Benda ini ada sangat berbahaya, maka setelah diperiksa oleh Seng Pocu, sesuai dengan usulnya si Rajawali Botak.
benda berbahaya itu ditanam ditempat yang jarang dilalui orang.
sekarang kita ajak pembaca menengok keramaian orang pukul luitay.
Pada waktu itu yang menjadi wakil Tay-cu ada orang she Ho bernama Yaa.
ia seorang berpengawakan tinggi besar dan gagah sekali, ditambah dengan mukanya yang penuh berewok tampaknya ia beroman bengis, ia perkenalkan namanya pada sekalian tetamu Kemudian menyilahkan orang yang berminat naik keatas luitay.
Lama tidak ada orang yang menyambut undangannya itu, tiba-tiba seorang pemuda yang berpengawakan tegap dan gagah bangkit dari duduknya dan jalan menghampiri ke panggung luitay itu.
Kiranya ada, Hoan Siang Jie, seorang jago pemuda dari kun-lunpay.
Ia jalan melewati Seng Giok Cin dan Kim Hoan Jie duduk menonton dan bersenyum kearah dua nona elok ini, yang telah disambut dengan senyuman juga hingga membikin hatinya Hoan Siang Jie sangat girang.
Matanya tampak menatap pada Seng Giok Cin saja sambil terus bersenyum.
Nah dia terus-terusan melihat kau saja encie Giok.
kata Kim Hong Jie sambil mengutik lengan sang kawan- Seharusnya jangan lupa kau sembahyang supaya dia peroleh kemenangan Sujennya semakin menyolok saja memikat hati jika nona Kim sedang tertawa.
Nona Seng yang digodai sang kawan pelototkan matanya.
Adik Llong, kau nakal.
kata Seng Giok Cin sambil mencubit pelahan lengannya Kim Hong Jie.
IHei, kau kenapa mencubit aku, teriak nona Kim pelahan sambil tangannya mengusap-usap lengan yang dicubit barusan seperti yang kesakitan.
Sebentar aku akan suruh dia membalas mencubitmu.
dia siapa, adik Hong" Dia, janih, nah kau lihat dia sudah lompat naik keatas panggung.
Kembali Seng Giok Cin hendak mencubit adik hong-nya yang nakal, tapi Kim Hong Jie sudah mengegos sambil ketawa cekikikan.
Awas ya, ada satu waktu aku nanti bikin perhitungan denganmu, kata Seng Giok Cin sambil bersenyum.
Kedua gadis elok yang merupakan kembangnya diantara semua gadis yang ada disitu, terus bercanda sambil ketawa-ketawa.
Hoan Siang Jie yang sudah berada diatas panggung melihat mereka sudah menjadi senang hatinya karena mengira bahwa dua gadis itu ada ketarik pada dirinya.
Ho Yan menyambut kedatangannya Hoan Siang Jie dengan hormat.
Meskipun ia tahu bahwa Hoan Siang Jie masih mudah belia, akan tetapi karena tahu anak muda itu ada dari partai Kun-lun-pay, tidak berani sembarangan memandang rendah.
Aku girang saudara Hoan ada minat untuk naik diatas panggung, demikian katanya ketika Hoan Siang Jie sudah berhadapan dengannya.
Saudara IHo, harap kau nanti tidak mencela kejelekannya kalau sebentar aku perlihatkan padamu.
EMIKIANLAH, keduanya setelah mengucapkan perkataan perkataan sungkan, lantas mulai bergerak dengan tangan kosong.
Hoan Siang Jie tahu lawannya bertenaga sangat kuat, maka ia tidak berani keras lawan keras.
Serangan-serangan Ho Yan hebat dan menakutkan, karena anginnya saja sudah begitu kuat menyambernya.
Meskipun begitu ia berkelahi dengan hati-hati, karena tahu lawannya bukan lawan sembarangan.
Demikian keduanya saling serang dengan seru.
Tampak Ho Yan mendesak lawannya dan tidak memberikan kesempatan untuk membalas menyerang, tapi Hoan Siang Jie telah beri perlawanan yang tenang sekali, ia kelihatan sangat gesit dan lincah sekali, badannya terputar-putar mengelilingi panggung untuk membebaskan diri dari serangan Ho Yan yang lihay.
Caranya ia beraksi sangat menarik perhatian hingga banyak penonton yang bersimpati kepadanya.
Kim Hong Jie gembira nampak jalannya pertandingan yang meski kelihatannya hebat dan seru tapi tidak telengas dan menggiurkan jiwa.
Maka ia berkata dengan pelahan pada Seng Giok Cin.
Enci Giok, ini baru yang dinamakan mengadu kepandaian mengumpulkan sahabat yang sejati.
Khoe Cong yang melihat mereka kasak-kusuk mata alap alapnya mengawasi saja pada si cantik Seng Giok Cin.
Hmm, pertandingan apa ini tidak menggerakan semangat sama sekali demikian ia menyela.
Seng Giok Cin mendelu hatinya mendengar perkataannya Khoe Cong, apalagi melihat ia terus-terusan mengawasi dirinya sudah makin jemu saja.
Dengan tidak mengambil perduli kepadanya, nona Seng berkata pada Kim Hong Jie.
Adik Hong, kau benar.
Coba lihat dia punya bermainan silat, benar-benar Kun lunpay tidak sembarangan mendidik orang-orangnya.
Dia gagah dan lincah.
Kalau sebentar dia mengeluarkan kepandaiannya betul-betul rasanya HoJan tidak sampai tiga puluh jurus sudah kena dikalahkan olehnya.
Enci Giok.
pandanganmu tepat sekali, biar kita lihat bagaimana kesudahannya dua jago itu bertanding.
Khoe Cong mendengar dua gadis itu pada memuji dirinya Hoan Siang Jie, cepat tarik pulang celaannya tadi dan berkata.
Memang betul, ilmu silatnya orang she Hoan itu tinggi dan bagus sekali.
la berkata demikian untuk membikin senang hatinya dua gadis elok itu, karena ia sangat naksir kepala mereka.
Hanya saja ia tidak mengingat akan mukanya yang buruk dan tingkahnya yang menyebalkan, hingga gadis mana juga jemu kepadanya.
Diatas panggung, Hoan Siang Jie dapat kesimpulan bahwa lawannya seperti yang menghendaki pertandingan sampai tiga puluh jurus, kemudian diganti dengan pertandingan menggunakan senjata.
Oleh sebab mana, ia tidak balas menyerang lawannya, hanya berkelit berputaran diatas panggung.
Benar saja akhirnya pertandingan dinyatakan seri setelah melewatkan tiga puluh jurus.
Mereka tampak ketawa tawa dan saling memberi hormat.
Kemudian pertandingan dilanjutkan dengan menggunakan senjata.
Ho Yan menggunakan senjata sepasang pentungan, selang Hoan Siang Jie sebilah pedang untuk mempertahankan kehormatannya.
Ketika Ho Yan mencoba sepasang pentungannya.
kedengaran suara wut wat suatu tanda bahwa tenaga dalamnya orang she Ho tak boleh dipandang enteng.
juga Hoan Siang Jie mencoba kibas kibaskan pedangnya, jugalelah perdengarkan suara nyaring dan angin santar.
Jago Kun lun-pay iiu berdiri tegak dengan pedang dirapatkan pada sikutnya, kemudian sendai pedang dimiringkan mengacung ia mempersilahkan lawannya menyerang terlebih dahulu.
Dalam pertandingan ini Hoan Siang Jie menggunakan ilmunya yang dinamai Tanduk naga menggempur, yang mempunyai dua daya guna, yalah menjaga diri dan menyerang.
Satu ilmu yang sangat diandalkan dalam partainya.
juga kun-lun-pay ada menurunkan pada anak muridnya ilmu yang dinamai Thian liong IHeng kang atau Berjalannya tenaga naga sakti suatu ilmu serangan yang dahsyat sekali.
Ho Yan tidak berani sembarangan menyerang, ia menggunakan sepasang pentungannya dengan sangat hati-hati.
Belum beberapa lama bergebrak lantas terdengar suara tang kilaunya sebilah pedang.
Hoan Siang Jie, telah menyontek pentungan lawan.
Gerakan itu tampaknya sederhananya, akan tetapi mengandung tenaga kekuatan yang tidak diduga-duga, sebab pentungannya ho Yan yang tersontek hampir saja terlepas dari cekalan.
Tidak heran kalau siorang she Ho menjadi kaget dibuatnya.
Seng Giok Cin kagum melihat gerakan Hoan Siang Jie itu, maka ia berkata kepada Kim Hong Jie.
Adik Hong kau lihat, apa salah kalau pandanganku dia akan merupakan pendekar ternama dikemudian hari" Lihat dia punya mata, semangat dan kemasan digunakan serentak dalam penyerangannya, betul-betul hebat Kim Hong Jie kerutkan alisnya yang lentik menarik.
Ya, katanya, kalau sontekan demikian saja tidak dapat memainkannya, mana dapat dia masuk dalam rimba persilatannya " Ho Yan sudah keteter, untung baginya gwakang (tenaga luar) cukup mahir, hingga menggunakan pentungannya untuk menjaga diri terus-terusan.
Biarpun bagaimana hebat serangan lawan, ternyata tak dapat menembusi pertahanannya.
Ia dapat mewaraskan dirinya pada pertandingan persahabatan, tidak mau berlaku nekad-nekadan yang tidak ada perlunya.
Hoan Siang Jie berdasarkan latihan Iwee-kang amat memperhatikan musuhnya punya gerak-gerik, kalau musuh menyerang pasti ia balas menyerang dengan kontan, tapi kalau lawannya diam ia nya hentikan serangannya.
Diantara tetamu yang menonton, banyak yang menilai bahwa Ho Yan bukan tandingannya Hoan Siang Jie.
Penonton kini hanya tinggal menunggu, bagaimana sebentar kalau orang she Hoan itu menghadapi Pek Boe Taysu yang mendapat gilirannya menggantikan Ho Yan, apakah ia sanggup menandinginya atau tidak.
Pek Boen Taysu juga kelihatan sudah bersiap-siap bangkit dari duduknya.
Seng Eng yang melihat sahabat karibnya hendak naik panggung sudah berkata.
Taysu.
orang itu benar bagus ilmu silatnya.
Apakah Taysu hendak menempurnya" Pek Boe Taysu sudah hendak menjawab, tapi urung karena melihat keatas panggung berkelahi tampak Ho Yan sedang marah marah katanya.
Aku sudah menerima pelajaran istimewa dari Kun-lunpay.
Ilmu silatmu tinggi.
Aku mulai hari ini tidak akan melupakan untuk pelajaranmu ini.
Ho Yan berkata sambil lompat turun dari luitay.
Rupanya Hoan Siang Jie keterlaluan mengocok Ho Yan yang sudah tidak berdaya, maka telah membikin orang she Ho itu marah dan mengucapkan kata katanya tadi.
Kauw Sang Ngo, susioknya Hoan Siang Jie melihat kejadian tersebut telah mengkerutkan alisnya dengan tidak berkita apa-apa.
Seng Giok Cin melihat Pek Boe Taysu yang akan naik panggung diam-diam dalam hatinya mengeluh.
Hoan Siang Jie mana dapat melayani Pek Boe Taysu yang ilmunya tinggi" Maka ia tidak bernapsu untuk menontonnya, lalu bangkit dari duduknya berjalan pulang kerumah.
Kim Hong Jie tidak membiarkan nona Seng pergi begitu saja, maka ia sudah lompat mengejar.
Enci Giok.
kau mau kemana" tanyanya sambil memegangi lengan orang.
Seng Giok Cin tidak menjawab.
Aaa, aku tahu.
katanya lagi Kim Hong Jie, kau tentu mau menengoki Tiong Jong dalam kamar tahanan berair, bukan" seng Giok Cin bersenyum.
Aku ikut, Kata Kim Hong Jie.
Seng Giok Cin anggukkan kepalanya.
Mereka kemudian jalan sama-sama menuju ke-tempat tahanan Ho Tiong Jong.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai ketempat tujuannya.
Sambil menunjuk pada pintu besi, Seng Giok Cin berkata.
Nah, didalam kamar itulah Ho Tiong Jong ditahanMari kita masuk.
Kim Hong Jie mengajak seraya menarik tangannya Seng Giok Cin menghampiri pintu besi tadi.
Pintu dibuka, mereka berjalan mnsuk dan melihat dari atas tangga kebawah HoTiong Jong kelihatan sama sekali tidak takut mati.
la masih berdiri tegak di rendam dengan air hingga dadanya.
Adik Hong, tuh dianya Ho Tiong Jong kata Seng Giok Cin sambil menunjuk dengan jarinya.
Kim Hong Jie mengawsi kearah yang ditunjukkan, benar saja Ho Tiong Jong ada disana.
Mari kita turun nona Kim mengajak.
Dia suka marah-marah, kalau nanti di marahi dan angkar kaki, aku tanggung jawab, ia jawab seng Giok Cin.