Halo!

Darah Pendekar Chapter 44

Memuat...

Tiong Li memandang sampai bayangan gadis dan kudanya itu lenyap, baru dia membalikkan tubuhnya menghadap kakek Kam dan menjatuhkan dirinya berlutut. "Suhu, teecu mohon petunjuk selanjutnya."

Kakek itu tersenyum. "Bagus, mulai saat ini engkau mei'jadi muridku. Tiong Li, kalau engkau kelak berjodoh dengan nona itu, sungguh akupun merasa gembira sekali. Ia seorang gadis yang luar biasa!" Mendengar ini, wajah pemuda yang biasanya tenang itu berobah merah sekali, akan tetapi hatinya terasa perih. Dia tidak tahu apakah dia mencinta gadis itu, akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat membayangkan dirinya berjodoh dengan seorang puteri menteri kebudayaan ? Dia hanya seorang yatim piatu yang miskin, bahkan rumahpun tidak punya, hidup sebagai seorang pelarian pula. Ah, terlampau jauhlah khayal itu. Dia masih seperti berada dalam lamunan ketika gurunya mengajaknya pergi dari situ, meninggalkan kuda rampasan karena kakek itu tidak mau menunggang kuda dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja.

*

***

Ho Pek Lian melakukan perjalanan seorang diri dengan kudanya. Tadinya, ketika meninggalkan Tiong Li dan kakek Kam, ia membalapkan kudanya karena ingin cepat - cepat pergi agar mereka tidak melihat kesedihan dan tidak mendengar tangisnya. Setelah ia pergi jauh, ia membuang ranting di belakang kudanya dan menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil termenung. Kedukaan menghimpit hatinya, membuat wajahnya pucat kehilangan cahaya, matanya sayu dan kadang-kadang, kalau pikirannya meremas perasaan hatinya dengan kenang- kenangan dan bayangan-bayangan, air matanya meluap keluar dari pelupuk kedua matanya

Selama ini ia melakukan perjalanan dengan dua orang gurunya, menemui hal-hal hebat dan semua ini seolah- olah merupakan hiburan, atau setidaknya membuatnya seperti lupa akan keadaan dirinya sendiri, keadaan keluarganya yang berantakan itu. Akan tetapi sekarang, pada saat ia menunggang kuda seorang diri, melalui pegunungan yang sepi itu, tanpa adanya seorangpun manusia menyertainya, ia merasa amat kehilangan kedua orang gurunya dan perasaan kesepian ini menjalar ke dalam hatinya, membuatnya termenung dan berdu-ka. Dalam keadaan kesepian itu, pikirannya melayang - layang, mengingat-ingat akan keluarga ayahnya yang menjadi tawanan, dan hatinya terasa semakin terhimpit oleh kesepian yang membuat air matanya mengalir keluar, penuh dengan rasa duka dan sengsara.

Semakin diingat, semakin gundah hatinya, makin besar rasa iba diri menyerangnya dan membuat ia beranggapan bahwa di dunia ini, hanya ia seoranglah yang paling sengsara hidupnya. Kedukaan membuat tubuhnya terasa lemas dan Pek Lian lalu menghentikan kudanya, turun dari atas punggung kuda dan membiarkan kudanya makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk di bawah pohon, bersandar batang pohon dan menerawang ke langit yang penuh awan putih berarak. Akan tetapi sekali ini tidak nampak keindahan di angkasa itu bagi Pek Lian. Bahkan membuat rasa dukanya menjadi semakin menyesak di dada. Ia merasa seperti menjadi segumpal awan putih kecil yang melayang-layang jauh dari kelompok awan lain, terpencil di sana, sendirian, kesepian. Semilirnya angin membuat hatinya perih oleh rasa rindu kepada orang tuanya.

Kenangan akan tewasnya Kim -suipoa Tan Sun dan Pek - bin - houw Liem Tat, dua di antara guru

- gurunya yang amat sayang kepadanya seperti orang tua sendiri, membuat air matanya mengalir lagi. Bencana yang menimpa keluarga ayahnya masih belum dapat diatasi, kedua orang gurunya telah tewas pula.

Usianya baru delapanbelas tahun dan ia sudah harus mengalami demikian banyak kepahitan hidup. Ia bukanlah seorang dara yang cengeng, sama sekali bukan! Biarpun sejak kecil, sebagai puteri seorang menteri yang berkedudukan tinggi ia hidup di dalam kemuliaan, kehormatan dan kaya raya, namun Pek Lian bukanlah seorang dara yang manja dan cengeng. Sejak kecil pula ia digembleng oleh guru - gurunya sebagai seorang wanita yang berjiwa pendekar, yang tidak mudah mengeluh menghadapi kesukaran. Namun, kepahitan yang dihadapinya sekarang ini terlampau hebat, luka di hatinya terlampau parah, membuatnya menangis seorang diri di tempat sunyi itu. Ia harus bertemu dengan ayahnya sekali lagi sebelum ayahnya dihukum ! Di dunia ini, ia hanya mempunyai seorang keluarga terdekat, yaitu ayahnya. Ibunya sudah tiada, dan ia tidak mempunyai saudara kandung. Ia harus bertemu dengan ayahnya, apapun yang akan terjadi !

Bisikan hati ini menggugah semangat Pek Lian dan iapun bangkit lagi, menaiki punggung kudanya dan melanjutkan perjalanan.

Matahari telah condong ke barat ketika kuda yang ditunggangi Pek Lian menuruni sebuah lereng bukit. Ia menghentikan kudanya dan memandang ke sekeliling, hendak mencari sebuah dusun untuk melewatkan malam ketika tiba - tiba ia melihat munculnya lima orang wanita. Begitu bertemu, Pek Lian terkejut karena ia mengenal mereka itu sebagai rombongan wanita bertusuk konde batu giok yang pernah ia jumpai ketika ia masih bersama-sama dua orang gurunya. Lima orang wanita itu muncul dari jalan simpangan dan bertemu dengannya tepat di perempatan jalan kecil itu. Dan mereka berlima itupun agaknya terkejut melihatnya, dan mengenalnya pula. Mereka berhenti dan seorang di antara mereka yang bertahi lalat di bawah telinga kiri berkata, suaranya lantang,

"Ah, engkaukah ini ? Di mana adanya kokcu (ketua lembah) yang muda itu bersama tiga orang sam - lo - nya ? Kenapa engkau hanya sendirian saja ?" Pertanyaan ini lantang dan diajukan dengan nada suara yang meremehkan, tanpa sikap hormat sama sekali seperti sikap orang dewasa yang bertanya kepada anak kecil saja. Pada saat itu, batin Pek Lian sedang mengalami tekanan dan dalam keadaan seperti itu, tentu saja ia mudah sekali tersinggung. Hatinya terasa mengkal dan ia sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan orang, melainkan dengan gemas ia menarik kendali kudanya, membuat kuda itu terlonjak dan lari. Dengan dagu terangkat Pek Lian lewat menanggalkan mereka.

"Haii, bocah sombong, tunggu !" Terdengar bentakan di belakangnya, disusul berkelebatnya bayangan lima orang itu yang sudah melakukan pengejaran.

"Tar - tar - tarrr !"

Pek Lian terkejut sekali melihat sinar biru menyambar-nyambar di dekat kepalanya dan meledak ketika ia mengelak. Kiranya ia telah diserang oleh seorang di antara mereka dengan sehelai sabuk berwarna biru yang tadi melakukan totokan tiga kali berturut-turut ke arah leher dan pundaknya.

"Orang - orang jahat!" bentaknya dan terpaksa ia meloncat turun dari atas kudanya sambil mencabut pedangnya. "Kalian kira aku takut mela-wan ?" Iapun sudah memutar pedangnya dan menyerang wanita yang tadi menggerakkan sabuk. Karena dalam keadaan marah dan menganggap bahwa wanita itu tentulah bukan golongan baik-baik dan yang agaknya sengaja hendak memusuhinya, Pek Lian sudah menyerang dengan dahsyat sehingga gerakan pedangnya melahirkan tusukan-tusukan maut ke arah wanita itu. Wanita itu meng-elak beberapa kali, nampaknya terkejut juga me-nyaksikan kehebatan gerakan pedang di tangan Pek Lian.

"Cring ! Tarang - tranggg ! !"

Bunga api berpijar menyilaukan mata dan kem-bali wanita itu terkejut ketika memperoleh kenya-taan betapa tenaga dara muda itu cukup kuat un-tuk menandingi tenaganya. Pek Lian terus menye-rang, akan tetapi wanita yang bertahi lalat, yang menjadi pemimpin di antara mereka, segera ber-teriak dan teman - temannya sudah maju menge-pung Pek Lian.

Pek Lian terus memutar pedangnya, melawan mati - matian dan penuh kemarahan. Akan tetapi tingkat kepandaiannya hanya seimbang dengan se-orang di antara mereka, maka setelah mereka ber-lima maju bersama, tentu saja ia segera terdesak hebat. Untung baginya bahwa lima orang wanita, bertusuk konde batu giok itu agaknya tidak berni-at membunuhnya. Kalau demikian halnya, tentu ia tidak akan dapat bertahan lama. Beberapa belas jurus kemudian, lima orang itu mempergunakan sabuk biru yang menyambar - nyambar dan. akhir-nya Pek Lian terpaksa menyerah ketika sabuk-sabuk biru itu telah melibat tubuhnya, membuat ia tidak dapat lagi menggerakkan kaki tangannya. Ia tertawan dan dibelenggu kedua lengannya ke belakang.

Post a Comment