"Menurut penuturan ayah, keluarga Kam dari pendekar Suling Emas telah habis, berhenti hanya sampai kepada pendekar Kam Liong itu saja. Pendekar Kam Liong tewas sebagai seorang menteri yang hidup menyendiri, tidak mempunyai keluarga, tidak mempunyai isteri dan anak."
Sai-cu Kai-ong kembali melirik kepada Siauw Hong, lalu menarik napas panjang dan berkata,
"Memang demikianlah yang diketahui orang. Dan tentu saja cerita Suma-taihiap Majikan Pulau Es itu tidak salah, karena memang hal ini merupakan rahasia pribadi dari Menteri Kam Liong. Beliau kematian isterinya dan tidak mempunyai anak. Sebagai seorang yang berbakti kepada leluhurnya, tentu saja hal itu amat menyusahkan hatinya, karena dia merupakan putera tunggal dari pendekar Suling Emas. Untuk menikah lagi, hal itu berlawanan dengan hati nuraninya, maka untuk menyambung keturunan nenek moyangnya, Menteri Kam Liong diam-diam memiliki seorang wanita baik-baik dari antara para pelayannya. Dari wanita inilah dia memperoleh seorang putera...."
"Ahhhhh....!"
Kian Bu dan Kian Lee berseru kaget dan heran.
"Memang tidak ada yang tahu, bahkan sungguh amat mengharukan sekali, mendiang Menteri Kam Liong sendiri tidak mengetahuinya bahwa beliau mempunyai atau meninggalkan seorang keturunan, seorang putera!"
Kata Sai-cu Kai-ong.
"Eh, bagaimana pula itu?"
Kian Lee bertanya kaget.
"Wanita yang diambilnya sebagai selir untuk menyambung keturunan itu baru diambilnya beberapa bulan lamanya sebelum beliau tewas sehingga beliau sendiri tidak tahu bahwa selir itu telah mengandung ketika beliau tewas. Tidak ada yang tahu akan hal itu kecuali pelayannya yang setia, yaitu Gu Toan.
Karena khawatir kalau-kalau selir itu dan keturunan Menteri Kam Liong akan dibunuh karena dianggap sebagai keturunan pemberontak, maka selir itu lalu disingkirkan ke tempat aman oleh Gu Toan. Nah, keturunan dari Gu Toan inilah yang selalu mengikuti perkembangan keturunan tunggal itu dan sampai sekarang menjadi tugas Sin-siauw Seng-jin untuk menyerahkan semua pusaka dan ilmu dari Suling Emas kepada keturunan itu. Karena, hanya apabila terdapat keturunan langsung yang berbakat, barulah ilmu-ilmu itu akan diserahkan kepada yang berhak, yaitu keturunan langsung dari Pendekar Suling Emas. Dan putera selir itulah yang melanjutkan keturunan Suling Emas, karena putera lain dari keluarga Kam, yaitu yang bernama Kam Han Ki, adik sepupu Menteri Kam Liong, telah menjauhkan diri dari keduniaan dan tidak pernah mempunyai keturunan."
"Koai-lojin...."
Kian Lee dan Kian Bu berbisik. Mereka sudah mendengar cerita ayah mereka bahwa keluarga Suling Emas yang bernama Kam Han Ki dan murid terutama dari Bu Kek Siansu, hidup menyendiri dan setelah tua menjadi Koai-lojin yang sakti seperti dewa.
"Ah, kalau begitu ada keturunannya sekarang? Siapa dia....?"
Kian Lee bertanya penuh keheranan dan Kian Bu kembali memandang gambar dari laki-laki ganteng berpakaian sastrawan membawa kipas dan suling emas itu.
"Bukan menjadi hakku untuk membuka rahasia orang lain. Hanya Sin-siauw Sengjin seorang yang berhak,"
Jawab Sai-cu Kai-ong. Kian Bu bengong memandang gambar itu, terutama memandang ke arah kipas dan suling emas yang berada pada pria di dalam gambar itu. Dia merasa bingung sekali. Manakah yang aseli sebenarnya? Milik orang tuanya ataukah milik Sinsiauw Seng-jin? Ibunya, Puteri Nirahai, memiliki sebatang suling emas yang juga dahulu katanya diterima dari kakek Gu Toan, dan juga ibu Kian Lee, bekas ketua Pulau Neraka, Lulu, menerima pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas dari kakek Gu Toan. Akan tetapi sekarang muncul keturunan kakek Gu Toan yang menyimpan semua pusaka itu!
"Kian Bu, bagaimana engkau sampai bertanding dengan Sin-siau Seng-jin?"
Sai-cu Kai-ong bertanya, akan tetapi yang ditanya masih bengong memandangi gambar itu. Ketika Sai-cu Kai-ong hendak mendesak, tiba-tiba seorang muridnya tergopoh-gopoh masuk dan melaporkan bahwa di luar lembah terjadi pertempuran antara orang-orang yang tidak dikenal. Mendengar ini, Sai-cu Kai-ong berlari keluar diikuti oleh Suma Kian Lee, Ceng Ceng, Hwee Li, Siauw Hong, bekas Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya, dan bergegas lari ke arah pertempuran itu. Dalam ketegangan itu, mereka sampai tidak tahu bahwa Kian Bu masih tetap terlongong memandangi gambar Kam Liong. Ketika mereka tiba di lembah bawah puncak, benar saja di sana terjadi pertempuran dahsyat sekali. Yang bertempur adalah seorang kakek raksasa yang menyeramkan melawan seorang kakek tua renta yang bersenjata sebatang suling emas! Hwee Li,
Ceng Ceng, dan Jenderal Kao segera mengenal kakek raksasa itu yang bukan lain adalah Hek-tiauw Lomo, ketua Pulau Neraka, ayah dari Hwee Li! Sedangkan kakek tua yang bersenjata suling emas itu adalah Sin-siauw Sengjin. Dua orang ini bertempur dengan seru dan hebatnya dan terdengar suara berdengung dari suling ditangan Sin-siauw Seng-jin. Akan tetapi sekali ini dia berhadapan dengan seorang lawan tangguh sehingga keduanya saling serang dengan dahsyatnya. Sedangkan tak jauh dari situ, beberapa orang anak buah Hek-tiauw Lomo yang berwajah serem-serem sedang bertanding melawan pengikut-pengikut Sin-siauw Seng-jin yang jumlahnya lima orang. Melihat ayahnya bertanding dengan pewaris Suling Emas itu, Hwee Li segera meloncat ke depan dan berseru,
"Ayah....! Aku berada di sini!"
Sai-cu Kai-ong terkejut ketika mendengar nona berpakaian hitam itu menyebut ayah kepada lawan Sin-siauw Seng-jin, maka dia pun cepat maju dan berkata kepada sahabatnya itu,
"Sengjin, hentikan pertempuran di antara orang sendiri!"
Mendengar seruan Sai-cu Kai-ong ini, Sin-siauw Seng-jin terkejut dan meloncat mundur, mengelebatkan sulingnya dan berteriak menyuruh Gin-siauw Lo-jin dan empat orang murid lain untuk mundur dan menghentikan pertempuran pula. Sepuluh orang anak buah Hek-tiauw Lomo yang serem-serem itu pun mundur dan berkelompok. Hek-tiauw Lo-mo sendiri ketika mendengar suara Hwee Li, sudah menarik kembali golok gergajinya, menyimpannya di punggung. Kakek ini memandang kepada Hwee Li dengan mata terbelalak lalu tertawa bergelak. Semua orang merasa ngeri ketika melihat kakek ini tertawa karena nampak gigi seperti taring di mulut kakek itu! Sungguh seorang kakek yang mengerikan, seperti iblis saja. Tubuhnya tinggi besar, kelihatan kokoh kuat seperti batu karang. Di punggungnya nampak golok gergaji dan tombak tulang ikan, sedangkan di pinggangnya tergambar sebatang pedang.
"Ha-ha-ha! Kiranya benar engkau di sini, anakku! Melihat garuda terbang di atas sini, aku sudah menduga bahwa engkau tentu berada di sini. Ha-ha-ha, dan ternyata engkau bersama orang-orang yang berkepandaian tinggi yang berkumpul di lembah ini. Hebat.... hebat...."
"Ayah, aku bersama Subo di sini...."
"Hemmm, aku tahu."
Hek-tiauw Lo-mo lalu menjura dengan kaku ke arah Ceng Ceng sambil berkata,
"Terima kasih atas bimbinganmu kepada puteriku, Toanio. Akan tetapi, hari ini terpaksa aku hendak mengajak puteriku pergi."
"Ah, tidak, Ayah! Aku masih ingin bersama Subo....!"
Dan gadis berpakaian hitam itu menoleh, bukan kepada subonya, melainkan kepada Kian Lee!
"Hushhh! Lima tahun lamanya aku membiarkan engkau pergi meninggalkan aku menahan hati yang rindu. Anakku, setelah kini bertemu, apakah engkau masih tidak kasihan kepada ayahmu? Aku rindu padamu, ingin mengajakmu berkumpul. Apakah engkau hendak menjadi seorang anak yang sama sekali tidak berbakti terhadap ayahmu? Aku hanya memiliki engkau seorang, Hwee Li anakku...."
Aneh sekali, kakek raksasa yang segala-galanya kelihatan kasar dan keras itu, kini suaranya terdengar menggetar seperti mengandung isak!
"Hwee Li, engkau tahu bahwa Subomu dan Suhumu sedang sibuk menghadapi banyak urusan. Sekarang, Ayahmu telah datang dan sebagai seorang anak yang berbakti engkau tidak boleh menyakitkan hati Ayahmu. Sudah menjadi kewajibanmu, untuk menghibur hati Ayahmu. Kelak masih banyak waktu untuk kita saling bertemu lagi."
Mulut yang manis itu cemberut, lalu tiba-tiba Hwee Li menghampiri Kian Lee dan bertanya,
"Bagaimana pendapatmu, Kian Lee? Apakah benar bahwa aku harus turut dengan Ayah?"
Kian Lee terkejut. Tak disangkanya bahwa dia akan ditanya oleh Hwee Li tentang hal itu. Dan tentu saja semua orang juga merasa heran, hanya Ceng Ceng yang mengerutkan alisnya karena guru yang sudah bertahun-tahun mengenal watak muridnya itu merasakan sesuatu yang membuat dia merasa tidak enak. Dia tahu bahwa muridnya itu jatuh cinta kepada Kian Lee!
"Eh.... ini.... ini.... memang sebaiknya begitu, Hwee Li. Seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya, dan kurasa ada baiknya kalau engkau ikut bersama ayahmu karena aku yakin bahwa dengan adanya engkau di sampingnya, engkau akan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak baik."
Dengan ucapan ini Kian Lee hendak mengatakan bahwa dara itu dapat mencegah ayahnya melakukan kejahatan-kejahatan karena dia sudah mengenal siapa adanya Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka yang ganas dan keji seperti iblis itu. Mulut itu makin cemberut.
"Tapi.... kita baru saja saling berjumpa.... dan kau baru saja sembuh. Aku masih belum puas bercakap-cakap denganmu, Kian Lee."
"Hwee Li, jangan banyak membantah. Ayahmu sudah mengajak, aku sebagai gurumu telah menyetujui, dan.... Paman Kian Lee telah menganjurkan pula, mengapa engkau masih banyak membantah?"
Hwee Li membanting-banting kaki kanannya, lalu mulutnya mengeluarkan lengkingan panjang dan tak lama kemudian terdengar lengking panjang menjawab. Itulah garudanya yang segera melayang turun. Hwee Li sekali lagi membanting kaki kanannya dan menghampiri ayahnya.
"Ha-ha-ha! Apakah kau marah, anakku? Apakah gurumu terlalu galak kepadamu? Apakah ada orang yang membuatmu tidak senang? Katakan, siapa dia dan aku akan mengeluarkan isi perutnya, ha-ha-ha!"
Semua orang bergidik mendengan ucapan ini, apalagi mata yang lebar dan liar itu menyapu semua orang yang berada di situ tanpa terkecuali, seolah-olah dia sama sekali tidak memandang mata kepada mereka.
"Sudahlah, Ayah. Mari kita pergi. Dia menoleh ke arah Kian Lee dan berkata lagi,
"Benarkah aku harus pergi?"
Kian Lee hanya mengangguk karena dia merasa sungkan dan malu untuk menjawab.
"Subo, sampai jumpa. Sampaikan hormatku kepada Suhu,"
Kata Hwee Li kepada Ceng Ceng. Wanita itu mengangguk dan hatinya merasa tertusuk ketika dia melihat Hwee Li meloncat ke atas punggung garuda sambil menangis! Tahulah dia bahwa sebenarnya hati dara itu berat sekali harus pergi bersama ayahnya.
"Muridku yang baik, hati-hatilah menjaga diri dan kelak kita bertemu kembali!"
Katanya melambaikan tangan ketika garuda itu mulai menggerakkan sayapnya dan terbang mening-galkan tempat itu.