Halo!

Darah Pendekar Chapter 45

Memuat...

"Manusia-manusia hina, pengecut besar. Beraninya hanya main keroyokan ! Kalau mau bunuh lekas bunuh, jangan dikira aku takut mati!" teriak Pek Lian marah.

"Pemberontak hina!" Si tahi lalat itu memaki dan makian ini membuat Pek Lian membungkam. Siapakah mereka ini, pikirnya, dan apakah mereka ini tahu bahwa ia adalah puteri Menteri Ho yang dianggap pemberontak? Ia mulai merasa khawatir. Kalau sampai ia ditangkap sebagai pemberontak, ditawan seperti ayahnya, tentu ayahnya akan marah dan semua usahanya sia - sia belaka. Ia harus mencari akal dan kesempatan untuk meloloskan diri dari orang - orang ini. Ia harus mencari ayahnya. Akan tetapi, gerak - gerik lima orang wanita ini demikian teliti dan teratur, jelas menunjukkan bahwa mereka adalah rombongan orang-orang terlatih, seperti pasukan kecil yang dikemudikan oleh pemimpinnya, yaitu wanita yang bertahi lalat. Tak pernah mereka itu lengah menjaganya dan ketika malam tiba, mereka berhenti di bagian yang tinggi dan agaknya mereka itu menanti sesuatu. Pek Lian tidak pernah membuka mulut dan hanya memperhatikan gerak-gerik mereka yang juga tidak banyak mengeluarkan kata - kata itu. Mereka berlima itu bersikap seperti menantikan orang, sering kali memandang ke empat penjuru dari tempat tinggi itu dan saling pandang seperti orang - orang yang mulai merasa gelisah. Pek Lian menduga - duga siapa gerangan yang mereka nan-tikan. Ia teringat bahwa ketika ia bersama kedua orang gurunya dan juga orang - orang Lembah Yang - ce melakukan perjalanan dan berjumpa de-ngan mereka ini, terdapat delapan orang di antara wanita bertusuk konde batu giok ini. Akan tetapi sekarang hanya tinggal lima orang. Ke manakah perginya tiga orang lagi ? Apakah mereka ini me-nanti munculnya tiga orang kawan mereka itu ?

Pek Lian diajak makan dan dara ini tidak me-nolak. "Kalau engkau tidak melawan, kamipnn ti-dak akan mengganggumu, hanya engkau harus menurut saja sebagai tawanan yang baik," kata si tahi lalat sambil melepaskan belenggu kedua tangan Pek Lian.

Pek Lian hanya mengangguk. Ia tidak takut, hanya ia tahu bahwa kalau ia bersikap keras, ia tidak berdaya untuk lolos, ia harus mempergunakan kecerdikan dan tidak menuruti hati yang panas. Setelah makan, mereka berlima itu duduk bersila, seperti orang bersamadhi, membentuk lingkaran dan Pek Lian berada di tengah - tengah. Pek Lian maklum bahwa lima orang wanita itu beristirahat, namun mereka itupun tidak pernah lengah dan ia seperti dikurung. Maka iapun mencontoh perbu-atan mereka, duduk bersila mengumpulkan tenaga. Api unggun yang dibuat oleh mereka itu bernyala tak jauh dari mereka, mengusir nyamuk dan dingin.

Hanya satu kali si tahi lalat itu mengeluarkan suara yang mengandung kegelisahan, "Mengapa sampai sekarang mereka belum juga datang ?"

Ucapan ini meyakinkan hati Pek Lian bahwa mereka tentu menanti datangnya tiga orang kawan mereka, dan memang dugaannya ini tepat. Lima orang wanita yang memiliki ciri khas, yaitu tusuk konde batu giok itu, memang sedang menantikan datangnya tiga orang kawan mereka. Menjelang tengah malam, suasana. sunyi bukan main di tempat itu. Hutan di dekat puncak bukit nampak hitam menyeramkan dan suara binatang-binatang hutan kadang - kadang membuat Pek Lian terkejut dan membayangkan yang bukan - bukan. Biarpun ia masih duduk bersamadhi seperti lima orang yang menawannya, namun diam - diam Pek Lian selalu waspada. Sedikit saja kesempatan untuk meloloskan diri, sudah pasti tidak akan dilewatkannya. Akan tetapi, lima orang itu agaknya tidak pernah lengah, karena mereka itu masih tetap menantikan munculnya tiga orang kawan mereka.

Tiba - tiba terdengar bunyi desing di sebelah selatan. Mereka semua terkejut, termasuk Pek Lian dan semua orang menengok ke arah selatan. Nampak oleh mereka meluncurnya anak panah berapi kuning yang meluncur ke angkasa. Anak panah tanda bahaya! Si tahi lalat sudah meloncat bangun dan berkata, "Tanda bahaya mereka ! Tentu terjadi sesuatu yang gawat ! Mari kita bantu mereka. A-bwee, engkau di sini menjaga tawanan!"

Wanita yang disebut A - bwee mengangguk dan tanpa diduga oleh Pek Lian, wanita ini sudah me-ringkus dan membelenggu kedua lengannya. Pek Lian terkejut dan hendak melawan, namun maksud hati ini diurungkannya, karena apa dayanya menghadapi mereka berlima ? Kedua lengannya diikat di belakang tubuhnya dan setelah melihat betapa tawanan itu tidak berdaya, empat orang di antara mereka lalu berloncatan pergi sedangkan yang seorang itu duduk menjaga tawanan yang sudah ter-belenggu kedua lengannya itu. Ketika empat orang wanita gagah itu dengan tangkasnya berloncatan ke arah anak panah tanda bahaya tadi, tiba-tiba mereka melihat anak panah ke dua dan mengertilah mereka bahwa teman - teman mereka terancam bahaya besar.

"Mari cepat!" kata yang bertahi lalat dan merekapun mengerahkan seluruh kepandaian mereka berlari cepat menuruni bukit itu dan ketika mereka tiba di lereng, mereka melihat betapa pemimpin mereka sedang berkelahi dengan amat serunya menghadapi seorang nenek yang bertubuh gendut dan lihai bukan main. Jelaslah bahwa pemimpin mereka itu terdesak hebat. Tak jauh dari situ nampak seorang kakek kurus kecil sedang berjongkok, nongkrong di atas sebuah pedati. Dekat pedati itu tergeletak dua orang tubuh wanita, dua di antara tiga kawan kelompok wanita bertusuk konde batu giok itu. Melihat betapa muka mereka nampak kebiruan, mudah diduga bahwa mereka itu tentu terluka hebat dan keracunan. Begitu melihat nenek gendut dan kakek kurus ini, empat orang wanita yang baru datang terkejut bukan main.

"Iblis-iblis dari Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Iblis) !" teriak mereka dan merekapun sudah cepat mencabut pedang untuk membantu pemimpin mereka.

"Awas !" Pemimpin mereka berseru sambil memutar pedang melindungi dirinya dari

desakan lawan. "Lindungi hidung dengan saputangan! Tempat ini telah penuh disebari racun oleh iblis-iblis ini!"

Mendengar seruan itu, empat orang wanita bertusuk konde giok segera mengikatkan saputangan melindungi hidung dan mulut mereka, kemudian merekapun maju mengeroyok wanita gendut yang amat lihai itu. Hebat bukan main wanita gendut itu. Biarpun tubuhnya gendut, akan tetapi ia dapat bergerak dengan amat gesitnya dan ia menghadapi pengeroyokan lima orang wanita lihai yang berpedang itu dengan kedua tangan kosong saja! Akan tetapi, yang terancam maut malah lima orang pengeroyoknya karena setiap gerakan wanita gendut ini selalu mengandung bahaya. Jarum-jarum halus menyambar- nyambar dari jarak dekat kepada mereka sehingga mereka itu harus lebih banyak mempergunakan pedang mereka untuk melindungi tubuh. Setiap tamparan tangan wanita itupun me-ngandung hawa beracun yang selain membawa bau amis, juga mengandung hawa yang kadang-kadang amat panas dan kadang-kadang amat di-ngin. Untunglah bahwa lima orang wanita itu memang pada dasarnya memiliki ilmu pedang yang tangguh, dan setelah kini mereka maju berlima, nenek gendut itu tidak mudah merobohkan seorang di antara mereka.

"He-he. , ha-ha-ha, rasakan sekarang ! Kau sekarang dikeroyok banyak orang lihai,

sebentar lagi tentu kau akan dicincang pedang mereka menjadi bakso ! Ha-ha-ha ! Mereka akan menggorok lehermu yang buntek, menusuk hidungmu yang pesek dan merobek perutmu yang gendut, lalu kau boleh pelesir ke neraka! Dan aku akan bebas, heh - heh! Jadi ini namanya kita sehidup semati, aku yang hidup, kau yang mati dan aku akan kawin lagi, aku akan mencari yang muda, yang cantik, yang. heiiiittt!" Kakek kecil kurus itu cepat mencelat dan mengelak karena tiba-tiba saja isterinya, si nenek gendut itu telah me-ninggalkan lima orang pengeroyoknya dan menye-rang ke arah suaminya dengan terkaman dahsyat. Melihat suaminya mengelak, nenek itu menyerang lagi dengan hebatnya dan sekarang suaminya menangkisnya.

"Desss !!" Nenek gendut itu terdorong sampai tiga langkah akan tetapi suaminya terdorong sampai lima langkah. Ini saja membuktikan bahwa si nenek itu ternyata lebih lihai dari pada suaminya. Perkelahian antara suami isteri iblis ini demikian hebatnya, membuat lima orang wanita bertusuk konde giok itu melongo. Ketika suami isteri itu mulai mempergunakan racun, si suami menyebar pasir beracun, sedangkan isterinya yang tidak mau kalah itu menyebar jarum - jarum dan asap beracun, lima orang wanita itu cepat menyingkir sambil menyeret dua orang kawan mereka yang terluka.

Sepasang iblis tua itu benar-benar gila. Agaknya mereka sudah melupakan sama sekali tentang musuh - musuh mereka dan kini mereka itu berkelahi mati - matian. Si nenek lebih ganas lagi menyerang, baik dengan kaki tangan maupun dengan mulutnya yang memaki - maki, dan akhirnya kakek itu kewalahan lalu melarikan diri terbirit - birit, dikejar oleh isterinya yang makin keras memaki-maki penuh kemarahan. Melihat kesempatan ini, lima orang wanita bertusuk konde giok itu cepat membawa dua orang teman mereka yang terluka untuk menjauhkan diri dari tempat berbahaya itu. Yang terpenting bagi mereka adalah mencoba untuk menolong dua orang teman yang terluka. Cepat mereka membawa dua orang itu ke dalam hutan dan setelah merebahkan kedua teman itu di atas rumput, mereka berusaha mengobati dengan pe-ngerahan sinkang dan dengan obat - obat penawar racun yang selalu mereka bawa di antara obat - obat luka luar atau dalam. Akan tetapi, luka - luka beracun yang diderita oleh dua orang itu sungguh berbeda dengan luka- luka beracun biasa. Luka gigitan ular berbisa saja masih akan dapat disembuhkan oleh mereka, akan tetapi luka-luka yang diakibatkan serangan tokoh Ban-kwi-to itu sungguh luar biasa sekali dan semua usaha pengobatan mereka sia-sia. Nyawa kedua orang itu tidak dapat diselamatkan dan akhirnya merekapun tewas tanpa dapat meninggalkan kata-kata pesanan lagi.

Lima orang wanita yang kelihatan gagah perkasa itu, kini menangisi mayat dua orang teman-nya. Kemudian pemimpin mereka, yang tadi dengan gagahnya melawan nenek iblis, menghentikan tangis mereka dan dengan wajah muram berduka mereka lalu mengubur jenazah kedua orang teman mereka di tempat itu juga.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berlima meninggalkan dua gundukan tanah itu dan bergegas kembali ke tempat di mana mereka meninggalkan seorang teman mereka menjaga tawanan. Akan tetapi apa yang mereka dapatkan ke-tika mereka tiba di tempat itu membuat mereka terkejut bukan main. Tawanan telah lenyap dan teman mereka yang bernama

A-bwee itu telah menggeletak tanpa nyawa, dengan muka kebiruan tanda keracunan pula! Setelah mereka berlima memeriksanya, ternyata luka keracunan yang diderita mayat ini sama dengan yang diderita oleh kedua orang teman mereka yang tewas.

"Keparat busuk! !" Pimpinan mereka, wanita berusia empatpuluh tahun yang sepasang matanya berkilat - kilat tajam itu, berseru marah sambil menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah, wajahnya penuh geram dan kedukaan. "Sepasang iblis itu sungguh jahat dan kejam!

Sayang kita bukan tandingan mereka. Kita harus cepat pulang dan melapor, biarlah siocia yang akan membalaskan sakit hati ini!"

Dengan berduka merekapun mengubur jenazah teman ke tiga ini. Tentu saja mereka merasa berduka dan terpukul sekali. Mereka terkenal sebagai Delapan Singa Betina yang terkenal, dan sekarang, sungguh tak terduga sama sekali, dalam waktu- semalam saja, jumlah delapan itu tinggal lima dan yang tiga tewas dalam keadaan yang amat me-nyedihkan. Dan penderitaan ini, korban tiga nyawa ini sungguh merupakan, korban yang sia - sia dan mati konyol, karena mereka bentrok dengan sepasang iblis itu tanpa sebab - sebab tertentu yang kuat, hanya merupakan percekcokan di antara dua kelompok yang berpapasan di jalan ! Setelah selesai mengubur jenazah teman ke tiga itu. lima orang wanita bertusuk konde batu giok itu lalu cepat meninggalkan tempat itu dengan wajah muram.

Sudah sejak tadi Pek Lian; merasa betapa jalan darahnya telah pulih kembali. Akan tetapi ia tidak berani bergerak, dan pura - pura masih lumpuh tertotok atau setengah pingsan. Tubuhnya bergoyang - goyang dalam keadaan rebah miring di bagian belakang gerobak yang berjalan lambat - lambat itu, berjalan di atas jalan yang tidak rata sehingga bergoyang - goyang keras. Hanya sepasang mata dara itu saja yang bergerak melirik ke bagian depan gerobak, di mana nampak dua orang suami isteri gila itu sedang duduk berdampingan dan bercanda, tertawa-tawa, kadang-kadang mereka itu bercumbu dengan kasar, tanpa mengenal malu seolah - olah tidak ada Pek Lian di dekat mereka yang dapat melihat semua adegan ini. Begitulah kalau suami isteri itu sedang dalam keadaan rukun.

Pek Lian memejamkan kedua matanya. Wajah-nya yang bulat telur itu agak pucat dan kurus. Memang selama ayahnya ditawan ia mengalami banyak hal - hal yang pahit, ditambah lagi dengan kematian dua orang gurunya, membuat dara ini menderita tekanan batin yang membuatnya kurus dan pucat. Namun wajah yang kini nampak pucat itu masih tidak kehilangan kecantikannya. Biarpun rambutnya awut-awutan, kulit mukanya agak kotor dan pakaiannya kusut, dara ini masih nampak gagah dan cantik manis. Dagunya yang runcing itu membayangkan kekerasan hati dan keberanian yang luar biasa. Mulutnya tidak pernah membayangkan rasa takut, sedangkan sepasang matanya yang memang agak lebar itu, setelah wajahnya menjadi kurus nampak lebih lebar lagi, sepasang mata tajam yang mengeluarkan sinar berkilat. Memang pantaslah puteri Menteri Ho ini menjadi pimpinan para pendekar di Puncak Awan Biru, membantu suhunya. Sebutan "nona Ho" oleh para pendekar dengan sikap menghormat, tidaklah mengecewakan karena selama ini sepak teriang Ho Pek Lian memang gagah perkasa dan nenuh semangat. Akan tetapi pada saat itu, Ho Pek Lian atau nona Ho yang dikagumi para patriot itu, berada dalam keadaan yang menyedihkan dan sama sekali tidak berdaya. Dalam keadaan lumpuh tertotok ia menjadi tawanan sepasang suami isteri iblis itu, dan ia tahu bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi seorang saja di antara mereka, apa lagi kalau harus menghadapi mereka berdua. Dalam keadaan lumpuh tertotok, ia dilempar begitu saia seperti karung kosong di atas gerobak dan selanjutnya suami isteri- itu tidak memperdulikannya dan membawanya melalui dusun - dusun yang terpencil menuju ke utara.

Biarpun ia tidak takut menghadapi kematian, akan tetapi menghadapi kemungkinan apa yang akan dilakukan oleh sepasang iblis itu kepadanya, membuat Pek Lian merasa ngeri juga. Ada hal-hal yang lebih mengerikan dari pada kematian. Siang tadi saja ia telah mengalami hal yang mengerikan, masih meremang bulu tengkuknya kalau ingat. Si kakek kecil kurus yang seperti tulang bungkus kulit itu mendekatinya. Kemudian jari-jari tangan yang kecil dan keras dingin itu mera-ba dan membelai lehernya. Pek Lian merasa ngeri dan bulu - bulu di seluruh tubuhnya bangkit ber-diri. Ia menutupkan kedua matanya dan menahan bau apek yang keluar dari tubuh kakek itu.

"Heh-heh-heh, halus kulitnya. hemm, lunak halus. Cantik sekali gadis ini !" Jari – jari tangan itu meraba dan membelai. Pek Lian mena-han jeritnya ketika jari-jari tangan itu makin menurun ke dadanya. Akan tetapi, tiba-tiba ka-kek itu menarik tangannya ketika isterinya menghardik.

Post a Comment