perasaanku memang sudah jenuh, walaupun aku sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok, tapi kalau ada kesempatan niat ini boleh dipercepat Ada baiknya aku menggunakan peluang ini untuk pergi dari sini!" So Ngo-tu berjalan di samping Siau Po .
Dia sadar thay-kam cilik itu gagah perkasa dan sangat disayangi Raja, Apalagi dia telah membuat jasa besar dengan membantu membekuk Go Pay .
Dia menduga Kaisar tentunya mempunyai maksud tertentu karena untuk mengambil kitab saja, toh tidak perlu diiringi si thay-kam cilik ini .
Dia sendiri juga dapat menyelesaikan tugasnya .
Sebuah ingatan melintas dalam benaknya .
"Hm! Aku mengerti sekarang, Pasti Sri Baginda ingin menghadiahkan sesuatu kepada bocah ini .
Go Pay mempunyai harta benda yang banyak dan inilah kesempatan untuk memenuhi saku, tetapi Sri Baginda mencurigai aku sehingga mengutus thay-kam ini untuk mengawasi aku...." Dengan berpikir demikian, So Ngo-tu segera memaklumi apa yang harus dilakukannya, Mereka berdua pun keluar dari istana, Di luar telah menunggu beberapa orang pengawal .
Sesampainya di luar, So Ngo-tu berkata kepada Siau Po sambil tersenyum .
"Kui kongkong, silahkan naik kuda!" Di dalam hatinya, dia menduga thay-kam cilik ini pasti tidak bisa menunggang kuda, karena itu dia berjaga-jaga di sampingnya .
Tetapi kenyataannya, meskipun belum mahir, Siau Po pernah belajar silat, kuda-kudanya sudah cukup mantap, dia dapat naik ke punggung kuda dengan baik .
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Go Pay .
Tanpa menunggu waktu lagi, mereka langsung masuk ke dalam, So Ngo Ta tertawa dan berkata kepada Siau Po .
"Kui kongkong, lihat barang-barang ini .
Mana yang kau suka, silahkan ambil saja, Sri Baginda menttahkannya kongkong ikut denganku mengambil kitab, sebenarnya beliau mempunyai maksud tertentu, yakni ingin memberikan hadiah untukmu .
Apa juga yang kongkong ambil di sini, Sri Baginda pasti tidak perduli." Bukan main ramahnya sikap So Ngo-tu terhadap si bocah cilik, Dia selalu memanggilnya dengan sebutan kongkong .
Sementara itu, Siau Po masih terkesima melihat barang-barang yang ditunjukkan kepadanya, semuanya terdiri dari harta benda yang tidak terkirakan nilainya, Ada batu permata yang indah, emas, berlian dan lain-lainnya .
Dia juga melihat bahwa semua perabotan yang ada di dalam rumah Go Pay lebih indah dari Li Cun-wan, rumah pelesiran di Yang-ciu .
Dia menjadi bingung, barang apa yang harus diambilnya" Namun Siau Po juga teringat bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok, tentu tidak leluasa baginya membawa barang banyak-banyak dalam perjalanan .
Ketika So Ngo-tu mencatat barang-barang yang ada di dalam rumah itu, Siau Po mengambil salah satu di antaranya, Batu permata itu sudah dicatat oleh bawahan So Ngo-tu .
Begitu melihat si bocah mengambil salah satunya, orang itu segera menghapus tulisannya untuk dikurangi jumlahnya, tetapi Siau Po meletakkannya kembali dan orang itu pun terpaksa menulis sekali lagi .
Berdua mereka memeriksa gudang itu, seorang bawahan So Ngo-tu menghampiri atasannya dan memberikan laporan .
"Harap tayjin berdua ketahui, di dalam kamar Go Pay ada sebuah gudang penyimpanan barang-barang, Hamba tidak berani lancang, karena itu harap tayjin berdua memeriksanya sendiri." So Ngo-tu senang menerima laporan itu .
"Bagus! Sebuah gudang" Tentu digunakannya untuk menyimpan barang-barang berharga, Bagaimana dengan kedua kitab yang dikatakan Sri Baginda, Apakah kalian sudah berhasil menemukannya?" "Dalam berpuIuh-puluh kamar yang ada di gedung ini, kedua jilid kitab itu tidak diketemukan .
Yang ada hanya buku-buku perhitungan saja .
Tapi kami masih mencari terus," sahut bawahannya .
Dengan menuntun tangan Siau Po, So Ngo-tu mengajaknya ke kamar tidur Go Pay .
Di kamar yang sebelumnya terdapat banyak uang serta batu permata dan harta lainnya, namun di kamar tidurnya sendiri, perabotannya cukup sederhana, Lantainya ditutupi dengan lempengan besi yang ditutup dengan kulit harimau, sedangkan di tembok tergantung busur yang lengkap dengan anak panahnya, Ada juga golok dan pedang, Hal ini membuktikan bahwa penghuninya seorang yang gemar berburu .
Karena kulit harimau dan lempengan besi penutup lantai telah dibuka, maka terlihatlah sebuah celah yang cukup Iebar, Dua orang pengawal berdiri di kedua sisi celah itu .
"Bawa keluar semua barang yang ada di dalamnya!" perintah So Ngo-tu kepada pengawal itu .
Keduanya segera mengiakan dan masuk ke dalam celah tersebut Mereka tidak lama di dalam celah itu, barang-barang pun mulai disodorkan dari bawah yang mana kemudian disambut oleh pengawal lainnya di atas .
mereka menyusunnya di atas kulit harimau, "Semua barang berharga Go Pay pasti disimpan dalam lubang ini .
Kui kongkong, kau pilih saja barang apa yang kau sukai, aku yakin kau tidak akan salah memilih," kata So Ngo-tu sambit tersenyum .
Siau Po ikut tertawa .
"Jangan sungkan, Kau juga pilih saja!" Baru mengucapkan dua patah kata, tiba-tiba Siau Po mengeluarkan seruan tertahan, karena tangannya menggenggam sebuah bungkusan dari kain sutera berwarna putih, Di atasnya tersulam lima huruf dengan indah, "Si Cap Ji Cinkeng." "Nah, itu dia!" seru So Ngo-tu .
Kemudian dia mengambil lagi bungkusan lain yang terbuat dari sutera berwarna kuning, "Bagus, Kui kongkong! Kita berhasil mendapatkan kedua jilid kitab ini, Hong thayhou pasti senang sekali dan kita bakal mendapat hadiah besar!" Sikap Siau Po tetap tenang, "Mari kita periksa dulu buku ini," katanya sembari membuka bungkusan yang pertama." "Kongkong, ada sesuatu yang ingin kukatakan, aku harap kongkong tidak menjadi salah paham karenanya." Siau Po senang menghadapi sikap So Ngo-tu yang berpangkat tinggi namun selalu mengucapkan kata-kata yang sopan kepadanya, Selama di Yang-ciu, setiap hari dia dihina para tamu dan kebanyakan memanggilnya dengan sebutan yang tidak enak didengar, umpamanya kura-kura kecil atau anak haram .
Belum ada yang memperlakukannya sebaik itu .
Kadang-kadang dia merasa heran atas perubahan menyolok yang dialaminya .
"Ada perintah apa, So tayjin" silahkan utarakan saja," kata Siau Po .
"Memerintah" Mana aku berani?" sahut So Ngo-tu tersenyum, "Begitu, aku lebih tua beberapa tahun darimu, dan tiba-tiba saja terlintas sebuah ingatan di benakku, Kui kongkong, kitab-kitab ini merupakan permintaan Hong thayhou dan Go Pay punya menyimpannya di tempat yang demikian rahasianya, pasti kitab ini penting sekali, Namun di mana letak pentingnya" Aku juga ingin sekali melihat isinya, tapi aku khawatir kalau isinya tidak disukai oleh Hong thayhou, sedangkan kita sudah mendahului beliau membukanya, bukankah kita akan celaka karenanya?" Siau Po terkejut setengah mati .
Cepat-cepat dia letakkan kembali kitab itu .
"Kau benar, So tayjin, Terima kasih atas nasehatmu Kalau tidak, kemungkinan kita berdua akan tertimpa bencana," kata Siau Po .
"Jangan berkata demikian, kongkong, Kita dititahkan untuk bekerja sama, Di antara kita tidak ada perbedaan derajat, Kalau aku tidak memandang kongkong sebagai orang sendiri, mana mungkin aku berani bicara terus-terang, iya kan?" "Tapi, tayjin, Kau adalah seorang menteri besar, sedangkan aku hanya seorang budak hina .
Mana boleh dianggap sebagai orang sendiri?" kata Siau Po .
So Ngo-tu mengibaskan tangannya .
"Kalian keluar du!u!" perintahnya kepada para bawahannya .
Para pengawal itu segera mengiakan sambil menjura, begitu orang-orang itu mengundurkan diri, Hay So Ngo-tu segera menarik tangan Siau Po sambil berkata .
"Kongkong, jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi, bahkan kalau kongkong tidak keberatan, aku ingin mengikat tali persaudaraan denganmu." Siau Po tertegun .
"Kita mengangkat jadi saudara" Mana mungkin?" "Sudah kukatakan, kongkong jangan mengucapkan kata-kata itu .
Sama saja kongkong tidak memandang sebelah mata kepadaku, Entah mengapa, mungkin karena jodoh, begitu pertama kali melihat kongkong, aku langsung mempunyai perasaan akrab, Senang sekali rasanya dapat bergaul denganmu, Nah, kalau kau memang tidak keberatan, kita pergi ke ruang sembahyang untuk mengangkat sumpah di sana .
Dengan demikian kita mengangkat persaudaraan Asal Sri Baginda tidak tahu, tentu tidak ada yang berani mengatakan apa-apa." So Ngo-tu menggenggam tangan Siau Po erat-erat, sikapnya serius sekali, Dia memang seorang menteri yang berpandangan jauh dan pengamatannya tajam sekali .
Dia sadar bahwa bersahabat dengan si thay-kam cilik akan membawa manfaat besar baginya, Bukankah thay-kam cilik ini sangat disayang oleh Sri Baginda dan juga ibu suri" Meskipun Siau Po juga seorang bocah yang cerdas, tapi dalam soal kelicikan dia masih kalah jauh dengan So Ngo-tu, Karena itu pula dia mudah terbujuk mulut manis .
"Mari!" kata So Ngo-tu sambil menarik tangan Siau Po .
Bangsa Boanciu memuja sang Budha, itulah sebabnya dalam setiap rumah para pembesar, menteri maupu orang sipil terdapat ruang pemujaan .
Demikian pula dengan gedung kediaman Go Pay ini .