyahut dengan tenang .

"Oh, memang enak sekali, hanya sedikit nyeri saja, kok!" "Setiap hari kau pergi berjudi dan berkelahi dengan Sri Baginda, sebelum kau pulang, hidangan sudah diantarkan kemari, aku merasa supnya kurang lezat, setiap hari dari dalam peti aku mengeluarkan sebotol obat yang lantas aku campurkan dalam sup itu .

Dosisnya sedikit sekali sebab kalau banyak-banyak, reaksinya pada tubuhmu bisa membahayakan .

Aku sadar tidak boleh melakukan hal itu, kau seorang bocah yang sangat cerdik, kau pasti akan curiga, dengan menaruh obat itu sedikit demi sedikit, kau tidak menyadarinya, bukan?" Siau Po semakin terperanjat jantungnya berdegup semakin kencang .

"A.. .

ku.. .

aku kira kau tidak suka makan sup...." "Sebenarnya aku suka, tapi karena, di dalam sup ada racunnya biarpun hanya sedikit, aku jadi tidak suka, Siapa yang memakannya, lama-lama akan menjadi penyakit .

Benar kan?" Semakin kesal hati Siau Po .

"Benar-benar sekali!" Dia mengangkat jempol tangannya .

Post a Comment