Kadang-kadang merenung ke dalam kegelapan, kadang-kadang pula dia berdongak memandang langit yang terhias bintang-bintang muda yang berkedap-kedip lemah di langit yang masih muda warnanya. Pikirannya kosong, melayang-layang tanpa arah tujuan tertentu, suasana menjadi lengang dan kesepian menyelimutinya, menimbulkan ketrenyuhan hati yang makin merana. Dia tidak tahu di mana dia berada. Sebenarnya pada saat itu dia telah berada di Pegunungan Tai-hang-san, di sebuah di antara puncak bukit-bukit di sekitar pegunungan itu. Tiba-tiba terdengar suara suling melengking, memecah kesunyian malam, menyelinap di antara suara belalang dan jengkerik serta binatang-binatang kecil yang biasa meramaikan suasana keheningan malam. Kian Bu tertarik oleh suara suling itu. Sungguh nyaring sekali suara suling itu, peniupnya tentu seorang yang pandai.
Seperti ada daya tarik luar biasa pada suara suling itu. Kian Bu lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah suara itu. Sementara itu, bintang-bintang di langit mulai nampak lebih terang karena langit makin tua warnanya, dan bintang-bintang itu kelihatan seperti permata-permata indah tergantung pada beludru hitam yang bersih. Tidak begitu gelap keadaan di tempat itu sehingga Kian Bu dapat melihat seorang kakek yang duduk bersandarkan batang pohon dan meniup suling. Suara suling itu terhenti seketika dan kakek itu meloncat, di tangan kanannya nampak sebatang tongkat dan sebatang suling yeng putih berkilau telah diselipkan di ikat pinggangnya. Kakek itu tinggi kurus dan usianya tentu sudah enam puluh lima tahun lebih. Sikapnya agung dan gagah ketika dia berdiri dengan kaki terpentang lebar, tongkatnya melintang dan matanya memandang Kian Bu penuh perhatian dan kecurigaan.
"Siapa kau? Mau apa naik ke bukit ini yang berada di bawah kekuasaan kami? Hayo cepat kau pergi dari sini sekarang juga!"
Bentak kakek itu. Kian Bu mengerutkan alisnya.
"Apakah engkau ini yang dinamakan orang di bawah sana sebagai kakek dewa?"
Tanyanya. Kakek itu mendengus dan menggerakkan tongkatnya yang panjahg.
"Kalau benar mau apa?"
"Hemmm, kalau benar begitu, namamu saja kakek dewa, akan tetapi sikapnya lebih menyerupai kakek iblis."
"Bocah keparat! Berani engkau memaki Gin-siauw Lo-jin (Kakek Suling Perak)? Hayo pergi, aku masih sabar dan dapat mengampunimu. Aku tidak mau ribut dengan seorang bocah masih ingusan."
Kian Bu yang memang sedang murung itu, menjadi marah.
"Kakek sombong, kalau aku tidak dapat mengalahkan engkau lebih baik aku mati saja!"
Ucapan yang sebenarnya keluar dari hati yang kesal itu tentu saja membuat Gin-siauw Lo-jin menjadi marah bukan main.
"Bocah tak tahu diri! Pergi!"
Bentaknya, dan tangan kirinya menampar. Dia mengira bahwa Kian Bu adalah seorang pemuda ugal-ugalan dari bawah gunung, maka dia bermaksud untuk menampar pundaknya agar pemuda itu takut dan lari. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat pemuda itu tidak mengelak atau menangkis.
"Plakkk!"
Tubuh kakek itu terhuyung dah hampir roboh! Maklumlah kakek itu bahwa dia berhadapan dengan seorang pandai yang agaknya memang datang untuk mengacau, maka sambil berseru keras dia sudah menggerakkan tongkat panjangnya menyerang.
"Wuuuuuttttt....! Wirrrrr...."
Kian Bu juga kaget. Bukan main lihainya tongkat itu, gerakannya cepat dan mengandung angin pukulan yang dahsyat. Ternyata bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang benar-benar amat lihai, maka dia pun tidak mau mengalah begitu saja. Cepat dia mengelak dan balas menyerang. Terjadilah perkelahian yang seru dan kakek itu berkali-kali mengeluarkan seruan kaget ketika melihat betapa tongkatnya membalik dan telapak tangannya panas ketika bertemu dengan lengan pemuda itu.
"Keparat!"
Bentaknya dan dengan sepenuh tenaganya karena penasaran, dia mengarahkan hantaman tongkatnya pada kepala Kian Bu. Sekali ini dia menyerang untuk membunuh! Kian Bu menanti sampai tongkat itu menyambar dekat, lalu dia menggerakkan kedua lengannya memapaki dari kanan kiri dengan gerakan menggunting.
"Krekkk-krekkkkk!"
Tongkat panjang itu patah-patah menjadi tiga potong dan bagian tengahnya terlempar jauh.
"Ehhhhh....!"
Kakek yang mengaku berjuluk Gin-siauw Lo-jin itu berseru keras saking kagetnya dan marahnya. Dia adalah murid pertama dari Sin-siauw Seng-jin (Kakek Dewa Seruling Sakti) yang menjadi ahli waris dari pendekar sakti Suling Emas, dan tongkatnya itu adalah sebuah benda pusaka yang selama puluhan tahun berada di dalam tangannya dan belum pernah terkalahkan.
Akan tetapi kini patah menjadi tiga bertemu dengan lengan pemuda ini! Tentu saja dia menjadi penasaran, malu dan hal ini membuat ia marah bukan main. Kemarahan sudah pasti timbul karena penonjolan kepentingan pribadi tersinggung, dan penonjolan kepentingan pribadi selalu mengejar kesenangan baik lahir batin. Satu di antara kesenangan batin adalah bayangan betapa pandainya diri sendiri. Membayangkan bahwa diri sendiri pandai, gagah perkas, berkuasa dan sebagainya adalah menyenangkan dan kalau bayangan ini dirusak oleh kenyataan, maka akan menjadi marahlah batin. Demikian pula halnya kakek Gin-siauw Lo-jin itu. Selama ini dia merasa dirinya amat hebat, tongkatnya amat hebat, akan tetapi ke-nyataan bahwa tongkatnya patah-patah bertemu dengan lengan pemuda itu membuatnya marah bukan main.
"Bocah setan, kau datang mengantar nyawa!"
Serunya dan nampak sinar putih berkelebat ketika dia mencabut suling perak dari ikat pinggangnya.
Ketika dia dan Suma Kian Lee, kakaknya, meninggalkan Pulau Es untuk pergi ke kota raja mencari encinya, yaitu Puteri Milana, oleh ayah ibu mereka di Pulau Es, mereka dilarang membawa senjata. Dan memang dua orang pemuda Pulau Es itu tidak lagi membutuhkan senjata. Seorang yang sudah memiliki ilmu kepandaian setingkat mereka memang sebenarnya tidak memerlukan lagi senjata. Selain kedua lengan dan kedua kaki mereka merupakan senjata yang ampuh, bahkan setiap buah jari tangan mereka merupakan senjata ampuh, juga setiap benda yang mereka temukan dapat saja mereka pergunakan sebagai senjata. Kini, melihat kakek itu mencabut suling perak yang tadi ditiupnya, Kian Bu bersikap waspada. Dia adalah seorang yang sedang tenggelam ke dalam kekecewaan dan kedukaan, tentu saja melihat orang yang dianggapnya keterlaluan itu dia menjadi marah.
"Sing-sing-singgggg....!"
Sinar perak berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar dahsyat, disertai bunyi berdesingan yang nyaring.
"Bagus!"
Kian Bu berseru kagum karena memang hebat gerakan suling itu. Cepat dia mengelak ke sana-sini dan kemudian terkejutlah dia ketika dia melihat cara suling itu digerakkan. Dia mengenal gerakan itu. Cepat dia menghindarkan diri dan karena penasaran dia tidak balas menyerang melainkan mengelak ke sana-sini untuk mempelajari gerakan lawan lebih lanjut.
Tidak salah lagi, itulah gerakan dari jurus-jurus Pat-sian Kiam-hoat! Dan ilmu ini adalah sebuah di antara ilmu-ilmu keistimewaan kakaknya, Suma Kian Lee, yang mewarisinya dari ibunya, yaitu Lulu yang pernah menjadi ketua Pulau Neraka, bahkan yang mewarisi kitab-kitab ilmu silat peninggalan pendekar sakti Suling Emas! Dia sendiri mengenal dan dapat memainkan Ilmu Pat-sian Kiam-hoat karena selain dia menerima petunjuk dari ibu tirinya itu, juga ibunya sendiri, Puteri Nirahai adalah seorang wanita yang serba bisa dan telah mempelajari semua Ilmu, termasuk ilmu dari Suling Emas ini! Setelah kakek itu menyerangnya sampai sepuluh jurus dan dia yakin bahwa ilmu yang dimainkan itu adalah Pat-sian Kiam-hoat, dia meloncat ke belakang sambil berseru,
"Bukankah yang kau main-kan itu Pat-sian Kiam-hoat?"
Kakek itu tertegun dan memandang kepadanya dengan heran, kemudian tersenyum mengejek karena mengira bahwa pemuda yang lihai itu merasa takut.
"Hemmm, kau sudah mengenal ilmu silatku yang hebat? Bagus, kalau begitu lekas kau berlutut minta ampun dan mengenalkan dirimu agar engkau tidak akan menjadi setan penasaran tanpa na-ma, tewas di ujung suling mautku,"
Kata kakek itu yang merasa mendapatkan kembali harga dirinya.
"Hemmm, maling hina! Dari mana kau mencuri Ilmu Pat-sian Kiam-hoat?"
Kian Bu membentak marah. Kakek itu terkejut dan tentu saja dia menjadi marah sekali. Dikiranya pemuda itu menjadi gentar mengenai ilmunya, tidak tahu malah menghinanya dan mengatakannya maling! Terngiang bunyi di dalam telinganya, merah pandang matanya karena darahnya sudah naik ke kepala saking marahnya.
"Bocah lancang bermulut busuk, mampuslah!"
Bentaknya dan dia sudah menggerakkan lagi suling peraknya, kini dengan gerakan yang lebih dahsyat lagi sampai suling itu mengeluarkan suara melengking nyaring seperti ditiup mulut! Kian Bu cepat mengelak akan tetapi kini dia mengelak lalu membalas serangan lawan dengan pukulan Swat-im Sin-ciang.
"Wusssss...."
Kakek itu pun mengelak karena kaget sekali betapa hawa yang menyambarnya membawa rasa dingin yang menyusup tulang, lalu sulingnya kembali menghujankan serangan. Pertandingan itu cukup hebat karena memang suling kakek itu amat lihai. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia ber-temu dengan pemuda Pulau Es, putera Pendekar Super Sakti yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi sekali, maka lewat tiga puluh jurus lebih, hawa sakti dari Hwi-yang Sin-ciang yang panas itu menyambar dadanya dan Gin-siauw Lo-jin berteriak keras dan roboh terguling dalam keadaan pingsan dan dengan suling masih tergenggam tangan.
Kian Bu memandang tubuh yang rebah pingsan itu, diam-diam merasa heran bagaimana kakek ini dapat menguasai ilmu simpanan dari ibu tirinya yang mewarisi ilmu-ilmu dari Suling Emas, kemudian dia menghapus peluhnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Dia sudah tidak mempedulikan lagi kakek itu karena sudah mulai tenggelam lagi dalam kedukaannya. Akan tetapi ketika dia berjalan di lereng bukit itu, di bawah sinar bintang-bintang di langit, peristiwa pertemuannya dengan kakek yang pandai ilmu peninggalan Suling Emas itu membuat dia ingat kepada Suma Kian Lee, kepada ibu tirinya, kepada ayah bundanya sendiri dan kepada Pulau Es dan bangkitlah rasa rindu di dalam hatinya.
Teringat kepada mereka semua yang tercinta membuat hatinya makin merasa prihatin, merasa betapa sunyi hidupnya, betapa sengsara hatinya dan pemuda ini lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, terasa lemah seluruh tubuh dan dia duduk bersamadhi sampai pagi. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah disadarkan oleh kicau burung yangriang gembira menyambut datangnya pagi yang cerah dan indah. Akan tetapi tidak terasa keindahan itu di hati Kian Bu yang sedang gundah-gulana. Dia teringat akan kakek yang dirobohkannya semalam dan hatinya segera merasa menyesal. Tidak ada persoalan hebat antara dia dan kakek itu, namun dia telah merobohkan-nya dan meninggalkannya rebah pingsan. Jangan-jangan kakek yang sudah tua itu akan tewas karenanya.
Dia menyesal sekali. Bukan wataknya untuk membunuh orang begitu saja, padahal tidak ada persoalan penting di antara mereka. Teringat akan ini Kian Bu cepat bangkit dan pergi mendaki bukit itu lagi menuju ke tempat di mana dia berketahi dengan kakek itu semalam. Akan tetapi ketika dia tiba di tempat itu, di situ sunyi saja dan kakek itu sudah tidak ada lagi di tempat dia rebah semalam. Yang ada hanya burung-burung beterbangan sambil berkicau riuh-rendah. Padahal dia tahu betul bahwa di situ tempatnya, bahkan tongkat panjang yang patah-patah milik Gin-siauw Lo-jin pun masih berada di situ. Sudah siuman agaknya kakek itu lalu pergi dari situ. Kian Bu menarik napas lega. Baik kalau kakek itu tidak mati! Akan tetapi belum puas hatinya kalau belum dapat bertemu untuk menyatakan penyesalannya dan minta maaf.
Lebih baik dia berkenalan dengan kakek itu dan bertanya secara baik-baik tentang Ilmu Silat Pat-sian Kiam-hoat itu. Siapa tahu masih ada hubungan atau pertalian perguruan antara kakek itu dengan ibu tirinya! Kalau benar demikian, bukankah berarti bahwa dia telah merobohkan kerabat atau kawan sendiri? Dia merasa makin menyesal dan mulailah dia mencari-cari di sekitar tempat itu. Akan tetapi sunyi saja di sekeliling situ, sunyi yang amat indah karena pagi itu memang cerah sekali. Tiba-tiba dia mendengar suara orang bersenandung, lapat-lapat terdengar olehnya. Cepat Suma Kian Bu melangkah menuju ke arah suara itu yang makin lama makin nyata. Kiranya itu adalah suara wanita yang amat merdu dan kiranya bukan nyanyian yang disenandungkan itu, melainkan doa yang dinyanyikan dengan suara yang amat merdu dan halus.
Tak lama kemudian nampaklah orangnya yang berdoa itu dan kiranya dia adalah seorang nikouw (pendeta Buddha wanita) yang sedang memetik daun obat. Nikouw itu sudah tua, tentu sudah hampir enam puluh tahun usianya. Tubuhnya masih ramping, wajahnya masih berkulit halus dan putih, masih nampak nyata bekas kecantikan seorang wanita, dan kini wajah itu nampak agung dan suci, di bawah kerudung yang berwarna kuning. Seorang nikouw tua yang berwajah lembut, yang memetik daun obat sambil berdoa, begitu bahagia nampaknya. Tiada bedanya antara dia dan burung yang sedang berkicau di atas dahan pohon, asyik dengan keriangan menyambut pagi yang indah!
Ah, nikouw itu agaknya tidak asing dengan tempat ini. Tentu dia tahu di mana dia dapat bertemu dengan Gin-siauw Lo-jin! Berpikir demikian, Kian Bu lalu membalikkan tubuh hendak menghampiri, akan tetapi pada saat itu, nikouw tadi pun agaknya sudah selesai memetik daun obat dan melangkah pergi. Dan terkejutlah pemuda Pulau Es itu. Sekali berkelebat, nikouw tua itu seperti terbang saja cepatnya meninggalkan tempat itu! Bukan main cepat dan ringannya gerakan kedua kaki nikouw itu yang seolah-olah dapat terbang di atas rumput, pergi sambil terus bersenandung! Tentu saja Kian Bu menjadi kagum bukan main. Mengapa bermunculan begitu banyak orang pandai di tempat ini, pikirnya. Gin-siauw Lo-jin itu sudah hebat, bahkan pandai memainkan ilmu silat tinggi Pat-sian Kiam-hoat.
Dan nikouw ini pun bukan main ilmu ginkangnya, seolah-olah pandai terbang saja. Dia menjadi penasaran dan mengerahkan ginkangnya untuk lari mengejar. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia tidak mampu menandingi kecepatan gerakan nikouw itu! Nikouw itu seperti terbang di atas rumput-rumput, mendaki bukit dan dia terus mengejar, mengerahkan seluruh kepandaiannya karena Kian Bu merasa penasaran sekali. Dia telah dilatih ginkang oleh ayah dan ibunya sendiri, padahal ayahnya adalah seorang ahli dalam Ilmu Soan-hong-lui-kun, yaitu gerakan kijang yang kecepatannya tiada ke duanya di dunia ini! Biarpun dia sendiri tidak mungkin dapat mewarisi Ilmu Soan-hong-lui-kun yang hanya dapat dimainkan oleh seorang yang berkaki tunggal seperti ayahnya,
Namun dia telah memiliki ginkang yang hebat, tidak kalah oleh kecepatan ibunya, Puteri Nirahai yang terkenal itu. Namun, kini dia tidak mampu menyusul nikouw tua itu! Kian Bu merasa malu dan heran sekali dan mengerahkan seluruh tenaganya, namun maklumlah dia bahwa dia benar-benar jauh kalah cepat. Akan tetapi nikouw itu berhenti di dekat puncak bukit dan mulai memetik daun-daun obat yang lain lagi, tetap sambil bersenandung seolah-olah larinya yang amat cepat tadi sama sekali tidak membuatnya lelah, padahal Kian Bu sendiri agak terengah karena mengerahkan seluruh tenaga. Teringatlah pemuda ini akan niatnya bertanya kepada nikouw itu tentang Gin-siaw Lo-jin. Kini lebih mantap lagi hatinya bahwa dia harus minta maaf kepada kakek itu karena ternyata bahwa bukit ini benar-benar dihuni oleh orang-orang pandai sekali.
"Maafkan saya, Suthai...."
Nikouw itu menoleh dan tiba-tiba saja wajahnya berubah pucat dan keranjang terisi daun obat itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas tanah, menggelinding sampai ke dekat kaki Kian Bu! Sejenak nikouw itu hanya berdiri bengong memandang wajah Kian Bu, lalu dia berkata lirih,
"Omitohud....!"
Seruan ini agaknya menyadarkannya dari kekagetan atau keharuan itu dan dia tersipu-sipu memandang ke arah keranjang yang isinya tumpah semua itu.
"Maaf, Suthai, saya telah mengagetkan Suthai...."
Kata Kian Bu yang cepat-cepat mengambil keranjang itu dan mengumpulkan dauh-daun yang berserakan, memasukkannya kembali ke dalam keranjang, lalu menyerahkannya kepada nikouw itu penuh hormat. Nikouw itu memandang dengan mata tetap membayangkan keheranan dan penuh rasa tertarik, memandang Kian Bu sejak tadi dari atas ke bawah, lalu menarik napas panjang dan bibirnya berkemak-kemik membaca doa yang tidak terdengar.
"Ah, tidak.... sama sekali tidak. Sicu siapakah?"
Suara itu halus sekali dan sinar mata itu penuh kelembutan sehingga Kian Bu seketika merasa suka dan hormat sekali kepada nikouw tua ini. Akan tetapi dia yang sudah melakukan kelancangan merobohkan orang di tempat yang dihuni orang-orang pandai ini segera menjura tanpa berani memperkenalkan namanya, melainkan bertanya.
"Kalau saya boleh mengganggu kesibukan Suthai, saya ingin bertanya apakah Suthai tahu di mana saya dapat bertemu dengan Gin-siauw Lo-jin?"
"Gin-siauw Lo-jin? Ah, di puncak itulah tempat tinggalnya "
Jawab nikouw itu sambil menuding ke arah puncak bukit akan tetapi matanya tetap saja tidak pernah meninggalkan wajah Kian Bu yang rambutnya panjang terurai dan dibiarkan awut-awutan itu. Kian Bu menjadi girang sekali dan kembali dia menjura,
"Banyak terima kasih atas petunjuk Suthai dan sekali lagi maaf atas kelancangan saya mengganggu kesibukan Suthai."
Setelah berkata demikian, pemuda itu membalikkan tubuh dan berjalan mendaki puncak.
"Nanti dulu.... Sicu.... siapakah Sicu?"
Terdengar nikouw itu bertanya. Kian Bu menoleh dan merasa tidak enak. Dia telah berbuat salah di tempat itu, bagaimana harus memperkenalkan nama? Akan tetapi, nikouw itu demikian ramah dan halus budi, tidak mungkin pula tidak menjawab.
"Suthai, saya she Suma...., maaf!"
Dia lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat naik ke atas puncak. Sama sekali dia tidak tahu betapa jawaban itu membuat nikouw ini kembali menjadi pucat sekali wajahnya, matanya terbelalak dan tangan kirinya otomatis menyentuh dada kiri.
"Omitohud.... omitohud.... omitohud...."
Berulang-ulang dan memuji dan tidak mempedulikan lagi keranjangnya yang jatuh untuk kedua kalinya dan kini dia telah melangkah perlahan-lahan naik ke puncak, sepasang matanya memandang ke arah bayangan Kian Bu dan mulutnya masih terus menyerukan pujian untuk Sang Buddha. Sementara itu, Kian Bu sudah mendaki puncak dengan cepat dan tibalah dia di depan sebuah rumah yang besar dan kuno. Rumah itu kelihatan sunyi saja seperti tidak ada penghuninya, akan tetapi ketika dia menghampiri pintu depan, terdengarlah suara dari dalam, suara yang berwibawa dan mengandung tenaga khikang amat kuat,
"Inikah pemuda yang kau ceritakan itu?"
"Benar, Suhu."
Kian Bu terkejut. Suara yang menyebut "suhu"
Itu adalah suara Gin-siauw Lo-jin! Dan kini keluarlah dua orang dari dalam rumah kuno itu yang bukan lain adalah Gin-siauw Lo-jin bersama seorang kakek yang lebih tua lagi, yang usianya tentu sudah ada tujuh puluh lima tahun, namun masih bersikap agung dan gagah. Kian Bu merasa tidak enak sekali melihat dua orang kakek itu memandang kepadanya dengan muka membayangkan kemarahan, maka cepat-cepat dia menjura dengan sikap hormat.
"Locianpwe, saya Suma Kian Bu datang untuk minta maaf atas semua kejadian malam tadi,"
Katanya dan ucapan ini ditujukan kepada Gin-siauw Lo-jin. Akan tetapi yang menjawabnya adalah kakek yang lebih tua itu, yang berkata dengan suara keren,
"Orang muda, engkau semalam telah mengalahkan muridku yang pertama, berarti bahwa engkau sungguh sangat lihai. Dan sekarang engkau muncul pula di sini, sungguh engkau bernyali besar. Apakah engkau hendak menyatakan bahwa engkau berani pula bertanding ilmu melawan kami yang mewarisi ilmu dari pendekar maha sakti Suling Emas?"
Kian Bu mengerutkan alisnya. Dia sudah merendahkan diri, sudah mengalah dan datang untuk minta maaf, akan tetapi ucapan dari kakek tua ini sungguh di luar dugaannya. Tersembunyi kesombongan besar dalam ucapan itu! Dan juga dia merasa penasaran dan curiga. Bukankah pewaris ilmu-ilmu dari Suling Emas adalah orang tuanya di Pulau Es? Bukankah kitab-kitab ilmu dari pendekar Suling Emas terjatuh ke tangan ibu Lulu, ibu tirinya dan bahkan pusaka suling emas menurut ibunya pernah dipakai sebagai senjata oleh ibunya sendiri? Mengapa kakek ini sekarang mengaku sebagai pewaris pusaka Suling Emas? Namun, sebagai seorang pemuda yang terdidik baik, dia masih mampu menahan diri.
"Maaf, Locianpwe, saya datang bukan untuk mengajak bertanding ilmu dengan siapapun juga,"
Jawabnya dengan suara agak kaku.
"Hemmm, kalau begitu kau takut?"
Sepasang mata Kian Bu bersinar dan mengandung kemarahan ketika dia memandang kepada kakek tua itu. Benar-benar besar kepala dan sombong si tua bangka ini, pikirnya gemas.
"Tidak ada soal takut atau berani, Locianpwe. Saya datang untuk menyatakan penyesalan saya atas peristiwa yang terjadi semalam dan saya mau minta maaf."
"Hayo lekas kau berlutut dan minta ampun dengan pai-kwi (menyembah dengan berlutut) sebagai delapan kali, baru kami pikir-pikir apakah dapat mengampunimu!"
Kakek itu membentak lagi. Berkobar kemarahan di dalam hati Kian Bu. Dia mengangkat dada dan berdiri dengan sikap menantang.
"Saya Suma Kian Bu selama hidup tidak pernah bersikap pengecut! Saya selalu berani menanggung semua perbuatan saya. Jangan harap Locianpwe akan dapat melihat saya merendahkan diri seperti itu!"
"Ha, kau menantang?"
"Terserah penilaian Locianpwe kepada saya."
"Orang muda, engkau memang ber-nyali besar. Hemmm, engkau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan. Aku adalah Sin-siauw Seng-jin, dan dia ini adalah muridku yang pertama. Aku adalah pewaris dari pendekar maha sakti Suling Emas dan biasanya, sekali aku turun tangan tentu lawanku akan mati. Aku masih menaruh kasihan kepadamu...."
"Cukup, Locianpwe. Aku tidak takut akan segala ancaman, tidak takut mati. Akan tetapi tentang mewarisi pusaka pendekar Suling Emas, hal itu kiranya masih harus diselidiki lebih dulu! Kalau memang benar pusaka itu ada pada tangan Locianpwe, maaf kalau saya berani mengatakan bahwa Locianpwe tentu telah mencurinya!"
"Keparat!"
Gin-siauw Lo-jin marah sekali dan sudah menerjang maju dengan pukulan tangan kanan.
"Desssss....!"