Dia memanggil dengan suara bisikan panjang. Mulut itu tersenyum dan dua buah mata yang bening itu menjadi basah! Ibunya menangis? Belum pernah dia melihat mata ibunya menjadi basah. Ibunya bukan orang cengeng, melainkan seorang wanita perkasa yang belum pernah dilihatnya menangis! Kian Bu membuka lebar matanya dan kini dia dapat melihat lebih terang. Kiranya bukan ibunya yang duduk di tepi pembaringannya, melainkan seorang nikouw yang berkerudung kain kuning. Seorang nikouw yang pernah dijumpainya di lereng bukit, nikouw pemetik daun obat yang memiliki ginkang amat luar biasa itu, yang seolah-olah pandai terbang!
"Suthai...."
Kian Bu memanggil lirih.
"Omitohud.... terima kasih kepada kemurahan Sang Buddha....! Engkau sudah siuman, Suma-sicu? Aihhh, betapa khawatir hati pinni (aku) melihat engkau menggele-tak begitu lama seperti.... seperti.... sudah tak bernyawa lagi...."
Nikouw itu menghapus dua titik air mata dari bawah matanya dengan ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar. Ketika Kian Bu hendak bangkit duduk dia mengeluh karena tubuhnya yang separuh tidak dapat digerakkan, nikouw itu lalu cepat mencegah dengan menggerakkan tangan dan memegang pundaknya, merapatkan duduknya.
"Jangan bergerak dulu.... lukamu amat parah dan hebat...."
"Ouhhhhh....!"
Kian Bu mengeluh lagi. Kini pandang matanya sudah terang dan pulih kembali dan dia teringat akan semuanya.
"Sudah berapa lama saya berada di sini, Suthai?"
"Sudah tiga hari tiga malam engkau rebah tak bergerak, seperti mati. Syukur pagi hari ini kau siuman, itu pertanda baik sekali."
"Jadi.... Suthai yang menolong saya....?"
Nikouw itu menaruh telunjuk ke depan mulut.
"Ssst.... jangan banyak bicara dulu, anakku. Kau harus beristirahat dan memulihkan kembali kesehatanmu. Jangan khawatir, selama berpuluh tahun ini tidak percuma pinni mempelajari ilmu pengobatan. Pukulan keji Sin-siauw Sengjin tidak akan membunuhmu. Pinni yang membawamu ke sini, anakku, dan sekarang beristirahatlah."
Nikouw itu cepat mengambil sebuah mangkok dari meja dan membantu Kian Bu untuk bangkit duduk dengan merangkul pundak pemuda itu dan memberinya minum tajin dari mangkok itu sampai habis.
"Nah, kau tidurlah sekarang, aku akan mengumpulkan dan memasak obat untukmu,"
Kata nikouw itu setelah merebahkan kembali Kian Bu dan menyelimutinya. Kian Bu memaksa senyum dan memejamkan matanya, sebentar kemudian dia pun sudah tidur pulas.
Beberapa hari kemudian, Kian Bu sudah sadar benar, namun tubuhnya masih setengah lumpuh biarpun dia sudah dapat bangkit duduk namun dia belum dapat turun dan belum dapat menggerakkan kaki dan tangan kirinya. Ketika pagi hari itu dia melihat nikouw itu datang dan seperti biasa melayaninya untuk makan bubur, buang air dan sebagainya, Kian Bu tak dapat menahan rasa keharuan dan terima kasihnya. Ingin dia menjatuhkan diri berlutut di depan nikouw itu, namun kaki kirinya tidak mengijinkannya. Melihat setiap hari nikouw itu merawatnya, membuangkan air kencing dan kotorannya, membersihkan tubuhnya, menyuapkan makanan, memberi obat, sungguh tiada ubahnya seperti seorang ibu sendiri! Dan nikouw itu selalu me-nyebutnya "anakku"!
"Nah, sekarang bahaya telah lewat!"
Pada pagi hari itu nikouw tua itu berkata dengan wajah berseri.
"Engkau sudah tidak terancam maut lagi dan tinggal memulihkan tenaga."
"Akan tetapi kaki tangan kiri saya belum dapat bergerak...."
"Jangan khawatir. Memang pukulan-pukulan itu hebat sekali, dapat menghancurkan seluruh rangkaian urat-uratmu. Untung Swat-im Sin-kang di tubuhmu melindungimu, anakku. Pinni yakin engkau akan sembuh kembali sama sekali."
"Betapa, besar budi Suthai kepada saya...."
Kian Bu berkata dan matanya terasa panas karena dia merasa terharu sekali. Nikouw tua itu kini duduk di tepi pembaringan dan memegang lengannya.
"Sekarang engkau sudah tidak terancam bahaya. Boleh kita bicara. Suma Kian Bu, katakanlah sejujurnya, siapa nama ayahmu?"
"Ayah? Ayah bernama Suma Han...."
"Han Han....ah, sudah kuduga.... wajahmu, sikapmu.... dan Swat-im Sin-ciang itu....! Dugaanku tidak salah.... ah, Han Han...."
Dan nikouw itu menghapus air matanya, mulutnya tersenyum ketika dia memandang pemuda itu melalui air matanya.
"Engkau puteranya! Hemmm, sudah pinni duga dan engkau anakku, Suma Kian Bu, engkau anakku...."
"Apa maksudnya ini, Suthai?"
Kian Bu bertanya penuh keheranan. Dia adalah anak Suma Han dan Puteri Nirahai, mengapa nikouw ini mengaku dia sebagai anaknya? Nikouw itu kembali menghapus air matanya dan melihat betapa mulutnya tersenyum di antara tangisnya, mengertilah Kian Bu bahwa tangis wanita itu bukan karena berduka, melainkan karena terharu dan gembira!
"Jangan salah mengerti anakku. Tentu saja engkau anak dari Suma Han dan .... eh, siapa ibumu?"
"Ibu adalah Puteri Nirahai."
"Hemmm, pantas.... pantas....! Kuulangi lagi, jangan kau salah mengerti. Tentu saja engkau anak ayah bundamu itu, dan aku.... aku hanyalah bekas sahabat baik ayahmu, bahkan dahulu.... dahulu sekali puluhan.... tahun yang lalu, ketika namaku masih Kim Cu, antara ayahmu dan aku masih ada pertalian saudara seperguruan. Karena itu aku mengenal pukulan Swat-im Sin-ciang yang kau gunakan tadi. Dan dahulu.... dahulu.... sekali.... aku dan ayahmu senasib sependeritaan, dan aku.... aku mencintanya. Namun nasib memisahkan kami, dan kini nasib pula yang mempertemukan aku dengan engkau, puteranya! Karena engkau adalah puteranya, maka engkau seakan-akan anakku sendiri, Kian Bu."
Kian Bu mendengarkan penuh keharuan. Nikouw ini di waktu mudanya tentu cantik jelita. Dan mencinta ayahnya! Akan tetapi mereka dipisahkan oleh nasib!
"Bagaimana keadaan ayahmu, Kian Bu?"
Tanya nikouw itu sambil mengusap air matanya untuk ke sekian kalinya.
"Baik, Suthai. Baik sekali. Ayah dan ibu dan semua keluarga berada di Pulau Es, dan saya.... telah beberapa lama meninggalkan Pulau Es.
"Jadi ayahmu hidup bahagia?"
Kian Bu mengangguk.
"Terima kasih kepada Sang Buddha yang maha kasih!"
Nikouw itu berseru.
"Betapa bahagianya mendengarkan dia dalam keadaan sehat dan bahagia!"
Kian Bu memandang wanilta itu dan ada sesuatu yang membuatnya terharu sekali, dan yang memaksanya bertanya,
"Di waktu muda dahulu, Suthai.... mencinta ayahku?"
Nikouw itu memandangnya, mengangguk dan menarik napas panjang.
"Sampai detik ini tak pernah aku berhenti mencintanya."
"Dan ayah.... apakah ayah juga membalas cinta kasih Suthai?"
Nikouw itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Dia suka dan kasihan kepadaku, akan tetapi cinta? Mungkin sekali, ya aku yakin bahwa dia tidak mencintaku seperti aku mencintanya...."
"Dan Suthai tidak menderita sengsara? Tidak berduka, bahkan bergembira mendengar berita tentang ayah?"
Kian Bu makin terheran.
"Puluhan tahun aku menderi-ta, akan tetapi sudah lama pinni sadar bahwa semua penderitaan itu bukan akibat cinta, melainkan akibat dari iba diri. Seorang yang mencinta, barulah benar-benar di katakan bahwa cintanya itu murni, apabila dia merasa bergembira kalau melihat orang yang dicintanya itu bahagia, baik orang itu menjadi jodohnya ataupun tidak. Pinni gembira mendengar dia bahagia, Han Han seorang yang amat baik...."
Dia berhenti sebentar.
"Entah berapa puluh tahun setiap hari pinni bersembahyang mohon belas kasihan dari Kwan Im Pouwsat agar kehidupan Han Han diberkahi dan dia dapat hidup berbahagia. Ternyata doa pinni terkabul, dia hidup berbahagia dan mempunyai putera yang seperti engkau. Tentu saja pinni merasa gembira sekali...."
"Ah, betapa mulia hatimu, Suthai. Cintamu terhadap ayah demikian suci murni....dan sekarang Suthai telah menyelamatkan nyawa saya....ah, bagaimana saya akan dapat membalas semua budi Suthai ini, budi Suthai yang telah dilimpahkan dalam cinta kasih yang demikian suci murni terhadap ayah dan dalam pertolongan kepada saya?"
"Budi? Membalas budi? Omitohud.... manusia selalu mengikat dan melibatkan diri dalam budi dan dendam, itulah biang segala pertentangan! Akan tetapi, karena hal itu telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan manusia dan telah dianggap sebagai tingkat kemanusiaan, maka agar hatimu jangan merasa penasaran dan jangan merasa berhutang budi, baiklah kau balas dengan cara.... mau kuanggap sebagai anakku. Ketahuilah Kian Bu, ketika engkau baru siuman tempo hari dan menyebut ibu kepadaku, aku seperti lupa diri, lupa bahwa aku adalah seorang nikouw, dan aku merasa seolah-olah engkau adalah anakku sendiri."
Kian Bu menggigit bibirnya. Bukan main wanita tua ini! Demikian halus perasaannya, demikian mulia hatinya dan siapakah yang tidak akan merasa bangga kalau mempunyai seorang ibu seperti wanita tua ini? Tanpa ragu-ragu dia lalu menggerakkan tangan kanannya menyentuh dada sambil berkata,
"Ibu...."
Kim Sim Nikouw merangkulnya dan menangis! Sampai lama nikouw itu menangis sambil memeluk Kian Bu, kemudian dia dapat menekan perasaannya, duduk dan dengan muka basah air mata namun bibirnya tersenyum dan sinar matanya bercahaya, dia mengelus dahi pemuda itu.
"Terima kasih, anakku, terima kasih. Percayalah, aku akan menyembuhkanmu, engkau akan dapat bergerak lagi seperti sediakala."
"Terima kasih, Ibu. Akan tetapi sungguh aneh, aku belum mengetahui nama Ibu."
Kian Bu tertawa, Kim Sim Nikouw juga tertawa dan suasana menjadi gembira.
"Dahulu aku bernama Kim Cu, anakku, akan tetapi sekarang aku adalah Kim Sim Nikouw, ketua dari Kwan-im-bio ini dengan beberapa orang nikouw pembantu yang menjadi murid-muridku dalam hal keagamaan dan melayani orang-orang yang datang bersembahyang ke kuil ini"
"Aku ingin sekali cepat sembuh, Ibu."
"Jangan khawatir, akan tetapi kita harus bersabar, anakku. Kiranya tidak percuma aku mempelajari pengobatan selama puluhan tahun ini."
"Aku harus cepat sembuh agar dapat mencari Sin-siauw Sengjin"
Kata Kian Bu sambil mengepal tinju kanannya. Kim Sim Nikouw mengerutkan alisnya dan memandang wajah anak angkatnya itu.
"Kau mendendam karena kekalahan itu dan hendak membalasnya?"
Kian Bu juga memandang dan ketika bertemu pandang mata yang sinarnya lembut dan penuh teguran itu, dia cepat menggeleng kepalanya,
"Tidak, Ibu. Bukan karena kekalahan itu, melainkan karena aku harus merampas kembali kitab-kitab peninggalan pendekar sakti Suling Emas yang telah dicurinya."
Kim Sim Nikouw membelalakkan matanya.
"Apa maksudmu?"
"Jelas bahwa Sin-siauw Sengjin itu seorang penipu atau seorang pencuri. Dia dapat memainkan ilmu-ilmu dari Suling Emas, padahal sepanjang pengetahuanku, ilmu-ilmu itu terjatuh ke tangan ibu tiriku yang berada di Pulau Es. Tentu dia telah mencurinya, atau mungkin juga memalsukan ilmu-ilmu itu. Maka, setelah sembuh aku harus menghadapinya lagi dan membongkar rahasia ini."