"Saya adalah seorang perantau dan kebetulan bertemu di jalan dan berkenalan dengan ketua lem-bah itu. Karena saya pernah ditolongnya, maka kami menjadi sahabat, akan tetapi saya bukan anggauta mereka."
"Di manakah sekarang sahabatmu, ketua lembah itu ?"
Ho Pek Lian memang tidak tahu ke mana pergi-nya Kwee Tiong Li yang ikut bersama gurunya yang baru, yaitu kakek Kam Song Ki yang lihai. Maka iapun menggeleng kepalanya dan berkata, "Saya tidak tahu. Kami saling berpisah tiga hari yang lalu dan saya ditawan oleh pasukan tusuk konde batu giok lalu dirampas oleh sepasang iblis itu."
Wakil Perdana Menteri Kang mempersilahkan nyonya bangsawan itu untuk duduk kembali di ruangan tamu melanjutkan percakapan mereka. Siang Houw Nio - nio memberi isyarat kepada dua orang muridnya, "Bawa ia masuk dan awasi baik-baik."
Pek In dan Ang In lalu memegang kedua ta-ngan Pek Lian dengan halus dan mengajaknya ma-suk pida ke ruang tamu di mana kedua orang gadis itu duduk agak jauh di belakang nenek yang kini melanjutkan percakapan dengan Menteri Kang. Dua orang muridnya adalah orang-orang keper-cayaan maka diperbolehkan untuk hadir. Dan ne-nek ini biarpun seorang bangsawan, akan tetapi sikapnya seperti orang kang - ouw, tidak begitu perduli akan segala peraturan. Bahkan ia seperti sengaja membiarkan Pek Lian ikut pula mendengar-kan, agaknya memang nenek ini ingin memancing agar Pek Lian dapat memberi keterangan lebih banyak tentang para pemberontak. Pek Lian duduk diapit-apit dua orang gadis lihai yang biarpun bersikap halus akan tetapi tetap saja merupakan pengawal - pengawal yang takkan membiarkan ia lolos. Diam - diam Pek Lian memasang telinga men-dengarkan percakapan tingkat tinggi itu.
"Menteri Kang, sekali lagi kuharapkan engkau suka memegang lagi jabatanmu dan mengurungkan niatmu untuk mengundurkan diri. Hal ini telah diputuskan oleh para penasihat istana dalam rapat terakhir dengan sri baginda kaisar sendiri. Akulah yang ditugaskan datang ke sini untuk menyampai-kannya kepadamu."
Wakil Perdana Menteri Kang mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. "Kalau hamba menolak, tentu paduka telah mendapat wewenang dari sri baginda untuk memenggal kepala hamba sekeluarga, bukan ? Begini, tuan puteri. Hamba siap untuk kembali, akan tetapi hamba juga siap untuk membiarkan kepalaku dipenggal sekarang juga oleh paduka."
Nenek itu mengerutkan alisnya dan sinar mata-nya mencorong menatap wajah pembesar itu. "Hem, apa maksudmu, Menteri Kang ?"
"Hamba siap untuk bertugas kembali, apa bila syaratnya dipenuhi. Hamba mohon agar para menteri jujur dan setia yang dipecat dan dipensiunkan agar diampuni dan ditarik kembali karena tenaga mereka amat dibutuhkan negara, termasuk sahabat hamba Menteri Ho. Menteri Ho hendaknya diam-puni dari hukuman mati, keluarganya dibebaskan dan agar dia menduduki lagi jabatannya. Demikianlah, tuan puteri. Kalau permohonan hamba itu tidak dipenuhi, maka lebih baik hamba menerima untuk di..."
"Nanti dulu, Menteri Kang!" nenek itu menyela. "Mana mungkin aku dapat memutuskan hal itu sekarang! Bukan wewenangku. Akan tetapi aku akan berusaha untuk menyampaikan permohonanmu kepada sri baginda dan akan berusaha agar beliau mengabulkannya. Aku mendengar bahwa sri baginda telah menghentikan empat orang menteri, bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada seorang di antaranya yang kini sedang hendak menjalankan pelaksanaan hukuman matinya. Menteri itu adalah sahabat karibmu" Nenek itu menghela napas. Ia tidak tahu betapa jantung Pek Lian berdebar penuh ketegangan dan keharuan. Betapa tidak akan tergetar rasa hati gadis ini mendengar orang membicarakan ayahnya. Akan tetapi ia
menguasai hatinya dan hanya menundukkan muka sambil terus mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Maaf, tuan puteri. Soalnya bukan semata-mata karena Menteri Ho adalah sahabat karib hamba. Andaikata hamba tidak mengenal dia sekalipun, tetap dia akan hamba bela karena hamba tahu bahwa dia adalah satu di antara para pembantu sri baginda yang terbaik, paling jujur dan setia sampai ke tulang - tulang sumsumnya." "Tapi dia berani menentang kebijaksanaan sri baginda !" kata nenek itu penasaran. "Tidak, tuan puteri. Bukan menentang sri baginda, melainkan mengingatkan beliau bahwa
ke-putusan yang diambil beliau itu kurang tepat dan pada akbarnya hanya akan merugikan negara sen-diri. Hanya menteri-menteri- jujur sajalah yang berani mengeritik, sebagai tanda bahwa dia benar-benar setia, bukan sebangsa pejabat yang pandai-nya hanya menjilat - jilat, menyenangkan hati sri baginda karena pamrih untuk mencari kedudukan dan pengaruh, pejabat macam ini sesungguhnya adalah pengkhianat, musuh dalam selimut yang amat berbahaya. Kenapa justeru menteri yang ju-jur dan setia yang harus ditangkap dan dihukum ?"
"Sudahlah, aku mengerti apa yang kaumaksud-kan. Aku akan menghadap sri baginda dan tunggu-lah selama satu minggu. Aku akan datang lagi, Pek-ji, Ang-ji, mari kita pulang. Bawa nona itu sebagai kawan."
Biarpun nenek itu menyebut "kawan" namun dua orang muridnya tentu saja maklum bahwa guru mereka mencurigai nona ini yang harus dibawa sebagai seorang tawanan. Pek Lian tidak memban-tah. Ia dan dua orang murid Siang Houw Nio - nio itu diberi pinjaman pakaian oleh keluarga Wakil Perdana Menteri Kang untuk mengganti pakaian mereka yang tadi basah ketika mereka berkelahi melawan Im - kan Siang - nio. Setelah berpamit, rombongan puteri tua itu meninggalkan Lak-yang untuk kembali ke kota raja. Pengawal yang tadi-nya berjumlah empatbelas orang itu masih utuh biarpun mereka telah menderita luka - luka berat yang kemudian dapat disembuhkan kembali. Ten-tu saja mereka masih nampak loyo. Akan tetapi, sesungguhnya tugas mereka itu lebih banyak se-bagai tanda kebesaran saja dari pada benar - benar mengawal puteri tua yang amat lihai dan yang ten-tu saja sama sekali tidak membutuhkan pengawal-an orang - orang seperti mereka. Pek Lian menung-gang kuda di belakang kereta, diapit oleh Pek In dan Ang In. Dua orang gadis ini bersikap manis kepadanya, sama sekali tidak bersikap seperti orang yang menawannya. Pek Lian mengakui namanya, hanya she Ho itu digantinya dengan she palsu, yaitu she Sie.
***
Hujan telah berhenti sama sekali sehingga para pengawal, juga Pek In, Ang In dan Pek Lian yang berada di luar kereta tidak lagi basah oleh air hujan. Nenek bangsawan itu sengaja membuka tirai kereta sehingga dari belakang, sambil naik kuda yang disediakan oleh keluarga Menteri Kang, Pek Lian dapat melihat wajah nenek itu yang duduk termenung seperti patung. Diam - diam, seperti tidak sengaja, Pek Lian memperhatikan wajah itu. Seorang wanita yang sudah tua, usianya tentu ada enampuluh lima tahun, akan tetapi masih jelas membayang bekas kecantikannya. Wajah itu masih putih lembut biarpun di sana - sini, terutama di kanan kiri mulut dan di antara kedua mata, terdapat keriput. Alisnya diperindah dengan hiasan hi-tam seperti sudah lajimnya dilakukan oleh para wanita bangsawan. Mulut itu dahulu tentu indah dan penuh gairah, masih nampak jelas garis - garis lengkungnya, akan tetapi kini membayangkan se-suatu yang menyeramkan, menimbulkan sifat di-ngin dan juga keras. Pek Lian teringat akan cerita ayahnya tentang wanita ini, seorang bibi dalam dari kaisar dan juga menjadi pelindung kaisar. Bia-sanya wanita ini selalu berada di dalam istana, menjadi semacam pelindung tersembunyi dari kaisar, di samping adanya pengawal - pengawal pribadi kaisar yang dipimpin oleh Pek-lui-kong Tong Ciak si pendek cebol tokoh Soa-hu-pai itu. Karena nenek ini tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, maka perkenalannya dengan Menteri Ho juga hanya sepintas lalu saja, bahkan Pek Lian sendiri hanya baru mendengar namanya saja dan belum pernah berkenalan secara langsung, hanya melihatnya dari jauh. Tidak demikian dengan Wa-kil Perdana Menteri Kang yang menjadi sahabat baik ayahnya. Ia pernah bertemu, bahkan berke-nalan dengan pembesar ini, walaupun hanya meru- pakan pertemuan sambil lalu. Karena itulah maka pembesar itu meragu dan tidak mengenalnya tadi.
Kereta itu dengan tenangnya meluncur keluar dari pintu gerbang benteng sebelah utara. Para penjaga yang mengenal kereta dengan tanda - tan-da pangkatnya ini, cepat berdiri tegak memberi hormat dan kereta itu lewat dengan cepatnya, Pada saat itu, Ang In mendekati jendela kereta dan berkata kepada nenek Siang Houw Nio - nio.
"Subo, di depan terdapat empat orang dari per-kumpulan Thian - kiam - pang. Mereka juga keluar dari pintu gerbang dan juga membawa sebuah kereta." Nenek itu mengerutkan alisnya yang kecil panjang dan hitam karena alis itu buatan dengan alat penghitam. "Biarkan saja, kenapa ribut-ribut ? Jangan perdulikan bocah-bocah ingusan itu.
Pura-pura tidak melihat saja!" Jelas bahwa dalam kata-kata nenek itu terdapat kemarahan atau ke-mengkalan hati yang tidak senang.
"Tapi tapi, subo di sana terdapat Yap-suko ! Teecu... teecu..." gadis baju merah itu tergagap. Juga nona Pek In nampak gugup seperti adik seperguruannya. Melihat semua ini, Pek Lian memandang heran. Ada apakah ? Ia juga melihat kereta di depan dengan beberapa orang pemuda perkasa yang mirip dengan rom-bongan pria yang pernah dilihatnya ketika ia masih bersama kedua orang suhunya. Orang - orang Thian-kiam-pang ! Pria gagah perkasa, berbaju putih-putih membawa pedang pasangan yang panjang, sikap merekapun gagah dan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah golongan pendekar-pendekar perkasa.
"Huh, kalau ada bocah itu, kenapa sih ? Apa-kah kalian takut padanya?" nenek itu bertanya dan nampaknya semakin penasaran. "Lihat, apa yang dapat mereka lakukan kalau ada aku di sini
!"
Ho Pek Lian menjadi semakin heran. Ada apa-kah antara nenek dan dua orang muridnya itu de-ngan orang-orang dari Thian - kiam - pang, sehing-ga dua orang gadis lihai itu nampak seperti gentar dan kehilangan keberanian mereka ? Apakah orang-orang Thian - kiam - pang itu musuh- musuh mere-ka dan apakah mereka itu demikan lihainya se-hingga dua orang gadis itu kelihatan gentar? Ka-rena tertarik, Pek Lian agak menjauhkan kudanya dari kereta untuk dapat melihat lebih jelas ke arah orang - orang Thian - kiam - pang yang berada di depan itu.
Kereta di depan itu agaknya berjalan lambat-lambat sehingga hampir tersusul oleh kereta yang ditumpangi Siang Houw Nio-nio. Kini Pek Lian dapat melihat lebih jelas. Orang - orang dari Per-kumpulan Pedang Langit itu rata - rata berusia antara tigapuluh lima sampai empatpuluh tahun, kelihatan tegap dan gesit, rata - rata bersikap ga-gah dan membayangkan kepandaian silat yang tinggi. Setelah kereta yang berada di belakang itu menyusul dekat, pria - pria gagah perkasa yang rata - rata berpakaian serba putih itu serentak me-nengok ke belakang dan kesemuanya nampak ter-kejut sekali dan kikuk, persis seperti sikap Pek In dan Ang In ketika melihat mereka ! Jadi ada sema-cam rasa tidak enak, segan dan takut antara kedua rombongan itu. Kini Pek Lian teringat betapa wanita-wanita berpakaian sutera hitam yang me-makai tusuk konde batu giok itupun nampaknya kikuk ketika pria - pria gagah itu bertemu dengan pimpinan wanita bertusuk konde batu giok. Empat orang pria itu meringis, senyum yang masam dan kikuk, dan mereka hampir berbareng menegur ke-pada dua orang gadis itu. "Adik Pek! Adik Ang!"
Teguran yang dilakukan dalam keadaan cang-gung itu membuat dua orang gadis itu kelihatan makin serba salah, keduanya hanya tersenyum masam sambil sedikit mengangguk ketika mende-ngar sebutan itu. Padahal, melihat nada suara se-butan itu, mudah diduga bahwa hubungan antara mereka itu sesungguhnya amat dekat. Kini dua orang gadis itu hanya mengerling tajam dengan sikap takut-takut ke arah jendela kereta. Mereka merasa lebih gugup ketika melihat betapa kereta itu, kereta para pria itu, berhenti dan pemuda yang tadi duduk di bangku kusir kini meloncat turun dan menghampiri mereka ! Pemuda ini nampaknya paling muda di antara mereka berempat, akan te-tapi melihat caranya memberi isyarat kepada yang lain untuk berhenti dan yang lain mengangguk ta-at, dapat diduga pula bahwa kedudukannya adalah yang paling tinggi.