Halo!

Darah Pendekar Chapter 65

Memuat...

Setelah isterinya dan tiga orang gadis itu pergi, Yap - lojin menghela napas panjang. "Sungguh aku tidak mengerti, apa maksudnya orang Ban - kwi - to menculik puteraku. Aku harus menyusul ke pulau itu Sekarang juga."

"Memang sebaiknya begitu, suhu, dan aku akan menemani suhu untuk mendapatkan kembali Kim-sute," kata Kiong Lee. Pemuda ini memang diang-kat anak oleh keluarga Yap, bahkan dia sendiripun memakai she Yap, akan tetapi terhadap ayah dan ibu angkatnya itu, dia selalu menyebut mereka su-hu dan subo, seperti murid - murid yang lain. Dan agaknya Yap - lojin dan isterinya itupun tidak me-naruh keberatan, apa lagi setelah mereka sendiri juga mempunyai anak, yaitu Yap Kim.

"Jangan khawatir, lojin, biar akupun akan mem-bantumu menghadapi orang - orang Ban - kwi - to," tiba-tiba Ouwyang Kwan Ek juga berkata.

"Ah, mana aku berani merepotkanmu, sahabat Ouwyang ?"

"Aku kebetulan berada di sini ketika tempatmu diserbu orang dan aku mendengar akan musibah yang menimpa keluargamu. Hal ini berarti aku berjodoh untuk terlibat dalam urusanmu. Selain itu, akupun ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan nama besar Pulau Selaksa Setan itu."

Yap Cu Kiat tidak dapat menolak lagi dan dia-pun lalu memerintahkan empat orang muridnya untuk mencari tenaga bantuan dan membangun kembali sedapatnya rumah mereka yang terbakar itu. Kemudian, bersama Ouwyang Kwan Ek dan Kiong Lee, diapun meninggalkan sarang Thian-kiam - pang yang telah rusak terbakar itu.

* * *

"Seharusnya kita membantu Yap-locianpwe untuk menyusul dan mencari puteranya itu ke sarang Ban-kwi-to !"

Ucapan Pek Lian ini mengejutkan Pek In dan Ang In. Dua orang ini sendiri tidak akan berani mengeluarkan ucapan itu di depan subo mereka, apa lagi ucapan itu dikeluarkan dengan nada su- ara kaku dan mencela!

Benar saja kekhawatiran dua orang gadis ini. Tiba-tiba kereta dihentikan dan kepala nenek itu keluar dari tirai jendela kereta, sepasang matanya mencorong menatap wajah Pek Lian yang juga menghentikan kudanya di dekat kereta.

"Mengapa kau berkata demikian ?" bentak ne-nek itu, matanya agak terpejam dan mulutnya cem-berut.

"Melihat orang lain tertimpa bencana, sudah sepatutnya kalau kita turun tangan membantu.

Ka-lau tidak demikian, apa perlunya kita belajar ilmu sejak kecil ? Apa lagi kalau yang tertimpa malape-taka itu masih keluarga sendiri, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu. Pula, harus dii-ngat bahwa Ban-kwi-to kabarnya merupakan tempat yang berbahaya, dihuni oleh tokoh- tokoh sesat yang lihai, maka sudah selayaknyalah kalau kita ikut membantu Yap - locianpwe menghadapi mereka." Pek Lian melihat betapa dua orang gadis murid-murid Siang Houw Nio-nio itu berkedip kedip memberi isyarat kepadanya agar ia menghen-tikan ucapannya, akan tetapi ia tidak perduli O-rang - orang lain boleh takut setengah mati kepada nenek bangsawan ini, akan tetapi ia tidak! Ia menganggap bahwa nenek ini terlalu angkuh, ter-lalu tinggi hati dan kejam sehingga mendengar putera kandungnya diculik orang dan terluka pa-rah., agaknya bersikap tidak perduli saja. Hal ini sudah membuat hati Pek Lian memberontak dan marah.

"Bocah lancang mulut! Berani engkau mencam-puri urusan kami ?"

Akan tetapi, dengan pandang mata yang bera-ni dan jujur Pek Lian menghadapi nenek itu. "Bi-arpun saya menjadi tawanan dan orang yang dicu-rigai, akan tetapi selama ini locianpwe dan teruta-ma kedua orang cici bersikap baik kepada saya sehingga saya sama sekali tidak merasa menjadi ta-wanan. Sebaliknya, saya merasa sebagai sahabat atau tamu yang diperlakukan dengan baik. Setelah mengalami suka-duka, bahkan sudah sama- sama menghadapi lawan tangguh, bagaimana mungkin saya bersikap tidak perduli dengan malapetaka yang menimpa keluarga locianpwe ? Sedapat mungkin, saya tentu akan menyumbangkan tenaga saya yang tidak seberapa ini untuk membantu."

Sejenak dua orang wanita itu saling berpandangan. Akhirnya nenek itu menarik kembali kepalanya ke dalam kereta dan terdengar ia menarik napas panjang, lalu terdengar suaranya, "Hemm, engkaupun seorang yang keras hati dan keras kepala. Akan tetapi engkau memiliki keberanian dan kejujuran." Dan tiba-tiba kereta itupun bergerak lagi.

Pek In menyentuh lengan Pek Lian. "Adik Lian, engkau sungguh membuat kami menahan napas. Kami tidak mengira engkau masih dapat hidup setelah berani bersikap seperti itu."

Pek Lian tersenyum. "Kenapa, eici Pek? Aku merasa benar, dan matipun bukan apa - apa kalau berada dalam kebenaran."

Biarpun ia dapat mengerti akan kata - kata ini, namun di dalam hatinya Pek In harus mengakui bahwa ia tidak mempunyai keberanian yang sede-mikian besarnya seperti gadis ini.

Kereta nenek itu berhenti di depan pintu ger-bang kota raja. Para penjaga pintu gerbang ber-baris rapi di kanan kiri, dengan tombak di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Pakaian seragam mereka mengkilap tertimpa sinar matahari dan mata tombak mereka juga berkilauan karena setiap hari digosok. Seorang komandan jaga yang pakaiannya lebih mentereng lagi, nampak berlutut dengan kaki kiri di tengah jalan dan inilah yang membuat nenek itu menghentikan kereta. Sambil membawa tong-katnya nenek Siang Houw Nio - nio turun dari atas keretanya. Pek In dan Ang In juga meloncat turun dari atas kuda mereka dan menyerahkan kendali kuda kepada Pek Lian. Dua orang gadis ini cepat mendampingi subo mereka memasuki pintu gerbang.

Para penjaga bersikap hormat melihat nenek ini. Siang Houw Nio - nio sendiri melangkah de-ngan tenang, tangan larinya membawa tongkat ke-pala naga dan dua orang muridnya berjalan di kanan kirinya.

Post a Comment