Halo!

Darah Pendekar Chapter 57

Memuat...

"Toa-suheng... !" penyerang itu berseru. "Sam-sute ! Ada apakah ini ?"

"Entahlah, suheng. Aku baru saja keluar karena mendengar teriakan ji-suheng tadi.

Agaknya tempat ini kedatangan orang-orang jahat. Lihat, di sana ji-suheng sedang melayani seorang musuh agaknya!"

"Benar ! Cepat kau pergi ke belakang, di sana terdengar banyak orang bertempur. Aku akan membangunkan semua saudara kita !" Sute ke tiga dari Kiong Lee itu meloncat lenyap dan Kiong Lee lalu mengerahkan ilmunya yang hebat, membung-kuk dan mencengkeram ke arah tembok pagar itu sehingga tembok itu hancur di dalam genggaman tangannya, kemudian dia menggunakan tenaga-nya untuk menyambit ke arah genta besar di atas menara yang berada tinggi dan agak jauh di sudut pekarangan. Biarpun jaraknya jauh dan yang di-pakai menyambit hanyalah hancuran tembok, akan tetapi segera terdengar suara genta nyaring berbunyi berkali-kali seperti ditabuh bertalu-talu oleh tangan yang kuat. Tentu saja suara itu mengejutkan semua penghuni rumah perkumpulan atau perguruan Thian-kiam-pang itu dan semua terbangun dari tidur dan bergegas keluar. Keadaan menjadi gempar akan tetapi kini semua murid te-lah berlarian keluar dengan pedang di tangan. Akan tetapi mereka itu hanyalah murid- murid tingkat rendahan yang juga menjadi anak buah Thian-kiam-pang, sedangkan di antara tujuh orang murid utamanya, kini yang berada di situ hanya Yap Kiong Lee, ji-sutenya dan sam - sutenya saja, sedangkan yang lain- lain masih ketinggalan karena sedang berpencar dan mencari-cari ke mana perginya orang yang menculik Yap Kim.

Kiong Lee sudah cepat meloncat ke arah sam-ping bangunan di mana dia melihat ji-sutenya sedang bertanding melawan seorang wanita cantik. Melihat betapa Kwan Tek, yaitu adik seperguruan-nya yang ke dua itu tidak bersepatu, tahulah Kiong Lee bahwa Kwan Tek tentu terbangun dari tidur dan tidak sempat mengenakan sepatu. Kiong Lee berdiri memperhatikan perkelahian itu. Dengan sepasang pedangnya, Kwan Tek sebetulnya dapat mendesak lawannya, karena selain serangannya le-bih mantap, juga ia memiliki tenaga yang lebih besar sehingga lawannya kewalahan menghadapi serangan - serangan sepasang pedangnya. Akan te-tapi wanita baju hitam itu memiliki kegesitan yang luar biasa dan jelaslah bahwa ginkangnya memang hebat sehingga sebegitu jauh ji-sutenya itu belum juga dapat mengalahkannya. Kiong Lee segera mengenal wanita cantik itu yang bukan lain ada-lah Pek - pi Siauw - kwi (Iblis Cantik Tangan Seratus) atau juga terkenal dengan sebutan Si Maling Cantik yang amat terkenal namanya sebagai maling tunggal di daerah selatan. Maling Cantik itu juga memegang sepasang senjata, yang kiri

se-batang pedang pendek dan yang kanan sehelai sa-buk sutera. Kiong Lee maklum bahwa sutenya itu tidak perlu dibantu, maka diapun cepat meloncat ke belakang dan terkejutlah dia melihat betapa tempat itu telah didatangi oleh banyak penjahat yang rata - rata memiliki kepandaian tinggi. Ba-ngunan sebelah kiri sudah terbakar dan dia meli-hat adik seperguruannya yang ke tiga sibuk meng-hadapi serbuan para penjahat, dibantu oleh para anggauta Thian-kiam- pang. Dia teringat akan suhunya yang masih berada di dalam tempat pertapaannya, yaitu di sebuah bangunan yang berada di atas pulau kecil di tengah telaga kecil. Cepat dia berlari ke tempat itu dan di depan bangunan itupun terdapat orang bertempur. Ketika Kiong Lee melihat bahwa yang berkelahi itu adalah nenek Siang Houw Nio - nio, dia terkejut bukan main. Lawan subonya itu adalah seorang laki - laki tinggi bermantel hitam, memiliki gerakan yang luar bia-sa sekali, cepat dan aneh sehingga subonya sendiri nampak terdesak !

Sejenak Kiong Lee berdiri tertegun. Subonya bukanlah tokoh silat sembarangan. Ia merupakan pengawal pribadi kaisar yang berilmu tinggi. Dia tahu betul betapa saktinya subonya itu, mungkin tidak banyak selisihnya dengan kesaktian gurunya. Akan tetapi sekarang, menghadapi lawan berjubah hitam ini, subonya jelas terdesak. Orang berpakaian hitam itu bergerak luar biasa cepatnya, seperti setan saja. Jantungnya berdebar tegang. Dia sudah mendengar laporan tentang Raja Kelelawar. Inikah orangnya ? Kiong Lee mengamati gerakan orang itu dengan penuh perhatian. Memang luar biasa sekali gerakan orang itu. Kiranya mantel hitam itu-lah yang menjadi semacam perisai, atau tempat berlindung, juga tempat di mana dia bersembunyi dan dari situ melakukan serangan - serangan dah-syat. Mantel hitam itu kadang - kadang kaku ka-dang-kadang lemas dan dapat menyembunyikan gerakan - gerakannya dari mata lawan karena pihak lawan hanya dapat melihat ujung kepala, kaki dan tangan saja. Semua serangan lawan banyak diga-galkan oleh adanya mantel yang menjadi perisai itu dan setiap kali ada lowongan, tentu iblis itu me-nyerang dari balik mantel dengan dahsyat. Bebe-rapa kali dilihatnya betapa subonya kewalahan dan nyaris terpukul. Melihat ilmu silat aneh ini, Kiong Lee teringat akan cerita gurunya tentang ilmu andalan Si Raja Kelelawar yang amat hebat, yaitu yang disebut Ilmu Silat Gerhana Bulan. Man-tel itu seolah - olah menjadi awan tebal yang me-nyelimuti atau menyembunyikan bulan. Inikah il-mu aneh itu ? Kiong Lee tidak tega melihat subo nya terdesak dan terancam bahaya, maka diapun cepat terjun ke dalam medan perkelahian dan membantu, subonya.

Begitu terjun, Kiong Lee menyerangnya dari belakang. Dia berpendapat bahwa kalau orang itu dikeroyok dari depan dan belakang, tentu tidak akan mampu berlindung di balik mantelnya lagi. Akan tetapi ternyata pendapatnya ini tidak benar. Secara aneh sekali, mantel yang hitam lebar itu dapat bergerak aneh dan cepat, menggulung dan berkibaran mengelilingi tubuh Si Raja Kelelawar sehingga menyembunyikannya dari semua jurusan, juga dari belakang ! Seperti juga subonya, Kiong Lee tidak dapat melihat tubuh lawan dengan jelas dan tidak melihat pula gerakan lawan di balik mantel hitam itu. Dan semua hantamannya selalu bertemu dengan mantel yang seperti perisai. Kalau dia mempergunakan tenaga sinkang, maka pukul-annya tiba di permukaan mantel yang lunak dan yang menyerap semua tenaga pukulannya, dan kadang-kadang mantel itupun menjadi keras seperti perisai baja yang kuat. Sungguh merupakan ilmu yang aneh dan, berbahaya. Mantel itu bisa sa-ja tiba-tiba terbuka untuk memberi jalan keluar serangan dahsyat dari Raja Kelelawar itu ! Dan gerakan orang itu cepat bukan main, berkelebatan.-seolah - olah dia mempergunakan ilmu terbang sa-ja. Kiong Lee sudah mencabut sepasang pedang-nya dan menyerang dengan sungguh - sungguh, na-mun semua serangannya gagal dan dia sendiripun kini terdesak. Mengeroyok dua bersama subonya yang sakti masih terdesak, padahal tingkat kepan- daiannya di saat itu sudah maju pesat, tidak ber-selisih banyak dengan tingkat subonya. Sungguh membuat mereka berdua merasa penasaran sekali.

Tiba - tiba subonya mengeluh karena paha kiri-nya kena tendangan iblis itu yang mencuat dari balik mantel hitamnya. Tendangan itu datangnya sama sekali tidak tersangka-sangka dan sedemikian cepatnya karena gerakan iblis itu memang luar bi-asa cepatnya, dilakukan ketika tubuh iblis itu baru saja meloncat dan mengelak dari sambaran pedang Kiong Lee sehingga datangnya tidak tersangka-sangka dan tendangan itu luar biasa kerasnya sam-pai tubuh Siang Houw Nio - nio terlempar dan me-nabrak pintu bangunan sampai jebol! Tentu saja Kiong Lee terkejut sekali dan cepat menolong subonya yang bangkit lagi. Sepasang pedangnya diputar dengan pengerahan sinkang sekuatnya se-hingga membentuk gulungan sinar yang lebar dan tidak memungkinkan Raja Kelelawar untuk men-desak nenek yang sudah terkena tendangannya itu dan terpaksa harus menghadapi pemuda perkasa itu. Akan tetapi setelah kini dia harus menghadapi iblis itu sendirian saja sedangkan subonya agaknya belum pulih kembali dan belum terjun membantu-nya, Kiong

Lee merasakan betapa hebatnya ke-pandaian iblis itu. Setelah kini dia harus meng-hadapinya sendirian, baru terasa olehnya kehebat-annya. Terutama sekali kecepatan gerakan itulah yang membuatnya benar - benar bingung dan ke-walahan karena dia merasa seperti menghadapi banyak lawan. Iblis itu bergerak sedemikian cepat-nya sehingga sukar untuk dapat diikutinya dengan pandang mata, sebentar di depan, tahu-tahu sudah menyerang dari kanan, dari kiri, bahkan tahu - tahu menerjang dari belakangnya ! Dia sudah mengerahkan kepandaiannya, memainkan langkah - langkah ajaib, akan tetapi semua itu sia - sia saja karena ke-cepatan gerak Si Raja Kelelawar itu sungguh tak dapat dipecahkan oleh langkah - langkah ajaib. Iblis itu seolah - olah dapat terbang atau menghilang, dan juga dalam hal tenaga sinkang, Kiong Lee ha-rus mengakui keunggulan lawan. Dia memang kalah segala - galanya, pendeknya tingkatnya masih kalah jauh. Maka, setelah terdesak hebat, akhir-nya pundak kirinya terkena sambaran jari tangan lawan. Kelihatan perlahan saja, akan tetapi cukup membuat lengannya terasa ngilu dan seperti sete-ngah lumpuh, lengan kirinya tergantung lemas dan terpaksa dia melompat mundur.

Pada saat itu nampak bayangan di luar pintu. Nenek Siang Houw Nio - nio yang maklum bahwa pemuda itu terluka pula, khawatir melihat bayang-an ini. Kalau ada musuh lagi datang, tentu mereka berdua takkan berdaya lagi. "Lee - ji, cepat buka pintu rahasia bawah tanah! Cepat!"

Kiong Lee tercengang dan meragu. "Tapi... tapi suhu sedang bertapa di dalam... teecu takut mengganggu, tanpa ijin beliau tak seorangpun boleh membukanya... aughh... !" Sebuah tendangan iblis itu mengenai punggungnya dan Kiong Lee terlempar, muntah darah !

"Persetan dengan tua bangka itu ! Cepat sebe-lum kita mati penasaran ! Lihat, lawan kita ber- tambah !" Sambil berkata demikian, nenek itu menyebar jarum-jarum halus ke arah iblis itu, Ba-gaimanapun juga, nenek itu adalah seorang yang berilmu tinggi dan hal ini diketahui oleh si iblis yang tidak berani sembarangan dan cepat melin-dungi tubuhnya dari jarum - jarum halus itu dengan mantelnya. Juga dia maklum bahwa pemuda itu-pun amat lihai, maka biarpun keduanya telah ter-luka, dia tidak berani sembarangan mendekat dan menanti kesempatan baik untuk menurunkan tangan mautnya. Dan kini, khawatir kalau mereka lolos, iblis itu bergerak cepat mengelilingi mereka, tidak membiarkan mereka melarikan diri melalui pintu rahasia yang belum diketahuinya di mana letaknya. Siang Houw Nio - nio dan Kiong Lee berdiri beradu punggung melindungi diri yang sudah terluka.

Tiba - tiba berkelebat bayangan orang memasuki ruangan bangunan kecil itu. Semua orang melirik dan kiranya yang masuk adalah Ho Pek Lian, no-na tawanan itu. Di belakangnya nampak Pek Lian dan Ang In. Ketika Pek Lian melihat Raja Kelela-war yang pernah menawannya, dan melihat betapa pemuda perkasa itu luka, ia menjadi marah sekali dan langsung saja, dengan nekat iapun menerjang maju dan menyerangnya dengan pukulan tangan kanan. Akan tetapi, Raja Kelelawar itu menangkis dan akibatnya, tubuh Pek Lian terlempar mena-brak sebuah pot bunga yang berada di sudut ru-angan. Pot bunga kuningan itu tidak roboh ter-langgar tubuh Pek Lian, melainkan tergeser ke samping. Terdengar bunyi berkerotokan dan tiba - tiba saja separuh lantai ruangan itu terbuka dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh nenek Siang Houw Nio - nio dan Kiong Lee, juga tubuh Pek Lian terjerumus ke dalam lubang. Melihat ini, Pek In dan Ang In berteriak khawatir, akan tetapi merekapun meloncat menyusul ke dalam lubang itu karena mereka maklum bahwa lubang itu tentulah merupakan rahasia yang baru dibuat oleh Thian-kiam-pang.

Melihat ini, Raja Kelelawar menjadi marah, hen-dak mengejar, akan tetapi dia meragu, takut kalau-kalau dia akan terjebak. Kembali terdengar suara berkerotokan dan tahu - tahu lantai telah menutup kembali. Barulah Raja Kelelawar sadar bahwa mereka itu telah meloloskan diri melalui pintu rahasia, yaitu lubang tadi. Dia menjadi geram. Dihampiri-nya pot bunga kuningan itu dan digeser - gesernya ke kanan kiri untuk membuka lantai. Namun dia tidak berhasil. Agaknya lubang itu telah tertutup dan dikunci dari bawah. Dia memukul - mukul pot bunga sampai hancur dan memukul - mukul lantai, menendang - nendang. Akhirnya dia mengerahkan anak buahnya untuk membakar bangunan di tengah pulau kecil itu, lalu diapun keluar dan bersama anak buahnya dia melakukan pembantaian besar-besaran di gedung induk Perguruan Pedang Langit (Thian - kiam - pang). Semua anggauta dan murid dibunuhnya dengan kejam, dan seluruh bangunannya dibakar sampai habis. Agaknya, Raja Kelela-war ini amat membenci Thian - kiam - pang, seperti orang melampiaskan dendam yang hebat!

*

* *

Mereka yang terjeblos ke dalam lubang itu ter-jatuh ke dalam ruangan bawah tanah dan biarpun lantai di atas telah menutup kembali, namun kea-daan di situ cukup terang dengan adanya lampu-lampu yang menempel di dinding batu. Nenek Siang Houw Nio - nio yang terluka pahanya itu, terpincang - pincang menuruni lorong kecil. Di be-lakangnya, Pek In dan Ang In memapah Kiong Lee yang terluka parah di pundak dan punggung. Pa-ling belakang adalah Ho Pek Lian. Lorong itu panjang sekali, berbelak - belok naik turun dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu tertu-tup yang bertuliskan RUANGAN SAMADHI.

Agaknya langkah kaki mereka sudah diketahui orang karena dari balik pintu terdengar suara te-guran halus, "Siapa di luar itu ? Lee-jikah itu ?"

Sebelum Kiong Lee dapat menjawab, nenek itu mendahuluinya menjawab lantang, "Akulah yang datang!" Terdengar seruan tertahan dari dalam dan tiba-tiba daun pintu terbuka. Di balik pintu itu berdiri seorang kakek berambut panjang. Kiong Lee, Pek In dan Ang In cepat menjatuhkan diri berlutut dan berkata, "Suhu !"

Untuk beberapa lamanya, nenek dan kakek itu berdiri saling pandang penuh selidik dan ada ke-haruan menyelinap dalam pandang mata mereka. Mereka adalah suami isteri yang telah saling ber-pisah selama limabelas tahun walaupun keduanya sama - sama tinggal di daerah kota raja.

"Sumoi... !" Kakek itu akhirnya menegur dengan suara lirih. Semenjak berpisah, nenek itu tidak mau lagi diakui sebagai isteri, maka terpaksa kakek itupun menyebutnya dengan sebutan semula sebelum mereka menjadi suami isteri, yaitu sumoi karena memang isterinya ini adalah sumoinya sendiri.

Akan tetapi, panggilan yang mengandung keha-ruan dan kelembutan ini tidak diacuhkan oleh si nenek yang marah. Ia bahkan tidak memperdu-likan pahanya yang amat nyeri rasanya, akan tetapi langsung saja ia menyerang kakek itu dengan kata-kata ketus.

"Di mana anakku, Kim - ji ? Hayo katakan di mana dia ? Engkau membiarkan dia dihina orang, ya ? Engkau membiarkan dia bergaul dengan se-gala macam manusia sesat, ya ? Hayo kaukembali-kan anakku kepadaku, kalau tidak !" Nenek itu terengah - engah dan kedua

matanya tiba-tiba menjadi basah !

Kakek itu menjadi bengong. Matanya meman-dang berganti-ganti kepada isterinya dan murid-murid itu, karena dia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh isterinya yang marah-marah. Juga dia merasa heran melihat mereka masuk seperti itu, bahkan isterinya dan juga murid utamanya menderita luka yang cukup parah. Melihat keadaan suhunya, Kiong Lee merasa kasihan dan

diapun berkata, "Suhu... adik Kim... dia telah dilukai orang... lalu diculik "

Post a Comment