"Selama ini aku tidak pernah mendengar ten-tang orang-orang Tai - bong - pai. Setelah
ketu-runan Raja Kelelawar keluar, apakah keturunan-nya juga tidak memperlihatkan diri ? Ataukah Tai - bong - pai sudah mati dan tidak mempunyai keturunan?" Yap-lojin bertanya karena
percakap-an itu membongkar hal - hal lama, mengingatkan mereka akan golongan - golongan jaman dahulu yang pernah menggemparkan dunia persilatan.
Mendengar pertanyaan ini, hampir saja Pek Lian membuka mulut menjawab. Ia teringat akan orang - orang yang membawa gadis cantik dalam keranjang yang terluka parah dan lumpuh itu. Untung bahwa ia masih dapat menahan hatinya, karena kalau ia membuka mulut, akhirnya tentu ia akan terpaksa membuka rahasianya bahwa ia ada-lah puteri Menteri Ho dan hal ini dapat berbahaya bagi dirinya. Maka iapun diam saja dan menun-dukkan muka, hanya memasang telinga mende-ngarkan percakapan yang amat menarik hatinya itu.
"Entahlah, tidak ada berita tentang mereka " kata kakek berjubah naga.
Tiba - tiba Yap-lojin berseru, "Ahh. ! Pek Lian terkejut dan mengangkat muka meman-dang kepada kakek itu yang agaknya teringat akan sesuatu. "Lupakah kalian akan sasterawan itu ? Dia yang yang mengalahkan keempat datuk sakti dahulu, leluhur kita itu ?"
Kakek berjubah naga terkejut. "Maksudmu ?"
"Mari kita memasuki ruang samadhiku." Kakek itu mendahului mereka semua memasuki pintu ra-hasia dan berkumpul di ruangan bawah tanah yang luas. Yap - lojin membawa mereka semua kepada beberapa buah gambar. Gambar - gambar yang melukiskan bermacam gerakan menyerang, gambar searang sasterawan terhadap lawan - lawannya. Dalam tiap gambar, sasterawan tua itu mengha-dapi seorang lawan berbeda.
"Lihat gambar-gambar ini dilukis untuk mengabadikan pengalaman yang amat langka itu, yaitu kalahnya para datuk sakti terhadap si sasterawan tua dan lukisan- lukisan ini adalah jurus- jurus terampuh yang dipergunakan para datuk, akan tetapi selalu si sasterawan yang menang," kata Yap-lojin.
"Ah, betapa hebat dan menariknya. Harap suhu sudi menceritakan karena teecu amat tertarik mendengarnya."
Kakek ita menarik napas panjang. "Hal ini sebenarnya merupakan rahasia para datuk yang di-anggap amat memalukan, bahkan subomu sendiri-pun tidak tahu akan cerita ini. Akan tetapi setelah kini Raja Kelelawar seperti menjelma lagi dan me-ngacaukan dunia, kita memang boleh mengharapkan munculnya tokoh keturunan sasterawan ini yang akan menundukkannya. Nah, kalian dengar-lah ceritaku." Kakek itupun lalu menceriterakan peristiwa hebat yang terjadi puluhan tahun yang lalu.
Seabad yang lalu, dunia persilatan mengenal nama empat orang datuk yang dianggap sebagai tokoh - tokoh yang memiliki kepandaian silat paling tinggi di dunia persilatan. Mereka itu adalah dua orang tokoh golongan putih, yaitu Bu-eng Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan) yang merupakan datuk putih daerah selatan, dan Sin-kun Bu - tek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding) yang menjadi datuk putih di utara. Kemudian dua orang datuk golongan hitam, yaitu Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar Arwah) pendiri dari Tai-bong-pai dan Kim-mo Sai-ong (Raja Singa Berbulu E-mas) pendiri dari Soa- hu-pai. Empat orang tokoh inilah yang dianggap amat sakti dan paling tinggi ilmunya sehingga seorang seperti Bit-bo-ong (Raja Kelelawar) yang dianggap rajanya kaum penjahat sekalipun tidak pernah berani bertingkah terhadap mereka dan dianggap masih lebih rendah dari pada mereka berempat.
Biarpun di antara dua golongan itu ada go-longan putih dan golongan hitam, akan tetapi mereka itu dapat mengikat persahabatan dan tidak pernah saling bermusuhan. Memang aneh, akan tetapi memang kehidupan para datuk ini tidak lumrah manusia biasa. Biarpun Cui- beng Kui- ong dan Kim-mo Sai-ong itu merupakan dua orang datuk hitam, akan tetapi mereka sendiri tidak pernah melakukan kejahatan, hanya dianggap datuk dan didewa- dewakan oleh kaum sesat.
Mereka itu balikan memiliki kegagahan yang mengagum-kan, walaupun pandangan mereka kadang-kadang sesat dan tidak mengenal arti kesopanan atau hukum-hukum yang ada. Mungkin karena saling segan oleh ilmu masing-masing yang amat tinggi, dan saling menyayang kepandaian masing - masing kawan, maka mereka itu dapat bersahabat.
Anehnya, setiap empat tahun sekali, empat orang datuk itu selalu mengadakan pertemuan untuk membicarakan ilmu silat, bahkan mereka itu masing- masing memperlihatkan kemajuan - kemajuan yang mereka peroleh selama empat tahun terakhir, untuk dikagumi oleh yang lain, juga diakui! Akan tetapi baiknya, belum pernah di antara mereka itu terjadi persaingan atau cekcok, apa lagi lalu saling serang sampai bunuh - membunuh. Mereka agak-nya maklum bahwa sekali bentrok, berarti mereka akan membiarkan dirinya terancam maut, karena sekali berkelahi, tentu kematian mengancam mereka. Bukan tidak mungkin, mengingat bahwa tingkat mereka seimbang, mereka akan sampyuh dan mati semua. Kadang-kadang mereka mengadakan pertemuan di tepi pantai, kadang-kadang di puncak gunung atau di tempat- tempat yang sunyi dan yang tak pernah didatangi orang lain.
Pada suatu hari, kembali mereka mengadakan pertemuan setelah selama empat tahun mereka tidak pernah saling bertemu. Sekali ini, mereka memilih tempat di lembah Gunung Hoa- san yang indah dan amat sunyi. Dan di lembah itu terdapat sebuah telaga yang indah sekali, dengan airnya yang dalam dan kehijauan, bening seperti kaca. Sunyi sekali di situ sehingga ketika empat orang datuk itu datang secara beruntun, mereka merasa suka sekali dan memuji tempat itu sebagai tempat pertemuan yang amat menyenangkan.
"Ha - ha - ha, kamu tukang obat memang pandai memilih tempat yang bagus !" Cui - beng Kui - ong pendiri Tai-bong-pai memuji karena memang tempat itu adalah pilihan Bu-eng Sin-yok- ong. Mereka lalu duduk mengelilingi sebuah perapian sambil bercakap-cakap, membicarakan tentang ilmu silat dan tentang hasil - hasil mereka selama empat tahun ini. Bu - eng Sin - yok - ong mengatakan bahwa diapun hanya mendengar saja tentang keindahan telaga ini dan baru sekarang dia datang ke tempat itu.
"Yok-ong, selama empat tahun ini ilmu apa sajakah yang berhasil kauciptakan ?" Kita - mo Sai - ong bertanya. Di antara mereka berempat, memang boleh dibilang tingkat Bu-eng Sin-yok- ong yang paling tinggi sehingga tiga orang yang lain menganggap dia seperti saudara tua.
Menurut tingkat mereka, walaupun mereka tidak pernah saling gempur, orang pertama adalah Bu
- eng Sin-yok - ong, ke dua adalah Sin - kun Bu - tek dan Cui-,beng Kui - ong yang (memiliki tingkat seimbang, dan yang sedikit lebih "rendah adalah Kim - mo Sai - ong. Akan tetapi, perbedaan tingkat ini tidak pernah mereka, nyatakan dengan mulut, hanya masing-masing mencatatnya di dalam hati, mengukur dari kepandaian mereka ketika saling mendemonstrasikan ilrnu masing - masing.
Ditanya oleh Kim - mo Sai - ong secara terbuka itu, Bu - eng Sin - yok - ong tersenyum sambil mengelus jenggotnya. "Ah, sudah tua seperti aku ini, perlu apa memperdalam ilmu membunuh orang lain ? Tidak, :elama ini aku tidak mau menambah ciptaan ilmu (membunuh. Sudah terlalu banyak ilmu membunuh diciptakan orang-orang pandai seperti kalian bertiga ini, maka aku lalu tekun di dalam guha untuk mencfcri rahasia ilmu menghidupkan yang menjadi kebalikan dari ilmu membu-nuh."
"Lo - heng, engkau adalah seorang Raja Tabib yang merupakan dewa pengobatan di dunia ini, apakah engkau maksudkan selama ini engkau memperdalam ilmu pengobatan yang sudah hebat itu ? Hampir tidak ada penyakit yang tak dapat kausembuhkan dengan ilmumu," tanya Sin- kun Bu-tek yang merasa seperti saudara sendiri dengan datuk selatan itu sehingga menyebutnya lo-heng.
"Bukan hanya ilmu pengobatan, lo-te, melainkan ilmu menghidupkan," jawab yang ditanya. "Ha-ha-ha, tukang obat !" Cui-beng Kui-ong yang suka ugal-ugalan dan tidak pernah mau
memakai peraturan, juga dalam hal memanggil nama itu, tertawa. "Yang dihidupkan itu hanyalah orang mati, apakah kau mau katakan bahwa engkau dapat menghidupkan orang mati ?" Pertanyaan ini seperti kelakar, akan tetapi diam-diam yang bertanya merasa tegang dan juga dua orang lainnya memandang wajah Bu-eng Sin-yok-ong dengan mata terbelalak penuh perhatian.
Sin - yok - ong menarik napas panjang. "Siancai... aku hanya manusia biasa, mana mungkin dapat membuka rahasia antara mati dan hidup ? Akan tetapi, sebagai ahli pengobatan, aku tertarik untuk menyelidiki sebab-sebab mengapa ada kematian dalam hidup ini. Manusia ini hidup karena adanya tenaga yang menggerakkan segala sesuati dalam tubuh kita, baik selagi terjaga maupun sedang tertidur, menggerakkan jantung, pernapasan dan seluruh urat syaraf dalam tubuh, sampai yang terha-lus sekalipun. Kematian disebabkan karena tenaga penggerak ini tidak dapat menembus bag;an tubuh yang rusak, baik oleh kuman maurmn oleh kekeras-an dari luar.
Nah, aku melakukan penyelidikan bagaimana untuk menembus bagian tertutup itu sehingga tenaga penggerak itu mampu menembus ke bagian-bagian yang terpenting sehingga semua anggauta tubuh dapat bekerja dengan baik walau-pun ada bagian yang cacat dan hidup dapat dipertahankan."
Tiga orang datuk lainnya mendengarkan de-ngan mata terbelalak. "Wah, wah, bukan main hebatnya! Kalau benar engkau telah berhasil mengatasi kematian, maka segala ilmu di dunia ini tidak ada artinya lagi. Selamat, Yok-ong!" kata Kim-mo Sai-ong akan tetapi Sin-yok-ong mengangkat tangannya.
"Jangan tergesa - gesa memberi selamat, Sai-ong. Aku baru dalam taraf penyelidikan dan per-cobaan saja dan ternyata di balik itu tersembunyi rahasia - rahasia yang amat pelik dan gawat. Sudah-lah, lebih baik kalian menceritakan dan memperli-hatkan ilmu - ilmu baru yang kalian berhasil cipta-kan selama ini." Kim - mo Sai - ong lalu mendemonstrasikan ilmu-nya yang paling hebat, yaitu ilmu tenaga sakti Rawa Pasir. Ketika dia mainkan ilmu ini yang diberi nama Pukulan Pusaran Pasir Maut, di sekitar tu-buhnya terasa ada tenaga hebat yang berdaya tolak luar biasa kuatnya, mengandung hawa dingin yang menggigilkan, terasa oleh tiga orang datuk lainnya yang dapat mengerti bahwa lawan yang kurang kuat tidak akan dapat bertahan mengha-dapi datuk ini dalam jarak tiga langkah saja. Dan kaki tangan Kim - mo Sai - ong mainkan ilmu silat yang dinamakannya Soa-hu- lian (Teratai Danau Pasir). Tiga orang datuk itu memuji ilmu-ilmu baru ini.
Tiba giliran Cui-beng Kui-ong yang mendemonstrasikan ilmunya yang mutakhir, yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah! Bukan main hebatnya pukulan ini. Terasa oleh tiga orang datuk lainnya betapa dalam angin pukulan itu terkandung hawa beracun yang menyedot ke arah lawan dan se- tiap pertemuan anggauta badan dengan lawan, seperti kalau lawan menangkis dan sebagainya, lawan yang kalah kuat sedikit saja tenaganya tentu akan terkena akibat hawa pukulan ini yang akan menyedot keluar darah dari balik kulit mereka sehingga lawan seolah-olah akan berkeringat da-rah ! Sebelum ilmu yang mengerikan ini, Cui - beng Kui - ong sudah pula memiliki Ilmu Tenaga Sakti Asap Hio yang membuat keringatnya berbau seper-ti hio (dupa biting) yang harum - harum aneh.
Diam-diam Sin-yok-ong dan Sin-kun Bu-tek merasa khawatir dan ngeri. Kalau ilmu kedua orang datuk kaum sesat itu dipergunakan oleh mu-rid-murid mereka yang berahlak bobrok, tentu akan mendatangkan malapetaka di dunia ini. Akan tetapi mereka berdua merasa yakin bahwa biarpun dua orang datuk sakti itu dianggap sebagai datuk sesat, namun mereka amat keras terhadap muridmurid mereka dan tidak sembarangan menurunkan ilmu mereka kepada murid mereka.
Tiba giliran Sin-kun Bu-tek yang memperli-hatkan ilmu pukulan terbarunya. Ilmu itu dina- makan Ilmu Silat Angin Puyuh dan dimainkan dengan pengerahan tenaga sakti yang dinamakan- nya tenaga Thian - hui - gong - ciang (Tangan Ko-song Halilintar). Ketika orang sakti ini memainkan ilmunya, maka terasa oleh tiga orang datuk lain-nya betapa ada hawa menyambar - nyambar panas dan disertai angin puyuh yang mengamuk hebat. Debu mengepul tinggi dan berpusing seperti ter-bawa angin puyuh dan pohon-pohon di sekeliling tempat- itu bergoyang - goyang, daun - daun rontok beterbangan terbawa berpusing pula.
"Hebat, hebat... , lo-te. Ilmu pukulan ini hebat sekali" Bu-eng Sin-yok-ong memuji, demikian pula dua orang datuk sesat juga merasa kagum dan merasa bahwa bagaimanapun juga, ke- majuan ilmu mereka masih kalah dibandingkan dengan Sin - kun Bu - tek ini.
"Nah, sekarang tiba giliranmu, lo-heng. Biar-pun engkau mengaku belum berhasil, akan tetapi selama empat tahun ini tentu telah ada kemajuan. Siapa tahu engkau telah dapat menghidupkan orang mati ! Wah, kalau benar demikian, kami bertiga akan berlutut dan takluk!" kata Sin - kun Bu - tek yang dibenarkan oleh dua orang datuk lainnya. Kalau benar Tabib Sakti itu dapat menghidupkan orang mati, apa artinya semua kemajuan yang mereka peroleh ? Kecil sekali dibandingkan dengan ilmu yang dapat menghidupkan orang mati !
Bu - eng Sin - yok - ong tersenyum dan mengge-leng kepala. "Jangan kalian melebih - lebihkan. Sudah kukatakan, aku baru membuat penyelidikan dan percobaan, dan di balik kehidupan ini terdapat hal - hal yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan otak belaka. Akan tetapi, memang selama empat tahun ini aku sudah membuat percobaan - percoba-an. Nah, Sai - ong, engkau yang paling gesit, coba-lah engkau mencari seekor kelinci."
"Baik!" Begitu menjawab, tubuhnya sudah melesat lenyap dan sebentar saja iblis pendiri Soa-bu - pai ini telah datang kembali membawa seekor kelinci.