Ketika ia hendak mengangkat langkahnya menghampiri luitay.
tiba-tiba puterinya Seng Pocu muncul, berkata pada Pek Boe Taysu.
Harap locianpwee menyerahkan tugas Tay cu kepada aku yang tidak berguna, aku ingin membereskan orang she Ho yang sombong itu.
Pek Bo Taysu melengak mendengar kata-katanya sinona, matanya melirik pada Seng Eng, seolah-olah mau menanya pikirannya bagaimana.
Seng Eng melihat putrinya hendak turun tangan, pikirnya sang putri tentu ada mempunyai maksud untuk keuntungan pihaknya lagi pula ia tahu benar kepandaiannya sang putri sampai dimana, maka ia tak berkeberatan.
Taycu, biarkan anakku yang mewakili.
katanya sambil ketawa dan mengurut-urut jenggotnya.
Pek Boe Taysu juga tidak keberatan.
Baiklah, katanya harap nona diatas panggung suka berlaku hati-hati, karena lawan itu tak boleh anggap enteng kepandaiannya.
Terima kasih, aku dapat menjaga diriku sendiri jawab sinona, berbareng ia menghampiri luitay.
Dengan sekali enjot tubuhnya sudah melayang dan hinggap di atas panggung.
Pek Boe Taysu melihat sinona sudah hinggap diatas luitay, ia balik kembali kekursinya.
ia kini sudah berumur tujuh puluh tahun.
Pada lima puluh yang lampau ia bernama Koan Pek ciak.
dengan julukan Tangan Besi , tabiatnya bukan main bengisnya.
sekali kena ia marah ia dapat membunuh orang tanpa berkesip matanya.
ia menjadi muridnya To Hoei Taysu dari Siauw-lim-si.
Karena ia suka membunuh orang, banyak orang melaporkan perbuatannya kepada pemimpin gereja siauw-lim-si hingga To Hoei Taysu mendapat teguran dari atasannya.
To Hoei Taysu lalu keluar sendiri mencari Koan Pek ciak.
Mengingat perhubungan diantara murid dan guru biar bagaimanapun ada menyelip perasaan tidak teganya, maka To Hoei Taysu hanya memberi teguran pedas pada Koan Pek ciak dan dilarang datang lagi ke Siauw-lim-si.
Setelah diusir dari perguruan, Koan Pek ciak menunrut penghidupan dikalangan hitam (penjahat).
Perbuatan-perbuatannya, yang ganas membuat orang merasa takut kepadanya, bukan sedikit orang mengantar harta kepadanya, sehingga ia jadi hartawan.
Barulah keganasannya mereda setelah ditimbun dengan kekayaan.
Seng Eng dapat bersahabat karib dengannya ialah melalui pertempuran dahsyat yang memakan waktu sehari semalam, Koan Pek ciak hanya kalah seurat oleh Seng Eng, sejak mana keduanya telah menjadi sahabat kekal.
Entah mengapa, pada suatu hari Koen Pak ciak pulang ke Siauw-lim si, Pada waktu itu kedudukannya To Hoei Taysu sudah tinggi.
Kepada gurunya ini Koan Tok Pek ciak minta ampun dan ia rela kepalanya digunduli masuk menjadi hweshio.
To Hoei Taysu dan memang menyintai pada muridnya, telah mengampuni dirinya dan sejak ia menjadi padri telah menukar namanya menjadi Pek Boe.
Sejak itu orang tidak melihat lagi Koan Pek ciak yang ganas kejam, dikiranya ia sudah mati, tidak tahunya ada mengasingkan diri didalam gereja Siauw-lim si.
Pada suatu hari ia keluar dari gerejanya ada urusan dikota See-an, ia telah berjumpa dengan beberapa penjahat.
Karena kawanan penjahat itu menghina dirinya, maka telah timbul amarahnya dan tabiatnya yang suka membunuh orang.
seketika itu ia telah membunuh beberapa penjahat diantaranya.
Setelah melakukan perbuatan demikian ia rupanya sangat menyesal.
Kuatir ditegur dan mendapat hukuman kalau ia kembali ke Siauw lim si, maka ia terus mencari Seng Eng sahabat karibnya.Justru dengan kebetulan sekali Seng Eng waktu itu sedang mengumpulkan orang gagah untuk mengadu kepandaian.
la disambut dengan ramah tamah oleh Seng Eng dan diminta bantuannya mengatur pertemuan Mengadu silat mengumpulkan sahabat yang ia selenggarakan dengan maksud tertentu.
Pek Boe Taycu yang pikirannya sudah kembali ketabeatnya yang dahulu, tidak merasa keberatan dan terima baik permintaannya sang kawan-Kita balik kepada Seng Giok Cin yang naik keatas luitay.
Ho Tiong Jong melengak karenanya, sebab ia tidak menduga kalau si nona yang maju sebagai lawannya dalam pertandingan berikutnya.
Ia berseri seri menyambutnya.
Tapi heran, muka yang berseri-seri itu telah disambut dengan wajah yang dingin oleh Seng Giok Cin.
Ho Tiong Jong merasa heran.
Tadi sinona dibawah panggung bersenyum kepadanya, akan tapi mendadak sekarang wajahnya jadi cemberut dingin.
Apa ia tadi berlaku kurang sopan kepadanya, hingga sinona menjadi marah.
Meskipun hatinya tidak enak.
ia menyapa juga kedatangannya Seng Giok Cin.
Nona Seng, sungguh aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu.
Sampai mati juga aku tidak akan melupakan budimu yang besar itu.
Aku tidak nyana, bahwa pemuda pelajar yang aku ketenukan diterang bulan adalah putrinya Pocu dari Seng-kee-po yang berbudi luhur dan-.
Haii,, , terdengar si Nona memotong perkataannya Ho Tiong Jong.
Aku tidak ada tempo untuk membicarakan tetek bengek, mari lekas bertempur Aku ingin lihat kepandaianmu sampai dimana Ho Tiong Jong melengak.
ia menjublek memikirkan sikapnya nona Seng yang demikian rupa.
ia sebenarnya datang kesitu juga hendak menemui sinona, mengabarkan hal kematiannya Tok-kay, setelah mana ia akan angkat kaki lagi karena ia bakalan mati oleh pengaruhnya racun Tok-kay yang ada dibadannya.
Hei, kenapa kau bengong saja" Lekas keluarkan kepandaianmu tegur si nona.
Nona Seng, harap maafkan aku.
Dengan sejujurnya aku betul-betul tidak mengerti dengan sikapmu ini.
Apakah aku pernah bersalah kepadamu" Kalau aku bersalah, sekarang aku minta maaf Jangan banyak rewel, aku tidak memerlukan kau punya permohonan maaf Kalau begitu, kau memaksa juga hendak bertempur dengan aku, biarlah aku mengaku kalah saja.
Nah, selamat tinggal.
Ia berbareng mau melompat turun dari luitay, akan tetapi nona Seng sudah dengan gesitnya menghadap di hadapannya.
Keluarkan dahulu kepandaianmu, kalau kau sudah dapat menjatuhkan aku.
barulah kau turun daripanggang ini.
kata Seng Giok Cin dengan suara ketus.
Aku aku.
katanya gugup, sebab tidak diberi kesempatan bicara dan diserang dengan hebat oleh Seng Giok Cin la kelabakan sebentar.
Kemudian ia terpaksa melayani sinona bertempur, ia telah mengeluarkan ilmunya warisan Tok-kay yalah Tok-licng cianghoat yang ampuh Tampak telapakan tangan kirinya sedikit didorong uutuk menangkis serangan si nona sedang tangan kanannya dengan gaya Kay-thian Pit-tee atau membuka langit dan bumi, ia balas menyerang.
Tapi serangannya tidak di teruskan, di ganti dengan gaya Kim-paw Lok tiauw (Macan tutul emas perlihatkan cakarnya).Jari tangannya dibuka sebagai gaetan terus hendak mencengkeram sikutnya si nona.
Seng Giok Cin tahu bahwa tenaganya si-pemuda ada sangat kuat.
Pikirnya, bertempur lima belas jurus saja belum pasti ia peroleh kemenangan, ia harus menggunakan kecerdasan diwaktu Ho Tiong Jong lengah, barulah dapat merebut kemenangan.
Serangan si pemuda di tangkis dengan telapakan tangan kanan dan telapakan tangan kirinya balas menyerang.
Kaki kanannya di geser maju, sedang yang kiri ditarik mundur.
Ia coba menyambuti serangan lawan, akan terapi ia kalah tenaga dan terus terdesak mundur oleh serangannya Ho Tiong Jong.
Dalam tempo sebentaran saja mereka sudah bertempur lima jurus.
Diam-diam Ho Tiong Jong mengeluh dalam hati.
Pikirannya, ia tak lama lagi tokh akan mati, untuk apa ia merebut kemenangan" Apa perlunya untuknya Maka lebih baik ia mengalah dan kasihkan dadanya dihajar si nona sampai binasa.
ia rela mati ditangannya orang yang pernah membuang budi padanya.
Lagi pula, dengan berbuat demikian ia sudah memberi muka kepada si nona didepannya orang banyak.
Ho Tiong Jong ingin si nona turun tangan betul-betul, maka ia berkata.
Nona Seng kau boleh menyerang, jangan pakai sungkan-sungkan lagi, aku akan melayani kau dengan betul" Nah keluarkanlah ilmu simpananmu.
Seng Giok Cin diam-diam merasa gemas juga mendengar kata-katanya pemuda tampan itu, ia perhebat serangan-serangannya.
Dilain pihak Ho Tiong Jong keluarkan ilmunya Kim ci gin-ciang menyerang dengan telapakan tangan dan menotok dengan jari-jarinya yang kuat, hingga sinona lagi-lagi ke-teter dan hatinya ada sedikit keder juga.
Ho Tiong Jong terus mendesak dengan totokannya yang berbahaya.
Dalam keadaan terdesak.
Seng Giok Cin menggunakan kegesitannya untuk meloloskan diri dengan melesat tinggi, diudara badannya berputaran sebentar, kemudian meluncur turun lagi, tahu-tahu sudah berada dibelakangnya Ho Tiong Jong.
Sebelumnya sipemuda dapat membaliki badannya, jari-jarinya sinona yang halus telah menotok jalan darah dibagian pinggangnya hingga seketika itu juga ia jatuh lemas.
Kegalakannya yang barusan diunjuk menyerang sinona bertubi-tubi, telah lenyap tanpa bekas.
Segera seketika itu terdengar tampik sorak yang riuh sekali menyambut kemenangannya Seng Giok Cin.
Tapi sinona tidak menjadi bangga oleh karena kemenangannya itu, malah wajahnya tampak dingin ketika membalas hormat atas samburan yang meriah.
Seng Giok Cin suruh orang-orangnya angkut Ho Tiong Jong turun dari luitay.
Seng Eng sementara itu, dengan muka berseri-seri telah mengumumkan bahwa pertandingan dihentikan dan beristirahat dahulu.
Setelah habisan makan dipelataran yang di tanami banyak bunga-bunga terletak dibelakang rumah, kelihatan ada berkumpul beberapa orang ialah: Seng Eng, Kim Hong Jie, Pek Boe Taysu, Ban Siang Tojin, Siluman Khoe Tok dengan tiga muridnya dan si Rajawali Botak Ie Yong, yang menyolok sekali kepalanya botak.
Mereka berunding tentang Ho Tiong Jong yang sudah kena ditangkap.
bagaimana harus diambil tindakan terhadapnya.
Dua saudara oet-ti dengan ditunjang oleh song Boe Kie mengusulkan agar jiwanya pemuda itu dibereskan saja, supaya jangan jadi bibit penyakit di kemudian hari.
Pek Boe Taysu menyatakan pikirannya, sebaiknya Ho Tiong Jong ditahan saja dahulu jangan dibunuh sebab siapa tahu kalau ia muncul disitu bukan sendirian dan ada tulang punggungnya yang berkepandaian amat tinggi.
Ban Siang Tojin mufakat pemuda itu dibunuh mati, sebab ini berarti pihak Seng Pocu sudah menyingkirkan akhli waris Sanju Lo-Iong Khong Teng Shoe musuhnya golongan Liong Bun, hingga bisa diharapkan golongan Liong Bun akan tunduk kepada pihak Seng keepo.
Seng Eng sendiri belum dapat memutuskan bagai mana baiknya.