Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 29

Memuat...

"Masa bodoh kau mau mengangkat aku menjadi thay-kam tingkat satu sekalipun Tidak nanti aku akan menerimanya!" Meskipun hatinya berkata demikian, dia langsung bertekuk lutut dan menganggukkan kepalanya seraya berkata .

"Terima kasih atas kebaikan thayhou!" Dalam istana Ceng, tingkatan para thay-kam dibagi dalam kelompok congkoan (pengurus) yang semuanya berjumlah empat belas orang, Siuceng thay-kam seratus delapan puluh sembilan orang, jumlah thay-kam tidak terbatas, Mula-mula jumlahnya hanya beberapa orang, sekarang mungkin sudah lebih dari dua ribu orang .

Thay-kam tingkat empat menduduki jabatan tertinggi .

Ada pula tingkat yang paling rendah, yakni tingkat delapan, Siau Po dari thay-kam tanpa tingkat tiba-tiba dinaikkan kedudukannya menjadi thay-kam tingkat enam .

Kejadian ini bukanlah suatu hal yang mudah, boleh dibilang sangat jarang terjadi .

Ibu suri mengangguk-anggukkan kepalanya, "Baik-baiklah kau menjalankan tugasmu!" "Ya.. .

ya!" sahut Siau Po berulang-ulang, Dia pun lalu bangkit untuk mengundurkan diri, namun pada saat itulah dia melihat di samping meja ibu suri ada sejilid kitab yang diatasi kain kuning, Di atasnya tertulis "Si Cap Ji cing-keng! Siau Po jadi tertegun, Diamdiam dia berpikir dalam hati .

"Monyet! Lohu mencarinya dalam Gi-Si pong sampai berbulan-bulan, tapi tidak berhasil menemukannya, Tahu-tahu kitab itu ada di kamar ibu suri, Tentu saja sampai botak pun aku tidak akan mendapatkan hasil apa-apa!" Hong thayhou tersenyum ketika mengetahui Siau Po sedang memperhatikan kitabnya .

"Eh, Siau Kui cu, apakah kau bisa membaca?" "Hamba belum pernah bersekolah," sahut Siau Po cepat "Hamba hanya mengenal beberapa huruf saja." "Kalau begitu, bila ada kesempatan, ada baiknya kau belajar menulis dan membaca dari beberapa thay-kam tua." "Baik," sahut Siau Po sambil mengundurkan diri .

Ketika seorang dayang menyingkapkan tirai, diam-diam Siau Po memperhatikan ibu suri, Dia melihat wajah wanita itu agak pucat namun sepasang matanya sangat tajam dan alisnya berkerut Tampaknya ada sesuatu yang menyusahkan hatinya .

"Dia kan ibu suri, apa yang membuat pikirannya susah?" tanyanya dalam hati .

Sesampainya di kamar, Siau Po menceritakan semua yang dialaminya kepada Hay kongkong, Ternyata Hay kongkong menyambut ceritanya dengan tawar .

"Sebetulnya sejak beberapa waktu yang lalu, hal itu sudah akan dilakukannya .

Siau Po terkejut .

"Kongkong, apakah kau sudah tahu rencana Sri Baginda ini?" "Sri Baginda belajar gulat, ini merupakan permainan yang paling digemari anak-anak, tapi dia belajar dengan serius, Apalagi dia juga mempelajari Patkua Yu-ciong ciang, tentu dia mengandung maksud tertentu, Dia juga menunggu sampai kau berhasil mempelajari Cian-yap jiu, baru dia mengajakmu membekuk Go Pay .

Sungguh harus dikagumi kesabarannya itu." Siau Po memalingkan kepalanya dan menatap Hay kongkong dengan perasaan heran .

"Kura-kura tua ini matanya sudah buta, tetapi urusan apa pun tidak dapat mengelabuinya," pikirnya dalam hati Terdengar Hay kongkong bertanya kepada Siau Po .

"Bukankah Sri Baginda telah mengajakmu menemui Hong thayhou?" "Benar!" sahut Siau Po yang semakin heran, "Lagi-lagi dia tahu!" "Apa yang dihadiahkan Hong thayhou kepadamu?" "Aku tidak diberikan hadiah apa-apa .

Hanya dianugerahi pangkat sebagai thay-kam tingkat enam dan Siuceng thay-kam..." Hay kongkong tertawa terbahak-bahak .

"Bagus! Dibandingkan diriku, kau hanya kalah satu tingkat .

Aku memerlukan waktu tiga puluh tahun baru mencapai tingkat ini, sedangkan kau hanya dalam waktu beberapa bulan saja." Siau Po memperhatikan orang tua itu lekat-lekat .

"Besok aku toh akan meninggalkan istana ini, Kau telah mengajarkan aku berbagai iimu, tetapi aku malah membutakan kedua matamu, Dalam hal ini, akulah yang bersalah seharusnya aku mencuri kitab Si Cap Ji cing-keng itu sebagai balas budimu tetapi sayangnya buku itu sedang dibaca oleh ibu suri .

Mana mungkin aku bisa mencurinya, Ada baiknya aku beritahukan saja kepadamu agar kau mencari jalan sendiri!" Membawa pikiran demikian, dia segera berkata kepada Hay kongkong .

"Kongkong, ketika hendak meninggalkan kamar ibu suri, aku melihat suatu benda yang menurutku cukup aneh." "Apa itu?" tanya si thay-kam tua cepat .

"Kitab Si Cap Ji cing-keng yang kau ingin aku mencurinya, kongkong." "Apa?" Hay kongkong terperanjat sikapnya yang tenang sebagaimana biasanya tidak terlihat lagi .

"Apa kata-katamu benar?" Tampangnya penuh semangat .

Dia langsung menghambur ke depan untuk menyambar tangan Siau Po .

Bocah itu terkejut setengah mati, Dia berniat menghindarkan diri, tapi baru kakinya menggeser sedikit, tahu-tahu tangannya sudah tercekal .

"Buat apa aku berbohong?" sahutnya gugup, "Kitab itu berada di samping meja ibu suri .

Aku juga melihat kain pembungkus yang terbuat dari sutera berwarna kuning, Di atasnya terdapat lima huruf dengan sulaman indah, Si Cap Ji cin-keng." Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri .

"Kongkong," kata Siau Po kembali "Kalau kau hendak mencuri kitab itu dari kamar ibu suri, tentunya sulit sekali .

Kalau menurutku, sebaiknya kau berterus-terang saja kepada Sri Baginda, apabila ibu suri telah selesai membacanya, kau ingin meminjamnya sebentar, Atau kau minta saja terang-terangan." "Tidak, tidak bisa!" sahut Hay kongkong cepat, "Jangan kau bicara yang tidak-tidak!" Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri .

Sejenak kemudian baru dia berkata lagi: "Tidak mungkin.. .

tidak mungkin...." Tidak sanggup dia meneruskan kata-katanya, Celakanya pada tangan Siau Po dilepaskan .

Dia duduk kembali, tiba-tiba dia batuk-batuk dengan keras sampai-sampai tubuhnya meringkuk .

Melihat keadaan orang tua itu, timbul rasa iba dalam hati Siau Po .

"Tua bangka ini sungguh aneh," katanya dalam hati .

Malam itu Hay kongkong terus terbatuk-batuk, bahkan dalam keadaan tertidur Siau Po masih bisa mendengarnya .

Besok paginya Siau Po pergi ke Gi si pong untuk melayani Sri Baginda, Dia melihat para siwi yang menjaga di luar sudah diganti dengan orang baru .

Tidak lama kemudian, muncullah Sri Baginda di dalam kamar tulisnya, Kemudian menyusul Kongcin ong Kiat-si dan So Ngo-tu, Mereka berdua memberikan laporan bahwa setelah bekerja sama dengan para pangeran dan menteri lainnya, didapatkan kesalahan Go Pay berjumlah tiga puluh macam .

"Tiga puluh macam?" Kaisar Kong Hi sampai berseru saking terkejutnya, Hal ini benar-benar di luar dugaannya, "Masa begitu banyak?" Kongcin ong segera menjura dan berkata .

"Pada dasarnya dosa Go Pay memang banyak sekali, bukan hanya tiga puluh macam saja, jumlah ini dikumpulkan berdasarkan pertimbangan dan kebijaksanaan Sri Baginda agar dia mendapat keringanan." "Baiklah! Apa saja ketiga puluh macam dosa itu?" tanya Kong Hi .

Kongcin ong mengeluarkan sehelai kertas dari dalam lengan pakaiannya dan membacakannya keras-keras .

"Rupanya kejahatan orang itu demikian banyak Lantas hukuman apa yang pantas diberikan kepadanya?" tanya Kong Hi kembali .

"Seharusnya dia dijatuhi hukuman picis, tetapi sekarang dia mendapat keringanan, yakni hukuman dicopot pangkatnya serta penggal kepala, sedangkan seluruh antekanteknya seperti Pi Lung, Panpu Erl Shan dan Ho shasia sekalian...." Raja merenung sesaat, kemudian dia mengangkat tangannya menahan ucapan menterinya .

"Dosanya Go Pay memang besar sekali tetapi dia adalah seorang menteri besar dan telah banyak berjasa pada kerajaan sebaiknya dia dibebaskan dari hukuman mati .

Hukumannya dipecat serta dipenjarakan saja, tetapi untuk selama-lamanya dia tidak boleh dibebaskan ataupun dikunjungi .

Mengenai kaki tangannya boleh turuti pertimbangan kalian tadi, yakni dihukum mati agar tidak ada lagi yang berani mendengar hasutan orang lain untuk berkhianat." Kong cin ong segera berlutut dan menerima baik titah Sri Baginda, dia memuji kebijaksanaan rajanya itu .

Diam-diam Siau Po yang menyaksikan dari samping menertawakan dalam hati "Luka di punggung Go Pay yang terkena tikaman cukup parah, umurnya juga tidak bakal panjang lagi .

Dihukum mati atau tidak, apa bedanya ?" "Bendera sulam kuning adalah salah satu dari tiga bendera utama, Karena itu meskipun Go Pay berdosa dan patut menerima hukuman, tapi kesalahannya tidak boleh mengaitkan bendera lainnya .

Dalam urusan ini kita harus bertindak adil," kata Kong Hi selanjutnya .

"Baik!" sahut Kiat Si dan yang lainnya .

Siau Po hanya mendengarkan dari samping .

Dia belum paham persoalan mengenai bangsa Boanciu yang terpecah di antara beberapa bendera, Dia hanya mendengar bahwa Go Pay menjadi pemimpin oey-ki (bendera kuning) dan Suke Shasia menjadi pemimpin pek-ki (bendera putih) .

Kedua pemimpin itu tidak akur satu dengan lainnya .

"Sekarang kalian boleh pergi Biar So Ngo-tu tetap di sini .

Masih ada masalah yang ingin kubicarakan dengannya," kata kaisar Kong Hi .

Kiat Si dan yang lainnya mengiakan, dia mengajak rekan-rekannya memberi hormat kepada Sri Baginda kemudian mengundurkan diri .

"Ketika Suke Shasia dibunuh oleh Go Pay, tentunya semua harta benda juga disita bukan?" tanya Kong Hi kepada So Ngo-tu .

"Semua harta benda Suke Shasia berikut tanah dan sawahnya telah disita untuk negara, tetapi saat itu Go Pay juga menggeledah seluruh isi rumah Suke Shasia dan merampas emas intan dan permatanya." "ltu sudah kuduga," kata kaisar Kong Hi .

"Sekarang kau ajak beberapa orangmu ke rumah Go Pay, cari harta bendanya Suke Shasia untuk dikembalikan pada anak cucunya." "Baik, Sri Baginda!" sahut So Ngu-tu .

Dia segera mengundurkan diri karena raja tidak mengatakan apa-apa lagi .

Tapi ketika menteri itu melangkah perlahan menuju pintu, terdengar Kong Hi berkata kembali .

"Masih ada lagi pesan dari Hay Hong thayhou, Seperti kalian ketahui, ibu suri senang membaca kitab Buddha, Konon di tangan kedua pemimpin pek-ki dan oey-ki masingmasing menyimpan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng...." Siau Po terkesiap mendengar kata-kata kaisar Kong Hi .

Kitab itulah yang dicari Hay kongkong, Dia segera memasang telinganya mendengarkan Kaisar Kong Hi melanjutkan kata-katanya .

"Kedua kitab itu dibungkus dengan kain sutera, Kitab bendera putih dibungkus dengan sutera putih .

sedangkan kitab bendara kuning dibungkus dengan kain sutera berwarna kuning, Di rumah Go Pay, sekalian kau cari kitab itu dan bawa kemari apabila kau menemukannya." So Ngo-tu menerima baik titah itu .

Dia tahu raja masih muda sekali, tetapi sangat berbakti kepada Hong thayhou, Apa pun kehendak ibu suri selalu diturutinya .

"Siau Kui cu!" kaisar Kong Hi menoleh kepada Siau Po .

"Kau ikutlah dengan So Ngotu, kalau kitab itu berhasil diketemukan, bawalah kemari." Siau Po senang sekali mendapat tugas itu .

Hanya diam-diam dia berpikir dalam hati .

"Kitab itu aneh sekali, Jadi jumlahnya ada tiga" Biar bagaimana aku harus memeriksanya nanti, lagipula sudah lama aku berdiam di dalam istana dan tidak pernah pergi ke mana-mana .

Post a Comment