Halo!

Darah Pendekar Chapter 56

Memuat...

Tiba - tiba Kiong Lee mengeluarkan teriakan yang mengejutkan semua orang dan pemuda ini sudah merobah gerakan silatnya. Dia menggerak-gerakkan kaki tangannya perlahan - lahan namun mengandung penuh tenaga sehingga setiap kali ka-kinya dihentakkan, bumi seperti tergetar rasanya. Telapak tangannya terbuka dan otot - otot lengan-nya tersembul keluar. Buku - buku tulangnya se-perti saling bergeser mengeluarkan bunyi berke-rotokan dan uap putih nampak membayang tipis di setiap permukaan lengannya. Dan ketika lengan yang bergerak perlahan itu menangkis cakaran Si Harimau Gunung, semua orang menjadi terkejut. Gerakan itu, yang dilakukan perlahan, tahu - tahu meluncur cepat bukan main seperti kepala ular yang mematuk mangsa yang sudah lama diintai-nya. Suara mencicit bagaikan bunyi burung malam terdengar ketika lengan bergerak dan cepatnya membuat semua serangan cakaran Si Harimau Gu-nung itu terhenti setengah jalan karena setiap kali tangan yang berbentuk cakar itu bergerak, baru se- tengah jalan sudah terpukul ke samping dan sebe-lum cakar dapat ditarik kembali, tangan pemuda baju putih yang bergerak seperti ular mematuk itu telah menyerang bagian - bagian tubuh yang ber-bahaya. Si Harimau Gunung terkejut bukan main dan dalam beberapa gebrakan saja nyaris kepalanya kena dipatuk oleh tangan kiri Yap Kiong Lee. Cepat dia membuat gerakan seperti ha- rimau mendekam untuk menghindarkan kepa-lanya. Akibatnya, sebuah arca singa yang berada tepat di belakangnya kena hantaman tangan Kiong Lee. Nampak cap lima jari tangan di tubuh arca batu itu dan kemudian arca itu menjadi retak - re-tak dan akhirnya hancur berantakan menjadi ke-pingan - kepingan kecil berserakan. Tentu saja semua orang melongo dan ada yang menjulurkan lidah saking kagum dan ngerinya, bahkan Si Ha-rimau Gunung sendiri terbelalak dan air

mukanya berobah. Hatinya mulai menjadi ragu dan gentar dan timbul pertanyaan dalam hatinya siapa gerang-an pemuda yang amat lihai ini sebenarnya ? Ca-karan tangannya itu biasanya mampu menghancur-kan batu karang yang keras sekalipun, akan tetapi sekarang ternyata hanya dapat membuat kulit le-ngan pemuda itu lecet - lecet sedikit saja, semen-tara dia sendiri tidak berani menangkis pukulan pukulan pemuda yang demikian kuat dan ampuh-nya. Ilmu apakah itu ? Nenek Siang Houw Nio-nio juga menggeleng-geleng kepala saking kagumnya. "Hemm, tua bang-ka itu kiranya telah menurunkan ilmu rahasia ke-turunannya kepada murid kesayangannya ini," gumamnya. Pek In dan Ang In tentu saja menjadi kagum bukan main. Mereka memang sudah lama mengetahui bahwa suheng mereka itu amat lihai, akan tetapi mereka tidak menyangka sehebat ini. Diam - diam mereka, dan juga Pek Lian, merasa gembira sekali karena-sekarang Harimau Gunung itu mulai terdesak. Pek In tadi telah mengambil dan menyimpan sepasang pedang milik Kiong Lee yang terlepas, seperti juga seorang di antara pen-jahat - penjahat itu telah (menyimpan senjata rantai dari Si Harimau Gunung.

Selagi Kiong Lee mendesak Si Harimau Gu-nung, tiba - tiba dia terkejut bukan main mende- ngar teriakan seorang di antara para sutenya, "Su-heng ! Kim - sute lenyap dan Ngo - suheng yang menjaga kereta tertotok pingsan !"

Mendengar teriakan ini, wajah Yap Kiong Lee menjadi pucat seketika dan diapun meloncat me-ninggalkan lawannya yang sudah terdesak untuk berlari menghampiri kereta yang ditinggalkan di tepi jalan tak jauh dari rumah makan itu. Dengan wajah pucat dia memeriksa dan memang benar, sutenya yang luka parah dan tidak mampu bergerak itu lenyap. Ngo - sutenya pingsan dengan leher berwarna kehijauan, mukanyapun mengandung warna kehijauan. Maka mengertilah dia bahwa sutenya ini tentu terkena totokan Ceng - ya - kang, Si Kelabang Hijau tokoh Ban-kwi-to itu. Yap Kiong Lee menjadi bengong, wajahnya pucat se-kali dan hatinya dicekam rasa khawatir yang hebat akan keselamatan sutenya yang tersayang.

Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali dari tahu - tahu nenek Siang Houw Nio - nio telah ber-ada di dekat kereta dan suaranya terdengar keren ketika ia menghardik, "Apa katamu ? Ada apa dengan Kim - ji (anak Kim) ? Hayo jawab !"

Yap Kiong Lee menjawab dengan suara penuh duka dan kepala ditundukkan, "Subo, adik Kim telah dilukai orang karena dia bergaul dengan orang jahat. Hari ini sebenarnya teecu hendak mem-bawanya kepada suhu, tidak teecu sangka bahwa orang yang menjadi sahabatnya itu telah menculik-nya, selagi teecu berkelahi di restoran tadi."

Nenek itu menjadi semakin marah, sepasang matanya memancarkan sinar berapi. "Kenapa eng-kau dan suhumu membiarkan anak itu berkeliaran? Sungguh orang tua yang tidak tahu mengurusi anak! Berteman dengan segala macam manusia jahat dibiarkan saja. Hemm, aku akan minta pertanggungan jawab kepada suhumu. Akan kulabrak dia kalau tidak bisa mendapatkan anakku dalam keadaan sehat selamat !" Wajah nenek itu menjadi merah padam dan hampir saja ia menangis. Ia lalu cepat memasuki keretanya dan berkata dengan suara berteriak kepada murid

- muridnya, "Kita tidak jadi bermalam di sini! Bayar semuanya lalu susul aku. Malam ini juga aku harus melabrak si tua bangka itu atas keteledorannya mengasuh Kim-ji!" Setelah berkata demikian, kereta dilarikan de-ngan kencang menuju ke barat, ke arah kota raja.

Para murid itu tertegun dan bengong saja. Yap Kiong Lee menjadi serba salah. Sejak suhu dan subonya hidup berpisah, hatinya merasa bingung dan prihatin sekali, bahkan dia sampai tidak mau menikah sampai sekarang. Dia sangat takut dan hormat kepada subonya karena di waktu dia masih kecil, subonya itulah yang mengasuhnya dan dia tahu bahwa subonya itu sebenarnya amat sayang padanya. Kemudian suhu dan subonya saling ber-pisah, subonya meninggalkan suhunya yang sudah tua itu dan mengabdi kepada kaisar di istana yang masih keponakannya sendiri.

Suhunya tidak mau ikut dan dia sendiri kasihan dan tidak tega untuk meninggalkan suhunya yang sudah tua dan sendirian itu. Karena dia tidak mau ikut subonya dan memilih untuk tinggal di situ merawat suhunya, maka subonya tidak mau lagi menggubrisnya. Kini subonya marah - marah, tentu akan terjadi keribut-an dan dia merasa prihatin sekali.

Yap Kiong Lee lalu memerintahkan para sute-nya untuk berpencar dan menyelidiki ke mana Yap Kim dilarikan orang. Pada saat itu, Si Harimau Gunung bersama empat orang penjahat kasar tadi telah lenyap dari situ, agaknya jerih dan tidak ber-napsu lagi untuk melanjutkan perkelahian.

Pek In dan Ang In membayar sewa kamar yang belum dipakai itu dan membayar harga makanan, kemudian mereka yang juga nampak tegang dan khawatir itu menghampiri Kiong Lee. "Bagaimana baiknya sekarang, Yap - suheng ?" tanya Pek In. Tidak ada jalan lain, kalian harus mentaati perintah subo, menyusulnya ke tempat suhu. Dan nona ini siapakah nona ini dan bagaimana bisa bersama kalian ?" "Nona Sie Pek Lian ini adalah seorang yang dicurigai subo sebagai teman ketua Lembah Yang-ce, maka subo memerintahkan kami untuk mena-wannya dan mengajaknya pulang."

"Hemm, kalau begitu, mari kita susul subo. Pasti akan menjadi ramai di sana." Merekapun berangkat, mempergunakan kereta Kiong Lee un-tuk mengikuti jejak kereta nenek Siang Houw Nio-nio yang marah itu. Kiong Lee benar-benar me-rasa prihatin sekali.

"Adik Pek dan Ang, aku khawatir akan terjadi salah paham antara subo dan suhu. Padahal, saat ini suhu sedang mengasingkan diri di tempat sa-madhinya, sudah belasan hari suhu tidak keluar dari situ."

Dua orang gadis itupun merasa khawatir sekali. Sebaliknya, Pek Lian menjadi ingin tahu sekali dan merasa amat tertarik. Makin lama, makin banyak ia mengalami hal yang aneh - aneh, bertemu de-ngan orang - orang yang aneh dan berilmu tinggi Betapa di dunia ini penuh dengan orang - orang pandai, pikirnya, akan tetapi herannya, semakin pandai orang, semakin banyak masalah yang mereka hadapi, keruwetan - keruwetan hidup yang membuat kehidupan mereka itu menjadi tidak te-nang, bahkan menderita. Biarpun ia belum tahu benar, akan tetapi iapun dapat menduga bahwa tentu ada rahasia besar antara nenek Siang Houw Nio - nio dan ketua Thian - kiam - pang itu, raha-sia yang membuat mereka terpisah dan agaknya menderita dan saling bermusuhan. Benar juga kata-kata yang pernah didengarnya dahulu bahwa kelandaian itu, seperti juga harta dan kedudukan, lebih banyak mendatangkan malapetaka dari pada bahagia. Tadinya ia sendiri tidak begitu mengerti akan arti kata - kata ini yang dianggapnya tak masuk akal karena bukankah semua itu bahkan merupakan sarana untuk dapat merasakan keba-hagiaan ? Akan tetapi, sekarang ia mulai melihat betapa orang - orang yang berkepandaian tinggi, justeru menjadi sengsara hidupnya karena kepan-daian itu sendiri. Persaingan, permusuhan, perke-lahian terjadi di mana - mana dan saling bunuh terjadi di antara orang-orang yang pandai ilmu silat. Apakah hal buruk ini akan terjadi pada orang-orang yang tidak tahu ilmu silat ? Agaknya ke-mungkinannya jauh karena mereka tentu tidak condong mempergunakan kekerasan. Dan kedu-dukan ? Ayahnya sendiri sekeluarga tertimpa malapetaka karena kedudukan. Andaikata ayahnya bukan seorang menteri, melainkan seorang petani miskin, apakah kaisar akan melihatnya? Tentu keluarga ayahnya kini masih aman sentausa, walaupun sebagai keluarga petani miskin !

Untung bagi mereka bahwa malam itu terang bulan sehingga dengan mudah mereka dapat meng-ikuti jalan yang berlika - liku mengikuti arus su-ngai itu. Belasan li sebelum memasuki daerah Ko-ta Raja Tiang - an, mereka membelok ke kanan, meninggalkan jalan besar memasuki jalan kecil, akan tetapi tetap mengikuti aliran sungai. Mereka memasuki sebuah hutan kecil yang banyak me-nyembunyikan cahaya bulan. Akan tetapi karena Yap Kiong Lee sudah hapal akan jalan di tempat itu, dia dapat menjalankan keretanya dengan lan-car. Kemudian nampak sebuah telaga kecil di te-ngah hutan dan di pinggir telaga itu terdapat sebu-ah bangunan megah yang dilingkari tembok merah yang kokoh kuat seperti benteng.

Hari telah larut malam dan tempat itu nampak sunyi sekali. Akan tetapi mereka tahu bahwa tem-pat itu tentu terjaga ketat oleh para murid perkum-pulan Thian - kiam - pang. Kiong Lee, Pek In dan Ang In longak - longok dan merasa heran karena tidak melihat adanya kereta subo mereka yang ta-di dilarikan kencang lebih dahulu.

"Berhenti! Siapa di sana ?" Bentakan nyaring ini segera dikenal oleh Kiong Lee sebagai suara ji-sutenya, yaitu orang ke dua setelah dia di antara murid - murid Thian - kiam - pang. Tentu ji - sute-nya itu sedang bergilir meronda.

Pek Lian yang mendengar bentakan itu, merasa jantungnya tergetar karena suara itu dikeluarkan dengan pengerahan khikang yang cukup kuat un-tuk membuat orang yang datang dengan niat buruk menjadi gentar.

Akan tetapi Kiong Lee tidak jadi menjawab karena dia mendengar suara kaki berlari - lari disu-sul suara beradunya senjata! Agaknya yang dite-gur oleh ji-sutenya tadi bukanlah rombongannya, melainkan orang lain. Yap Kiong Lee mengerahkan ilmu ginkangnya dan sekali tubuhnya meluncur ke depan, dia telah meninggalkan tiga orang wanita muda itu. Tubuhnya lalu mencelat ke atas, berpu-taran dan tahu - tahu dia telah hinggap di atas pa-gar tembok yang kokoh kuat dan tinggi itu. Akan tetapi baru saja kakinya menginjak pagar tembok, dari sebelah dalam menyambar sebatang piauw ke arah lehernya. Dia cepat mengelak, akan tetapi penyerangnya itu sudah berada di dekatnya dan menyerangnya dengan tusukan pedang. Kembali Kiong Lee mengelak dan biarpun cuaca remang-remang, agaknya penyerangnya itu mengenal gerakan mengelak ini, sedangkan Kiong Lee juga mengenal gerakan serangan pedang.

Post a Comment