Halo!

Darah Pendekar Chapter 48

Memuat...

Ketika gerobak yang dikendarai Pek Lian me-masuki pintu gerbang, tak lama kemudian masuk pula sebuah kereta indah yang dihias tanda - tanda kebesaran. Kereta itu dikawal oleh belasan orang perajurit yang berpakaian serba mewah dan indah gemerlapan. Di sebelah kanan kiri kereta itu nampak dua orang gadis cantik yang berpakaian indah se-perti puteri - puteri bangsawan istana atau penga-wal-pengawal wanita istana yang berkedudukan tinggi. Di belakang masing - masing gadis ini ter-dapat seorang perajurit yang melindungi mereka dari air hujan dengan sebuah payung bergagang panjang. Perlakuan ini saja membuktikan bahwa dua orang gadis itu bukanlah sembarang pengawal, setidaknya tentu pengawal- pengawal seorang puteri istana yang dipercaya. Melihat pedang panjang tergantung di punggung dua orang gadis itu, makin mudah diduga bahwa mereka itu tentulah pengawal-pengawai istana yang penting.

Karena kereta indah itu mendahuluinya, Pek Lian dapat memperhatikan kereta di depannya itu. Ia melihat betapa orang-orang yang berteduh di tepi jalan, membungkuk dengan hormat ketika ke-reta lewat. Ini hanya menunjukkan bahwa penum-pang kereta itu tentulah seorang pejabat tinggi. Dan melihat dua orang pengawalnya, mudah di-duga bahwa penumpang itu tentulah seorang wanita bangsawan. Pek Lian menduga-duga. Siapa-kah wanita bangsawan tinggi di dalam kereta itu ?

Pek Lian memandang kepada dua orang penga-wal wanita itu dengan penuh perhatian.

Sejak melihatnya tadi, ia merasa seperti telah menge-nal atau setidaknya pernah melihat mereka ini, akan tetapi ia lupa lagi entah kapan dan di mana. Kini ia memandang lagi penuh perhatian dan karena kini ia memandang dari belakang, sege-ra ia tertarik oleh sesuatu pada rambut mereka itu. Tentu saja! Tusuk konde batu giok! Sama benar bentuknya dengan tusuk konde yang dipakai oleh delapan orang wanita berpakaian sutera hitam itu, yang pernah menawannya. Hanya bedanya, dua orang gadis ini masih muda, cantik dan pakaian-nya indah. Karena ia sendiri tidak tahu harus me-nujukan gerobaknya ke mana, maka kuda yang di-diamkannya itu otomatis mengikuti jalannya kereta di sebelah depan.

Kereta mewah itu berhenti di pintu gerbang se-buah gedung besar dengan pekarangan yang luas dan indah. Pek Lian juga menghentikan gerobak-nya di belakang kereta itu sambil memandang dengan penuh perhatian. Pintu kereta terbuka dan turunlah seorang wanita tua yang berwibawa, ber-pakaian indah dan bersikap tenang sekali. Wanita tua ini menengok satu kali ke arah gerobak, lalu melangkah ke depan, disambut oleh seorang laki-laki setengah tua yang agaknya menjadi tuan rumah penghuni gedung itu. Pek Lian melihat nenek ini dan juga pria itu, hatinya berdebar tegang. Ia mengenal dengan baik siapa adanya mereka, walau-pun ia tidak pernah berkenalan dekat dengan mere-ka. Pria setengah tua yang kelihatan gagah itu, yang us;anya antara limapuluh lima tahun, adalah Wakil Perdana Menteri Kang yang amat terkenal karena selain wakil perdana menteri ini amat cerdik pandai, juga dia terkenal sebagai seorang pembesar atau pejabat yang adil, jujur dan set;a. Semua pe-jabat di kota raja segan kepadanya, bahkan kaisar sendiripun menaruh hormat kepada wakil perdana menteri ini. Sedangkan nenek itupun pernah dilihat oleh Pek Lian, bahkan nama nenek ini sudah lama dikenalnya. Nenek ini dikenal sebagai Siang Houw Nio - nio, bukan nenek sembarangan karena ia adalah bibi dari kaisar sendiri ! Bahkan, biarpun tidak secara resmi, terdengar desas - desus bahwa nenek inilah yang bertanggung jawab atas keaman-an keluarga kaisar di istana karena nenek ini memang memiliki ilmu kepandaian yang amat- lihai.

Pek Lian hanya dapat memandang dengan me-longo ketika nenek itu disambut dengan penuh kehormatan oleh pihak tuan rumah, kemudian ne-nek itu diiringkan masuk ke dalam gedung, dika-wal oleh dua orang gadis cantik yang berjalan gagah di belakangnya. Setelah mereka itu lenyap, ke dalam gedung, barulah Pek Lian sadar bahwa ia sejak tadi telah duduk bengong di atas gerobak yang dihentikannya di belakang kereta. Dan baru ia tahu bahwa para pengawal yang jumlahnya em-patbelas orang tadi mulai memperhatikan gerobak-nya. Bahkan empat orang segera melangkah lebar menghampirinya.

"Heii, nona ! Sejak tadi engkau mengikuti kami, ada urusan apakah ?" tegur seorang di antara mereka. Mereka tadi ketika mengawal kereta, meli-hat gerobak ini, akan tetapi mereka tidak berani membikin ribut karena takut kepada Siang Houw Nio - nio yang mereka kawal, juga karena dua orang nona pengawal pribadi nenek itu diam saja, mere-kapun tidak berani banyak bertingkah. Sekarang, setelah nenek penghuni kereta bersama para pe-ngawal pribadinya telah diterima oleh pihak tuan rumah dengan selamat, barulah mereka berani ri-but - ribut untuk menyatakan rasa penasaran dan mereka menghampiri gerobak yang masih berhenti tak jauh dari pintu gerbang itu.

"Jangan-jangan ia menyelidiki perjalanan kita !" kata seorang di antara mereka sambil. mendekat.

"Eh, kenapa kakimu dirantai, nona ?" tanya orang ke tiga dan kini ada enam orang pengawal ramai-ramai mendekat karena tertarik oleh seru-an terakhir ini.

Pek Lian tidak dapat banyak mengharapkan orang- orang seperti para pengawal ini. Ia sudah tahu sampai di mana kepandaian perajurit - perajurit pengawal ini. Kalau dua orang gadis tadi, barulah boleh diharapkan dapat menolongnya. Akan tetapi, betapapun juga, ia melihat kesempatan untuk me-nimbulkan keributan dan menarik perhatian, maka mendengar pertanyaan itu, ia lalu menoleh dan me-nudingkan jari telunjuknya ke dalam gerobak. Isyarat ini cukup bagi para perajurit pengawal. Bagaikan pendekar - pendekar atau pahlawan

- pah-lawan yang hendak menolong seorang gadis manis yang tersiksa, mereka itu lalu mendobrak pintu dengan gedoran - gedoran keras.

"Penjahat-penjahat keji yang berada di dalam gerobak ! Hayo keluar menerima hukuman !" teriak mereka sambil beramai-ramai mendorong pintu gerobak yang terkunci dari dalam itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari dalam, me-ngejutkan para perajurit pengawal karena teriakan seperti itu hanya dapat dikeluarkan oleh mulut bi-natang-binatang buas. Dan tiba-tiba saja pintu gerobak itu terbuka lebar dari dalam, disusul ber-i kelebatnya dua bayangan orang dan empat orang perajurit berteriak dan roboh, menggigil kedinginan terkena pukulan beracun ! Tentu saja hal ini amat mengejutkan sepuluh orang perajurit pengawal la-innya dan mereka sudah cepat mencabut senjata lalu mengeroyok kakek dan nenek yang telah me-robohkan empat orang kawan mereka itu. Terja-dilah perkelahian yang ramai, di mana sepuluh orang pengawal dihadapi oleh dua orang kakek dan nenek yang amat lihai. Kakek itu berkelahi sambil terkekeh - kekeh dan seperti biasa, dia memperma-inkan para pengeroyoknya, membuat mereka jatuh bangun hanya dengan menjegal, mendorong dan tidak menjatuhkan pukulan maut karena memang dia ingin puas mempermainkan dulu para pengero-yoknya sebelum membunuh mereka. Sebaliknya, nenek itu menggerakkan kaki tangannya dengan buas sambil memaki - maki dan dalam waktu sing-kat, sudah ada dua orang lagi perajurit pengawal yang dirobohkan oleh pukulannya yang mengan- dung hawa beracn. Suasana menjadi ribut karena para penjaga gedung itupun sudah berlari - lari mendatangi sambil memegang senjata.

Kembali sudah jatuh dua orang perajurit penga-wal sehingga kini sudah ada delapan orang meng-geletak keracunan oleh pukulan suami isteri yang lihai itu. Keributan ini tentu saja segera diketahui oleh para pengawal - pengawal dalam gedung dan merekapun cepat berlari keluar. Kini kakek dan nenek itu dikeroyok oleh puluhan orang perajurit pengawal dan penjaga. Akan tetapi, para perajurit itu sama saja dengan menyerahkan nyawa mencari kematian. Makin banyak kini yang roboh sehingga mayat mereka malang melintang memenuhi ha-laman yang luas itu. Melihat ini semua, diam - diam Pek Lian bergidik. Kakek dan nenek itu benar-benar amat keji dan juga amat lihai.

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan nampak berkelebat bayangan merah dan putih meluncur keluar dari dalam gedung. Pek Lian melihat bahwa yang bergerak cepat sekali itu ternyata adalah dua orang gadis pengawal tadi. Tahu - tahu mereka telah berada di situ dan mereka sudah me-ngenal keadaan dengan pandang mata mereka yang tajam dan berpengalaman.

"Pek - cici, tentu mereka inilah yang telah mem-bunuh orang - orang kita ! Manusia - manusia iblis dari Ban - kwi - to !"

"Benar, Ang - siauwmoi! Kau bantu para pengawal, biar aku bebaskan gadis tawanan itu !" kata wanita baju putih, sedangkan wanita yang bajunya merah telah mencabut pedang panjangnya dan dengan gerakan yang amat cepat dan dahsyat, ia sudah menerjang kakek nenek iblis dengan serangan maut. Pedangnya membuat gulungan sinar dan mengeluarkan suara bercicit, tanda bahwa ilmu pedang gadis baju merah ini amat lihai dan digerakkan oleh tenaga sinkang yang amat kuat. Sementara itu, gadis baju putih sekali meloncat telah tiba di dekat Pek Lian. Dengan cekatan ia mematahkan rantai kaki Pek Lian dengan pedangnya yang ternyata terbuat dari pada baja yang amat kuat itu, dan melihat keadaan Pek Lian, iapun lalu menotok dan mengurut leher Pek Lian sehingga Pek Lian dapat mengeluarkan suara lagi. "Terima kasih," kata Pek Lian. "Tidak perlu, kalau engkau ada kepandaian, lebih baik bantu kami menghadapi sepasang iblis itu!" jawab si wanita baju putih yang kini segera meloncat turun dan membantu gadis baju merah dengan putaran pedangnya yang ternyata tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan si baju merah.

Dua orang gadis itu memang benar amat lihai. Terutama sekali ilmu pedang mereka sedemikian hebatnya sehingga sepasang iblis itupun berkali-kali mengeluarkan seruan kaget dan nyaris menjadi korban pedang kalau mereka tidak cepat - cepat menghindarkan diri dengan cekatan sambil mem-balas dengan mengawut - awut jarum, pasir dan asap beracun. Para pengawal yang mengeroyok hanya berani menggunakan senjata - senjata panjang seperti tombak untuk menyerang kakek daii nenek itu dari jarak jauh setelah melihat betapa pe-rajurit pengawal yang berani mehyerang terlalu dekat tentu roboh dalam keadaan mengerikan, men-jadi korban pukulan beracun. Melihat betapa se-pasang iblis itu terdesak, akan tetapi masih amat sukar bagi dua orang gadis dan para pengawal un-tuk merobohkannya, Pek Lian yang merasa sakit hati terhadap mereka lalu meloncat turun dari atas gerobak, dan menyambar sebatang pedang yang berserakan di halaman. Banyak senjata para penga-wal yang sudah roboh itu berserakan di tempat itu dan pedangnya sendiri entah dibuang ke mana oleh suami isteri iblis itu. Dengan pedang di ta-ngan, Pek Lian menyerbu dan ikut mengeroyok. Tentu saja serangan Pek Lian dengan ilmu pedang yang tidak boleh dipandang ringan ini membuat suami isteri dari Ban-kwi-to menjadi semakin terdesak.

Bagaimanapun juga, ilmu silat pedang Pek Lian adalah ilmu pedang yang masih aseli dan bersih, mengandung dasar yang kuat. Dan selama ini ia telah memperoleh banyak pengalaman dalam pertempuran-pertempuran melawan musuh-musuh yang tangguh sehingga ia memperoleh banyak kema-juan pesat. Maka, pengeroyokannya juga terasa berat oleh suami isteri iblis itu sehingga mereka semakin terdesak. Karena khawatir kalau-kalau sampai terluka dan roboh, tiba- tiba nenek itu mengeluarkan sebuah tabung bambu kuning dari saku jubahnya yang kedodoran, dan membuka tutupnya. Melihat ini, Pek Lian yang selama tiga hari berkum-pul dengan mereka dan sudah tahu akan isi tabung bambu itu, berteriak kaget, "Awas binatang berbisa !!"

Teriakannya itu ternyata benar karena dari ta-bung bambu itu keluar beterbangan beratus - ratus lebah yang warnanya putih yang mengamuk dan menyerang para pengeroyok. Hebatnya, di antara para perajurit yang terkena sengatan lebah itu, se-ketika roboh berkelojotan, tubuhnya kejang - kejang ! Bukan main hebatnya bisa dari sengatan lebah pu-tih ini. Yang belum menjadi korban sengatan lebah, segera melarikan diri ke dalam gedung, termasuk Pek Lian dan dua orang wanita tokoh tusuk konde batu giok itu, dikejar oleh lebah - lebah yang marah.

Sementara itu, melihat jatuhnya beberapa orang korban sengatan lebahnya, kakek dan nenek itu se-perti kumat gilanya. Mereka tertawa - tawa, ber-tepuk - tepuk tangan dan bersorak, lalu berjongkok dan menonton orang-orang yang berkelojotan dan kejang-kejang sebagai akibat sengatan lebah, kelihatan gembira bukan main seperti anak-anak ke-cil menikmati cacing - cacing yang berkelojotan ter-kena abu panas. Mereka agaknya seperti telah me-lupakan keadaan sekeliling mereka, karena asyik dengan permainan baru ini. Memang nampaknya dua orang ini seperti iblis yang amat kejam. Akan tetapi, bukankah kesadisan, yaitu rasa gembira me-lihat orang atau mahluk lain tersiksa ini telah ada pada diri setiap orang manusia sejak kanak - kanak ? Hanya agaknya pada suami isteri ini kesadisan itu menonjol sekali sehingga kelihatannya luar biasa dan keterlaluan.

Sementara itu, nenek Siang Houw Nio - nio yang berada di dalam gedung, sedang bercakap

- cakap dengan Wakil Perdana Menteri Kang. Mereka bica-ra dengan serius sekali dan wajah keduanya agak muram dan nampak bersemangat. Agaknya mereka saling berbantah dan kini terdengar suara nenek yang berwibawa itu, yang bicara sambil menatap tajam wajah wakil perdana menteri itu, suaranya terdengar lantang dan berpengaruh.

"Menteri Kang! Aku pribadi dapat mengerti akan perasaan hatimu. Aku mengerti, apa yang men-jadi sebab sesungguhnya dari permintaanmu untuk pensiun itu. Alasan yang kauajukan bahwa engkau sudah merasa terlalu tua dan tidak sanggup bekerja lagi adalah alasan yang dicari - cari saja. Aku tahu bahwa sebab yang sesungguhnya adalah karena semua nasihatmu tidak pernah digubris oleh kaisar, bukankah demikian? Di dalam batinmu, engkau selalu berselisih pendapat dengan Sri baginda dan hal itu amat mengesalkan hatimu. Bukankah demi-kian ? Apa lagi setelah sahabat eratmu, yaitu Men-teri Ho, ditangkap karena dianggap menentang kebijaksanaan pemerintah. Dan karena engkau setia, muka dari pada engkau harus mengalami tekanan batin, lebih baik engkau mengundurkan diri saja. Bukankah demikian, Wakil Perdana Menteri Kang !'" Ucapan nenek itu begitu terus terang dan ditujukan langsung tanpa pura-pura lagi sehingga bagi men-teri setia itu terasa seolah-olah ada todongan pedang langsung ke ulu hatinya.

Mendengar ucapan itu, pembesar ini agak pucat mukanya dan sampai lama dia menundukkan muka-nya. Dia maklum bahwa akan percuma saja untuk menyangkal terhadap puteri yang amat cerdas ini. Akhirnya, setelah menarik napas panjang, diapun berkata, suaranya terdengar berat membayangkan keadaan hatinya yang terhimpit, "Tuan puteri, hamba mengerti bahwa sebagai bibi dan pelindung sri baginda kaisar, paduka memiliki pandangan yang luas, waspada dan bijaksana. Oleh karena itu, tentu paduka juga maklum bahwa hamba sama sekali tidak mempunyai niat yang kurang baik terhadap sri baginda. Di dalam lubuk hati hamba, yang ada hanyalah kesetiaan, sifat yang dijunjung oleh nenek moyang hamba. Selama ini, selagi mendampingi sri baginda, hamba selalu berbuat baik dan bijaksana agar dapat meraih rasa

hormat dan cinta dari rakyat. Kekuatan negara terletak kepada kekuatan kaisarnya dan kekuatan kaisar timbul dari kesetiaan rakyat yang mencintanya. Akan tetapi... ah, bagaimana hamba harus mengatakannya ?"

"Lanjutkanlah, Menteri Kang. Jangan khawatir, engkau bicara dengan orang yang mempergunakan hati nuraninya, bukan hanya mempergunakan perasaannya."

"Bagaimana hati hamba tidak akan berduka me-lihat betapa sri baginda agaknya hanya selalu me-nuruti keinginan beberapa orang kepercayaan saja. Mengejar kesenangan dan kurang mempertimbang-kan usul - usul mereka yang dipercaya sehingga sering kali muncul keputusan dan perintah yang amat berlawanan dengan kehendak rakyat jelata. Hal itu membuat negara kita menjadi tegang dan kacau seperti sekarang ini. Hamba adalah wakil perdana menteri, tentu ikut bertanggung jawab atas keadaan negara. Akan tetapi apa yang dapat hamba lakukan kalau semua usul hamba tidak di-perhatikan ? Kalau semua nasihat hamba dikalah-kan oleh bujuk rayu para penjilat ? Lebih baik hamba mengundurkan diri saja. Bukan karena ham-ba ingin melarikan diri atau karena kecewa, mela-inkan karena kehadiran hamba di dekat sri baginda sama sekali tidak ada artinya lagi." "Aku dapat mengerti perasaan hatimu, akan te-tapi jalan pikiranmu yang demikian itu sesungguh-nya keliru sama sekali, menteri yang baik. Kalau engkau mundur, apakah keadaan akan menjadi le-bih baik ? Tentu akan semakin parah. Aku sendiri tidak berhak mencampuri urusan pemerintahan, akan tetapi aku tahu bahwa kalau engkau mundur, berarti makin berkurang pula menteri yang berani memberi ingat dan menegur sri baginda kalau be-liau melakukan kesalahan dalam tindakannya. Be-tapapun juga, usia sri baginda masih terlalu muda sehingga beliau perlu dibimbing dan dinasihati oleh orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman seperti engkau. Sayang bahwa aku hanya mahir dalam urusan ilmu silat, sedikitpun aku tidak tahu akan seluk-beluk pemerintahan, maka aku minta dengan sangat kepadamu, Menteri Kang, secara pribadi dan demi persahabatan kita, agar engkau suka mempertahankan kedudukanmu, mendampingi sri baginda. Biarlah kita bekerja sama. Aku yang mendampingi dan menjaga keselamatan sri bagin-da, sedangkan engkau yang menjaga kebijaksanaan-nya." Setelah bicara dengan panjang lebar, nenek itu menghapus sedikit peluh dari dahi dan leher-nya.

Post a Comment