"Memang dia amat patuh kepadaku karena se-jak kecil akulah yang mengasuhnya, melindungi dan mengajarnya ilmu silat yang diberikan oleh suhu dan subo."
"Yap - suheng memang sangat berbudi, aku dan adik Ang juga sejak kecil selalu menyusahkanmu," kata Pek In lirih.
"Hemm, adik Pek, engkau tahu apa ? Sejak ke-cil aku sudah yatim piatu. Suhu memungut dan memeliharaku, bahkan mengangkatku sebagai anak. Setelah aku berusia delapan tahun, baru adik Kim terlahir. Budi suhu dan subo yang dilimpahkan kepadaku, sampai matipun takkan dapat kubalas, maka apa artinya membimbing kalian yang menjadi murid-murid tersayang dari subo ?"
'U
"Lalu bagaimana dengan Kim-suheng ?" tanya Ang In.
"Baiklah, kulanjutkan ceritaku. Dari seorang pengunjung pertemuan itu, kami mendengar bah-wa ada seorang pemuda yang berpakaian putih dan bersenjata siang - kiam (pedang pasangan) tam-pak bersama seorang gemuk pendek berkelahi me-lawan kelompok orang berjubah naga di lereng bu-kit sebelah selatan. Kami segera mengejar ke sana. Akan tetapi terlambat. Perkelahian telah selesai dan kedua pihak sama - sama terluka dan kedua pihak telah pergi. Yang membuat kami khawatir adalah ketika kami melihat dari bekas-bekas pertempuran bahwa kawan Kim-sute yang pendek itu adalah seorang tokoh pulau terlarang atau Pulau Ban-kwi- to. Kalau benar seperti kata orang yang menyaksikan itu, orang yang gemuk pendek itu tentulah Ceng-ya-kang (Kelabang Hijau) to-koh penting dari Ban-kwi-to."
"Lalu bagaimana ?" Ang In mendesak, khawatir sekali.
"Kami mengikuti jejaknya. Di sebuah dusun kami menemukan Kim-sute terluka parah di rumah seorang petani, dirawat oleh seorang pendekar tua yang tidak mau menyebutkan namanya. Menurut pengakuannya, adik Kim telah berkelahi melawan penjahat-penjahat yang dipimpin oleh raja bajak, kemudian datanglah Raja Kelelawar dan Kim-sute dilukainya. Untung ada pendekar tua itu yang lewat dan menolongnya." "Lalu ke mana perginya si Kelabang Hijau itu ?" tanya Pek In.
"Entahlah, Kim-sute sendiripun tidak tahu karena setelah terpukul, dia pingsan."
"Di mana adanya Kim-suheng sekarang?" Ang In bertanya, wajahnya membayangkan kekhawatiran hebat.
"Di dalam kereta, dijaga oleh Ngo-sute."
"Aku ingin menengok Kim-suheng !" Ang In cepat bangkit berdiri dan semua orangpun bangkit hendak mengikutinya. Akan tetapi, sebelum mereka meninggalkan meja itu, tiba-tiba terdengar suara halus.
"Hemm kalian mau ke mana ?"
Semua orang terkejut karena mengenal suara ini dan ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata Siang Houw Nio - nio telah berdiri di situ !
Yap Kiong Lee terkejut dan jerih, cepat - cepat dia dan ketiga orang sutenya menjatuhkan diri berlutut sambil berkata takut - takut, "Subo... !"
Akan tetapi wanita bangsawan itu tidak mengacuhkan mereka melainkan memandang kepada kedua orang muridnya yang nampak ketakutan, dan wanita tua itu nampak marah.