Halo!

Ilmu Golok Keramat Chapter 43

Memuat...

Hatinya sudan kegirangan, bahwa kawannya Hui Keng berada diatas angin.

Kong Soe Jin kuatir melihat darinya sudah kepepet begitu, tapi lawannya juga merasa gelisah karena sampai sebegitu jauh masih belum dapat menjatuhkan musuhnya yang sudah hampir tidak berdaya menangkis serangan-serangannya yang hebat.

Pertandingan masih berjalan terus dengan seru, masih Kong Soe Jin tidak mau menyerah kalah meski sudah tidak berdaya kelihatannya.

Tiba-tiba terdengar suara Hui Seng Kang membentak, disusul oleh serangannya yang dirubah.

Kali ini ia menggunakan gaya pukulan Piauwsu membalikkan kereta, suatu serangan hebat, tapi Kong Soe Jin masih dapat meluputkan diri dengan suatu tangkisan memotong dari samping.

Hui Seng Kang penasaran masih belum dapat memukul rubuh lawannya, lalu ia keluarkan serangannya yang paling berat, tipu pukulan yang dinamai.

Tenaga sakti membelah gunung Hoa san, telapakan tangannya dimiringkan, persis seperti golok ia menyerang hendak membelah kepala musuhnya.

Melihat hebatnya serangan, Kong Soe Jin terpaksa kerahkan Seantero kekuatannya dan menangkis serangan dahsyat itu.

Terdengar suara Praaaakkk lantas badannya Kong Soe Jin seloyongan dan hampir jatuh dilantai luitay.

Ia masih bisa pertahankan diri.

Hui Seng Kang sudah mau susulkan serangannya dengan satu tendangan dan telapakan tangan yang dilakukan berbareng dari bawah mengarah perut musuh, akan tetapi baru saja lututnya ditekuk.

la urungkan serangan demikian, dikuatirkan lawannya mahir dengan tipu pukulan itu, nanti kesudahannya seperti senjata makan tuan.

Dengan cepat ia merubah gaya serangan tadi, ia menendang sambil miringkan badannya.

Kong Soe Jin tahu gaya serangan ini, maka secepat kilat ia balas menyerang dua kali, hingga lawannya gelagapan.

Saat itu pertandingan sudah berjalan tiga puluh jurus dinyatakan serie keduanya lompat mundur untuk mengasoh sebentaran, untuk dalam babakan selanjutnya pertandingan dilakukan dengan menggunakan senjata.

ooOOoo

KETIKA pertandingan dimulai lagi, Kong Soe Jin telah menghunus pedangnya yang berkilauan hijau warnanya, belakang pedang ada lebih tipis dari pedang biasa, inilah pedang yang dinamai.

Im kiam pedang Ying kiam, dipakai oleh Kong See Tek.

Berdasarkan nama pedang itu, maka kedua saudara she Kong itu mendapat julukan Im-yang Siang kiam atau Sepasanng pedang Im-yang.

Hui Seng Kang bersenjatakan Siang hay-tiang atau, Tongkat Siang hay-tiang atau Tongkat sepasang jantung hati.

Senjata orang she Hui itu berat sekali, kira-kira tujuh puluh delapan puluh kati, hingga dibawanya juga harus digotong dua orang.

Penonton yang melihat itu diam-diam menguatirkan akan dirinya Kong Soe Jin.

Mereka lihat pertandingan dengan tangan kosong saja kelihatan Kong Soe Jin sudah tidak tahan, apa lagi sekarang ia harus melayani Hui Seng Kang punya senjata berat, mendapat ia pertahankan diri" Sekali saja pedang kebentur dengan senjata beratnya Hui Seng pasti pedang nya orang she Kang itu akan terbang melayang-layang.

Khoe Cong mengawasi pada Kang soe Tek yang tengah memandang ke atas panggung dengan hati sangat tidak enak, kuatir engkonya dikalahkan-orang she Khoe itu benar benar menyebaikan, terdengar ia mengejek lagi.

Benar benar kita dari Perserikatan Benteng Perkampungan tak usah malu keluar dalam pertandingan, nona Kim.

seperti tadi nona Seng dengan mudah saja menjatuhkan Ho Tiong Jong, maka sebentar lagi Hui Seng Kang juga tentu akan keluar sebagai pemenang dari pertandingan yang ia sedang lakukan.

Ha ha ha.

Sambil ketawa matanya melirik kepada Kong soe Tek yang berdiri menjublek tidak ambil pusing perkataannya itu.

Sebenarnya dua saudara Kong itu, sebagai im yang Siang kiam biasanya sangat sombong tidak memandang mata kepada siapa juga.

Tapi kini, semua hinaan dari Khoe Cong terpaksa ditelannya, karena jangan lagi ia menimbulkan urusan baru, sedang memandang engkonya saja melawan Hui Seng Kang hatinya sudah kedat kedut takut engkonya dijatuhkan oleh lawannya.

Kim Hong Jie hanya bersenyum mendengar kata-katanya Khoe Cong, sedang nona Seng sendiri tinggal adem adem saja.

Hui Seng Kang setelah menerima sepasang senjatanya, lantas mendemenstrasikan permainan tongkat mengaung-ngaung dan ujungnya telah mengeluarkan letikan seperti kembang api.

seng Giok Cin yang melihat itu telah kerutkan alisnya dan berkata sendirian.

Hmm orang itu tolol benar.

Untuk apa dia membuang-buang tenaga dengan permainannya yang meminta tenaga besar, bukankah lebih baik digunakan untuk bertempur" Celaka, kalau sebentar dia kehabisan tenaga baru dia tahu rasa.

Khoe Cong tidak senang kawannya di kritik.

Ketika ia hendak membuka mulut, dilihatnya Kim Hong Jie sedang manggutmanggutkan kepalanya, seperti yang merasa setuju dengan pendapatnya nona Seng, maka ia tidak jadi membuka suara karena disalahkan oleh kedua nona jelita itu Diatas luitay dua lawan sudah mulai bergebrak lagi.

Kong Soe Jin pandai memasukan pedangnya.

ia kelihatan berputar-putar mengeliling luitay seperti yang menari-nari, hingga Hui Seng Kang terpaksa mengikuti gerakkannya.

Setelah mendapat lowongan segera orang she Hui itu kerjakan sepasang tongkatnya yang berat menyerang lawannya.

Pertandingan makin lama makin seru.

Sepasang tongkatnya Hui Seng Kang bertubitubi menyerang lawan, hingga Kong soe Jin kelihatan kewalahan menangkisnya.

Mengingat akan beratnya genggaman musuh, maka Kong Soe Jin tidak mau membenturkan pedangnya.

sepuluh jurus dengan cepat sudah dilewatkan.

Hui Seng Kang penasaran belum juga dapat menjatuhkan musuhnya maka ia mendesak lebih keras Kong Soe Jin sebisa-bisanya berikan perlawanan dan menjaga diri jangan sampai kena dijatuhkan.

Suatu ketika Hui Seng Kang menyerang dengan gaya serangan Seng hong Bo lang.

atau Menuruti angin memecah ombak.

tongkatnya yang satu dimalangkan sedang yang satunya lag menyerang lurus.

Untuk menghindari serangan hebat ini, Kong soe Jin melesat tinggi keudara.

Hui Seng Kang ketawa gelak-gelak.

lalu membarengi dengan serangan dahsyat sebelumnya Kong soe Jin sempat menancapkan kakinya dilantai luitay.

Para penonton kaget dibuatnya.

Mereka menduga Kong Soe Jin kali ini akan melayang jiwanya.

Tapi orang she Kong itu sudah berlaku nekad kali ini menyambuti serangan tongkatnya Hui Seng Kang dengan pedangnya dipalangi.

Satu benturan dari dua senjata terdengar trang nyaring sekali.

Tubuh Kong Soe Jin tampak melayang tinggi lagi dludara kemudian jatuh diatas luitay.

ia masih bisa merang kang dan mengumpulkan, kemudian sudah bisa bangun lagi untuk menghadapi musuh Penonton yang menyaksikan kejadian itu telah perdengarkan tampik soraknya yang riuh, sementara Hui Seng Kang sendiri merasa sangat heran melihat Kong Soe Jin tidak apa-apa menyambuti serangan hebatnya tadi.

Saudara Kong, hayo maju lagi kita bertempur Hui Seng Kang menantang.

Kong Soe Jin anggukkan kepalanya, kemudian pedangnya im-kiam mulai menarinari lagi diantara samberan sepasang tongkatnya Hui Seng Kang yang berat.

Perlahanlahan dari kedesak Kong Soe Jin telah dapat balik mendesak musuhnya.

Diluar dugaan semua penonton, pertandingan telah mengasih lihat gambaran yang dapat membikin para penontonnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dengan tentu Hai Seng Kang yang tadi begitu agresif, kini sudah mulai terlihat keletihannya, sedang Kong Soe Jin masih kelihatan segar dan merangsek pada musuhnya, setirnya Hui Seng Kang tidak berdaya dan menyerah kalah.

Suatu kesudahan yang membuat Khoe Cong melongo dan merah padam mukanya.

Kini ia tidak berani membuka suara besar lagi kepada Kong Soe Tek.

Dengan hati cemas ia menghampiri pada kawannya dan menanyakan, kenapa sang kawan sudah jadi kalah, sedang menurut perhitungannya dapat menang dari Kong Soe Jin" Khoe Pocu, kau keliru melihat.

Kong Soe Jin sebenarnya ada achli pedang yang pandai, tidak kecewa namanya tersohor dikalangan sungai telaga.

Kalau semula kelihatannya ia berikan perlawanan yang lembek itulah ia hanya main main saja dan dengan sengaja mau kuras aku punya tenaga.

Aku si tolol bermula tidak tahu, terusterusan menyerang dengan mengeluarkan tenaga besar, hingga enak saja orang she Kong itu permainkan aku.

Tanpa merasa aku telah masuk dalam perangkapnya.

Kau lihat, setelah ia melihat aku sudah kehilangan banyak tenaga, ia telah mencecar aku dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, hingga aku menjadi kewalahan dan kalau aku tidak siang-siang menyerah kalah terang aku akan menjadi korbannya pedang, kena di- sate diatas punggung, maka aku dapat melihat gelagat, maka aku sudah menyerah kalah, meskipun aku tahu perbuatan itu akan memalukan Hui Seng Kang berkata-kata dengan paras guram dan menyesal sekali untuk apa yang ia telah perbuat diatas panggung.

Sama sekali ia tidak nyana orang she Kong itu pandai memancing tenaga orang, hingga peroleh kemenangannya dengan mudah.

Cocok dengan kata kata Seng Giok Cin.

bahwa Hui Seng sudah mendemontrasikan tenaganya yang kuat.

Siang-siang ia sudah banyak menghamburkan tenaganya, sehingga dimenit-menit paling akhir melawan Kong soe Jin yang gesit dan lincah tidak berdaya karena kehabisan bensin .

Tempik sorak terdengar riuh ketika Pek Boe Taysu naik keatas luitay.

Kini gilirannya ia yang menjadi Taycu, untuk menggantikan Hui Seng Kang wakil Tay-cu-nya yang pecundang.

orang menduga-duga akan kekalahannya Kong soe Jin mengingat Pek Boe Taysu ada satu jago tua yang sudah banyak pengalaman, lagipula hweshiotua itu ada sangat telengas.

Kong Soe Jin menjura dengan hormat pada Pek Boe Taysu, ketika mereka sudah berhadapan Tidak dikira Taysu yang hari ini menjadi Taycu, mereka sebentar kalau aku sitolol mengunjukkan kebodohanku, harap Taysu suka memaafkan dan sukalah memberi banyak petunjuk akan kesalahannya Ha ha Pek Boe Taysu memotong dengan ketawanya yang bergelak-gelak Sicu ada jago pedang dari Ngo bie-pay, mana aku si hweshio bangkotan dapat memberi petunjuk apa-apa.

Harap sicu jangan terlalu merendah.

Nah, marilah kita mulai bertanding Baiklah kata Kong soeJin dengan tak sungkan-sungkan ia menghunus pedangnya.

Pek Boe Taysu genggamannya aneh, baru pernah orang melihatnya.

Bentuknya seperti sekop.

diujungnya ada sepasang gigi tajam dan lingkaran dari baja kecil kecil, hingga senjata itu kalau digoyangi akan perdengarkan saara kerincingan ramai.

Ketika Pek Boe Taysu mempersilahkan menyerang lebih dulu.

K^ong Soe Jin tidak sungkan-sungkan lagi dan mulai membuka serangan dengan satu tipu serangan yang indah dari perguruannya.

Lawannya menangkis sambil perdengarkan ketawanya yang aneh Kemudian Pek Boe Taysu balas menyerang dengan gaya.

Dengan tongkat menaklukkan setan, ia memalangkan dan melempengkan tongkatnya menyerang musuhnya dengan hebat sekali yang dapat mengugurkan gunung.

Tapi Kong Soe Jin gesit dan lincah, ilmu pedangnya pun mahir, maka dengan indah sekali sudah meluputkan diri dari serangan lawannya yang berat.

Kali ini menghadapi musuh kawakan, Kong Soe Jin tidak main-main.

Ia mencurahkan betul-betul perhatiannya pada ilmu pedangnya yang dimainkan itu, hingga Pek Boe Taysu dengan genggaman beratnya tidak bisa berbuat banyak terhadap jago muda dari Ngo-biepay itu.

Penonton di bikin kagum oleh permainan pedangnya.

Post a Comment