Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 144

Memuat...

Sambil menangis Sian Eng membentur-benturkan kepalanya di atas lantai depan bangku.

Tiba-tiba terdengar bunyi perlahan dan ternyata setiap kali Sian Eng membenturkan jidatnya di atas lantai, bangku batu itu bergeser ke kiri, makin lama makin ke kiri sehingga akhirnya tampaklah sebuah lubang di bawah bangku batu itu. Sian Eng terkejut dan memandang dengan heran karena di situ terdapat sehelai kain kuning yang menutupi sesuatu dan ditulisi dengan huruf-huruf besar berbunyi: WASIAT PENINGGAIAN LIU LU SIAN.

Jantungnya berdebar keras dan tangannya sudah digerakkan untuk meraih dan membuka kain kuning itu, untuk segera melihat wasiat deri wanita sakti itu. Akan tetapi ia segera ingat bahwa benda-benda di bawah kain kuning itu adalah milik Liu Lu Sian, dan bahwa wasiat wanita ini mustahil ditinggalkan untuk dirinya. Ia tidak berani melanjutkan niatnya. Ia tidak berhak. Akan tetapi selagi ia termenung, ia teringat akan tugasnya, teringat akan kekasihnya, Suma Boan. Timbullah pertentangan dalam batinnya. Ia adalah keturunan seorang gagah. Ayahnya, Kam Si Ek semenjak muda terkenal sebagai seorang satria utama yang menjunjung tinggi kegagahan dan tidak sudi melakukan sesuatu yang tercela. Semenjak ia masih kecil, ayahnya sudah menjejalinya dengan budi pekerti orang gagah. Akan tetapi di lain pihak, cinta kasihnya terhadap Suma Boan juga terasa berat menekan di hati. Akhirnya kembali Sian Eng berlutut di depan bangku batu tempat bersamadhi Tok-siauw-kui, membenturkan jidatnya di lantai sambil berkata.

"Bibi Liu Lu Sian, mohon perkenan bibi untuk mengambil sebuah dua buah kitab peninggalan demi memenuhi kehendak kekasih. Mohon bibi sudi memberi ampun.."

Tiba-tiba Sian Eng menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, dari dalam lubang tadi melayang keluar tiga batang anak panah yang menyambar ke atas. Anak-anak panah itu lewat di depan mukanya dan peninglah kepala Sian Eng mencium bau yang wangi memabukkan. Terang bahwa anak-anak panah itu mengandung racun yang dahsyat dan andaikata ia tadi melanjutkan niatnya membuka kain kuning, tentu anak-anak panah itu akan tepat mengenai muka dan lehernya. Ia mendongak ke atas dan melihat anak-anak panah itu menancap pada dinding batu, gagangnya bergoyang-goyang. Sian Eng bergidik ngeri dan ketika ia memandang ke arah lubang tadi, ternyata kain kuningnya telah tersingkap dan di bawahnya hanya terdapat alat-alat rahasia yang tadi menggerakkan tiga anak panah.

Kiranya ketika ia membenturkan kepala di lantai depan bangku batu yang kini sudah pindah ke kiri, ada alat rahasia yang menggerakkan anak-anak panah itu sehingga ia selamat. Seorang yang begitu saja membuka kain kuning tadi karena bernafsu memiliki wasiat, pasti akan menjadi korban anak panah, betapapun pandainya, karena anak-anak panah itu menyambar tak terduga-duga dan jaraknya amat dekat. Sian Eng memandang lebih teliti dan ternyata selain alat-alat yang menggerakkan anak panah, juga di situ terdapat tulisan yang terukir pada dasar lubang. Seperti tulisan di atas kain kuning, tulisan yang terukir pada batu di dasar itu pun besar-besar, dan jelas, berbunyi :

YANG TAHU AKAN SOPAN SANTUN PATUT MENJADI MURIDKU. DUDUKLAH BERSAMADHI DI ATAS BANGKU, HANYA YANG BERJODOH AKAN BERHASIL.

Sian Eng bukan bermaksud hendak menjadi murid Tok-siauw-kui, melainkan bermaksud untuk mencari kitab peninggalan wanita sakti itu, untuk diberikan kepada kekasihnya. Karena bukankah kitab-kitab ini akan menyenangkan Suma Boan dan seperti dijanjikan oleh kekasihnya itu, setelah ia berhasil menemukan kitab-kitab itu mereka akan pergi ke Cin-ling-san untuk merundingkan urusan perjodohan mereka dengan bibi gurunya? Selain itu, ia tadinya tidak memiliki keinginan lain. Akan tetapi setelah kini ia terkurung dan tidak mampu keluar, timbullah keinginannya untuk mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Tok-siauw-kwi, sungguhpun hal ini hanya dimaksudkan untuk membuat ia mampu keluar dari neraka ini.

Karena itulah, maka tanpa ragu-ragu lagi Sian Eng lalu naik ke atas bangku batu dan duduk bersila. Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan betapa lekuk-lekuk di atas permukaan batu cocok benar dengan ukuran tubuh belakang dan kakinya, seakan-akan sudah dicetak untuk dirinya. Kemudian ia teringat akan Tok-siauw-kui yang muncul dan menggemparkan perayaan Beng-kauw. Memang ada persesuaian dalam bentuk tubuh wanita sakti itu dengan dirinya. Mulailah Sian Eng mengheningkan cipta, bersiulian (bersamadhi) di atas bangku itu yang ternyata amat enak diduduki. Akan tetapi sama sekali di luar dugaannya bahwa hal ini akan membawa ia kepada hal-hal baru yang akan mengubahnya menjadi seorang manusia lain. Ia tekun bersiulian seperti yang diajarkan ayahnya, duduk diam tak bergerak sedikit pun juga, mematikan raga. Tanpa ia sadari, ia sudah duduk seperti itu selama setengah hari.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan kagetlah Sian Eng karena ia merasa tubuhnya terjatuh ke bawah. Ketika ia membuka matanya, benar saja, bangku batu itu sudah nyeplos ke bawah dan ia sudah berada di dalam ruangan lain, di bawah ruangan yang tadi. Ia segera turun dan melihat betapa di ruangan ini terdapat dipan untuk tidur, terdapat meja dan bangku, sedangkan di atas meja terdapat akar-akar dan buah-buah obat, juga di sana-sini bertumpuk kitab-kitab kuno. Sedangkan di sudut kiri terdapat sebatang pedang yang mengeluarkan sinar merah, pedang telanjang yang menancap pada dinding batu karang sampai setengahnya. Dengan hati berdebar-debar tidak karuan Sian Eng memperhatikan cara bagaimana ia tadi dapat merosot ke bawah bersama bangku yang didudukinya. Setelah mengadakan pemeriksaan, kiranya bangku tadi dipasangi alat-alat yang halus sekali dan ternyata kehangatan tubuhnya melepaskan minyak-minyak beku dan menggerakkan alat-alat yang bergerak otomatis.

Kalau saja tubuh orang yang bersamadhi tidak cocok dengan lekuk-lekuk di permukaan batu tadi, kiranya alat itu takkan dapat berjalan. Terang bahwa Tok-siauw-kui memang menghendaki seorang yang bentuk tubuhnya menyamainya, yang tentu saja seorang wanita, untuk menjadi ahli warisnya. Dan kini kitab-kitab pelajaran yang serba rahasia, yaqg dicari penuh kerinduan oleh orang-orang di seluruh dunia kang-ouw, terletak di depan Sian Eng, tinggal memilih saja. Akan tetapi Sian Eng tidak membutuhkan semua ilmu itu. Ia hanya ingin mempelajari ilmu untuk menghimpun tenaga sakti agar ia dapat menggerakkan batu-batu penutup lubang, agar ia dapat keluar dan ia akan membawa sebuah dua buah kitab ilmu untuk diberikan kepada kekasihnya yang berada di luar gua. Karena kitab-kitab itu banyak sekali macamnya,

Akhirnya ia dapat juga menemukan sebuah kitab yang mengajarkan ilmu Ban-kin-pek-ko-chiu (Ilmu Keraskan Tangan Selaksa Kati). Ilmu ini mengajarkan cara I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Cuci Sumsum), cara bersamadhi dan bernapas, menghimpun tenaga sakti dan menguasainya. Segera Sian Eng bersamadhi dan berlatih menurut petunjuk kitab ini. Sama sekali ia tidak mengira bahwa kalau bagi orang lain harus memakan waktu berbulan-bulan untuk memetik buah latihan ilmu ini, baginya hanya membutuhkan beberapa hari saja oleh karena di dalam tubuhnya sudah terdapat dua macam hawa panas dan dingin yang amat hebat berkat racun dari kelelawar. Berhari-hari Sian Eng tekun berlatih dan apabila ia merasa lapar, ia menangkapi kelelawar untuk dimakam dagingnya. Untuk minum tidaklah sukar karena dinding batu-batu karang itu mengandung air, dan di sana-sini terdapat air jernih menetes-netes dari atas.

Tentang akar-akar dan buah-buah obat di atas meja, tidak ia perhatikan ketika ia membaca keterangan di sampingnya bahwa obat-obat itu adalah obat untuk pelbagai luka pukulan dan korban racun. Demikianlah, tidak mengherankan apabila dua pekan kemudian semenjak ia memasuki gua, Sian Eng sama sekali tidak mendengar teriakan-teriakan Suma Boan yang menyusulnya dan berteriak-teriak dari luar batu penutup lubang. Di waktu itu, ia sedang tekun bersamadhi menyempurnakan sin-kang yang sudah terasa memenuhi tubuhnya. Dengan girang Sian Eng mendapat kenyataan bahwa tenaga panas dan dingin yang kadang-kadang menguasainya, yang membuatnya berkali-kali pingsan, kini dapat ia kuasai sepenuhnya dengan cara yang diberikan oleh kitab itu.

Setelah merasa bahwa ia dapat menguasai tenaga mujijat itu, Sian Eng menghentikan latihannya dan pada saat itulah baru ia melihat gambaran di dinding, gambaran yang ada tanda-tanda huruf kecil terukir. Ia segera memperhatikan dan bukan main girang hatinya karena gambaran-gambaran itu merupakan tanda-tanda rahasia cara membuka dan menutup pintu-pintu rahasia dan alat-alat rahasia lain yang dipasang di dalam istana di bawah tanah ini. Cepat ia mencari rahasia batu besar yang menutup terowongan dan kiranya rahasianya terletak pada batu itu sendiri. Di ujung kanan atas dari batu itu terdapat bagian yang menonjol dan bagian inilah yang harus dipukul tiga kali ke dalam.

Dengan hati amat girang Sian Eng melompat melalui lubang itu ke bagian atas, kemudian sekali lagi ia menerobos ke bagian paling atas melalui lubang. Ia tidak sadar bahwa gerakannya melompat melalui lubang ini hebat dan ringan sekali, jauh bedanya dengan keadaan dirinya sebelum memasuki tempat ini. Begitu memasuki ruangan paling atas, hidungnya disambut bau yang amat busuk dari bangkai-bangkai kelelawar yang bertumpuk-tumpuk di situ selama beberapa hari. Sian Eng menutupi hidungnya dan dengan menahan napas ia lalu menghampiri batu penutup terowongan. Betul saja, di bagian atas ujung kanan batu itu terdapat bagian yang menonjol. Ia mengepal tangannya dan menghantam tiga kali.

Terdengarlah suara berkerotokan dan.. dapat dibayangkan rasa gembira hati gadis itu melihat batu besar itu bergerak dan masuk ke dalam dinding membuka jalan terowongan itu seperti sediakala. Saking girangnya Sian Eng lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia teringat kembali kepada Suma Boan, maka cepat ia melompat dan berlari-lari keluar melalui terowongan sambil tertawa-tawa gembira. Tadi ketika keluar dari dalam kamar rahasia, ia telah mengambil dua buah kitab kuno yang ia kira tentu akan memuaskan hati kekasihnya, karena kitab-kitab itu adalah kitab ilmu pedang dan ilmu silat. Kini dua buah kitab kuno itu berada di balik baju dalamnya. Akan tetapi ketika ia tiba di luar gua, di situ sunyi sekali tidak kelihatan bayangan Suma Boan. Pada waktu itu, hari telah berganti malam, keadaan di luar gua gelap gulita.

"Suma-koko"

Sian Eng memanggil, menyangka bahwa kekasihnya tentu sedang beristirahat di suatu tempat setelah menanti-nanti keluarnya dengan hati kesal. Tentu kekasihnya itu merasa khawatir sekali, mungkin sudah putus asa.

"Suma-koko"

Berkali-kali ia memanggil sambil melangkah keluar. Namun tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan dari jauh. Sian Eng cepat menggerakkan kakinya mengejar. Juga kali ini ia tidak sadar bahwa gerakan kakinya cepat dan ringan bukan main, dan bahwa ia telah berlari cepat sekali. Ini adalah berkat hawa sakti di tubuhnya yang kini mulai dapat ia kuasai setelah ia memiliki Ilmu Ban-kin Pek-ko-chiu. Sama sekali ia tidak tahu bahwa Suma Boan baru saja keluar dari dalam gua, dan bahwa pemuda itu hampir celaka oleh Liu Hwee dan Kauw Bian Cinjin.

Setelah melakukan pengejaran dengan kecepatan mengagumkan, akhirnya ia dapat menyusul dua bayangan yang berkejaran itu. Segera ia mengenal Liu Hwee yang mengejar Suma Boan. Ia tidak mengetahuil apa sebabnya, maka diam-diam ia hanya mengikuti mereka. Ketika tiba di luar hutan, Liu Hwee mulai menyerang Suma Boan dengan senjata rahasia jarum perak, kemudian karena pemuda itu terhalang larinya ketika mengelak, gadis puteri ketua Beng-kauw ini cepat menerjangnya dengan senjatanya yang hebat, yaitu sepasang cambuknya yang diganduli dua buah bola baja.

"Suma Boan manusia busuk, kau hendak lari ke mana?"

Bentak Liu Hwee. Suma Boan yang melihat bahwa gadis ini hanya mengejar sendirian saja, menjadi marah dan timbul kembali keberaniannya. Tadi ia melarikan diri karena gadis itu berdua dengan Kauw Bian Cinjin, merupakan lawan yang amat berat. Sekarang, melihat gadis itu sendirian saja, ia lalu membalikkan tubuh dan melawan sambil memaki.

"Bocah sombong, kau bosan hidup"

Seperti biasa, pemuda bangsawan ini melawan dengan tangan kosong saja. Biasanya, menghadapi lawan muda, biarpun lawan bersenjata, ia selalu mendapatkan kemenangan karena sebagai murid It-gan Kai-ong, tentu saja ia memiliki tingkat ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi kali ini ia berhadapan dengan puteri Beng-kauw. Pula, Lio Hwee memegang senjata aneh yang amat berbahaya. Di samping ini, baru saja Suma Boan mengalami hal-hal yang melelahkan dan menakutkan, sedangkan betisnya yang ia potong dagingnya juga masih terasa sakit.

Oleh karena semua inilah maka sebentar saja ia terdesak hebat dalam pertandingan mati-matian itu. Cuaca remang-remang karena hanya diterangi bintang-bintang di langit, dan dua orang ini bertanding mengandalkan ketajaman telinga, karena ketajaman pandangan mata tidaklah dapat dipercaya dalam keadaan setengah gelap itu. Betapapun Suma Boan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, ia tidak dapat mengimbangi kecepatan senjata cambuk di tangan Liu Hwee dan pada saat sebuah di antara bola-bola baja itu menyambar pundaknya, Suma Boan mengeluh panjang dan terhuyung-huyung. Ia sudah mengerahkan tenaga untuk menolak pukulan itu, namun tetap saja karena yang diarah adalah jalan darah yang lemah, ia menderita luka yang biarpun tidak parah namun cukup membuat kedudukannya menjadi makin lemah.

"Siapa berani mengotori tempat suci Beng-kauw, harus mati"

Seru Liu Hwee dan senjatanya kembali menyambar, kini mengarah kepala dan yang sebuah lagi menotok pusar. Serangan maut yang agaknya sukar untuk dapat dihindarkan oleh Suma Boan yang sudah terhuyung-huyung. Akan tetapi tiba-tiba menyambar angin pukulan yang amat dahsyat dari samping, yang membuat sepasang bola di ujung cambuk itu meleset arahnya, bahkan tampak bayangan orang yang cepat menyambar cambuk itu dan sekali merenggut, cambuk itu terampas dari tangan Liu Hwee. Gadis ini kaget sekali karena sama sekali tidak menyangka-nyangka sehingga senjatanya kena dirampas orang.

Ia mengira bahwa yang datang tentulah It-gan Kai-ong atau setidaknya tentu kawan Suma Boan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ia meloncat mundur dan siap-siap menghadapi lawan tangguh dengan tangan kosong. Akan tetapi bayangan itu sudah menyambar tubuh Suma Boan dan dibawa lari dari tempat itu. Lie Hwee menjadi penasaran sekali, biarpun ia maklum bahwa lawan amat tangguh dan ia harus berhati-hati, namun ia diam-diam mengikuti dan mengejar ke arah lenyapnya bayangan yang membawa lari senjata dan juga membawa lari Suma Boan itu. Sayang baginya, malam yang gelap membuat ia kehilangan jejak lawannya sehingga akhirnya Lie Hwee hanya melanjutkan pengejarannya dengan kira-kira saja, untung-untungan. Sementara itu, bayangan tadi membuang jauh-jauh senjata rampasannya, dan terus membawa lari Suma Boan.

"Suma-koko.. kau terluka..?"

Katanya sambil lari. Sejenak Suma Boan tak mampu menjawab. Tadi ketika ia sudah terancam bahaya maut di tangan Liu Hwee, ia merasa girang dan heran karena tertolong oleh bayangan yang belum ia ketahui siapa dia. Akan tetapi ketika tubuhnya disambar dan dibawa lari, ia tahu bahwa orang ini adalah seorang gadis yang pakaiannya robek-robek tidak karuan, akan tetapi yang memiliki kepandaian hebat sekali.

Karena kehebatan gerak inilah maka ia tidak mengenal Sian Eng, karena mana mungkin Sian Eng memiliki kepandaian sehebat ini? Pula, keadaan yang gelap membuat ia tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan baik. Baru sekarang setelah gadis itu membuka mulut bicara, ia tahu bahwa penolongnya bukan lain adalah Sian Eng. Tentu saja ia menjadi bengong dan tak mampu menjawab. Pikirannya bekerja. Tentu terjadi sesuatu yang hebat kepada diri Sian Eng, dan tentu selama dua pekan itu, Sian Eng telah mempelajari ilmu yang sakti. Suma Boan memang seorang yang cerdik, akan tetapi juga hatinya kotor oleh syakwasangka dan penuh tipu muslihat. Ia mulai curiga. Tentu gadis ini mengkhianatinya, setelah mendapatkan ilmu lalu dimilikinya sendiri.

"Suma-koko.. hebatkah lukamu?"

Kembali Sian Eng bertanya sambil melanjutkan larinya, karena gadis ini merasa khawatir kalau-kalau ada yang mengejar mereka. Suma Boan pura-pura mengeluh panjang,

"Cukup hebat.. mengapa kau begitu lama baru muncul, Moi-moi? Dan bagaimana hasilnya, dapatkah kau menemukan kitab-kitab itu?"

"Dapat.. dapat.. jangan khawatir, Suma-koko. Aku membawa dua buah kitab untukmu."

Tiba-tiba gadis ini tertawa dan berdirilah bulu tengkuk Suma Boan. Suara ketawa ini tidak sewajarnya, pikirnya. Akan tetapi diam-diam ia girang bukan main.

"Mana kitab-kitab itu? Biarlah aku yang membawanya"

Katanya menahan suaranya agar tidak gemetar.

"Nanti saja, kita lari dulu, takut kalau-kalau dikejar musuh."

"Katakan saja di mana, aku yang akan ambil."

Tangan Suma Boan mulai meraba-raba. Kembali Sian Eng tertawa geli,

"Ihhh, jangan begitu. Kusimpan di balik.. baju dalam dan.."

Tiba-tiba suaranya terhenti dan gadis itu roboh lemas. Kiranya Suma Boan telah menotoknya dengan tiba-tiba. Karena yang ditotok adalah tong-cu-hiat di belakang leher dan thian-hu-hiat, maka seketika Sian Eng roboh lemas dan tak dapat mengeluarkan suara lagi. Terpaksa ia hanya dapat melihat dan merasa betapa Suma Boan meraba-raba dadanya dan mengeluarkan dua buah kitab yang disimpannya di situ. Terdengar pemuda itu berseru girang, mengantongi dua buah kitab itu lalu menyambar tubuh Sian Eng dan kini gadis itulah yang dibawa lari oleh Suma Boan, dipondong di atas pundak.

Sian Eng memjadi kecewa dan juga bingung. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa kekasihnya akan melakukan perbuatan seperti ini. Saking marahnya, ketika ia berusaha untuk mengerahkan tenaga, jalan darahnya yang berhenti itu membuat hawa sakti menyerang dirinya sendiri dan ia pingsan seketika. Ketika Sian Eng siuman dari pingsannya, ia mengerang perlahan dan tubuhnya tidak karuan rasanya. Ia memandang ke kanan kiri dan mendapatkan dirinya berbaring telentang di atas sebuah dipan di dalam kamar perahu yang oleng ke kanan kiri, agaknya sebuah perahu besar yang berlabuh di pinggir. Melihat kamar yang bersih dan indah ini, tentu ia berada di sebuah perahu yang mewah. Sinar matahari yang memasuki jendela kamar perahu menandakan bahwa malam telah berganti pagi dan hawa pagi itu sejuk menyegarkan.

Namun Sian Eng tidak merasa segar bahkan merasa tidak enak sekali. Kagetlah ia ketika menengok dirinya. Ternyata pakaiannya yang robek-robek semalam telah diganti pakaian indah bersih, pakaiannya sendiri yang buntalannya dibawa Suma Boan ketika ia memasuki gua. Seketika wajahnya menjadi merah. Ia dapat menduga bahwa tentu Suma Boan yang mengganti pakaiannya. Serentak ia bangkit dan ia menyeringai. Badannya terasa sakit-sakit. Kemarahannya bangkit ketika ia teringat akan kelakuan Suma Boan semalam, yang secara khianat telah menotoknya. Kemudian kecurigaannya timbul ketika ia menyaksikan keadaan dirinya di pagi ini. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dari luar dan masuklah Suma Boan. Pemuda ini berpakaian indah bersih pula, wajahnya berseri-seri dan ia memandang kepada Sian Eng dengan senyum lebar yang menambah ketampanan wajahnya.

"Isteriku yang manis, kau sudah bangun?"

Bagaikan disambar petir Sian Eng memandang terbelalak. Ucapan ini memperkuat kekhawatiran hatinya.

Post a Comment