Tentu saja pasukan itu menjadi semakin jauh dari jejak kaki dua ekor kuda itu dan menjelang pagi, mereka kehilangan bayangan kakek Kam. Kakek ini tentu saja sudah kembali ke tempat semula dan di bawah sinar matahari pagi dia melanjutkan perjalanan mengikuti jejak kaki dua ekor kuda.
Sambil berjalan, kedua kakinya diseret dan meng-hapus jejak kaki kuda itu dari permukaan tanah. Matahari telah naik tinggi ketika kakek Kam tiba di dalam hutan di mana dia mendapatkan Tiong Li dan Pek Lian sedang beristirahat. Tiong Li duduk bersila dan mengatur pernapasan, mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan kekuatan badannya sedangkan Pek Lian dengan wajah agak pucat duduk bersandar pohon tak jauh dari pemuda itu. Kedatangan kakek itu sama- sekali tidak mereka ketahui dan barulah setelah kakek itu berada di depan mereka, keduanya terkejut sekali akan tetapi juga girang karena semalam mereka mengkhawatirkan keadaan kakek sakti itu.
"Locianpwe......!" Pek Lian berkata dan tiba- tiba saja kedua mata gadis ini menjadi basah air mata. Hatinya memang sudah berduka sekali karena kematian dua orang gurunya dan khawatir akan keadaan kakek Kam yang melindungi ia dan Tiong Li.
"Locianpwe, kami menghaturkan terima kasih karena hanya berkat pertolongan locianpwe maka kami berdua masih dapat hidup sampai sekarang," kata Tiong Li, juga suaranya mengandung kedukaan besar.
Kakek itu duduk di dekat mereka. "Nona, engkau masih mengandung luka dalam yang cukup berbahaya kalau tidak diobati. Mendekatlah !"
Kakek itu lalu menaruh telapak tangannya di punggung Pek Lian yang segera merasakan adanya hawa panas menjalar masuk ke dalam ruang dadanya. Iapun cepat memejamkan kedua mata dan menerima hawa panas itu, membiarkan hawa itu berputar - putar dan mendorong atau menekan ke arah bagian yang terkena pukulan dalam pengeroyokan tadi.
Setelah menyembuhkan luka - luka di dalam tubuh Pek Lian dan membantu Tiong Li memulihkan kembali tenaganya, maka kakek itu lalu mengajak mereka duduk bercakap-cakap di bawah pohon dalam hutan itu.
"Sekarang aku ingin sekali mengetahui, apa rencana kalian selanjutnya ? Apa yang akan kaulakukan sekarang, nona ?"
Ho Pek Lian mengusap air matanya akan tetapi tidak terisak, lalu dengan mata kemerahan diamatinya wajah kakek sakti itu, kemudian ia menunduk dan berkata, "Saya hendak menyelidiki keadaan ayah, locianpwe."
"Tapi itu berbahaya sekali!" kata Tiong Li. "Saya sudah menasihatinya untuk tidak melakukan hal itu, locianpwe. Tentu ia akan terjebak dan tertawan."
"Jangankan hanya tertawan, biar mati sekalipun aku rela !" Pek Lian berkata. "Bagaimanapun juga, sebelum ayah tewas dalam hukuman... aku ingin melihatnya sekali lagi..." Kembali tangannya mengusap air mata, membuat Tiong Li dan juga kakek itu menarik napas panjang dan merasa kasihan sekali.
"Dan bagaimana dengan engkau, Kwee-sicu ?"
Bekas kokcu (ketua lembah) itu mengepal tinjunya. Matanya bersinar-sinar seperti mengeluar-kan api ketika dia berkata, suaranya penuh kegeraman, "Saya akan membalas dendam, locianpwe saya akan bergabung dengan suhu yang menjadi bengcu (pemimpin rakyat) dan menghancurkan pemerintah dan Kaisar Chin yang lalim ini !"
"Sayapun demikian !" Tiba - tiba Pek Lian berkata, mengepal tinjunya. "Saya tidak akan berhenti sebelum pemerintah ini dapat dihancurkan!"
"Siancai... siancai... siancai...!" Kakek Kam berseru lirih sambil merangkap tangan di depan dada, lalu menarik napas panjang berulang-ulang. "Kekerasan... kekerasan. di mana-mana
kekerasan. Mungkinkah kekerasan dapat menghasilkan hal-hal yang baik? Mungkinkah tujuan yang baik dapat dicapai melalui jalan kekerasan ?"
"Akan tetapi, locianpwe !" bantah Kwee Tiong Li dengan suara keras karena hatinya dibakar se-mangat dan kebencian. "Kaisar telah bertindak lalim dan sewenang-wenang. Lihat saja keadaan rakyat yang miskin terhimpit dan lihat keadaan para pembesar yang berlebihan ! Pembesar bertindak sewenang - wenang menekan rakyat, pembesar - pembesar melakukan korupsi besar-besaran. Sebaliknya rakyat ditindas, disuruh kerja paksa sampai mati untuk membangun tembok besar. Rakyat dibelenggu dan dibikin tak berdaya, membawa senjata pelindung diri dari ancaman bahaya saja dilarang. Kitab-kitab sastera dibakar sehingga rakyat kehilangan pegangan. Sasterawan-sasterawan dibunuh. Apakah kita harus diam saja, locianpwe ? Kalau bukan kita kaum pendekar yang bergerak membela rakyat, habis siapa lagi ? Apakah kaisar dan kaki tangannya yang korup dan sewenang-wenang itu dibiarkan saja merajalela di atas kepala rakyat yang menderita ?"
"Benar sekali!" sambung Pek Lian. "Kalau o-rang - orang tua bersikap sabar, maka penindasan akan makin membabi - buta! Ayahku bersabar, akan tetapi aku tidak. Kita kaum muda harus serentak bangkit menentang kelaliman, kalau perlu dengan taruhan nyawa!"
"Siancai. !" Kakek Kam menarik napas panjang dan menggeleng kepala. "Nanti dulu, anak
- anak. Memang baik sekali semangat kalian untuk membela rakyat yang sengsara dan menderita hidupnya. Akan tetapi, tidak baik kalau hanya menurutkan perasaan marah, dendam dan benci saja. Bangsa merupakan keluarga, pemerintah merupakan rumah keluarga itu. Kalau ada sesuatu yang tidak benar pada rumah itu, mari kita perbaiki bagian yang tidak benar itu saja. Bukan lalu meruntuhkan seluruh rumah itu, bukan lalu harus membakar rumah kita sendiri itu ! Pemerin-tah bukan milik kaisar atau para pembesar saja Mereka bahkan menjadi pelayan dan pelaksana.
Pemerintah adalah milik kita bersama. Kalau ada yang tidak benar, mari kita perbaiki bersama, de- ngan musyawarah. Kita berhak menyadarkan pem-besar yang bersalah. Akan tetapi, jalan kekerasan hanya akan menimbulkan perang saudara, sama saja dengan membakar rumah kita sendiri dan ka-lau terjadi perang, akhirnya rakyat pula yang akan menderita, bukan ? Akan jatuh banyak korban, bunuh-membunuh antara bangsa sendiri, betapa-akan menyedihkan sekali kalau hal itu terjadi, se-perti yang terjadi malam tadi." "Tapi, locianpwe. Tanpa melakukan kekerasan, tanpa menggunakan kekuatan untuk menghantam yang jahat, mana mungkin kita dapat mengenyah-kan kejahatan itu sendiri ?" bantah Tiong Li.
"Kejahatan merajalela, orang - orang jahat bah-kan telah mengadakan rapat, dipimpin oleh iblis hitam itu. Apakah kita harus diam saja, locianpwe? Kalau begitu, apa artinya kita mempelajari ilmu silat sejak kecil ? Apa perlunya jiwa kependekaran di-tanamkan dalam batin kita ?" Pek Lian juga mem-bantah dan kedua orang muda itu seperti merasa-kan persatuan yang kokoh untuk menentang pen--dirian kakek yang biarpun sakti akan tetapi mereka anggap memiliki pendirian lemah itu.
Kakek itu tersenyum. "Seorang pendekar adalah abdi kebenaran dan keadilan. Hal ini memang benar dan memang sudah sepatutnya demikian. Akan tetapi kebenaran dan keadilan tidak mungkin dapat dipertahankan atau didirikan melalui kekerasan. Mungkin saja kita harus mempergunakan ilmu silat untuk melindungi diri dan untuk menun-dukkan lawan yang juga mempergunakan ilmu itu, akan tetapi ini bukan kekerasan namanya. Pendekar bahkan harus menjadi pembantu pemerintah untuk menahan merajalelanya kejahatan dan melindungi rakyat. Bukan malah menentang pemerintah. Bukankah penjahat - penjahat itu merupakan musuh pemerintah ? Kalau kita menentang pemerintah, berarti kita memberi angin kepada para penjahat."